NovelToon NovelToon
Rumah Yang Tenang Untuk Pulang

Rumah Yang Tenang Untuk Pulang

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Murni / Mengubah Takdir
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aizu1211

Hidup Alya sebagai sandwich generation bagi dua orang tua yang sakit, bagi keluarga yang bergantung, dan bagi dirinya sendiri yang jarang diberi ruang untuk lelah. Di usia seperempat abad lebih, ia belajar bertahan tanpa berharap apapun.
Hingga seorang pria datang dan mengubah pola hidupnya, Reyhan. Hanya dengan kehadiran yang tenang dan kesediaan untuk tinggal, bahkan saat hidup Alya terlalu rumit untuk diringkas dengan kata cinta.
Dalam pernikahan yang dewasa dan tidak ideal, Alya perlahan belajar bahwa menjadi kuat tidak berarti harus sendirian. Bahwa bersandar bukan kelemahan. Dan bahwa cinta, kadang, tidak datang untuk menghapus beban, melainkan untuk menopangnya bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aizu1211, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 11

Hari itu tidak datang dengan kejutan.

Tidak ada panggilan darurat dari rumah sakit. Tidak ada rapat mendadak di kantor. Tidak ada pesan yang mengubah arah hidup Alya secara tiba-tiba. Justru karena itulah hari itu terasa berat.

Ia berjalan seperti air yang tenang di permukaan, tapi menyimpan arus yang tidak terlihat.

Alya tiba di kantor lebih pagi dari biasanya. Ia menyalakan komputer, membuka agenda, dan membaca ulang daftar pekerjaan yang harus diselesaikan minggu itu.

Beberapa proyek tertunda karena ketidakhadirannya. Beberapa tanggung jawab lain menunggu keputusan. Semua tertulis rapi, seolah hidupnya masih berada dalam kendali.

Ia menarik napas, lalu mulai bekerja.

Pagi itu, Alya diminta memimpin rapat kecil. Bukan rapat besar, hanya koordinasi internal. Ia berdiri di depan ruangan dengan map di tangan, menjelaskan poin-poin dengan suara yang stabil. Orang-orang mendengarkan, mencatat, sesekali mengangguk.

Tidak ada yang tahu bahwa malam sebelumnya Alya hanya tidur tiga jam. Tidak ada yang tahu bahwa kepalanya masih penuh oleh suara monitor ICU dan langkah kaki perawat di lorong rumah sakit. Di ruangan itu, Alya hanya terlihat sebagai staf yang kompeten dan itu cukup bagi semua orang.

Namun di tengah penjelasan, Alya berhenti sejenak. Ia kehilangan satu kata. Bukan hal besar, tapi cukup membuatnya diam sepersekian detik lebih lama dari biasanya.

“Maaf,” katanya singkat, lalu melanjutkan.

Tidak ada yang mempermasalahkan. Tapi Alya merasakannya. Retakan kecil itu terasa jelas, seperti suara halus dari sesuatu yang mulai aus.

Setelah rapat selesai, Alya kembali ke mejanya. Pingkan berdiri di dekat sana, berpura-pura merapikan berkas.

“Kamu yakin nggak mau ambil cuti lebih lama?” tanyanya pelan.

Alya tersenyum. “Nanti.”

Pingkan menatapnya beberapa detik lebih lama, lalu mengangguk. Di kantor itu, kata nanti sering berarti tidak tahu kapan.

Menjelang siang, Alya menerima telepon dari adiknya di rumah sakit. Bukan kabar buruk, tapi juga bukan kabar yang membuatnya lega. Ayahnya masih belum sadar penuh. Dokter meminta keluarga bersiap jika diperlukan tindakan lanjutan.

Alya mengucapkan terima kasih, menutup telepon, lalu menatap layar komputernya tanpa benar-benar melihat. Ia merasakan sesuatu naik ke tenggorokannya, bukan tangis, melainkan kelelahan yang sulit dijelaskan.

Ia berdiri, menuju pantry, menuang air putih, lalu meminumnya perlahan. Tangannya sedikit gemetar. Ia menunggu sampai getaran itu mereda sebelum kembali ke meja.

Siang itu, Alya makan sendiri. Ia tidak lapar, tapi tetap memaksa. Di sela-sela kunyahan, pikirannya melayang ke rumah sakit, ke ayahnya yang terbaring, ke ibunya yang semakin pendiam, ke Viko yang berusaha terlihat dewasa sebelum waktunya.

Ia menyadari sesuatu yang mengganggu: tidak ada ruang untuk Alya sebagai individu. Ia ada sebagai anak, sebagai kakak, sebagai pegawai. Tidak sebagai dirinya sendiri.

Sore hari, Alya menghadiri pertemuan lintas bagian. Di sana, ia kembali bertemu Reyhan.

Tidak ada janji khusus. Tidak ada pengaturan pribadi. Mereka duduk di ruang yang sama karena pekerjaan kembali mempertemukan mereka. Alya menyadari kehadirannya dengan cara yang tenang, tidak ada lonjakan emosi, hanya kesadaran yang lembut.

Reyhan berbicara ketika gilirannya tiba. Suaranya tetap tenang, bahasanya terukur. Alya mencatat poin-poin penting, menanggapi seperlunya. Mereka saling bekerja sama dengan rapi, seolah pertemuan sebelumnya dan pesan-pesan singkat tidak pernah terjadi.

