Tiga kali menikah. dua kali dikhianati. Dua kali hancur berkeping-keping.
Nayara Salsabila tidak pernah menyangka bahwa mimpi indah tentang rumah tangga bahagia akan berubah menjadi mimpi buruk berkepanjangan. Gilang, suami pertamanya yang tampan dan kaya, berselingkuh saat ia hamil dan menjadi ayah yang tidak peduli.
Bima, cinta masa SMA-nya, berubah jadi penjudi brutal yang melakukan KDRT hingga meninggalkan luka fisik dan trauma mendalam.
Karena trauma yang ia alamai, kini Nayara di diagnosa penderita Anxiety Disorder, Nayara memutuskan tidak akan menikah lagi. Hingga takdir mempertemukannya dengan Reyhan—seorang kurir sederhana yang juga imam masjid. Tidak tampan. Tidak kaya. Tapi tulus.
Ketika mantan-mantannya datang dengan penyesalan, Nayara sudah berdiri di puncak kebahagiaan bersama lelaki yang mengajarkannya arti cinta sejati.
Kisah tentang air mata yang berubah jadi mutiara. Tentang sabar yang mengalahkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penutup Babak Pertama
Tiga minggu setelah mabuk di bar itu, Gilang berdiri di depan rumah orang tua Nayara. Jam tujuh pagi. Hujan gerimis turun pelan.
Dia udah berdiri di situ dari setengah enam. Nunggu. Mikirin harus bilang apa nanti.
Mobilnya parkir agak jauh, takut ketauan satpam. Dia jalan kaki masuk komplek lewat pintu samping yang jarang dijaga.
Gilang natap rumah kecil itu. Cat hijau muda yang udah pudar. Pagar besi berkarat. Jauh banget dari rumah mewah yang dulu dia kasih buat Nayara.
Tapi entah kenapa rumah ini keliatan lebih hidup. Ada suara ketawa dari dalam. Suara Bu Siti yang manggil-manggil. Suara Pak Hasan yang jawab.
Keluarga.
Sesuatu yang Gilang gak pernah kasih buat Nayara dulu. Gilang menarik napas dalam. Tangannya gemetar pas mengetuk pintu.
Tok tok tok.
Suara dari dalam berhenti. Ada suara langkah kaki. Pintu kebuka. Pak Hasan berdiri di sana. Begitu liat Gilang, mukanya langsung berubah.
"Kamu lagi? Aku udah bilang kan jangan dateng kesini!" Pak Hasan langsung mau nutup pintu.
"PAK HASAN TUNGGU! KUMOHON! TERAKHIR! INI TERAKHIR KALINYA! SETELAH INI AKU GAK AKAN GANGGU LAGI!" Gilang berteriak putus asa sambil nahan pintu.
Pak Hasan natap Gilang. Matanya melotot liat penampilan Gilang yang berantakan total.
Rambut gondrong gak disisir. Jenggot udah tebel. Mata merah bengkak. Baju kaos putih kusut. Celana jeans yang itu-itu aja. Sendal jepit. Bukan Gilang yang dulu rapi sempurna.
"Kamu kenapa? Kelihatan kayak orang gila," Pak Hasan ngomong jujur.
"Aku, aku emang udah gila Pak. Gila karena nyesel. Kumohon, kumohon kasih aku ketemu Nayara terakhir kali," Gilang mohon sambil tangannya merapat kayak orang sholat.
Pak Hasan diam. Bingung. Sebagian dari dia pengen usir Gilang sekarang juga. Tapi sebagian lagi kasian liat kondisi Gilang yang kayak udah gak waras.
"Siapa Pak?" Bu Siti muncul dari belakang. Begitu liat Gilang, mukanya shock. "Ya ampun, Gilang? Kamu kenapa?"
"Bu Siti, kumohon. Aku cuma mau ketemu Nayara sebentar. Terakhir. Setelah ini aku janji gak akan ganggu lagi," Gilang nangis sekarang. Air matanya jatuh campur sama air hujan di wajahnya.
Bu Siti natap suaminya. Pak Hasan menggeleng. Tapi Bu Siti kok kasian ya liat Gilang.
"Nayara! Turun sebentar!" Bu Siti manggil ke atas.
"Ibu kenapa sih? Jangan kasih dia ketemu Nayara!" Pak Hasan protes.
