Gu Yanqing hidup miskin, tanpa latar belakang, tanpa peluang.
Hingga suatu hari, Sistem Peningkatan Kekayaan aktif—memberinya kesempatan untuk naik kelas, selama semua yang ia peroleh masuk akal dan sah.
Dari nol ke kaya, dari diremehkan ke dikelilingi orang-orang yang terlihat tulus.
Tapi di dunia uang dan status, kepercayaan punya harga.
Dan saat harga itu terlalu mahal, tidak semua orang sanggup membayarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 : Pintu Pengadilan
Pagi itu langit cerah tanpa awan tebal. Udara dingin tipis menyelimuti halaman gedung pengadilan kota, bangunan batu abu-abu dengan tangga lebar yang mengarah ke pintu utama berkaca tinggi.
Gu Yanqing tiba pukul delapan kurang sepuluh menit.
Sidang dijadwalkan pukul sembilan.
Ia turun dari mobil dengan langkah stabil. Setelan jas hitamnya sederhana, tanpa aksesori mencolok. Wajahnya tenang, nyaris tanpa ekspresi.
Zhao Haoran sudah menunggu di dekat tangga, membawa map tebal berisi dokumen perkara.
“Kita datang lebih awal,” kata Zhao.
“Lebih baik menunggu daripada dikejutkan,” jawab Gu singkat.
Mereka berjalan menaiki tangga bersama.
Setiap langkah terasa terukur.
Di atas pintu utama, lambang peradilan terpasang tanpa ornamen berlebihan. Simbol netral—secara teori mewakili keseimbangan.
Gu Yanqing berhenti sejenak sebelum masuk.
Pintu pengadilan.
Sejak gugatan diajukan, seluruh konflik bergerak dalam ruang rapat, kantor hukum, dan percakapan tertutup. Hari ini berbeda.
Begitu melewati pintu ini, perkara tercatat sebagai konflik publik.
Setiap kata akan masuk notulensi.
Setiap argumen akan menjadi arsip.
Ia melangkah masuk.
Pemeriksaan keamanan berlangsung singkat. Tas Zhao diperiksa. Map dokumen dipindai.
Tidak ada yang istimewa.
Namun suasananya berbeda dari ruang pertemuan firma hukum.
Di sini, struktur negara hadir secara fisik.
Ruang tunggu pengadilan cukup luas. Kursi-kursi kayu tersusun berbaris. Beberapa pihak lain duduk menunggu perkara masing-masing.
Gu Yanqing dan Zhao Haoran memilih duduk di sisi kanan.
Zhao membuka map dan mulai memeriksa ulang dokumen.
“Liu Haifeng belum memberi konfirmasi pagi ini,” katanya pelan.
Gu mengangguk. “Dia akan datang.”
“Kita tidak bisa bergantung pada asumsi.”
“Benar.”
Nama itu menggantung di antara mereka.
Liu Haifeng—saksi kunci yang mengetahui manipulasi laporan keselamatan.
Tanpa kesaksiannya, posisi mereka tetap kuat secara dokumen, tetapi kehilangan dimensi langsung.
Gu Yanqing tidak menunjukkan kecemasan.
Ia memahami bahwa stabilitas saksi adalah variabel paling rentan dalam perkara ini.
Suara langkah kaki terdengar dari arah pintu masuk utama.
Sekelompok pria dan wanita berpakaian formal masuk bersamaan.
Setelan gelap. Map dokumen identik. Langkah terkoordinasi.
Tim hukum Dongkou Port Group.
Jumlahnya tidak sedikit—empat pengacara, satu asisten hukum, dua staf administrasi.
Di belakang mereka, Sun Deqiao berjalan dengan ritme sama stabilnya seperti saat di kantor Zhao.
Ia tidak membawa dokumen kali ini.
Ia membawa kehadiran.
Simbol manajemen.
Gu Yanqing mengamati tanpa menoleh secara terang-terangan.
Kontrasnya jelas.
Di satu sisi: dua orang.
Di sisi lain: struktur lengkap perusahaan besar.
Sun melihat ke arah mereka dan mengangguk sopan.
Gu membalas dengan anggukan singkat.
Tidak ada senyum.
