SEKUEL DARI CINTA LAMA BELUM KELAR
Dalam kisah ini didominasi perjalanan cinta antara Sasa dan Sakti, restu orang tua dari Sakti yang belum juga turun, meski pernikahan mereka sudah berjalan kurang lebih 5 tahun, bahkan kedua anak Iswa sudah sekolah, namun hubungan mertua dan menantu ini tak kunjung membaik.
Kedekatan Sakti dan kedua anak mendiang adiknya, Kaisar, Queena dan Athar membuat Sasa overthinking dan menuduh Sakti ada fair dengan Iswa. Setiap hari mereka selalu bertengkar, dan tuduhan selingkuh membuat Sakti capek.
Keduanya memutuskan untuk konsultasi pernikahan pada seorang psikolog yakni teman SMA Sakti, Mutiara,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEISTIMEWA ITU
Sakti menggendong Athar di pundak mereka merayakan kemenangan setelah berhasil tangkap bola sebanyak-banyaknya, keduanya sangat kompak layaknya papa dan anak kandung. Fandy melihat interaksi mereka ikut tersenyum. Pantas saja Athar tak perlu pinjam ayah dia sudah mendapatkan sosok Popo yang sepadan dengan ayah kandung.
Selepas kegiatan ini, Fandy mengajak Sakti makan beserta Athar, ingin sekali menolak tapi apa daya Athar semangat sekali, bahkan dia memesan paket yang paling mahal, karena dia mengincar hadiahnya. Saat Athar dan Davin asyik makan, Fandy mengajak obrolan pada Sakti.
"Pantas Sasa sangat cemburu sama Anda, Pak!" ucap Fandy sembari menuangkan coffe latte ke alas cangkir. Sakti tersenyum. Tentu Fandy tahu seluk beluk munculnya overthinking Sasa karena apa. "Anda sangat dekat dengan Athar."
Sakti tersenyum tahu sekali maksud Fandy apa, "Sayang sama dua ponakan tapi tidak dekat dengan mamanya, Pak Fandy!" jelas Sakti karena memang kenyataannya begitu.
Pak Fandy tersenyum sembari mengangguk, sekali bertemu Iswa, secara tidak langsung menilai perempuan itu yang sangat kuat prinsip dan tidak gampang berubah pikiran.
"Saya kemarin berterima kasih pada mama Athar yang telah menjenguk Davin saat sakit. Mungkin anak saya ingin kehadiran seorang ibu, dan saat Iswa datang, dia begitu bahagia. Saya sempat berpikir apa mungkin saya akan mendekati mama Athar, tapi melihat Anda pagi ini, saya harus mundur sebelum berjuang," ucap Fandy dan diiringi tawa kecil oleh Sakti.
"Saya mendengar apa yang disampaikan Bu Sasa, dia memang tidak pernah menyalahkan mama Athar karena yang bermasalah Pak Sakti, terkesan gagal move on meski bersama Bu Sasa."
Sakti mengangguk pelan, apa yang disampaikan Sasa tidak salah juga, karena Sakti sempat berusaha sekuat tenaga untuk mendekati Iswa kembali, dengan dalih ingin menjadi sosok ayah bagi dua ponakannya. Hanya saja, Sakti semakin sadar kalau Iswa tidak akan mudah menerima, alhasil Sasa menangkap signal itu, berakhir dengan pertengkaran terus menerus pada pernikahan mereka.
"Iswa hanya mencintai adik saya, Pak Fandy. Dia masih berusia 27 tahun tapi rela menjadi single parent, karena baginya kehidupan cinta tak penting baginya, di hidupnya hanya untuk Queena dan Athar saja!" ucap Sakti.
Fandy mengangguk, "Seorang perempuan biasanya tidak akan bingung untuk mencari pengganti suami, dan hanya fokus untuk anak-anak mereka," ujar Fandy.
"Iya, Pak! Benar sekali."
"Saya memang sangat mencintai almarhum istri saya, tapi namanya laki-laki juga tidak memungkiri akan kebutuhan biologis. Saya pun beberapa kali menjalin hubungan dengan seorang perempuan, namun selalu gagal dan tidak dekat dengan Davin. Ya buat apa dilanjut, iya kan Pak? Kalau mau saya ya harus mau terima anak saya," ujar Fandy serasa menemukan teman curhat yang tepat.
"Betul, Pak!" jawab Sakti yang tidak seterbuka Fandy.
"Namun saat bertemu dengan Iswa kemarin, hati saya terketuk. Apa mungkin Iswa jodoh saya, karena dia lebih dulu dekat dengan Davin, dan anak saya terima! Urusan hati buat orang dewasa bisa saja mengikuti, bukan?" ujar Fandy dan diangguki Sakti.
