Kisah Pencinta Yang Asing
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perang Dingin Diruang Rapat
Acara amal tahunan Universitas Columbia, The Manhattan Gala for Education, selalu menjadi sorotan utama di New York. Namun bagi Guzzel, acara ini terasa seperti hukuman mati. Sebagai anak dari penyumbang dana terbesar, ia dipaksa menjadi ketua panitia pelaksana. Dan seolah takdir sedang mempermainkannya dengan sangat kejam, dekan fakultas menunjuk Maximilien Vance sebagai perwakilan mahasiswa untuk menangani koordinasi logistik dan keamanan acara.
Suasana di dalam ruang rapat itu begitu mencekam, bahkan Danesh yang biasanya santai pun merasa ragu untuk bernapas terlalu keras. Max duduk di ujung meja, matanya terpaku pada layar laptopnya, sementara Guzzel berdiri di depan papan tulis besar, mencoba menjelaskan alur tamu VIP.
"Max, untuk bagian keamanan di pintu masuk Utara, aku butuh datamu," suara Guzzel sedikit bergetar, namun ia berusaha tetap profesional.
Max tidak mendongak. Jemarinya menari di atas keyboard dengan kecepatan yang mengintimidasi. "Sudah aku kirim ke emailmu lima menit yang lalu. Baca saja."
Kalimatnya singkat, padat, dan dingin seperti es di kutub utara. Namun, jauh di lubuk hatinya, Max sedang berperang. Setiap kali ia mendengar suara Guzzel, ingatannya secara otomatis memutar rekaman suara Lia di aplikasi Veloce.
Nada bicaranya, cara Guzzel mengambil napas di antara kalimat, semuanya identik. Max mulai menyadari bahwa ia tidak merindukan bayangan seorang wanita bernama Lia, ia merindukan wanita yang sekarang sedang berdiri di hadapannya.
Dia tahu Lia adalah Guzzel. Dia tahu kejujuran itu ada dalam setiap kata di surat yang ia robek malam itu. Namun, ego Max adalah benteng terakhir yang ia miliki. Jika ia memaafkan Guzzel, artinya ia menyerah pada cinta, dan baginya, menyerah pada cinta berarti bersiap untuk dikhianati lagi.
"Aku butuh kau menjelaskannya secara verbal, Max. Ada beberapa detail yang tidak sinkron," Guzzel mencoba mendesak, matanya menatap punggung tegap Max dengan kerinduan yang pedih.
Max akhirnya mendongak, matanya bertemu dengan mata Guzzel. Untuk sesaat, topeng dinginnya retak. Dia melihat kelelahan di mata Guzzel, kelelahan yang sama yang sering Lia ceritakan padanya lewat pesan teks. Aku ingin memeluknya, bisik sebuah suara di hati Max. Namun dengan cepat, ia menekan perasaan itu.
"Jika kau tidak bisa memahami laporan sederhana, mungkin kau tidak kompeten memimpin acara ini, Guzzalie," desis Max tajam.
Di tengah ketegangan itu, pintu ruang rapat terbuka dengan kasar. Justine Beaufort, putra seorang taipan properti yang sudah lama mengejar Guzzel, masuk dengan senyum lebar yang terlihat sangat palsu di mata Max.
Justine adalah pria yang mewakili segala hal yang dibenci Max, sombong, berisik, dan sangat suka pamer.
"Guzzel, sayang! Kau terlihat sangat pucat. Kenapa kau bekerja keras dengan orang yang tidak punya perasaan seperti dia?" Justine berjalan mendekat dan dengan berani meletakkan tangannya di bahu Guzzel.
Guzzel tampak tidak nyaman, ia mencoba bergeser. "Justine, kami sedang rapat."
"Rapat bisa menunggu. Aku membawakan mu makan siang dari Le Bernardin. Kau butuh asupan nutrisi, bukan omelan dingin," Justine melirik Max dengan pandangan merendahkan.
Max merasakan sesuatu yang panas meledak di dadanya. Cemburu. Sebuah perasaan yang sudah lama ia kubur. Dia benci melihat tangan Justine di bahu Guzzel. Dia benci melihat Justine bisa menyentuh Guzzel secara fisik, sesuatu yang bahkan Max Sebagai kekasih onlinenya, belum pernah lakukan secara bebas.
