Di Desa Oetimu, Nusa Tenggara Timur, hidup adalah perjuangan melawan tanah merah yang retak dan matahari yang membakar. Jonatan, seorang pemuda cerdas namun miskin, tumbuh besar dalam bayang-bayang penghinaan. Di sekolah, ia dijuluki "Anak Tanah" dan dipandang sebelah mata oleh mereka yang berpunya. Namun, di balik seragamnya yang menguning, Jonatan menyimpan mimpi besar: memutus rantai kemiskinan keluarganya.
Kesempatan emas datang ketika ia diterima di sebuah universitas ternama di Jawa. Namun, mimpi itu menuntut harga yang sangat mahal. Demi tiket berangkat, ayahnya, Pak Berto, secara rahasia menggadaikan tanah warisan leluhur kepada rentenir kejam. Kepergian Jonatan pun berubah menjadi sebuah pertaruhan hidup-mati; jika ia gagal, keluarganya akan kehilangan segalanya.
Jakarta ternyata jauh lebih dingin daripada kemarau di NTT. Jonatan harus berjuang melawan diskriminasi dan rasa lapar yang mencekik. Di tengah rasa putus asa saat kiriman uang terhenti karena ayahnya jatuh sakit,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon joekris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: JEMARI YANG GEMETAR DAN HARAPAN YANG TERBELAH
Kabar dari Oetimu selalu datang seperti angin muson; terkadang membawa kesejukan yang dirindukan, namun lebih sering membawa debu yang menyesakkan dada. Jonatan baru saja keluar dari perpustakaan, matanya masih perih akibat menatap deretan jurnal teknik yang bahasanya masih terasa asing di lidahnya, ketika ponsel tua bermerek Tiongkok miliknya—yang layarnya sudah retak di pojok kanan—bergetar hebat di saku celana.
Sebuah pesan singkat dari nomor tak dikenal masuk. Jantung Jonatan berdegup tidak karuan. Di desa, hanya kepala desa atau Tuan Markus yang punya akses komunikasi lancar seperti ini.
"Jon, ini Bapak. Mamamu jatuh di ladang. Jangan pikirkan kami, fokus saja belajar. Tapi kalau ada sisa beasiswa, kirim sedikit untuk obat. Tanah kita sedang sangat kering."
Dunia di sekitar Jonatan mendadak melambat. Suara tawa mahasiswa yang berlalu-lalang, bunyi klakson kendaraan di luar pagar kampus, hingga desau angin di antara pohon mahoni, semuanya menghilang. Yang tersisa hanyalah bayangan ibunya, Bu Maria, yang tergeletak di atas tanah merah yang retak, dengan tangan yang masih memegang cangkul kayu yang sudah rapuh.
Ia bersandar pada pilar gedung perpustakaan yang dingin. Lututnya terasa lemas. Uang beasiswanya hanya cukup untuk makan sekali sehari dan fotokopi diktat kuliah. Sisa? Tidak ada kata "sisa" dalam kamus hidupnya saat ini. Yang ada hanyalah kekurangan yang terus ditutupi dengan doa dan puasa yang dipaksakan.
"Jon? Kamu kenapa? Wajahmu seperti mayat," suara Gani memecah lamunannya.
Jonatan dengan cepat menyembunyikan ponselnya. Ia tidak ingin terlihat lemah, tidak di depan Gani yang sepatu olahraganya saja seharga biaya hidupnya selama tiga bulan. "Hanya kurang tidur, Gan. Aku harus ke lab sekarang."
Ia berjalan menjauh dengan langkah yang limbung. Kepalanya dipenuhi oleh perhitungan matematis yang bukan lagi soal kalkulus, melainkan soal nyawa. Berapa harga obat di kota kabupaten? Berapa bunga yang sudah ditumpuk Tuan Markus karena ayahnya gagal mengirim cicilan bulan ini?
Sore itu, Jonatan tidak pergi ke kantin atau ke perpustakaan. Ia berjalan menuju pinggiran kota, ke daerah pasar loak yang berdebu. Di sana, ia berdiri di depan sebuah toko barang bekas yang penuh dengan tumpukan barang elektronik rusak.
"Permisi, Bang. Apa benar di sini menerima jasa perbaikan kalkulator atau ponsel?" tanya Jonatan pada seorang pria bertato yang sedang asyik mengisap rokok kretek.
Pria itu menatap Jonatan dari atas ke bawah. "Bisa. Tapi kau punya keahlian apa? Di sini bukan panti asuhan."
Jonatan mengeluarkan sebuah kalkulator ilmiah milik temannya yang rusak dan sudah ia perbaiki sendiri semalam dengan alat seadanya. "Saya mahasiswa teknik. Saya bisa memperbaiki sirkuit sederhana. Saya hanya butuh uang tambahan."
Pria itu memeriksa kalkulator tersebut, menekannya beberapa kali, lalu mengangguk kecil. "Duduklah di sana. Ada tumpukan radio dan ponsel mati. Kalau kau bisa menghidupkan tiga saja malam ini, aku kasih kau uang makan."
Malam itu, di bawah lampu neon yang berkedip-kedip dan dikelilingi bau timah solder yang menyengat, Jonatan bekerja. Jemarinya yang biasanya memegang pulpen untuk menulis rumus, kini harus menari di atas papan sirkuit yang rumit. Matanya yang lelah dipaksa fokus pada kabel-kabel halus yang sekecil helai rambut. Setiap kali ia merasa kantuk atau lapar menyerang, ia membayangkan wajah ibunya yang pucat.
