Kisah seorang dokter tentara berpangkat mayor yang jatuh hati kepada seorang apoteker di rumah sakit tempat mereka bekerja waktu pertama kali sang gadis datang wawancara. Mayor Jonathan Benjamin nama sang dokter, dia memiliki seorang anak perempuan usia enam tahun. Bertemu dengan Sophia Abigail seorang apoteker yang sudah memiliki seorang pacar yang adalah CEO David Alexander. Bagaimana kisah mereka???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Abigail
Selain sebagai seorang Apoteker, Sofi yang memiliki public speaking yang baik. Sering di undang menjadi pembicara dalam berbagai acara. Kebanyakan berbicara yang tidak jauh dari pekerjaannya.
Hari ini, Sophia Abigail diundang sebagai pembicara yang menceritakan tentang kandungan dan fungsi obat yang biasa di gunakan anak - anak. Sudah dia hari ini Sofi menyiapkan materinya. Dalam pemilihan kata agar mudah dicerna oleh anak - anak usia sekolah.
"Nama saya Sophia Abigail." Dari depan sebelah kiri ada sanggahan dari seorang anak perempuan yang duduk di bangku depan.
"Sama dong kakak nama kita. Saya Briel Abigail." Mendengar anak itu memperkenalkan diri, Sofi teringat akan resp obat dan pengakuan dokter Nathan bahwa dia mempunyai seorang anak perempuan. Sofi tersenyum. Kemudian dia melanjutkan bahan ajar yang akan diberi kepada anak seusia enam tahun yang masih duduk di kelas satu.
Siang harinya Sophia Abigael belum beranjak dari sekolah itu. Dia masih menyiapkan kotak P3K dikelas - kelas. Obat - obat itu yang dikenalkan digunakan jika sakit apa saja. Sofi matanya masih tertuju kepada Briel.
"Papa dan mamanya adalah seorang guru sedangkan kakaknya seorang dokter tentara. Jarak mereka sangat jauh." Wali kelas Briel menceritakan kepribadian Briel yang periang.
"Miss Briel hidungnya berdarah."
Sofi dengan cekatan mulai mengurangi minisan pada Briel.
"Kakak seorang dokter???"
"Tidak kakak seorang apoteker."
"Yang kerjanya menjual obat kan??!!"Sofi tersenyum.
"Ada benarnya juga, tetapi sedikit. Kakak bekerja meracik obat sesuai resep dokter."
"Kalau kakak saya, eh bukan. (Briel tampak kebingungan) Kakak ini rahasia ya. Janji hanya kita berdua disini yang tahu." Sofi tersenyum.
"Janji." Mereka menautkan jari kelingkingnya.
"Sebenarnya yang miss dan sir tahu kakakku itu adalah papiku yang sebenarnya. Di rumah aku panggil papi kalau di luar ya kakak." Sofi semakin tersenyum lebar.
"Pasti seru ya." Hati Sofi bertanya, kenapa anak usia segini bisa tahu masalah orang besar. Keadaan Briel membuat Sofi menjadi penasaran.
"Papiku dokter loh kakak. Ganteng dia juga seorang tentara. Nanti aku kenalkan kakak ke papiku ya." Briel meminta kepada Sofi mau memiliki foto berdua. Dengan meminta bantuan miss yang lewat depan ruangan UKS. Briel dan Sofi memiliki kenangan sebuah foto.
Disebuah apartemen, Sofi yang baru selesai mandi sedang melihat laporan usahanya. Sekarang dia sudah memiliki satu apoteker dan dua orang bagian administrasi. Di Apoteknya juga sudah ada empat dokter yang melakukan praktek tiga diantaranya adalah dokter spesialis dan satu dokter umum. Puji Tuhan pendapatannya meningkat dan semakin ramai.
Sementara di sebuah rumah sederhana, keluarga ini sedang makan malam bersama.
"Papi tadi, Briel mimisan lagi di sekokah papi." Nathan terkejut dan langsung memeluk anaknya.
"Apa yang Briel rasakan?? Pusing??"
"Iya, Briel di tolong oleh seorang kakak cantik sekali, Namanya sama denganku Abigail. Kakak itu kasih materi dengan obat yang wajib di miliki di sekolah dan rumah. Kita harus punya kotak P3K mama."
"Ooooo ya. Pasti kakak itu pintar ya??? Mama pengen tahu namanya siapa??"
"Sophia Abigail Sarjana Apoteker." Nathan yang mendengar nama itu langsung kaget.
