" Tinggalkan saja pacarmu itu. Tampangnya saja seperti tukang galon"
"OHH tidak boleh menghina manusia begitu pak. Biar seperti tukang galon, tapi cinta saya melebihi samudra"
"Halah paling juga nanti kamu nyesal"
Haruna Kojima gadis keturunan Jepang yang biasa di panggil Nana. Setiap hari harus mendengarkan mulut judes bos nya. Siap lagi kalo bukan Abian Pangestu, pria bermulut pedas tidak pandang bulu laki-laki maupun perempuan dimatanya sama. Tapi untungnya Nana punya kesabaran setebal skripsi anak teknik. Jadi ucapan judes sang bos hanya seliweran angin lewat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mi instan tengah malam
Hujan di luar benar-benar seperti ditumpahkan dari langit. Suara gemuruh petir sesekali membuat kaca jendela bergetar.
Mommy Lauren menatap ke arah jendela, lalu beralih menatap Nana dengan cemas. "Hujan semakin deras, Na. Nginap di sini saja ya sayang. Bahaya kalau pulang sekarang, jalanan
"Mom nggak bisa gitu dong. lagipula besok dia harus kerja. Kalau nginap di sini nanti malah repot."
Davin yang sedang duduk santai di sofa sambil merangkul Davina malah ikut nimbrung memanaskan suasana.
"Iya, nginap sini aja, Na. Bahaya nyetir saat hujan kayak gini. Daripada kenapa-napa di jalan, mending di sini, aman terkendali."
Nana tampak bimbang. Ia melihat ke luar jendela, lalu menatap Mommy Lauren. "Tapi Tante... saya kan nggak bawa baju ganti," ucap Nana ragu.
"Iya juga ya," sahut Davina sambil tampak berpikir. "Sebenarnya aku punya baju tidur, cuma lagi kotor semua, tinggal yang bisa di pakai buat di kamar aja"
Mommy Lauren menjentikkan jarinya seolah mendapat ide brilian. Ia menoleh ke arah putra bungsunya yang sedari tadi memasang wajah tegang.
"Pinjam bajunya Abian saja!" cetus Mommy Lauren ringan.
"Apa?!" Abian melotot. "Nggak, nggak! Bajuku besar semua, Mom!"
"Nggak apa-apa, baju kegedean malah nyaman buat tidur," balas Lauren tidak mau kalah.
"Abian, sana ambilkan bajumu untuk Nana. Cari yang kaos yang nyaman. Cepat!"
Abian mendengus frustrasi, namun ia tidak punya kekuatan untuk melawan titah sang ratu di rumah itu.
Nana hanya mengekor di belakang Abian saat mereka menaiki tangga. Sesampainya di depan sebuah pintu kayu jati yang elegan, Abian berhenti.
"Tunggu di sini," ucap Abian tanpa menoleh.
"Baik, Pak," jawab Nana singkat sambil meremas ujung kemeja kerjanya.
Abian masuk ke dalam kamarnya yang bernuansa minimalis maskulin. Di dalam, ia berdiri di depan lemari pakaiannya yang tertata sangat rapi. Tangannya bergerak ragu di antara tumpukan kaos.
Ia merasa sangat aneh memberikan pakaian pribadinya untuk dipakai oleh seorang wanita.
Setelah memilah selama hampir lima menit, Abian akhirnya keluar dengan kaos warna hitam polos berbahan katun tebal.
"Nih," ucapnya singkat sambil menyerahkan kaos itu.
"Makasih, Pak," Nana menerima kaos itu, tapi kemudian ia diam sejenak, menatap kaos yang panjangnya mungkin mencapai paha itu.
"Tapi... celananya?"
Abian mendengus pelan. Ia baru sadar kalau kaos saja tidak cukup, sementara celana training-nya pasti akan membuat Nana tenggelam. Ia kembali masuk ke kamar, mengaduk laci pakaian santainya, dan akhirnya mengambil sebuah boxer baru yang masih rapi.
"Nih," ucap Abian lagi saat kembali ke depan pintu, menyerahkan sepotong celana pendek itu
Nana melongo menatap benda di tangannya. "Serius, Pak? Bapak kasih boxer sama saya?"
"Terus kamu mau apa? Celana saya nggak akan ada yang muat sama kamu. Kegedean semua. Lagipula itu baru, belum pernah saya pakai. Pakai saja daripada kamu tidak pakai bawahan sama sekali."
"Ya... ya sudah deh. Makasih ya, Pak Bos yang baik hati."
Abian tidak menjawab, ia segera menutup pintu kamarnya dengan sedikit kencang.