Namun di satu momen, ketika rapat berhenti sebentar, Reyhan menoleh ke arahnya.

“Kamu terlihat capek,” katanya pelan, tidak terdengar oleh orang lain.

Alya menatapnya sejenak. Ia ingin mengatakan tidak apa-apa. Ia ingin mengatakan sudah biasa. Tapi entah mengapa, hari itu kata-kata itu tidak keluar.

“Sedikit,” jawabnya akhirnya dengan sedikit senyum yang dipaksakan.

Reyhan mengangguk. Tidak ada komentar lanjutan. Tidak ada saran. Tapi Alya merasa dilihat dan itu cukup untuk membuat dadanya mengencang.

Setelah rapat selesai, Alya membereskan barang-barangnya lebih lambat dari biasanya. Reyhan berdiri tidak jauh, meperhatikan sembari mengulur waktu sampai semua orang keluar dari ruangan, seolah menunggu waktu yang tepat.

“Kalau kamu butuh fleksibilitas jadwal untuk kerja sama ini,” katanya, “saya bisa menyesuaikan.”

Alya mengangguk. “Terima kasih.”

Tidak ada janji tambahan. Tidak ada percakapan pribadi. Mereka berpisah dengan jarak yang tetap dijaga. Namun pertemuan itu meninggalkan sesuatu yang sulit diabaikan: bahwa Alya tidak sepenuhnya sendirian di ruang profesional itu.

Malamnya, Alya kembali ke rumah sakit. Ayahnya masih di ICU. Ibunya duduk di kursi, menatap kosong ke depan. Alya duduk di sampingnya, menyandarkan kepala sebentar di bahu ibunya.

“Kamu capek,” kata ibunya.

Alya ingin menyangkal, tapi kali ini ia tidak melakukannya. “Iya.”

Ibunya meraih tangan Alya. Genggamannya lemah, tapi hangat. Untuk sesaat, Alya merasa menjadi anak lagi bukan penopang, bukan pengambil keputusan.

Namun perasaan itu cepat berlalu. Ibunya kembali diam. Alya kembali berdiri, tak ingin mamanya semakin sedih dan kepikiran.

Larut malam, Viko ada di ruang rawat mamanya, Alya duduk sendirian di lorong rumah sakit.

Di depan ICU, papanya masih senang menutup mata, tapi hasil pemeriksaan terakhir tidak ada komplikasi, kalau semua perkiraan dokter benar, papanya akan membuka mata esok hari.

Alya berdiri dan berjalan di depan kaca, satu-satunya akses yang bisa ia gunakan untuk melihat papanya yang terbaring disana.

“Aku tunggu Papa disini, ya” ia meletakkan tangannya di kaca itu, lalu tangisan yang sejak sore tadi ia tahan tumpah disana.

“Aku capek, Pa” keluhan yang tidak pernah ia ucapkan lolos dari mulutnya yang bergetar karena tangis.

Di lorong sunyi ini, Alya terisak pelan, tidak ada niat menghentikan tangisnya, disini, saat sendirian, dia menuntaskan kesedihannya.

Puas menangis, ia membuka ponselnya, menatap daftar pesan yang belum dibalas. Ia merasa kosong bukan karena tidak ada yang peduli, melainkan karena ia terlalu lama menahan diri untuk tidak merasa.

Ia menutup mata, menarik napas panjang, dan untuk pertama kalinya sejak beberapa hari terakhir, membiarkan air mata jatuh tanpa mencoba menghentikannya. Tidak lama. Tidak keras. Hanya cukup untuk mengakui bahwa ia lelah.

Tangis itu berhenti dengan sendirinya.

Alya kembali duduk di kursi tunggu, menghapus air mata di wajahnya, seperti janjinya ia tetap disana menunggu Papanya sadar pasca operasi panjang itu.

Duduk dengan nyaman, sambil tetap menatap jendela ruang ICU di depannya. Ia tidak merasa lebih kuat setelahnya. Tapi ia merasa sedikit lebih jujur.

Alya terbangun saat Viko mengguncang pelan bahunya, “Kak, tukar jaga, kakak perlu istirahat yang benar, tidur saja di ruang rawat mama” Alya menegakkan duduknya.

Viko juga sama lelahnya dengan dirinya, alih-alih berdiri, ia memilih memeluk badan kekar adiknya, mengusap pelan kepala bocah kecil itu.

Tak lama isakan kecil terdengar, mereka tetap diam di posisi yang sama, saling menguatkan.

TBC

1
Yuni Ngsih
Authooooor ku lg asyik baca dipotong sedih ,karena ceritra ini ada contoh" fakta dlm pek sbg PNS...ok
Elvia Rusdi
Thor. ..Baru Nemu nih karya mu Thor...marathon baca sampui bab trakhir up...baru 4 bab...cerita nya bagus .
Yuni Ngsih
Aùthooor ceritramu kreeeeen banget ,nah itulah seorang PNS yg tanggung jawab terhadap pekerjaan & klwrga hebat peran utamanya Aliya ...mencerminkan anak yg berbakti ,jd bisa menjadi contoh " bg pmbaca kawula muda ....semangat ....& lanjut Thor...ok
Adhiefhaz Fhatim
😍
Adhiefhaz Fhatim
lanjut kk...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!