"Biarin Pak. Sekali ini aja. Biar Nayara yang mutusin," Bu Siti bisik.
Suara langkah kaki dari tangga. Nayara turun sambil gendong Aldi. Begitu sampe di bawah dan liat Gilang di depan pintu, dia berhenti.
Jantungnya berdegup kencang. Napasnya sesak sebentar.
Gilang, tapi ini Gilang yang beda. Gilang yang hancur total.
"Nayara," Gilang bisik pelan. Suaranya serak banget.
Nayara melangkah pelan ke arah pintu. Berdiri di samping Pak Hasan. Menatap Gilang tanpa ekspresi.
"Kenapa Mas datang lagi?" Nayara tanya dengan suara datar.
"Aku, aku mau ketemu kamu. Mau ngomong sesuatu," Gilang jawab sambil ngelap air mata yang terus keluar.
"Ngomong di sini aja. Aku gak mau Mas masuk," Nayara tetep tegas walau hatinya mulai gak tega liat Gilang.
Gilang ngangguk. Dia paham. Dia gak punya hak lagi buat masuk. Hening sebentar. Gilang natap Nayara lama. Matanya turun ke Aldi yang digendong Nayara.
Aldi udah gede sekarang. Tujuh bulan. Udah bisa duduk sendiri. Matanya bulat mirip Gilang. Hidungnya mancung juga mirip Gilang.
Anaknya yang dia abaikan sejak lahir.
"Aldi, Aldi gede ya," Gilang bisik dengan suara bergetar.
Nayara gak jawab. Cuma peluk Aldi lebih erat. Gilang menarik napas dalam. Terus tiba-tiba dia jatuh berlutut. Bukan cuma berlutut. Tapi sujud. Kepalanya nempel di lantai teras yang basah kehujanan.
"GILANG BANGUN! JANGAN GINI!" Bu Siti kaget.
Tapi Gilang gak bangun. Dia tetep sujud sambil nangis keras.
"Nayara, Nayara maafin aku. Aku bodoh. Aku egois. Aku jahat. Aku udah nyakitin kamu berkali-kali. Aku udah sia-siakan cinta kamu," Gilang ngomong sambil nangis keras. Suaranya pecah-pecah.
Nayara natap Gilang yang sujud di depan kakinya. Dadanya sesak luar biasa. Pengen nangis tapi dia tahan.
"Aku kehilangan segalanya Nayara. Sandra ninggalin aku. Perusahaanku hampir bangkrut. Temen-temen pada menjauhi aku. Ibu udah gak mau ngomong sama aku. Semuanya hilang," Gilang terus ngomong sambil masih sujud.
"Bangun Mas. Jangan gini," Nayara akhirnya ngomong. Suaranya pelan tapi tegas.
Gilang ngangkat kepalanya. Wajahnya basah total. Entah air mata entah air hujan.
"Nayara, aku baru sadar sekarang. Pas udah kehilangan semua, aku baru ngerti betapa berharganya kamu. Betapa berharganya cinta kamu yang tulus itu," Gilang ngomong sambil natap mata Nayara.
Nayara menggigit bibir bawahnya. Nahan tangis yang udah mau keluar.
"Waktu kamu masih jadi istriku, aku gak pernah hargai kamu. Aku pikir kamu bakal terus ada. Aku pikir cinta kamu gak bakal pernah habis walau aku sakiti terus," Gilang ngelap air mata kasar. "Tapi aku salah. Cinta kamu punya batas. Dan aku udah lewatin batas itu."
"Mas," Nayara bisik pelan.
"Sekarang kamu udah pergi. Udah mulai hidup baru. Udah mulai bahagia. Dan aku? Aku baru sadar kalau kehadiranmu dulu itu sungguh berharga," Gilang tersenyum pahit. "Kalau sudah tiada baru terasa ya? Pepatah itu bener banget."
Air mata Nayara akhirnya jatuh. Tapi dia tetep berdiri tegak.
"Nayara, aku gak berharap kamu balikin aku. Aku tau aku gak pantas. Aku cuma mau minta maaf. Minta maaf yang beneran. Dari hati yang paling dalam," Gilang merapat tangannya lagi. "Maafin aku udah jadi suami yang jahat. Maafin aku udah jadi bapak yang gak bertanggung jawab buat Aldi."