Tidak ada percakapan.
Hanya pengakuan bahwa hari ini bukan lagi pertemuan informal.
Zhao Haoran berkata pelan, “Mereka ingin menunjukkan skala.”
“Dan berhasil,” jawab Gu.
Skala bukan hanya soal jumlah orang.
Skala adalah pesan visual:
Kami besar.
Kami siap.
Kami punya sumber daya.
Gu Yanqing tidak merasa kecil.
Ia merasa sadar.
Ia berdiri sebagai individu.
Namun ia berdiri dengan dokumen, fakta, dan prosedur hukum di belakangnya.
Beberapa menit kemudian, panel transparan muncul di sudut pandangannya.
Sistem Peningkatan Kekayaan
Status: Litigasi aktif. Perkara terdaftar dalam sistem peradilan formal. Semua interaksi akan terdokumentasi.
Panel itu menghilang tanpa suara.
Gu menarik napas perlahan.
Litigasi aktif.
Tidak ada lagi jalur kembali ke ruang tertutup.
Seorang petugas pengadilan keluar dari ruang sidang dan memanggil nomor perkara mereka.
“Perkara perdata nomor 47—Gu Yanqing melawan Dongkou Port Group.”
Suara itu jelas, formal.
Beberapa kepala menoleh.
Gu berdiri.
Zhao menutup mapnya.
Tim hukum perusahaan juga bangkit hampir bersamaan.
Gerakan kolektif.
Mereka berjalan menuju pintu ruang sidang.
Sun Deqiao berhenti sebentar di samping Gu ketika antrian masuk melambat.
“Masih ada waktu untuk menyelesaikan ini secara rasional,” katanya pelan, nyaris seperti percakapan biasa.
Gu menatap lurus ke depan.
“Ini sudah rasional.”
Sun tidak membalas.
Ia melangkah masuk lebih dulu.
Gu mengikuti.
Saat melewati ambang pintu ruang sidang, ia menyadari sesuatu dengan sangat jelas:
Hari ini bukan tentang menang atau kalah.
Ini tentang berdiri secara resmi melawan sebuah institusi besar—
di bawah lampu terang sistem peradilan.
...
Ruang sidang tidak besar, tetapi terasa padat oleh struktur.
Bangku hakim berada lebih tinggi dari posisi para pihak. Meja panitera di sisi kanan. Kursi pengunjung terbatas di belakang, sebagian sudah terisi oleh beberapa orang yang menunggu perkara lain.
Gu Yanqing duduk di sisi kiri ruang sidang bersama Zhao Haoran.
Di sisi kanan, tim hukum Dongkou Port Group tersusun rapi dalam formasi hampir simetris. Empat pengacara duduk sejajar. Sun Deqiao berada di belakang mereka, tidak berbicara, namun kehadirannya jelas sebagai representasi manajemen.
Hakim masuk tepat waktu.
Semua berdiri.
Tidak ada suasana dramatis. Tidak ada ketegangan berlebihan.
Hanya prosedur.
Sidang dibuka dengan pembacaan identitas para pihak. Nama, alamat, kapasitas hukum. Semua dicatat.
Gu Yanqing menjawab pertanyaan hakim dengan suara stabil.
“Benar.”
“Benar.”
Tidak lebih.
Tidak kurang.
Tim hukum perusahaan juga menjawab formal.
Setelah verifikasi administratif selesai, hakim mempersilakan pihak penggugat menyampaikan pokok gugatan secara ringkas.
Zhao Haoran berdiri.
Suaranya tidak tinggi, tidak agresif. Ia membacakan ringkasan gugatan dengan struktur jelas: kronologi kecelakaan kerja, dugaan manipulasi laporan keselamatan, kerugian keluarga korban.
Tidak ada retorika.
Hanya fakta yang disusun sistematis.
Gu Yanqing memperhatikan reaksi di sisi seberang.
Pengacara utama perusahaan mencatat sesuatu tanpa mengangkat kepala.
Sun Deqiao duduk tenang, tangan terlipat, wajah tidak menunjukkan ketegangan.
Ketika giliran tergugat menyampaikan tanggapan awal, pengacara perusahaan berdiri dengan gerakan terukur.
