NovelToon NovelToon
Wanita Amnesia Itu Istriku

Wanita Amnesia Itu Istriku

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Penyesalan Suami / Amnesia
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Cahaya Tulip

"Bara, sebaiknya kamu ceraikan saja Aira. Kita bukan orang kaya, dari mana uang sebanyak itu untuk membiayai pengobatannya? " bujuk Norma.

"Bu, uang bisa di usahakan. Bara tak mungkin meninggalkan Aira begitu saja. Aira anak yatim Bu, Bara sudah janji pada kepala panti akan menjaganya."

Bara memohon dengan mata memelas.

Dari dalam kamar, Aira tertunduk mendengar keributan suami dan ibu mertuanya.

Ia menghela nafas dalam. Antara pasrah dan juga berharap.

Aira menatap lekat kertas hasil diagnosa dokter yang masih ada di tangannya. Bulir air mata, menetes satu-satu membasahi kertas itu.

"Apa aku bercerai saja ya dari Mas Bara?" gumam Aira lirih.

Mungkinkah kehidupan rumah tangga yang baru hitungan hari itu mampu bertahan dari ujian itu?

Ikuti kisahnya dalam "WANITA AMNESIA ITU ISTRIKU"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEPERCAYAAN

Waktu berlalu makin cepat. Sejak kesembuhan Aira dari sakit infeksi otaknya, amnesianya pun berangsur pulih.

Ia makin bersemangat mendampingi anak-anak panti terutama saat ada permintaan untuk hadir dalam acara-acara resmi. Siska sendiri lebih banyak berkata di panti ditemani Dharma.

"Bu, tehnya," ujar Dharma sambil meletakkan secangkir teh di meja kecil samping kursi goyang Siska.

"Terima kasih, Bi."

"Aira, semakin sehat ya Bu. Alhamdulillah saya ikut senang melihat semangatnya mendampingi anak-anak."

Dharma duduk di kursi yang lain sambil menyeruput cangkir tehnya.

"Betul, Bi. Saya juga merasa lega akan ada yang menggantikan saya untuk mengurus panti ini. Tadinya saya juga sempat cemas, saya makin tua tapi tak ada pengganti. Saat melihat kondisi Aira yang sakit harapan saya seketika pupus. Sekarang melihat kondisinya yang terus membaik saya sangat senang."

"Bu Siska berencana menyerahkan posisi kepala panti pada Aira dalam waktu dekat? "

"Iya, Bi. Rencananya saat ulang tahun panti bulan depan."

"Benar, Bu. Moment yang tepat untuk pergantian. Bagaimana kalau meminta bantuan alumni untuk ikut membantu penyelenggaraan perayaan ulang tahun panti nanti Bu? "

"Bagus juga usulannya Bi. Coba nanti saya hubungi Reina dan Rega mereka pasti bisa membantu menghubungi teman-temannya yang lain."

Dua buah mobil berhenti di pekarangan panti tepat depan pintu utama.

Anak-anak turun satu persatu dari mobil besar warna hitam berplat dinas.

BRAK

"Terima kasih, Pak, " ujar Aira pada para supir.

"Sama-sama, Neng. Kami pamit ya, assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam, " sahut mereka beramai-ramai.

"Terima kasih, Pak, " seru mereka melambai mengiringi mobil yang makin menjauh.

"Anak-anak, ganti baju cuci kaki ya. Bongkar bingkisan nya hati-hati jangan lupa sampahnya jangan berserakan, " ujar Aira melihat anak-anak bergegas masuk ke kamar sambil menggendong bingkisan mereka.

"Jalan saja, anak-anak jangan lari-lari, " ujar Dharma mengingatkan.

"Bagaimana tadi Aira?" tanya Siska.

"Alhamdulillah Bu, dapat dana juga untuk fasilitas, " sahut Aira sambil menyodorkan amplop coklat berukuran sedang.

Siska tertegun. "Besar sekali amplopnya Aira?"