Aldi yang lagi digendong Nayara tiba-tiba nengok ke Gilang. Natap orang yang berlutut di depan mamanya itu dengan tatapan polos.
Gilang natap Aldi. Senyum sedih. "Hai Nak. Ini Papa. Papa yang jahat. Papa yang gak pernah gendong kamu waktu kamu bayi."
Aldi cengo. Terus nangis. Mungkin takut sama orang asing yang mukanya berantakan.
"Udah Mas. Aldi takut," Nayara gendong-gendong Aldi sambil menenangkan.
"Maafin Papa ya, Aldi. Papa jahat. Papa ninggalin kamu sama Mama," Gilang nangis lagi. Kali ini tangisannya kayak anak kecil yang kehilangan. "Papa nyesel. Papa beneran nyesel."
Pak Hasan dan Bu Siti yang berdiri di samping ikut nangis liat pemandangan itu. Sedih campur kasian.
Nayara ngelap air matanya. Terus dia ngomong dengan suara yang udah lebih tenang.
"Aku udah maafin Mas."
Gilang ngangkat kepalanya cepet. Mata melotot gak percaya.
"Aku udah maafin semua yang Mas lakuin. Semua kesalahan Mas. Semua luka yang Mas kasih," Nayara melanjutkan sambil masih nangis. "Karena aku gak mau bawa dendam terus. Aku mau bebas. Aku mau hidup tenang."
"Nayara," Gilang bisik dengan nada penuh harap.
"Tapi," Nayara ngelap air matanya lagi. "Memaafkan bukan berarti aku akan kembali."
Harapan di mata Gilang langsung padam.
"Aku udah memaafkan. Tapi aku gak akan kembali," Nayara mengulang dengan tegas. "Karena aku udah terlalu lama sakit. Aku udah terlalu lama nangis. Sekarang aku mau bahagia. Aku mau jadi ibu yang baik buat Aldi. Dan aku gak bisa lakuin itu kalau aku kembali ke Mas."
Gilang nunduk. Tangannya mengepal di lantai.
"Aku ngerti kenapa Mas baru nyesal sekarang. Karena Mas baru kehilangan. Tapi coba Mas pikir, selama aku masih jadi istri Mas dulu, berapa kali aku kehilangan?" Nayara bertanya dengan suara bergetar.
Gilang ngangkat muka. Natap Nayara dengan mata penuh air mata.
"Aku kehilangan suami yang perhatian waktu aku hamil. Aku kehilangan suami yang nemenin waktu aku melahirkan. Aku kehilangan suami yang gendong anaknya waktu baru lahir. Aku kehilangan kebahagiaan. Kehilangan harga diri. Kehilangan semuanya," Nayara nangis keras sekarang. "Dan Mas tau apa yang aku rasain waktu itu? GAK! Karena Mas sibuk sama Sandra!"
"Nayara maafin aku, kumohon," Gilang memohon sambil masih berlutut.
"Aku udah bilang aku maafin Mas. Tapi maaf itu gak berarti kita bisa balik kayak dulu," Nayara menggeleng. "Karena yang udah hilang gak bisa balik lagi Mas. Kepercayaan yang udah hancur gak bisa direkatkan lagi. Cinta yang udah mati gak bisa dihidupi lagi."
Gilang menutup mukanya dengan kedua tangan. Nangis sekeras-kerasnya.
"Sekarang Mas ngerasain sakitnya kehilangan kan? Sekarang Mas tau kan gimana rasanya ditinggal sama orang yang Mas sayang?" Nayara bertanya dengan nada sedih. "Itulah yang aku rasain dulu waktu Mas pilih Sandra. Waktu Mas ninggalin aku sendirian."
"Aku menyesal Nayara. Aku beneran menyesal," Gilang terus ngulang-ngulang.
"Aku tau Mas menyesal. Dan aku berharap penyesalan ini bikin Mas jadi orang yang lebih baik. Bikin Mas belajar menghargai orang yang sayang sama Mas," Nayara ngomong pelan. "Tapi penyesalan itu bukan buat aku. Udah terlambat buat aku."
Gilang natap Nayara dengan tatapan hancur total. "Jadi, jadi ini akhirnya?"
Nayara ngangguk pelan. "Iya. Ini akhirnya."
