Arinta adalah seorang pria, suami, juga ayah yang telah melakukan perselingkuhan dengan teman sekantornya bernama Melinda dari istri sah nya, Alena setelah menjalani bahtera rumah tangga hampir tujuh tahun pernikahan hanya karena kekhilafan.
Ketika semua rahasianya terbongkar oleh sang istri, semuanya dianggap terlambat, Alena seolah menutup ruang untuknya kembali sekalipun ia berusaha memperbaiki.
Sesakit itukah yang dirasakan oleh Alena? Harapannya untuk bersama Alena pupus ketika wanita itu mantap untuk bercerai dan sepertinya ia mulai dekat dengan seorang pengusaha kaya raya bernama Aditya.
Arinta harus melepaskan Alena meski ia masih mencintai sang istri dan tampak menyesal, tapi kehidupan terus harus berjalan....
Bagaimana cara Arinta memulai kembali semuanya dari awal sementara penghakiman atas dirinya akan terus melekat entah sampai kapan....
"Apakah aku tak pantas dengan kesempatan kedua...?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11 : Kepanikan Arinta
Alena akhirnya tiba di apartemennya Andini yang modern dan minimalis, berada di dekat pusat ibukota dengan segala fasilitas lengkap termasuk kolam renang di bawah hunian.
"Masuk, Len..., maaf sedikit berantakan...."
Andini membuka pintu apartemennya yang berada di lantai 21 tower Alamanda, memperlihatkan kondisi bagian dalamnya yang tertata rapih, nyaman, bersih dan sedikit berantakan (menurut Andini) karena ada beberapa pakaian tertumpuk di sofa juga buku-buku bacaan tergeletak di atas meja.
"Ah, lu, segini dibilang berantakan...." Alena cuma geleng-geleng aja saat melihat isi apartemen tersebut.
"Lu nanti tidur sama gue. Si Bibi sama Alea bisa tidur di kamar satunya lagi," ujar Andini yang berjalan menuju ke kamar kedua dan membuka pintu ruangan kamar tersebut.
"Di situ ada satu kasur yang bawahnya bisa ditarik, jadi Alea bisa tidur di atas, Bi Yani di bawahnya," jelasnya saat memperlihatkan isi kamar tersebut.
Alena masuk ke dalam sana dan memperhatikan sekeliling isi kamar yang lengkap dengan semua furniture.
"Ini sih, udah enak banget ya," ujarnya sambil manggut-manggut, merasa terkesan.
"Kamar gue ada di belakang ruang TV, nanti lu tidur sama gue di situ," ucap Andini sambil mengacungkan ibu jarinya ke arah sebuah ruangan. Alena pun mengangguk mengerti.
"Udah, lu beresin dulu semua barang Alea, gue juga mau beresin baju-baku gue dulu sama sekalian ini gue bawa langsung ke kamar."
Andini pun berjalan keluar sambil mendorong dua koper besar milik Alena ke ruangan kamarnya.
"Bibi ajak Alea keluar dulu gih, biar dia gak bosen," ucapnya sembari mulai mengeluarkan semua perlengkapan sekolah dan mainan si kecil dalam dua koper kecil.
"Baik Bu." Yani tanpa banyak protes langsung menggendong Alea dan mengajaknya bermain duduk di ruang tamu.
Alena mulai merapihkan satu-persatu buku-buku milik Alea yang ia letakkan di atas sebuah meja di samping kasur tersebut. Tak lupa semua mainannya juga diletakkan di bagian bawah lemari pakaian. Terakhir ia memasukkan semua pakaian Alea ke dalam lemari itu juga.
Usai membereskan semua keperluan sang puteri, Alena pun berjalan keluar.
"Bibi, bajunya masukin di lemari itu saja gak apa-apa. Masih bisa buat muat banyak," ujarnya menjelaskan. "Saya sudah membereskan semua barang Alea. Kalau mau beresin baju-bajunya sekarang, silahkan," lanjutnya masih berdiri di ambang pintu kamar.
"Iya Bu. Bibi mai beresin sekarang," balasnya segera bangkit dari tempat duduk meninggalkan Alea yang sedang asik bermain sendiri dengan pita rambut mainan.
Yani bergegas masuk ke dalam kamar lalu mengambil koper miliknya yang masih belum tersentuh. Sementara Alena berjalan menghampiri Alea yang sedang fokus sekali bermain, menempelkan kupu-kupu kertas di sebuah pita dengan rambut palsu yang menempel sebagai hiasannya.
"Len, udah beres?" Andini terlihat keluar kamar setelah selesai merapihkan tumpukan pakaian miliknya yang berantakan tadi.
"Udah...." Wanita itu hanya mengangguk.
"Koper lu udah ada di kamar ya. Kalau mau lu beresin masuk aja," ucapnya dengan santai. "Gue mau ke bawah dulu sebentar, nanti balik lagi..., gak usah sungkan di rumah gue, kalau mau makanan ada di kulkas," lanjutnya.
"Iya, Din...."
"Oke deh, gue keluar dulu...."
Andini pun langsung meninggalkan ruangan tanpa mengganti pakaiannya dulu.