"Alhamdulillah, Bu. Aira sempat di ajak diskusi dengan pimpinan kantor. Menanyakan kebutuhan mendesak di panti. Jadi, Aira jelaskan kebutuhan pokok kita. Beliau tambah dari uang pribadi. "

"Masyaa allah. Alhamdulillah, berkah ya allah. Kamu do'akan beliau tadi, Aira? "

"Sudah, Bu. Aira diminta sambutan, di kesempatan itu Aira mendoakan. Seperti doa yang ibu ajarkan. Mereka tersentuh dengan doa yang Aira bacakan tadi."

"Alhamdulillah, bagus Aira. Terima kasih."

Aira merangkul Siska penuh haru.

Langit senja berganti gelap malam. Nyanyian jangkrik menambah kekhusyukan malam di sela-sela bacaan Al quran anak-anak panti.

Mereka makin fasih, tajwid mereka makin baik, hafalan surah bertambah. Sejak Aira tinggal di panti ia memang menjadi penanggung jawab utama untuk kemampuan baca tulis quran anak-anak.

Siska merasa lega melihat kemajuan anak-anak dari segi keahlian akademik, spiritual dan keahlian. Yang makin dewasa membantu Bi dharma memasak di dapur saat weekend.

Usia pertengahan membantu Aira mengurus cucian dan jemuran. Usia muda membantu melipat pakaian. Mereka juga diajarkan bertanggung jawab dengan pakaian mereka sendiri.

Setelah makan malam, anak-anak diberi kesempatan menonton TV selama satu jam sebelum tidur. Yang enggan menonton biasanya ngobrol santai di kamar.

Pengaturan yang membuat mereka disiplin dan juga betah tinggal di panti. Itu juga yang dulunya membuat para alumni agak sulit keluar dari panti. Setelah di pahamkan dengan jelas oleh Siska mereka barulah bertahap meninggalkan panti dan meniti kehidupan secara mandiri.

Malam itu, di beranda panti Siska duduk di kursi goyangnya. Di depannya, Aira sedang memeriksa laporan keuangan panti dengan wajahnya memancarkan aura kepemimpinan yang tenang.

​"Aira," panggil Ibu Siska dengan suara yang mulai serak karena usia.

​Aira mendongak dan tersenyum.

"Iya, Bu? Ada yang terasa sakit?"

​Siska menggeleng. Ia meraih tangan Aira dan menggenggamnya erat.

"Ibu sudah tua, Aira. Mataku sudah rabun melihat masa depan anak-anak ini. Tapi matamu... matamu masih sangat tajam dan penuh kasih."

​Aira terdiam, ia tahu ke mana arah pembicaraan ini.

​"Mulai bulan depan, Ibu ingin kamu resmi menjadi Kepala Panti," lanjut Ibu Siska.

"Dinas Sosial sudah menyetujuinya. Kamu punya pendidikan, kamu punya pengalaman hidup, dan yang paling penting, kamu punya hati yang pernah hancur namun berhasil utuh kembali. Hanya orang seperti itu yang bisa menjaga anak-anak yatim dengan benar."

​Aira berkaca-kaca.

"Tapi Bu, Aira masih harus banyak belajar..."

​"Kamu sudah belajar selama tiga tahun ini, Nak. Kamu bukan lagi Aira yang bangun dari sakit dengan tatapan kosong. Kamu adalah napas panti ini sekarang."

"Baik, Bu. Bismillah."

Siska mengangguk, " Alhamdulillah. Bulan depan saat acara ulang tahun panti yang ke dua puluh, kita resmikan pergantian ketuanya ya. Ibu sudah kirim pesan pada Reina untuk menghubungi rekan-rekan mu dulu membantu persiapan acara."

"Masyaa Allah, apa tidak terlalu berlebihan Bu? Tidak perlu acara forma Bu, cukup pemberkasan saja dengan dinas sosial."

Siska menggeleng. "Tidak, Nak. Kamu layak diadakan peralihan resmi seperti itu. Kamu memilih bertahan disini dan itu sangat membantu ibu. Reina juga setuju nanti, dia akan ke sini bersama yang lain. Nanti dia kabari lagi."

***

KEESOKAN HARINYA

Handphone Bara bergetar di dalam saku celana.

"Assalamu'alaikum Mas Farhan, " jawabnya.