Hening lama. Cuma ada suara hujan yang makin deres.
Gilang perlahan berdiri. Kakinya gemetaran. Tubuhnya limbung sedikit.
"Boleh, boleh aku peluk Aldi sekali aja?" Gilang nanya dengan suara hampir tidak terdengar.
Nayara ragu. Tapi dia liat mata Gilang yang penuh permohonan. Akhirnya dia ngangguk.
Gilang melangkah maju dengan perlahan. Tangan gemetar waktu ngambil Aldi dari gendongan Nayara. Ini pertama kalinya Gilang gendong Aldi. Pertama kalinya sejak Aldi lahir tujuh bulan lalu.
Aldi nangis keras. Takut sama orang asing ini. Tangan kecilnya nyoba menggapai mamanya. Gilang peluk Aldi erat. Nangis di pundak bayinya yang mungil.
"Maafin Papa ya, Nak. Papa jahat. Papa ninggalin kamu," Gilang bisik-bisik sambil nangis. "Papa sayang sama kamu. Walaupun Papa gak pernah tunjukin, tapi Papa sayang."
Dia cium kepala Aldi berkali-kali. Cium pipinya. Peluk seerat-eratnya.
"Mas, Aldi nangis. Kasih ke aku lagi," Nayara ngulur tangan.
Gilang ngasih Aldi balik dengan susah payah. Kayak mencabut organ tubuhnya sendiri.
Begitu Aldi balik ke pelukan Nayara, tangisannya langsung reda. Peluk leher mama-nya erat. Gilang natap pemandangan itu. Mama dan anak yang dia sia-siakan dulu.
"Jaga Aldi baik-baik ya," Gilang bisik.
"Pasti. Itu tugasku," Nayara jawab.
Gilang ngangguk. Terus dia berbalik. Jalan pelan ke arah pagar.
"Gilang," Nayara manggil.
Gilang berhenti. Gak berbalik.
"Aku do'ain Mas bisa nemuin kebahagiaan. Kebahagiaan yang beneran. Bukan yang palsu kayak sama Sandra," Nayara ngomong dengan tulus.
Gilang ngangguk pelan. "Terima kasih."
Terus dia jalan lagi. Keluar dari pagar. Jalan di bawah hujan yang makin deres.
Nayara berdiri di pintu sambil gendong Aldi. Natap punggung Gilang yang makin menjauh. Air matanya jatuh lagi. Tapi kali ini bukan air mata sakit. Ini air mata lega. Lega karena akhirnya bisa nutup babak ini.
Babak kehidupan yang penuh luka dan air mata. Babak yang udah harus selesai.
Pak Hasan peluk Nayara dari samping. "Udah Nak. Masuk. Kehujanan."
Nayara ngangguk. Tapi matanya masih natap Gilang sampai dia masuk ke mobilnya. Sampai mobilnya nyala dan pergi menjauh.
Begitu mobil Gilang hilang di tikungan, Nayara menutup pintu.
Menutup pintu rumah.
Menutup babak pertama hidupnya.
Babak yang penuh kepahitan, dan sekarang dia siap buat babak baru yang penuh harapan dam penuh kebahagiaan. Untuk dia dan Aldi.
Di dalam mobilnya yang melaju pelan di bawah hujan, Gilang nangis sambil nyetir. Nangis keras sampai penglihatannya buram.
Dia minggir. Parkir di pinggir jalan. Kepala bertumpu di setir. Nangis sekeras-kerasnya.
"Nayara maafin aku. Maafin aku. Maafin aku," dia terus ngulang sambil nangis.
Tapi Nayara gak ada di sana buat dengerin, Nayara udah pergi. Dia udah menutup pintu buat dia. Dan Gilang harus menerima kenyataan pahit itu. Kalau dia kehilangan permata yang paling berharga.
begitu lah kalau org candu judi🤭
nayara jg keras kepala ngapain takut gagal lgi emang sdh nasib jln satu2 nya lebih baik plg ke rmh ibu dari pada mati di tangan bima kasian aldi trauma seumur hidup 🤭🤣🤣🤣
langsung kabur plg ke rmh ibu nya 🤭
bima tak bakal berubah nama jg sdh kecanduan judi 🤭
nayara plg aja ke rmh ibu tinggal kan aja bima biar tau rasa 🤭