NovelToon NovelToon
Penguasa Terakhir

Penguasa Terakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Dunia Lain / Romansa Fantasi / Epik Petualangan / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:170
Nilai: 5
Nama Author: Kon Aja

Zoran Shihai adalah pemuda 19 tahun dari Bumi yang hidup sebagai perampok jalanan. Ia mencuri bukan karena rakus, melainkan demi bertahan hidup. Namun satu kesalahan fatal yakni merampok keluarga kaya yang terhubung dengan dunia gelap membuat hidupnya berubah selamanya.

Dikejar para pembunuh bayaran, Zoran terjebak dalam pelarian putus asa yang berakhir pada sebuah retakan ruang misterius. Ketika ia membuka mata, ia tidak lagi berada di Bumi, melainkan di Dunia Pendekar, sebuah dunia kejam tempat kekuatan menentukan segalanya.

Terlempar ke Hutan Angin dan Salju, Zoran harus bertahan dari cuaca ekstrem, binatang buas, manusia berkuasa, dan kelaparan tanpa ampun. Di dunia ini, uang Bumi tak berarti, belas kasihan adalah kelemahan, dan bahkan seorang pemilik kedai tua bisa memiliki kekuatan mengerikan.

Tanpa bakat luar biasa, tanpa guru, dan tanpa sistem,

Ini adalah kisah tentang bertahan hidup, ironi, dan kebangkitan seorang manusia biasa di dunia yang tidak memberi ampun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kon Aja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Digigit ular.

"Apa kamu lapar?" tanya gadis itu hati-hati.

Zoran terdiam sejenak, matanya tajam memandang gadis itu. Tanpa kata, ia mengambil obor milik gadis itu yang masih tergeletak di tanah, kemudian melemparnya kembali kepada gadis itu.

"Itu obormu, tadi aku hanya meminjamnya. Sekarang sudah kuberikan kembali. Sekarang kamu bisa pergi," ucap Zoran datar, mencoba untuk mengusir gadis itu dengan sikap acuh tak acuh.

Dia kembali duduk, melanjutkan makanannya dengan gerakan yang penuh ketegangan, seakan-akan tak ingin diganggu lagi.

Namun, tiba-tiba sebuah tangan ramping, berkulit putih bersih, terulur ke arahnya. Di telapak tangan gadis itu, sebuah potongan roti tergeletak, seolah ditawarkan untuk Zoran.

Zoran menoleh, heran. Gadis itu tidak pergi seperti yang diharapkan, malah menawarkan roti padanya.

"Makanlah," ucap gadis itu dengan nada lembut.

Wajah Zoran langsung menghitam karena marah. Dari tatapan gadis itu, dia merasa seperti sedang dikasihani, dipandang seperti orang yang tak berharga.

Meskipun perutnya sudah mulai menjerit kelaparan, Zoran merasa jijik dengan pandangan itu. Dia lebih memilih untuk bertahan, meskipun kelaparan menggerogoti tubuhnya, daripada harus menerima makanan dari seseorang yang mengasihani dirinya.

Itulah prinsip Zoran, dia lebih baik mati kelaparan daripada dihina oleh pandangan kasihan orang lain.

Naif, memang. Tapi itulah Zoran.

"Pergi!" bentaknya dengan suara kasar.

Gadis itu tertegun. Dia tidak menyangka Zoran akan menolak pemberiannya. Matanya terlihat bingung, bahkan sedikit terluka. "Kamu tidak mau menerima makananku?"

Zoran berdiri dengan tubuh yang sedikit gemetar, matanya tajam dan penuh kebingungan, lalu berbalik, "Menerima pemberian dari orang yang sudah menatapku dengan pandangan menyedihkan? Tidak mungkin!!"

Dia berjalan pergi, meninggalkan gadis itu yang hanya bisa berdiri terpaku di tempat.

Gadis itu terdiam cukup lama. Memang tadi dia menatap Zoran dengan tatapan menyedihkan. Tapi seharusnya Zoran juga sadar akan keadaannya, bukan?

\*\*\*

Keesokan harinya, Zoran terbangun pagi-pagi sekali, sebelum matahari terlihat.

Semalam, karena merasa terganggu dengan keberadaan gadis itu, Zoran tidur di atas pohon yang agak jauh.

Di alam liar yang penuh bahaya ini, Zoran tahu bahwa dia harus selalu waspada. Baik terhadap hewan buas, tanaman beracun, atau bahkan manusia dengan kekuatan mengerikan seperti yang sudah dia alami sebelumnya.

Zoran memilih tidur di atas pohon karena itu adalah cara terbaik untuk menghindari menjadi mangsa hewan buas yang berkelana di malam hari. Terlebih lagi, dia merasa lebih aman jauh dari manusia lain, yang mungkin punya niat buruk terhadapnya.

Setelah bangun, Zoran berjalan mencari hewan-hewan kecil dan tidak berbahaya untuk dimakan. Setiap langkahnya semakin berat, dan pikirannya hanya berfokus pada satu hal: makan.

Tak lama kemudian, Zoran menemukan sebuah lubang kecil di bawah semak. Dengan hati-hati, dia melempar batu ke dalam lubang untuk memeriksa apakah ada hewan di dalamnya.