"Wa'alaikumsalam, Bara. Terima kasih ya rekomendasi panti asuhannya. Pimpinan kantorku puas sekali dengan tampilan anak-anaknya. "

"Alhamdulillah, Mas. Saya ikut senang acara berjalan lancar."

"Aku dengar mantan istrimu yang mendampingi anak-anak, namanya Aira ya? "

"Oh iya, benar Mas. Namanya Aira. Alhamdulillah kalau dia yang mendampingi."

" Mantan istrimu cantik begitu kenapa cerai Bara? orangnya juga santun, ramah dan solehah. Kamu malah menyia-nyiakan? "

"Ceritanya panjang, Mas. Tapi saya senang bisa membantu merekomendasikan panti, anggap saja bentuk kasih sayang sama mantan istri dan juga anak-anak disana."

"Loh, jadinya kamu sebenarnya masih cinta sama mantan istrimu? Kenapa? soal restu? "

"Iya, Mas. Saya nggak mau mantan istri saya makin tertekan karena penolakan. Jadi, akhirnya saya lepas meski saya juga terluka."

"Semoga ada jalan kamu bisa bersatu lagi dengan mantan istrimu ya, Bara. Semoga masih terus berjodoh."

"Aamiin Yaa Allah. Terima kasih, Mas."

"Ya sudah aku tutup telponnya, ya. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam."

Bara tersenyum puas, ini kantor ke lima yang berhasil ia yakinkan untuk mengundang Panti Asuhan Hasanah sebagai penerima dana sosial di event kantor.

Ia ingin menunjukkan bentuk kepedulian dan perhatiannya dengan cara yang lain. Dengan begini, Aira juga merasa lebih bersemangat membersamai anak-anak panti.

Suara notif pesan masuk ke ponselnya. Ada pesan baru dari Siska.

[Assalamu'alaikum, Bara. Terima kasih sudah merekomendasikan panti untuk acara di kantor-kantor dinas. Ibu tahu, pasti kamu yang mengenalkan panti.]

^^^[Wa'alaikumsalam, Bu. Sudah seharusnya saya membantu, saya lihat sendiri kepandaian anak-anak Bu. Dan panti tepat dikenalkan ke khalayak yang lebih luas. ]^^^

[Alhamdulillah, berkat bimbingan mu dan Aira, Bara. Ibu sangat berterima kasih sudah mau mendampingi anak-anak. Ibu juga mau mengabari, akan ada peralihan tugas kepala panti pada Aira. Dia sangat tegas, sangat bijak. Dia bukan lagi Aira yang rapuh. Dia layak menggantikan Ibu. ]

^^^[ Alhamdulillah, Bu. Benarkah?? Saya ikut berbahagia untuk Aira Bu. Semoga panti makin sukses ke depannya. Terima kasih, Bu Siska. Terima kasih sudah menjadi ibu bagi Aira saat saya tidak bisa berada di sana. Terima kasih sudah mendampinginya setiap kali dia jatuh dan ragu.]^^^

^^^[Kapan rencananya, Bu? ]^^^

[ Ibu hanya membukakan pintu, Bara. Yang berjalan melewatinya adalah Aira sendiri.]

[Bulan depan, Bara. Saat acara ulang tahun panti. Kamu boleh datang kalau kamu mau. Nanti ibu kirimkan undangannya.]

^^^[ In syaa Allah, Bu. Terima kasih. Saya akan usahakan datang. ]^^^

[ Baiklah, lanjut kerjamu ya. Assalamu'alaikum]

^^^[wa'alaikumsalam, Bu Siska. ]^^^

​Bara tersenyum lebar, senyum tulus yang sudah lama tidak muncul di wajahnya.

1
falea sezi
bara plin plan males deh cowok kayak gini.. mending Aira kasih jdoh lain yg ortunya nrima Aira thor biar nyesel di bara yg nurut aja kata emak. nya
Happy Kids: skalipun dipaksain yg ada sakit ati. si norma jg pengen ngebet jd kaya 🤭
total 1 replies
falea sezi
lanjut
Cahaya Tulip: siap kak.. msh on progress yg ini.. di up hari ini .. 🙏🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!