“Kami menghormati proses hukum ini,” katanya membuka. “Namun kami menolak seluruh dalil yang menyatakan adanya kelalaian struktural.”
Bahasa korporat yang bersih.
Tidak ada pengakuan.
Tidak ada celah.
Ia melanjutkan dengan argumentasi prosedural: standar keselamatan perusahaan, laporan internal, kepatuhan terhadap regulasi.
Setiap kalimat disusun untuk membentuk narasi bahwa kecelakaan adalah insiden individual, bukan kegagalan sistem.
Gu Yanqing mendengarkan tanpa ekspresi.
Ia tidak tersinggung.
Ia tidak terprovokasi.
Ia hanya mengidentifikasi pola.
Strategi awal mereka jelas:
Menutup kemungkinan bahwa kasus ini berkembang menjadi persoalan sistemik.
Jika tetap dipersempit sebagai insiden individual, tekanan publik akan lebih mudah dikendalikan.
Hakim mencatat, lalu bertanya mengenai saksi yang akan diajukan.
Zhao menyebut nama Liu Haifeng.
Ruang sidang tidak berubah, tetapi Gu merasakan satu titik tekanan di dalam struktur ruangan.
Hakim bertanya, “Apakah saksi hadir hari ini?”
Zhao menjawab, “Belum, Yang Mulia. Kami akan menghadirkannya pada tahap pembuktian.”
Pengacara perusahaan langsung mencatat sesuatu.
Gu memahami implikasinya.
Stabilitas Liu Haifeng akan menjadi sasaran berikutnya.
Sidang awal berjalan prosedural. Penjadwalan tahap mediasi formal ditetapkan sesuai aturan, meski kedua pihak sama-sama tahu kemungkinan damai sangat kecil.
Tidak ada keputusan substantif hari ini.
Hanya garis pertama yang ditarik secara resmi.
Namun garis itu penting.
Karena sejak saat ini, setiap dokumen yang diajukan menjadi arsip publik.
Setiap argumen dapat diakses.
Ketika hakim menutup sidang pertama dan menjadwalkan tanggal berikutnya, semua berdiri kembali.
Palu diketuk satu kali.
Suara singkat, tetapi jelas.
Gu Yanqing menyadari sesuatu dengan tenang:
Perang ini tidak akan selesai dalam satu atau dua sesi.
Ini proses panjang.
Perusahaan akan menggunakan waktu sebagai senjata.
Ia tidak merasa gentar.
Ia hanya mempersempit fokusnya.
Di luar ruang sidang, lorong pengadilan mulai ramai. Beberapa orang memandang ke arah mereka dengan rasa ingin tahu.
Seseorang berbisik, menyebut nama perusahaan.
Individu melawan institusi besar selalu menarik perhatian.
Sun Deqiao berjalan melewati Gu tanpa berhenti.
Namun sebelum berbelok di ujung lorong, ia berkata pelan, cukup untuk terdengar:
“Semoga Anda siap untuk proses panjang.”
Gu menjawab tanpa menoleh, “Saya sudah siap sejak mengajukan gugatan.”
Langkah kaki Sun menjauh.
Zhao Haoran mendekat.
“Kita baru saja memasuki fase terbuka,” katanya.
Gu mengangguk.
“Dan mereka akan mencoba membentuk opini lebih dulu.”
Seolah membenarkan analisis itu, ponsel Zhao bergetar.
Sebuah notifikasi berita lokal muncul.
Judul singkat:
“Sengketa Hukum Libatkan Dongkou Port Group Masuk Tahap Sidang Awal.”
Belum ada narasi mendalam.
Hanya laporan faktual.
Namun itu cukup.
Kasus ini tidak lagi berada dalam ruang tertutup.
Ia mulai bergerak ke ranah opini publik.
Gu Yanqing menatap layar ponsel itu beberapa detik.
Tekanan berikutnya tidak hanya datang dari ruang sidang—
tetapi dari luar, dari persepsi, dari berita, dari sudut pandang masyarakat.
Ia mematikan layar.
Langkahnya tetap stabil ketika menuruni tangga gedung pengadilan.
Konflik hukum telah resmi dimulai.
Dan kini, seluruh kota mulai melihatnya.