NovelToon NovelToon
Kami Lahir Tanpa Namamu

Kami Lahir Tanpa Namamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / One Night Stand / Anak Genius / CEO / Hamil di luar nikah / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nurizatul Hasana

Satu malam.
Tanpa rencana.
Tanpa nama.
Tanpa masa depan.
Aluna tidak pernah berniat masuk ke dalam hidup pria itu. Ia hanya menggantikan sahabatnya yang sakit, mengenakan seragam hotel, dan berharap bisa pulang dengan selamat. Namun di balik pintu kamar hotel mewah, ia terjebak dalam situasi berbahaya—tarikan paksa, ketakutan, dan batas yang nyaris hancur.
Malam itu bukan tentang cinta.
Bukan tentang rayuan.
Melainkan tentang dua orang asing yang sama-sama terperangkap dalam keadaan salah.
Aluna melawan. Menolak. Tak pasrah.
Namun ketika segalanya berhenti di titik abu-abu, sebuah keputusan keliru tetap tercipta—dan meninggalkan luka yang tak langsung terlihat.
Ia pergi tanpa menoleh.
Tanpa tahu nama pria itu.
Tanpa ingin mengingat malam yang hampir menghancurkan dirinya.
Lima tahun kemudian, Aluna telah menjadi wanita tangguh—cantik, elegan, dan berdiri di atas kakinya sendiri. Ia membesarkan tiga anak kembar dengan kelebihan luar biasa, tanpa sosok ayah, tanpa cerita masa lalu. Bersa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Arka nggak langsung menyerah.

Tiga hari pertama, dia nggak maksa ngobrol.

Cuma beli roti. Duduk. Pulang.

Hari keempat, dia bantu angkat galon waktu kurir telat.

Hari kelima, dia pura-pura tanya resep brownies padahal jelas dia nggak bisa masak.

Arven tetap dingin.

Arkana tetap waspada.

Tapi Arsha…

Arsha mulai ngelihatin.

Sore itu hujan turun deras.

Café sepi. Aruna lagi ke pasar beli bahan tambahan karena stok habis.

Tinggal tiga anak itu jaga kasir.

Dan tentu saja—Arka datang.

Basah sedikit karena hujan.

“Brownies satu,” katanya santai.

Arven ngelayanin tanpa senyum.

“Dua puluh ribu.”

Arka bayar.

Arkana duduk di pojok, tablet di tangan, tapi sesekali ngelirik.

Arsha lagi berusaha nutup jendela samping yang macet.

Anginnya kenceng.

Kaitnya susah dikunci.

“Ven, bantu dikit dong!” teriaknya.

“Aku lagi hitung stok!”

Arkana cuma bilang, “Tekan dari luar.”

“Ya mana bisa, aku nggak Hulk!”

Tiba-tiba ada tangan dari luar jendela yang nahan kaca biar nggak kebanting.

Arsha kaget.

Arka.

“Pegang bawahnya,” katanya.

Nggak pakai nada atasan. Nggak sok pahlawan.

Cuma bantu.

Arsha nurut.

Dalam beberapa detik, jendela itu terkunci rapat.

Hujan masih deras.

Mereka berdiri cukup dekat.

Arsha pelan-pelan ngomong,

“Om nggak takut sakit?”

Arka bingung.

“Kenapa takut sakit?”

“Dateng terus tapi ditolak.”

Arka senyum kecil.

“Lumayan sih.”

Arsha menunduk sedikit.

“Aku pernah bohong.”

Arka terdiam.

“Aku bilang nggak butuh,” lanjutnya pelan. “Tapi sebenernya… aku pengen tahu rasanya punya ayah.”

Kalimat itu keluar cepet banget. Kayak kalau nggak sekarang, dia nggak akan berani lagi.

Arka nggak langsung jawab.

Karena dia tahu, ini bukan momen buat janji kosong.

“Kamu marah sama aku?” tanyanya pelan.

Arsha angkat bahu.

“Nggak tahu. Kadang iya. Kadang nggak.”

“Kenapa nggak?”

Arsha ngelirik ke arah pintu, pastiin kakak-kakaknya nggak denger.

“Karena tiap lihat Om parkir, Om cuma duduk. Nggak ganggu. Nggak maksa.”

Arka ketawa kecil.

“Aku takut diusir.”

Arsha juga senyum tipis.

“Aku pernah ngeliat Om nangis.”

Arka membeku.

“Waktu itu… kaca mobil Om kebuka dikit. Aku lagi buang sampah. Om pegang kertas terus diem lama.”

Akta kelahiran.

Arka menelan ludah.

“Aku nggak sengaja lihat,” Arsha buru-buru nambahin.

Nggak ada yang ngomong beberapa detik.

Hujan makin pelan.

“Kalau…” Arsha mulai lagi, ragu,

“…kalau misalnya kita nggak pernah panggil Om Papa, Om tetep mau dateng?”

Arka langsung jawab.

“Iya.”

“Serius?”

“Iya.”

Arsha menggigit bibirnya.

“Aku nggak bisa langsung percaya.”

“Nggak apa-apa.”

“Aku juga nggak mau Mama sedih.”

“Aku juga nggak mau.”

Arsha akhirnya duduk di kursi dekat jendela.

Arka masih berdiri, jaga jarak.

“Temenin aku ngerjain PR?” Arsha tiba-tiba ngomong, cepat, sebelum dia berubah pikiran.

Arka bahkan nggak mikir dua kali.

“Boleh.”

Arven langsung nengok.

“Kamu ngapain?”

“PR matematika susah,” jawab Arsha santai.

“Kita bisa bantu.”

Arsha ngangkat bahu.

“Pengen variasi guru.”

Arkana memperhatikan.

Arka duduk di kursi seberang Arsha.

Soal pecahan.

Tangannya besar banget dibanding tangan kecil Arsha yang megang pensil.

“Ini gampang,” kata Arka pelan. “Penyebutnya disamain dulu.”

Arsha memperhatikan serius.

“Om jago matematika?”

“Lumayan.”

“Kenapa dulu nggak ngajarin aku dari kecil?”

Pertanyaan itu bikin Arka berhenti nulis.

Karena jawabannya cuma satu:

Karena aku nggak ada.

Arka nggak ngeles.

“Aku salah.”

Arsha menatapnya lama.

Lalu pelan banget dia bilang—

“Jangan salah lagi.”

Kalimat itu kecil. Tapi buat Arka, itu seperti dikasih kesempatan kedua.

Di balik kasir, Arven memperhatikan dengan rahang kaku.

Arkana mendekat ke kakaknya.

“Dia mulai luluh,” bisiknya.

Arven menghela napas.

“Dia emang paling lama nunggu.”

Dan di dapur kosong, Aruna berdiri.

Ia kembali lebih cepat dari pasar karena hujan.

Dan ia melihat pemandangan itu dari celah pintu.

Arsha tertawa kecil karena salah hitung.

Arka sabar ngajarin.

Tidak ada paksaan.

Tidak ada drama.

Cuma seorang anak perempuan…

yang diam-diam sudah lama ingin tahu bagaimana rasanya duduk berseberangan dengan ayahnya.

Aruna memejamkan mata.

Hatinya takut.

Tapi untuk pertama kalinya—

Ia juga melihat sesuatu yang tidak bisa ia lawan.

Kerinduan anaknya.

---

1
Lisa
Kasihan y Mira..udh balik aj ke rmhnya Aruna..
Lisa
Bahagia selalu y Arka, Aruna & ketiga anaknya
Risal Fandi
rekomend banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!