"Singkirkan tanganmu darinya, Beaufort," suara Max terdengar sangat rendah, mirip geraman binatang buas yang sedang menjaga wilayahnya.
Justine tertawa remeh. "Oh, sang Pangeran Es bicara? Kenapa? Kau terganggu? Bukankah kau membenci wanita? Kenapa kau peduli jika aku menyentuh Guzzel?"
Max berdiri perlahan. Auranya yang mengancam membuat Danesh segera berdiri untuk menahan bahu sahabatnya itu. "Max, jangan. Dia tidak layak," bisik Danesh.
Guzzel menatap Max dengan tatapan memohon. Dia melihat kilatan pelindung di mata Max, tatapan yang sama yang selalu "V" berikan padanya lewat kata-kata saat Guzzel bercerita tentang pria-pria yang mengganggunya di kampus.
"Justine, keluar. Sekarang," perintah Guzzel tegas.
"Tapi Guzzel..."
"Keluar!"
Setelah Justine pergi dengan wajah kesal, keheningan kembali menyelimuti ruangan. Max masih mengepalkan tangannya di atas meja. Dia tidak tahan. Dia marah karena Guzzel membiarkan pria itu mendekat, tapi dia lebih marah pada dirinya sendiri karena dia tidak punya hak untuk melarang.
Setelah rapat selesai, Guzzel mencegat Max di lorong menuju parkiran. Lorong itu sepi, hanya ada suara rintik hujan di luar jendela besar.
"Kau cemburu tadi," tuduh Guzzel pelan.
Max berhenti melangkah, punggungnya menegang.
"Jangan terlalu percaya diri. Aku hanya tidak suka rapatku diganggu oleh badut seperti Justine."
"Kau peduli padaku, Max. Kau mengakuinya tadi di depan Justine. Kau melindungi ku seperti 'V' melindungi ku di chat," Guzzel melangkah maju, kini ia berada tepat di depan Max. "Sampai kapan kau mau berpura-pura tidak mengenalku? Sampai kapan kau mau menyiksa dirimu sendiri dengan kebencian ini?"
Max berbalik dengan sangat cepat, menyudutkan Guzzel ke dinding koridor. Wajahnya sangat dekat, hingga Guzzel bisa merasakan napas Max yang tidak teratur.
"Kau ingin aku mengakuinya?" Max berbisik, suaranya parau karena emosi. "Ya, aku tahu kau adalah Lia. Aku tahu setiap kali kau mengetik, kau sedang memikirkan aku. Aku tahu aroma parfum ini adalah aroma yang sama yang aku bayangkan saat kita bicara tentang kencan di Central Park."
Tangan Max terangkat, jemarinya hampir menyentuh pipi Guzzel, namun ia berhenti di udara. Tangannya gemetar.
"Tapi aku tidak bisa, Guzzel. Setiap kali aku ingin menarikmu ke dalam pelukanku, aku teringat bahwa kau adalah orang yang membohongiku. Kau membiarkan aku menjadi pria paling rapuh di dunia ini, sementara kau hanya menonton dari balik layar. Kau membuatku merasa seperti orang bodoh."
"Aku tidak pernah menganggapmu bodoh, Max! Aku hanya ingin dicintai olehmu!" Guzzel menangis, air matanya jatuh mengenai tangan Max.
Max menarik tangannya kembali seolah terkena api. "Cinta tidak dibangun di atas kebohongan. Kau adalah Lia yang aku puja, tapi kau juga Guzzel yang aku benci. Dan saat ini, aku tidak tahu bagaimana cara memisahkan keduanya."
Max berbalik dan berjalan cepat menuju mobilnya, meninggalkan Guzzel yang kembali hancur. Namun di dalam mobil, Max memukul kemudinya dengan keras. Dia sadar, dia sudah kalah. Dia sudah terlalu dalam mencintai Guzzel, bahkan saat dia mencoba sekuat tenaga untuk membencinya.
Pikirannya kini terobsesi pada satu hal, Malam gala besok. Dia tahu Justine akan mencoba berdansa dengan Guzzel, dan Max bersumpah dalam hati, dia tidak akan membiarkan tangan siapapun menyentuh wanita milik "V".
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
happy Reading 🥰