"Bagimu, Ibu adalah surga. Tapi bagiku, caramu berbakti adalah neraka yang menghanguskan masa depan anak kita."
Disa mengira pernikahannya dengan Abdi adalah akhir dari perjuangan, namun ternyata itu awal dari kemelaratan yang direncanakan. Abdi adalah suami yang sempurna di mata dunia anak yang berbakti, saudara yang murah hati. Namun di balik itu, ia diam-diam menguras tabungan pendidikan anak mereka demi renovasi rumah mertua dan gaya hidup adik-adiknya yang parasit.
Saat putra mereka, Fikri, butuh biaya pengobatan darurat, barulah Disa tersadar: Di dompet Abdi, ada hak semua keluarganya, kecuali hak istri dan anaknya sendiri.
Kini, Disa tidak akan lagi menangis memohon belas kasih. Jika berbakti harus dengan cara mengemis di rumah sendiri, maka Disa memilih untuk pergi dan mengambil kembali setiap rupiah yang telah dicuri darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bakti Suami Derita Istri
Sabtu Pagi, 05.30 WIB.
Udara pagi di Jakarta terasa sedikit lebih bersahabat bagi Disa. Di halaman kontrakan, SUV putih pemberian perusahaan itu sudah terparkir gagah. Disa memasukkan tas berisi oleh-oleh ke bagasi dengan gerakan yang tenang.
Penampilannya pagi ini sangat kontras dengan Disa yang dulu; ia mengenakan setelan tunik linen berwarna earth tone yang elegan, wajahnya dipulas makeup tipis yang segar, menunjukkan aura wanita karier yang sukses.
Dulu, ia terpaksa resign dari posisi auditor senior karena hamil Fikri dan permintaan Abdi yang ingin ia fokus menjadi ibu rumah tangga. Tiga tahun ia mengubur ijazah dan kemampuannya demi pengabdian, hanya untuk dibayar dengan pengkhianatan ekonomi. Kini, kembali ke dunianya adalah cara Disa menjemput nyawanya kembali.
Abdi keluar dari rumah dengan tergesa, masih memakai kaos dalam dan sarung. Matanya menatap mobil itu dengan kombinasi rasa iri dan kagum.
"Dis, sudah mau berangkat?" tanya Abdi, suaranya mengecil, mencoba melunakkan suasana. "Mas ikut ya? Kita kan sudah lama nggak pulang bareng ke kampung orang tua kamu, Mas nanti kan bisa gantian nyetir, kamu pasti capek kalau harus nyetir sendiri sampai kampung."
Disa berhenti sejenak dan merapikan letak kacamata hitam di atas kepalanya. "Nggak usah, Mas. Aku lebih nyaman nyetir sendirian lagipula, aku ingin waktu berkualitas hanya dengan Fikri dan orang tuaku."
"Tapi Dis, apa kata orang nanti kalau Mas nggak ikut? Mereka pasti mikir kita lagi ada masalah," Abdi mendekat, mencoba memegang pintu mobil. "Ayo dong, jangan begini ya, Mas janji di sana nanti Mas nggak akan macam-macam. Mas cuma mau lihat Fikri."
Disa menoleh, menatap Abdi tepat di matanya. "Rasa malu karena omongan orang itu nggak sebanding dengan rasa sakitku saat kamu membiarkan aku dan Fikri kekurangan nutrisi, Mas. Kamu mau ikut karena ingin terlihat sebagai suami sukses di depan warga desa dengan mobil ini? Maaf, mobil ini adalah simbol prestasiku, bukan hasil nafkahmu. Kamu nggak punya hak untuk duduk di dalamnya setelah semua yang kamu lakukan."
"Disa, kamu keterlaluan! Mas ini suamimu kenapa kamu bicara seperti itu hah!"
"Suami?" Disa tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyiratkan luka yang sudah mengering. "Suami itu melindungi, Mas. Bukan menjadi jalan bagi orang lain untuk menginjak-injak istrinya. Kalau kamu mau ke kampung, silakan. Tapi naik motor atau bus. Jangan harap bisa menumpang di atas harga diriku yang baru saja bangkit."