"Kalau mau coba silahkan, Pak Fandy. Mungkin saja jodoh, kalau saya memang tidak berniat mendekati Iswa, hanya sebatas ipar dan konsen pada dua ponakan saya saja, Pak," ucap Sakti dia punya tanggung jawab moril pada Sasa juga. Kalau sampai bersama Iswa, tuduhan Sasa benar dan Sakti merasa seperti menjilat ludah sendiri.
"Boleh, Pak?" tanya Fandy mengingat Sakti adalah ipar Iswa. Sakti mengangguk, tapi keputusan semua pada Iswa.
Obrolan kedua pria dewasa ini pun sekali dua kali terdengar oleh Athar apalagi kalau menyinggung nama mamanya, bocah cerdas itu akan menanyakan pada popo saat di mobil. Ia penasaran kenapa papa Davin ingin mendekati mamanya.
"Popo mau jual mama?" tanya Athar saat di mobil hendak diantar pulang. Ditanya begitu, Sakti jadi bingung jual mama ini maksudnya apa? Duh, kadang bahasa bocil bikin otak berpikir keras.
"Maksudnya?" tanya Sakti dengan fokus mengemudi.
"Athar tadi mendengar papa Davin mau dekat sama mama, kalau dekat kan harus berteman atau bisa saja jual beli. Kayak Athar mau punya kucing harus beli dulu," ucapnya polos, dan Sakti langsung tertawa ngakak. Ia mengusap rambut sang ponakan.
"Bukan dijual Sayang, tapi berkenalan. Kaya' popo tadi kan berkenalan sama papa Fandy, makanya kita bisa dekat."
"Ouh begitu. Terus mama diambil?" tanya Athar muncul sifat kepemilikan pada mamanya.
"Enggak, mama kamu ya sama kamu sama Kakak Queena. Athar gak mau ada yang berkenalan sama mama?" tanya Sakti. Athar menggeleng.
"Kata mama kalau mama dekat sama laki-laki, kasihan papa Kaisar, nanti hati papa Kaisar sakit hati. Makanya mama gak mau kenal sama laki-laki selain papa Kaisar," Sakti mengangguk, pantas saja dua ponakannya tak merengek berlebihan karena tak punya papa, hanya sesekali saja. Iswa sangat berhasil menanamkan hanya Kaisar sebagai laki-laki dalam hidup mereka di alam bawah sadar Athar dan Queena.
"Oh, kirain Athar mau punya papa baru?" ledek Sakti dan Athar kembali menggeleng.
"Kata mama belum tentu papa baru tak sebaik papa Kaisar ke mama ataupun ke Kak Queena dan aku. Belum tentu papa baru mau tinggal di rumah, belum tentu papa baru mau menerima foto Papa Kaisar digantung di dinding rumah," jelas Athar yang membuat Sakti terbengong, tak menyangka kalau Iswa ternyata sudah pernah membahas papa baru pada anak-anaknya sampai kemungkinan terburuk bisa ditangkap oleh Athar.
Saat pulang sekolah, Athar disambut ART dan Sakti segera kembali ke kantor, segera melakukan aktivitas yang sempat tertunda karena kegiatan Athar tadi. Niatnya ke kantor, tapi Sakti malah mengarahkan kemudi ke kantor Iswa. Hatinya sedikit tersentil saat ada laki-laki lain menaruh perhatian dan niatan untuk mendekati Iswa.
"Wa!" sapa Sakti langsung membuka pintu ruangan Iswa, terlihat ibu dua anak itu sedang sibuk dengan laptopnya.
"Eh, Bang. Sudah pulang? Athar?" tanya Iswa yang tak melihat putranya di dekat Sakti.
"Aku antar pulang. Sengaja aku mampir karena mau kasih kabar," ucap Sakti langsung duduk di depan meja Iswa.
Tentu saja Iswa langsung menyingkirkan laptopnya, karena ia langsung tertarik pada kabar yang dibawa Sakti, pikirannya pasti berhubungan dengan tingkah Athar di sekolah. "Apa, Bang?" tanya Iswa penasaran.
"Tadi aku bicara sama papa Fandy. Dan diceritakan saat kamu jenguk Davin."
"Terus?"
"Pak Fandy izin kepadaku sebagai kakak ipar kamu untuk mendekati kamu."
"Lah, kok?"
"Ya aku gak punya kapasitas melarang juga, jadi kalau dia chat kamu, mungkin dia mulai berusaha untuk mendekati kamu!"
"Haduh, apaan sih. Aku gak mau. Abang harusnya melarang, kan abang tahu sendiri aku gak mau nikah lagi."
"Yakin? Fandy ganteng, kaya juga loh," pancing Sakti.
"Baik gak? Lucu gak kayak Mas Kai, perhatian gak kayak Mas Kai. Kayaknya enggak deh, jadi lebih baik gak perlu dekat sama cowok lain, Bang!" ucap Iswa tegas, dan Sakti menatap Iswa intens.
"Kalau sama aku?" ucap Sakti mengikuti kata hatinya. Siapa tahu Iswa berubah pikiran.
eh kok g enak y manggil nya