Tiba-tiba, seekor ular sebesar lengan keluar dengan pelan, namun yang membuat Zoran terkejut adalah ular itu memiliki dua tanduk di kepalanya.

Meskipun tampak aneh, ular tetaplah ular, dan ular adalah sumber makanan.

Refleks, Zoran segera mengarahkan belati ke kepala ular dan menusuknya.

Namun, ular itu bergerak cepat, kembali masuk ke dalam lubang dengan gesit. Belati Zoran hanya menusuk tanah.

Zoran segera menarik tangannya, takut jika ular itu keluar lagi dan menyerangnya. "Sialan, tidak kena," gerutunya.

Ular itu adalah makanan pertama yang dia temui, dan dia merasa kecewa karena kesempatan itu terlepas begitu saja.

Namun, tiba-tiba matanya berbinar.

"Kalau ular itu tinggal di sini, kemungkinan kalau dia betina, pasti bertelur."

Zoran menatap lubang itu dengan penuh harapan. Jika dia bisa menunggu, mungkin dia akan mendapatkan lebih banyak makanan lagi seperti telur ular. Itu bisa menjadi sumber makanan yang jauh lebih banyak daripada hanya daging ular yang tadi.

Zoran merasa yakin bahwa ular itu bertelur. Meskipun ini bukan Bumi, dia percaya bahwa di mana pun itu, ular pasti berkembang biak dengan cara bertelur.

"Nanti saja aku kesini lagi. Biasanya ular itu keluar siang hari untuk mencari makan," pikirnya.

Zoran memutuskan untuk kembali ke tempat itu nanti siang hari, untuk mengecek apakah ular itu meninggalkan telur.

Kalau tidak ada telur, tidak apa-apa. Dia hanya perlu menunggu ular itu kembali dan membunuhnya.

Namun, jika ada telur, itu akan menjadi tambahan yang sangat berguna.

Zoran kemudian meninggalkan tempat itu dan melanjutkan perjalanannya. Dia mengumpulkan beberapa kayu patah yang agak besar sepanjang jalan.

Cuaca yang dingin membuatnya sadar bahwa dia tidak bisa terus tidur di alam bebas seperti ini. Kayu-kayu yang dikumpulkan hari ini adalah untuk membuat tenda sederhana, tempat yang bisa menjadi tempatnya pulang dan memberinya sedikit perlindungan dari dingin hutan ini.

Meskipun suatu saat nanti dia berencana untuk meninggalkan hutan ini, yang penting sekarang adalah bertahan hidup. Dia harus memastikan ada tempat berteduh, setidaknya untuk sementara waktu.

Zoran menghabiskan beberapa jam mengumpulkan kayu. Meskipun ada banyak pohon di hutan ini, tidak semua kayu patah layak pakai. Dia harus berhati-hati memilih kayu yang cukup kuat.

Setelah cukup kayu terkumpul, Zoran akhirnya berhenti untuk beristirahat. Hari sudah siang, setelah rasa lelahnya hilang, dia menuju sarang ular.

Sesampainya di tempat sarang ular, Zoran langsung melemparkan beberapa tanaman dan bunga yang berbau menyengat ke dalam lubang sarang ular.

Tanaman dan bunga tersebut ia dapatkan sebelumnya saat mencari kayu.

Zoran tahu bahwa dengan bau yang menyengat, ular biasanya akan merasa tidak nyaman dan keluar dari persembunyiannya.

Ini adalah salah satu cara yang ia ketahui untuk memancing ular keluar, meskipun hasilnya tidak selalu pasti.

Setelah beberapa saat menunggu, Zoran mulai ragu. Ular yang ditunggunya tak juga muncul. "Apa ular yang tadi sudah pergi?" pikirnya. Senyum kemenangan mulai muncul di wajahnya. "Kalau begitu, sekarang saatnya mengecek telurnya."

Dengan hati-hati, Zoran merogoh lubang sarang menggunakan tangannya. Saat merasakannya, dia merasa sesuatu yang keras dan langsung menarik tangannya. Dia tersenyum lega.

"Hehehe, ternyata memang betina yang sedang bertelur," ujarnya sambil terkekeh, melihat telur ular yang berada di tangannya. Dia meletakkan telur itu ke sampingnya dan mulai merogoh lebih dalam.

Satu telur.

Tiga telur.

Lima telur.

Tujuh telur.

Namun, saat tangannya terus merogoh, dia merasakan sakit yang mendalam.

Tiba-tiba, dua ular kecil menggigit tangannya dan menggantung dengan erat.

Zoran terkejut dan buru-buru mengibaskan tangannya dengan keras. "Keparat!" teriaknya marah, tak bisa menahan kekesalan.

Ular kecil itu terlempar ke tanah, dan Zoran segera mendekat dengan marah. Tanpa ampun, ia menginjak-injak kedua ular itu.

"Dasar ular sialan, berani sekali kamu menggigitku," umpat Zoran.

Segera setelah itu, kedua ular itu gepeng di bawah kaki Zoran.

Zoran tampak puas dengan perlakuannya, lalu melirik bekas gigitan ular di tangannya dan mengabaikannya. "Ular sekecil ini pasti belum ada racunnya, kalaupun ada, paling hanya akan membuatku demam," pikirnya, mencoba meredakan perasaan sakit yang mulai terasa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!