Disa langsung meniggalkan Abdi yang kaget lalu langsung masuk ke mobil, menutup pintu dengan bunyi bum yang solid dan meluncur pergi meninggalkan Abdi yang terpaku di tengah kepulan asap tipis pagi hari.
Jujur Abdi semakin kaget dengan perubahan Disa yang sangat tajam dan juga bar-bar untuk ukuran istri yang tadinya nurut dan mengalah serta punya sikap legowo.
Desa Sukamaju, pukul 10.00 WIB.
Perjalanan tiga jam itu terasa singkat karena hati Disa dipenuhi rindu. Saat mobil memasuki halaman rumah kayu yang asri milik orang tuanya, hati Disa menghangat. Fikri bocah kecil itu, sedang duduk di teras sambil memainkan mobil-mobilan kayu bersama Kakeknya.
"Bunda!" teriak Fikri. Bocah itu berlari kencang, menubruk kaki Disa.
Disa berlutut, memeluk anaknya erat-erat. Aroma keringat matahari dari tubuh Fikri adalah obat paling manjur bagi segala lelahnya di Jakarta.
"Ya Allah, Disa!" Ibunya keluar dari dalam rumah, tangannya masih basah oleh air cucian. Beliau terpaku melihat penampilan putrinya yang tampak sangat berbeda bersih, wangi, dan bercahaya. "Nduk, kamu... kamu cantik sekali. Ini mobil siapa?"
"Mobil kantor, Bu. Disa kan sudah mulai menata karir lagi dan Alhamdulillah sekarang posisinya sudah bagus tanpa harus seleksi karena kemampuan Disa buk," jawab Disa sambil mencium tangan ibunya dengan takzim. "Bapak, apa kabar?"
Bapaknya hanya manggut-manggut sambil tersenyum bangga. "Bapak sangat bangga dengar dari ceritamu di telepon. Tapi melihatnya langsung... Bapak jadi tenang. Kamu nggak kurus lagi kayak terakhir kali pulang."
Disa tersenyum getir lalu semuanya langsung masuk kedalam rumah dan Bapak mengambil alih tas oleh-oleh yang di bawa oleh Disa. Di ruang tamu Disa mengeluarkan tumpukan oleh-oleh dari tas yang du pegang bapak tadi yang isinya vitamin terbaik untuk Bapak, kain halus untuk Ibu, dan segudang mainan edukasi untuk Fikri.
Di meja makan yang sederhana yang ada dirumah orang tua Disa juga melihat beberapa makan siang yang sudah di siapkan ibunya.
"Disa kenapa banyak sekali oleh-oleh nya?," Tanya ibu
"Ndak apa-apa buk ini Ndak seberapa dari apa yang kalian kasih selama ini ke aku dan Fikri." Jawab Disa yang matanya berkaca-kaca.
"Sebaiknya kita makan dulu saja buk." Ucap Bapak untuk membuat suasana tidak canggung.
"Ah setuju pak, ayok Disa, Fikri kita makan bareng-bareng." Ajak ibu.
Disa, Fikri dan bapak serta ibu langsung berjalan kearah meja makan sederhana . Disa tersenyum melihat menu makanan khas kampung ada Sayur lodeh dan ikan asin masakan Ibu ini Disa yakin rasanya jauh lebih mewah daripada steak yang dimakan Abdi tempo hari.
"Abdi nggak ikut, Nduk?" tanya Bapaknya hati-hati.
"Ada urusan kantor, Pak," jawab Disa singkat. Ia belum mau merusak suasana dengan cerita kebejatan Abdi, meski orang tuanya pasti bisa merasakan ada sesuatu yang retak di sana. Bagi Disa, hari ini adalah tentang dirinya dan keluarganya. Ia ingin mengisi energinya sebelum kembali ke Jakarta untuk melanjutkan "permainannya" dengan Abdi.
Jakarta, siang hari.
Berbeda dengan kehangatan di kampung, kontrakan Abdi terasa mencekam. Abdi duduk di ruang tamu yang gelap, hanya ditemani satu lampu kecil. Perutnya lapar, tapi ia malas memasak. Ia baru saja hendak merebahkan diri saat pintu depan digedor dengan kasar.
Braakk! Braakk!
"Abdi! Buka pintunya!" suara Bu Ratna menggelegar dari luar.