.
.
Arinta tiba di depan rumah tepat waktu seperti biasanya. Ya, ia sedang berusaha untuk mengurangi kecurigaannya Alena, jadi sementara ini dia gak berani untuk pulang terlambat.
Namun kali ini ia mendapati rumah yang biasanya bercahaya itu telah padam seluruhnya. Gelap total, membuat Arinta merasa was-was.
Kok rumah gelap? Apa Alena pergi? Tapi kenapa dia gak bilang?"
Pikirnya penuh tanda tanya. Tapi, ia memutuskan untuk tetap masuk ke dalam. Untungnya dia selalu membawa kunci cadangan rumah (memang untuk berjaga-jaga). Arinta turun dari dalam mobil dan membuka pintu pagar terlebih dahulu.
Mobil mentereng itu melaju masuk ke halaman garasi rumah dengan suara deru yang cukup keras terdengar di lingkungan tempat tinggal.
Setelah membuka kunci pintu rumah ia segera menyalakan semua lampu yang ada di rumah itu. Keadaan rumah benar-benar sepi, dan suasana ini sangat tidak nyaman bagi Arinta.
Laki-laki itu berjalan ke arah kamarnya terlebih dahulu. Setidaknya mandi bisa membuat jiwanya sedikit lebih tenang.
Namun reaksinya langsung berubah saat membuka lemari pakaian dan menyadari kalau semua baju-baju miliknya Alena sudah tidak ada.
"Apa maksud Alena dengan semua ini!?" Ucapnya setengah berteriak.
Emosi Arinta langsung naik. Ia membanting pintu lemari pakaian mereka begitu saja hingga terdengar seperti ada suara retakan ada pintu tersebut.
Arinta bergegas keluar kamar dan pergi menuju kamar Alea. Sesuai dugaannya, kamar si kecil pun kosong. Pun, setelah ia mengecek isi lemari pakaian anaknya yang sudah tak menyisakan selembar baju pun di sana. Arinta langsung menggeram dan ia tak perlu harus melihat ke kamar Yani. Babysitter itu pasti juga ikut pergi.
Perasaannya langsung kalut, tak mengerti kenapa Alena pergi secara tiba-tiba.
Pria itu pun segera merogoh ponselnya dari dalam saku celana dan mencoba untuk menghubungi Alena.
Akan tetapi setelah mencobanya beberapa kali, panggilannya tidak diangkat oleh sang istri.
"Grrr, mau kamu itu apa sih, Alena!?" Pria itu menggeram marah sambil memandang tajam pada layar ponsel, seakan kekesalannya bisa ditembus lewat pandangan mata saja.
Pada akhirnya jalan satu-satunya bagi Arinta adalah mengirimkan sebuah pesan langsung kepada Alena.
Alena, apa maksud kamu dengan semua ini? Kenapa kamu tiba-tiba meninggalkan rumah dengan Alea?
Pesan itu langsung berbunyi di ponsel milik Alena yang saat ini memang sedang diletakkan di atas meja ruangan TV.
Ya, Alena memang sengaja tidak mengangkat telepon dari sang suami tadi. Begitu ponsel itu kembali berbunyi dengan suara singkat, Alena pun meliriknya.
Alena mengambil ponsel itu dan membaca pesan dari Arinta yang langsung membuatnya tersenyum sinis.
"Arinta bilang apa, Len?" Tanya Adinda agak penasaran setelah melihat reaksi dingin dari Alena.
"Dia masih bisa bermain-main denganku. Pura-pura gak mengerti apa yang menjadi alasanku pergi, dasar munafik!" Ujarnya dengan nada penuh penghakiman.
Akhirnya Alena mengirimkan sebuah pesan balasan untuk Arinta.
Aku sedang butuh waktu untuk sendiri, tolong jangan ganggu aku dulu sampai keadaanku lebih stabil....
Arinta yang mendengar pesan masuk pada ponselnya langsung buru-buru membuka layar ponselnya dan membaca tulisan itu dari Alena.
Kedua alis pria itu langsung saling bertaut. Ia tidak dapat mengerti dengan maksud Alena yang ingin sendiri dan sedang butuh waktu sampai stabil. Dia bingung tanpa berani berpikir kalau semua ini adalah kesalahannya yang sudah terbongkar!
Di sisi lain Alena langsung memilih untuk memblokir sementara nomor Arinta.
"Setelah ini, rencana lu apa, Len?" Tanya Andini khawatir.
"Gue cuma lagi butuh waktu sampai siap untuk menghadapi Arinta dan meminta kejelasan dari semua ini, Din...," ujar Alena penuh kebingungan.
Dia masih belum yakin apakah dirinya akan siap untuk mendengar sendiri dari mulut suaminya, kalau perselingkuhan itu memang benar-benar terjadi.
Sanggupkah hatinya untuk menerima semua itu?
.
.
Bersambung....
hemmmm jarang deh mungkin ada 1000/1 yg betul" sadar, sodara ku aja berhentinya ajal menjemput selingkuh Mulu susah kalau hati udah pernah bercabang