Hana, seorang anak yang tertukar pada saat dilahirkan, akhirnya bisa kembali kepada keluarganya. Namun, ia tak pernah menyangka, perasaan bahagia, kehidupan manis dengan orang tua, semuanya hanya harapan palsu semata. Ia diambil hanya untuk reputasi orang tua. Diabaikan, ditindas, bahkan mati pun tidak dipedulikan.
Jiwanya tidak menerima kematian, ia menoreh takdir pada langit, meminjam jiwa yang kuat.
Jiwa seorang Ratu hebat dari kerajaan Amerta, terpanggil untuk membalaskan dendam Hana. Jiwa leluhur yang terusik oleh derita sang penerus. Pewaris kehormatan dari kerajaan agung Amerta.
Nasib semua orang pun berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Pesta pertunangan antara Evan dan Shopia, berakhir pada malam hari. Makan malam mewah dua keluarga tampak dipenuhi dengan kebahagiaan, kecuali Tuan Falcon, ayah Evan yang terlihat lebih pendiam sejak kedatangan Hana. Ada rasa bersalah tersirat di wajahnya, tak tega melihat keadaan gadis yang seharusnya menjadi tunangan anaknya itu.
"Tuan Falcon, saya perhatikan Anda terus diam saja dari pagi. Ada apa?" tanya wanita tua, nenek Hana dari pihak ibu.
Laki-laki paruh baya itu tersenyum hambar, ia lebih memilih tidak mengatakan perasaannya kepada mereka semua. Matanya sudah melihat dengan jelas tak satu pun dari mereka peduli kepada Hana. Namun, ia ingat gadis yang tubuhnya penuh luka itu, sekarang sedang dikurung di ruang bawah tanah.
"Iya, ada apa? Kau tidak terlihat seperti biasanya," tanya Tuan Haysa sedikit bingung dengan sikap sahabatnya itu.
"Ekhem!" Tuan Falcon meletakkan sendok dengan hati-hati. Menautkan jemarinya dengan kepala tertunduk. Menimbang apakah perlu mengatakan apa yang terdetik di hatinya.
Ia mengangkat wajah perlahan, menatap satu per satu orang-orang di depannya.
"Sejujurnya saya terus memikirkan Hana. Sepertinya kepergian Hana tidak seperti yang dikatakan oleh orang-orang itu. Saya merasa janggal melihat kondisi tubuhnya yang penuh luka. Kemudian, saat ini dia dikurung di ruang bawah tanah. Apakah dia akan baik-baik saja? Kenapa tidak membawanya ke rumah sakit? Kita selidiki terlebih dahulu apa yang terjadi kepada Hana. Rasanya tidak mungkin dia melakukan apa yang dituduhkan," ungkap Tuan Falcon membuat semua orang terdiam, termasuk istri dan anaknya.
Tak satu pun dari mereka yang berbicara, Evan melirik Shopia takut-takut. Sang ayah lebih menyukai Hana meski ia datang dari desa dan tidak berpendidikan.
"Ini semua salahku. Seharusnya aku tidak menggantikan Hana bertunangan dengan Evan. Seharusnya kita semua menunggu Hana kembali dan tidak terburu-buru melakukan pesta ini. Semua orang menjadi salah paham terhadapku, tapi aku hanya ingin menyelamatkan wajah keluarga saja. Tidak bermaksud apa-apa. Setelah Hana pulih, aku akan mengembalikan Evan kepadanya dan akan pergi dari kehidupan semua orang di sini," ucap Shopia berpura-pura menangis sedih.
Tuan Falcon menjadi serba salah, ia tidak bermaksud menyalahkan siapapun. Hanya merasa kasihan terhadap Hana yang seharusnya mendapatkan perawatan bukan kurungan.
"Sudah, jangan menangis. Semua ini bukan salahmu. Kita juga tidak tahu apa yang terjadi pada Hana. Hanya saja orang-orang itu mengatakan Hana pergi dengan laki-laki karena tidak mau bertunangan dengan Evan," ucap Ethan menenangkan Shopia.
Sementara Alan, kakak tertua mereka mengawasi tanpa kata-kata. Saat ini, ia adalah penerus keluarga Haysa. Pemegang tombak kekuasaan keluarga itu.
"Iya, sayang. Jangan salahkan dirimu sendiri. Ini hari bahagia kalian, seharusnya kita semua bersenang-senang," ucap ibunya Evan yang bertolak belakang dengan suaminya.
"Aku juga tidak tahu apa yang terjadi pada Hana, tapi bukti yang mereka berikan benar-benar membuatku tidak bisa menerimanya," ujar Evan berpura-pura gelisah.
Alan mengernyitkan dahi, ia selalu berpikir ada sesuatu di antara mereka berdua. Selama ini dia tidak pernah berkomunikasi dengan Hana. Bahkan, melihatnya saja enggan. Akan tetapi, meskipun begitu ia diam-diam selalu memperhatikan Hana.
"Sudahlah. Kau yang dirugikan di sini. Seharusnya kau bisa menikah dengan laki-laki lain yang kau sukai, tapi demi wajah keluarga kau rela berkorban. Ayah akan memberimu kompensasi untuk ini. Minta apa saja, katakan saja!" ucap Tuan Haysa dengan entengnya.
Shopia berbinar, ini adalah momen yang dia tunggu-tunggu. Sudah lama sekali dia menginginkan villa di perkebunan teh milik nenek.
"Benarkah? Apa saja boleh?" tanyanya dengan girang.
"Tentu saja, sayang. Kau adalah kesayangan kami," ucap Nyonya Haysa sembari menggenggam tangan Shopia.
Evan tersenyum melihat kekasihnya itu, begitu pula sang ibu. Terkecuali Tuan Falcon yang masih teringat pada Hana.
"Ya, Shopia. Nenek juga tidak ingin kau dirugikan seperti itu. Minta apa saja yang kau inginkan. Tas, perhiasan, atau apapun itu," tambah nenek tua dari keluarga Haysa.
Shopia semakin bersemangat, melirik Alan yang hanya diam. Ia berpura-pura berpikir, membuat semua orang menunggu. Alan, kakak pertama Hana memperhatikan dalam diam. Gelagat yang mencurigakan dari sepasang yang baru saja resmi bertunangan itu.
"Jika begitu aku ingin villa di perkebunan teh itu. Bisakah aku memilikinya? Sudah lama sekali aku ingin menempati villa itu," ucap Shopia tanpa tahu malu.
Deg!
Brak!
hai jalang gk tau diri lo