Abdi yang sedang rebahan di atas sofa membuka pintu dengan malas. Di sana berdiri ibunya dengan wajah merah padam, didampingi Andi yang tampak kuyu.
"Mana istrimu?! Ibu dengar dia pulang kampung bawa mobil mewah tapi kamu ditinggal di sini? Kamu itu suami atau keset, Abdi?!" cerocos Bu Ratna sambil nyelonong masuk dan duduk di kursi.
"Disa lagi menemui Fikri, Bu. Mobil itu punya kantornya," jawab Abdi lemas.
"Halah! Kantor mana yang kasih mobil kalau bukan dia main gila sama bosnya? Kamu itu bodoh! Sekarang dengerin Ibu, Andi butuh uang buat bayar denda motornya yang kemarin ditarik, terus Ibu juga mau arisan besok. Mana uangnya? Ibu cek rekening sudah nggak ada isinya!"
Abdi memijat pelipisnya. Rasa peningnya mencapai puncak. "Nggak ada uang, Bu. Semuanya sudah dipegang Disa. Abdi cuma dikasih uang bensin."
"Apa?! Kamu kasih semua gajimu ke perempuan itu? Kamu gila, Abdi! Istri macam apa yang bikin suaminya sengsara begini? Kalau dia boros begitu, mending kamu ganti istri saja! Cari yang lebih tahu diri, yang mau nurut sama Ibu!" teriak Bu Ratna tanpa perasaan.
Abdi terdiam sejenak. Kalimat ibunya kali ini benar-benar memicu sesuatu di dalam dadanya. Ia teringat bagaimana Disa menatapnya tadi pagi tatapan penuh kejijikan. Ia teringat bagaimana ia sekarang harus "mengemis" uang bensin pada istrinya sendiri.
"Ganti istri, Bu?" Abdi tertawa getir, suaranya terdengar sangat parau. "Bukan istriku yang boros, Bu. Tapi Ibu dan adik-adikku yang terlalu boros!"
Bu Ratna tertegun, tidak percaya anak kesayangannya berani menjawab.
"Selama tiga tahun Disa diam. Dia makan nasi sisa supaya Abdi bisa kirim uang ke Ibu. Dia nggak beli baju baru supaya Andi bisa foya-foya. Dan sekarang, saat dia balik kerja dan sukses karena kemampuannya sendiri, Ibu malah suruh Abdi ganti istri?" Abdi berdiri, menatap ibunya dengan keberanian yang baru muncul.
"Kalau boleh milih, mungkin lebih baik aku ganti keluarga sekalian!"
"Abdi! Kamu berani sama Ibu?!" Andi mencoba maju, tapi Abdi menepisnya.
"Ibu nggak tahu rasanya didiamkan istri sendiri. Ibu nggak tahu rasanya setiap hari dikasih jarak, dianggap nggak ada, bahkan dianggap sampah di rumah sendiri! Disa masih mau tinggal di sini saja itu sudah keajaiban. Ibu dan Andi... kalian benar-benar sudah menghancurkan hidupku!"
Bu Ratna ternganga, ia melihat kemarahan yang nyata di mata anaknya. Untuk pertama kalinya, ia melihat Abdi tidak lagi menjadi "anak penurut".
"Pergi, Bu. Pergi!" usir Abdi. "Jangan datang lagi kalau cuma mau minta uang, aku sendiri nggak punya uang!"
Setelah Bu Ratna dan Andi pergi dengan maki-maki, Abdi merosot di lantai. Ia menatap kamar Disa yang terkunci. Ia sadar, ia sedang berada di titik terendah dalam hidupnya. Dan yang paling menakutkan adalah, ia tahu Disa belum selesai menyiksanya.
Di kampung, Disa sedang menidurkan Fikri. Ia melihat notifikasi di ponselnya. Ada pesan masuk dari Abdi yang isinya permintaan maaf panjang lebar dan cerita bahwa ia baru saja mengusir ibunya.
Disa hanya membaca pesan itu tanpa minat untuk membalas. Ia lalu membuka sebuah draf email di ponselnya yang ditujukan kepada divisi legal di kantor Abdi, berisi rincian "temuan" audit yang ia temukan tempo hari.
"Permintaan maaf nggak akan menghentikan audit ini, Mas," bisik Disa pada kegelapan malam.