Satu kabel lagi untuk obat Mama. Satu sirkuit lagi untuk cicilan Bapak.
Tengah malam, ia berhasil menghidupkan empat ponsel tua dan dua radio. Tangannya penuh dengan bekas luka bakar kecil akibat solder dan noda hitam yang sulit hilang. Pria pemilik toko itu memberikan dua lembar uang lima puluh ribu rupiah.
"Kau lumayan juga, Anak Timor. Besok datang lagi," ucapnya sambil melemparkan uang itu ke meja.
Jonatan menggenggam uang itu erat-ingat. Seratus ribu rupiah. Di tangan mahasiswa lain, uang ini mungkin habis untuk sekali menonton bioskop dan makan piza. Namun di tangan Jonatan, uang ini adalah napas bagi keluarganya.
Ia berjalan pulang menuju masjid tempatnya menumpang tidur. Jalanan kota sudah sepi, hanya ada beberapa sorot lampu mobil yang melintas cepat. Ia berhenti di sebuah ATM, memasukkan kartu beasiswanya yang saldonya hampir nol, lalu melakukan transfer manual melalui jasa titip yang ia kenal di pasar.
Selesai melakukan transfer, Jonatan duduk di trotoar. Ia menangis. Bukan tangis yang keras dan meraung, melainkan tangis yang sunyi—air mata yang mengalir karena rasa lelah yang teramat sangat dan rasa rindu yang mencekik. Ia merasa tubuhnya terbelah; raganya di Jawa untuk mengejar mimpi, tapi jiwanya tertinggal di Oetimu, ikut mengering bersama tanah yang haus air.
"Kenapa hidup harus seberat ini, Tuhan?" bisiknya pada langit malam yang tidak berbintang.
Keesokan paginya, Jonatan masuk kelas dengan mata yang sangat merah. Ia duduk di barisan paling depan seperti biasa. Saat Pak Johan masuk ke kelas untuk memberikan kuliah tamu, pria tua itu langsung menyadari ada yang berbeda dari mahasiswanya yang paling cerdas itu.
Setelah kelas usai, Pak Johan menahan Jonatan. "Jonatan, ikut ke ruangan saya."
Di ruangan yang penuh dengan buku-buku tebal dan aroma kopi hitam, Pak Johan menatap tangan Jonatan yang penuh bekas luka solder. "Kau berkelahi? Atau kau bekerja di bengkel?"
Jonatan terdiam, ia mencoba menyembunyikan tangannya di bawah meja. "Hanya kecelakaan kecil, Pak."
Pak Johan menghela napas, ia melepas kacamata tebalnya. "Jangan membohongi orang yang sudah makan asam garam lebih banyak darimu. Ibumu sakit? Atau Tuan Markus mulai menagih?"
Jonatan akhirnya menyerah. Ia menceritakan semuanya—tentang pesan singkat itu, tentang toko loak, dan tentang ketakutannya bahwa ia tidak akan bisa bertahan sampai semester depan.
Pak Johan berdiri, berjalan menuju jendela yang menghadap ke arah gunung di kejauhan. "Kau tahu, Jonatan? Besi itu harus dibakar di api yang paling panas sebelum dia bisa menjadi pedang yang tajam. Sekarang, kau sedang berada di dalam api itu. Jangan lari. Tapi jangan juga biarkan api itu menghanguskanmu sampai jadi abu."
Pak Johan berbalik, mengambil sebuah amplop dari laci mejanya. "Ini bukan uang cuma-cuma. Ada proyek penelitian saya tentang sistem irigasi tenaga surya. Saya butuh asisten yang tahu bagaimana rasanya tanah kering. Saya butuh orang yang bisa memperbaiki sirkuit dengan jemari gemetar seperti milikmu. Kau mau?"
Jonatan menatap amplop itu, lalu menatap wajah Pak Johan. Ini bukan lagi soal uang; ini adalah jalan yang dibukakan oleh takdir.
"Saya mau, Pak. Saya sangat mau."
"Bagus. Mulai besok, berhenti bekerja di toko loak itu. Kerjakan riset ini di lab saya. Aku akan bayar kau secara profesional. Tapi ingat satu hal," Pak Johan menunjuk ke arah buku catatan Jonatan. "Nilaimu tidak boleh turun satu poin pun. Kalau kau gagal di kelas, kau gagal di riset ini."
Jonatan keluar dari ruangan Pak Johan dengan perasaan yang tak menentu. Ada beban baru yang lebih berat, namun ada cahaya yang lebih terang di ujung terowongan. Ia mengambil ponselnya, mengetik pesan balasan untuk ayahnya.
"Bapak, obat untuk Mama sudah aku kirim. Jangan khawatirkan tanah itu lagi. Aku sudah menemukan cara untuk membawa air ke sana. Tunggu aku."
Malam itu, di bawah atap masjid yang tenang, Jonatan tidak lagi bermimpi tentang kegelapan. Ia bermimpi tentang kabel-kabel sirkuit yang berubah menjadi aliran air jernih, mengalir menembus ribuan kilometer, membasahi tanah Oetimu yang merah, dan membuat ibunya tersenyum kembali. Ia menyadari bahwa jemarinya yang gemetar hari ini adalah jemari yang suatu saat nanti akan mengubah peta nasib kaumnya.
tanah outimu menanti perubahan & akan mendukungmu jon, 💪💪💪
smoga keberuntungan sll menyertaimu 💪💪💪
kasian