Lahir pada malam 1 Suro setelah dikandung dua belas bulan, seorang bayi menjadi incaran para pendekar aliran hitam dan putih. Di tengah pertumpahan darah, ia menghilang dari dunia manusia.
Diasuh oleh makhluk mitos di rimba purba, ia tumbuh dengan ilmu yang tak dikenal perguruan mana pun. Ia belajar dari angin, dari api, dan dari naluri alam.
Saat dewasa, Braja Geni kembali ke dunia persilatan.
Kehadirannya menggemparkan jagat kanuragan. Jurusnya tak berpihak pada putih maupun hitam—ia adalah kekuatan baru yang mengancam keseimbangan.
Namun di balik kesaktiannya, tersembunyi rahasia kelahiran dan takdir besar yang akan menentukan arah dunia persilatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Braja Geni mengernyit. Nada suaranya tak lagi seramah tadi.
“Raden Balsem… kupikir kau memahami arti balas jasa. Mengapa ayah dan saudara-saudaraku harus melewati ujian segala?”
Raden Balsem tersenyum tipis, bukan senyum mengejek, melainkan senyum seseorang yang tahu sesuatu lebih jauh.
“Oh, maaf, Raden Braja. Ujian ini bukan untuk menghinakan mereka. Justru untuk kebaikan mereka sendiri. Ruang dan waktu di negeri tuyul berbeda dari alam manusia. Sebelum benar-benar melangkah masuk ke inti kerajaan kami, kalian harus merasakan terasnya dahulu. Di sanalah kalian akan mengerti… mengapa manusia tak bisa sembarang masuk ke negeri kami. Mari.”
Ia melangkah ke depan. Gerbang yang terbelah tadi kini memancarkan cahaya kehijauan yang lebih terang.
Begitu mereka melintasi ambang itu, dunia seakan berubah.
Teras negeri tuyul bukanlah halaman istana seperti yang dibayangkan. Ia berupa hamparan tanah berumput tipis yang melayang di udara, dengan pepohonan tumbuh terbalik dari langit. Angin berputar tak menentu, kadang dari bawah, kadang dari samping.
Belum sempat Ki Baraya menyesuaikan diri—
Tubuhnya terasa ringan.
Terlalu ringan.
Kakinya terangkat beberapa jengkal dari tanah.
Ia segera mengatur napas, mengerahkan tenaga dalam ke telapak kaki, menekan pusat berat tubuhnya agar kembali stabil. Otot-ototnya menegang, urat-uratnya bergetar halus.
Berbeda dengan Laras dan Jatibumi.
Mereka belum sempat bereaksi.
Tiba-tiba saja tubuh mereka terangkat lebih tinggi, terseret pusaran angin tak terlihat.
“Ayaaaaaaahhhh!” teriak Laras.
“Ayah! Ini bukan lucu lagiii!” jerit Jatibumi panik.
Dalam sekejap, keduanya tersangkut di dahan pohon yang justru tumbuh dari langit ke bawah. Tubuh mereka menggantung terbalik, pakaian berkibar-kibar.
Raden Balsem menyilangkan tangan.
“Apa kataku? Ini baru teras. Belum masuk negeriku sepenuhnya. Jika sudah masuk ke inti kerajaan, mungkin mereka telah tersesat melayang di angkasa ruang-waktu kami.”
Ia menoleh pada Braja.
“Berbeda denganmu, Braja. Kau memiliki darah siluman. Tubuhmu sudah selaras dengan getaran alam gaib. Maka kau tidak terkejut oleh perubahan ruang di sini.”
Lalu ia memandang Ki Baraya dengan sorot mata yang lebih dalam.
“Dan kau, Kisanak… kau manusia. Namun tampaknya kau tak asing dengan jagat gaib. Siapa namamu?”
“Namaku Ki Baraya,” jawabnya tenang, meski tubuhnya masih melayang beberapa jengkal dari tanah.
Mata Raden Balsem menyipit, lalu tersenyum samar.
“Oh… jadi kaulah pemilik pedang keramat Sanghyang Cakrabhairawa. Aku telah mendengar kabar pertarunganmu di Pasundan. Pantas saja kau mampu menahan tarikan ruang ini.”
Angin berputar lebih kencang, membuat Laras hampir terlepas dari dahan.
“Naahh!” jeritnya.
Ki Baraya memejamkan mata sejenak, lalu menghentakkan kakinya ke udara kosong. Tenaga dalamnya menyebar seperti gelombang tak terlihat, menstabilkan pusaran angin di sekeliling anak-anaknya.