Nana akhirnya bisa beristirahat di kamar tamu yang sangat nyaman, jauh lebih mewah daripada kamar kosnya sendiri. Namun, udara AC yang dingin dan suara rintik hujan yang tersisa membuatnya terbangun dengan tenggorokan kering. Dengan langkah pelan, ia keluar kamar menuju dapur.
Begitu sampai di ambang pintu dapur, langkahnya terhenti. Ia terkejut melihat Abian sudah berada di sana. Pria itu tampak sangat sibuk di depan kompor yang menyala, membelakanginya.
"Ngapain?" tanya Abian tiba-tiba tanpa menoleh, seolah ia bisa merasakan kehadiran seseorang di belakangnya.
Nana tersentak kecil, nyaris melompat karena kaget. "Anu, Pak... saya haus, mau minum," jawab Nana canggung sambil berjalan menuju dispenser.
Setelah meneguk air hingga tandas, rasa penasaran Nana muncul. Ia melihat uap mengepul dari panci yang sedang diaduk oleh bosnya itu.
"Bapak ngapain?" tanya Nana penasaran.
Abian mematikan kompor, lalu menuangkan isi panci ke dalam mangkuk keramik. Aroma bumbu yang gurih dan sangat khas langsung memenuhi dapur.
"Masak mie instan," jawab Abian singkat sambil mengangkat mangkuknya. Ia melirik Nana yang berdiri kaku dengan pakaian kebesarannya.
"Mau?"
Nana menelan ludah. Aroma mie instan di tengah malam adalah godaan terberat di dunia. "Boleh, Pak? Saya nggak mau jadi perebut jatah makanan bos sendiri."
Abian mendengus, namun ia tetap mengambil satu mangkuk lagi dari lemari kabinet. "Duduk saja. Saya tadi masaknya dua bungkus."
Mereka duduk berhadapan di meja makan dapur yang hanya diterangi lampu temaram. Suara denting sendok dan garpu yang beradu dengan mangkuk keramik menjadi satu-satunya bunyi di ruangan itu, selain sisa rintik hujan di luar.
Abian menyuap mienya dengan tenang, namun matanya sesekali melirik Nana yang tampak sangat lahap. Setelah beberapa saat, Abian berdehem, mencoba memecah keheningan dengan nada bicara yang diusahakan sedatar mungkin.
"Jadi..." Abian menggantung kalimatnya.
"Siapa orang yang kamu bilang tadi di depan Mommy"
Nana yang sedang asyik menyeruput kuah mie langsung berhenti. Ia menatap Abian dengan tatapan jenaka, menyadari bahwa bosnya yang kaku ini ternyata masih memikirkan ucapannya di meja makan tadi.
"Bapak kepo?" tanya Nana sambil tersenyum.
Abian menaruh mangkuk mienya yang sudah kosong ke meja dengan suara denting yang cukup keras. Ia menatap Nana lekat-lekat, tatapannya kini berubah menjadi lebih serius.
"Saya bukan kepo," ucap Abian dengan nada rendah.
"Saya cuma takut kalau kamu bodoh lagi, dan malah memilih laki-laki yang modelannya seperti Rian lagi."
"Kamu kan otaknya pendek kalau soal begituan. Didekati laki-laki sedikit saja sudah baper. Lihat saja tadi, Naufal cuma kasih mawar sama godain dikit, kamu sudah senyum-senyum nggak jelas."
Nana mendengus kesal, tidak terima dibilang otak pendek. "Ya namanya juga perempuan, Pak. Dikasih perhatian ya wajar kalau senang. Lagian Mas Naufal asik kok orangnya, nggak kaku kayak kanebo kering."
Mendengar itu, Abian kembali mengulurkan tangannya dan menoyor pelan kepala Nana lagi. Kali ini lebih sebagai tanda gemas sekaligus peringatan.
"Tuh kan, baru dibilang sudah membela," ketus Abian.
"Pokoknya, kalau mau menjalin hubungan, lapor dulu sama saya. Saya nggak mau konsentrasi kerja kamu hancur cuma gara-gara galau diputusin cowok nggak bener lagi."
Nana mencebikkan bibirnya sambil mengelus kepalanya yang ditoyor. "Lapor Bapak? Emangnya Bapak bapak saya? Atau... jangan-jangan Bapak takut kehilangan asisten serba bisa kayak saya ya?"
Abian tidak menjawab. Ia hanya berdiri, membawa mangkuk kotornya ke wastafel, lalu meninggalkan dapur tanpa menoleh lagi. Namun, di balik punggungnya yang tegap, Abian sebenarnya merutuki dirinya sendiri karena merasa terlalu ikut campur hanya karena urusan asmara asistennya.
Nana ga ada teman laki Thor kayanya asik deh kalau satu tempat kerja ketemu teman lama