Ia meloncat—bukan ke atas atau ke bawah, melainkan ke arah pusat pusaran. Dalam satu gerakan terukur, ia meraih Jatibumi lebih dulu, lalu berputar dan menyambar Laras sebelum mereka terlepas.
Ia mendarat perlahan, memaksa tubuhnya tetap “berat” di atas permukaan teras yang tak stabil.
Raden Balsem mengangguk puas.
“Bagus. Tapi menolong saja tak cukup.”
Ia menunjuk ke arah langit—atau mungkin tanah—yang berputar.
“Di negeri kami, berat dan ringan ditentukan oleh batin. Jika hati mereka masih liar dan tak terpusat, tubuh mereka akan terus melayang tanpa arah.”
Ia kembali memandang Ki Baraya.
“Aku yakin kau mampu mengajari mereka. Ajarkan anak-anakmu menambatkan diri pada pusat tenaga dalam mereka. Jika dalam satu jam mereka mampu berdiri tegak tanpa terangkat… maka mereka layak melangkah lebih jauh.”
Angin kembali berdesir.
Kini bukan lagi sekadar ujian masuk.
Ini adalah pelajaran pertama.
Dan teras negeri tuyul… baru saja menyambut mereka dengan hukum yang tak pernah dikenal manusia.
Sambil menekan bahu kedua anaknya agar tak kembali terangkat, Ki Baraya mengatur napasnya sendiri agar tetap stabil. Angin di teras negeri tuyul masih berputar tak menentu, kadang menarik ke atas, kadang menyedot ke samping.
“Dengar baik-baik,” ucapnya tenang namun tegas. “Ambil napas dalam-dalam. Jangan tergesa.”
Laras dan Jatibumi memejamkan mata.
“Bayangkan aliran napas itu turun… perlahan… melewati dada, perut, lalu terus mengalir hingga ke telapak kaki. Jangan berhenti di dada. Turunkan. Paksa ia turun.”
Mereka mengikuti.
“Jika napas terasa penuh di kaki, tahan di sana. Rasakan beratnya. Rasakan telapak kakimu seolah menembus tanah.”
Tubuh Laras yang tadi masih bergetar perlahan mulai turun beberapa jengkal. Jatibumi masih sedikit melayang, wajahnya tegang menahan konsentrasi.
“Kalau napas mulai habis,” lanjut Ki Baraya, “keluarkan perlahan. Bayangkan alirannya merambat kembali dari kaki… naik ke perut… ke dada… lalu keluar lewat mulut. Jangan lepaskan pusatmu.”
Angin kembali berputar. Rambut Laras berkibar. Jatibumi hampir terangkat lagi—namun ia segera menarik napas lebih dalam.
Mereka mengulangi.
Tarik.
Turunkan.
Tahan.
Hembuskan.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Perlahan, perubahan mulai terasa.
Rumput di bawah kaki mereka yang tadi seperti kabut, kini terasa lebih padat. Telapak kaki yang semula tak menyentuh apa-apa, mulai menemukan pijakan. Seolah tanah itu mengakui keberadaan mereka.
Laras membuka mata lebih dulu.
“Ayah… kakiku… terasa berat.”
“Itu bagus,” jawab Ki Baraya singkat.
Jatibumi mengerutkan dahi, berkeringat. “Aku seperti… berdiri di batu besar.”
“Pertahankan,” ujar Ki Baraya.
Mereka kembali menarik napas dalam-dalam, kali ini lebih teratur. Tubuh mereka tak lagi terangkat. Pusaran angin yang tadi menggoda kini seperti kehilangan daya tariknya.
Akhirnya, keduanya berdiri tegak.
Benar-benar berdiri.
Tak melayang. Tak terseret.
Raden Balsem yang sejak tadi memperhatikan dengan tangan bersedekap tersenyum tipis.
“Cepat juga mereka belajar,” gumamnya. “Manusia jarang bisa menyesuaikan diri secepat ini di teras negeriku.”
Ki Baraya menepuk bahu kedua anaknya pelan.
“Jangan lengah. Di sini, keseimbangan adalah hidup.”
Angin kembali berembus.
Namun kini, mereka tidak lagi terombang-ambing.
Mereka telah menambatkan diri pada pusat tenaga mereka sendiri.
Dan teras negeri tuyul… untuk pertama kalinya, menerima pijakan manusia tanpa perlawanan.