"Kakak Sofi yang mengobati mimisannya Briel mama. Kakaknya cantik. Mama mau lihat fotonya tidak???" Briel menunjukan fotonya bersama Sofi.
"Iya cantik seperti anak mama." Nathan yang penasaran dengan foto itu langsung melihat ternyata Abigail yang di maksud adalah orang yang sama, yang sekarang ada di pikiran seorang dokter tentara bernama Jonathan Benjamin. Nathan tidak tidur dirumah, dia hanya mampir karena mamanya memberitahu pesan gurunya kalau Briel kembali mimisan. Selesai makan malam, Briel tidur, Nathan kembali kesatuan, tidur di messnya sendiri. Nathan sempat mengirim foto Briel dan Sofi ke handphonenya.
"Ternyata sesama Abigail cantik juga ya." Nathan mengirim pesan dan foto yang dia ambil diam - diam dari handphone Briel.
"Dokter kenal Briel juga ya??" Sebenarnya Sofi sudah tahu dari rahasia yang di sampaikan Briel kepadanya. Namun dia tahu, pasti ada alasan kenapa keluarga dokter Nathan berbuat seperti itu.
"Kalau kamu tidak keberatan, aku pengen mengundang kamu makan siang?? Pesan kembali di kirim ke Sofi.
"Jam berapa dokter???"
"Jam dua belas. Aku jemput kamu ya???"
"Boleh dokter."
Besok siang Dokter Nathan menjemput Sofi untuk di ajak makan siang. Mereka menuju sebuah mall. Di restoran yang Nathan melihat Sofi makan sendiri. Setelah memesan makan siang bersama, mereka masih punya waktu buat ngobrol.
"Dokter apa betul Briel itu anak dokter??"
"Apa Briel yang menyampaikan ini???" Sofi mengangguk. "Dasar anak ini. Tetapi biasanya dia bisa menyimpan rahasia."
"Sebenarnya ini juga rahasia kami berdua. Aku sudah berjanji kepada dia."
"Briel anakku. Ceritanya panjang, Briel ada karena sebuah kesalahan, aku dan mamanya Briel diberi obat pada minuman. Jebakan, entah itu ulah asistennya atau teman - teman kita. Mamanya Briel seorang aktris. Saya sudah mau bertanggung jawab namun dia tidak mau. Kehamilannya dijadikan berkat buat dia, karena perannya sebagai ibu hamil. Selesai syuting Film, Dia operasi lahir Briel pada usia belum tujuh bulan. Briel lama di inkubator. Di saat itu dia keluar negeri meninggalkan Briel yang diurus oleh asistennya dan setelah menyerahkan Briel kepada kami asistennya pergi menyusul Cintya. Orangtuaku pun mengangkat Briel menjadi anak mereka, adik bungsuku."
Sofi mendengar curahan hati dokter Nathan. Disaat bersamaan Sofi melihat calon suaminya juga makan siang bersama koleganya di restoran ini. Seorang cewek cantik. Karena penasarannya, Sofi mengikuti kekasihnya dengan alasan ke toilet.
Sofi mendengar pembicaraan David bersama kolega perempuannya.
"Aku jatuh cinta padamu Vid."
"Tres, aku tidak bisa orangtuaku sudah menjodohkan aku."
"Dengan anak kecil ingusan itu." Sofi yang mendengar kolega David mengatakan dia anak ingusan dia langsung marah, niat hati mau melabrak namun dia sadar bahwa dia juga keluar malan dengan seorang laki - laki.
Sofi melihat sang perempuan itu mendekat David dan memberi ciuman.
"Apa kamu tidak mencintaiku Vid?"
"Aku mencintaimu Tres, namun aku tidak bisa melawan keputusan orangtua.
"Aku mau kok jadi yang kedua, asalkan kamu bisa adil dan mencintaiku juga." Adegan mereka semakin panas, sehingga di ruangan ini. Sofi sempat melihat mereka sudah bertelanjang, kain- kain penutup tubuh mereka sudah terbuka.
Dia meninggalkan aksi mata - mata karena dia marah. Bukan karena cemburu, tetapi dia jengkel karena David pembohong, kenapa dia tidak terus terang saja kepada kedua orangtuanya kalau dia punya cewek. Kalau perasaan cinta, terus terang tidak ada sedikit pun, dia baru belajar mencintai jodoh pilihan orangtuanya.
"Kenapa mukanya begitu?"
"Tadi aku lihat setan dokter. Ayo kita pulang." Sofi dengan percaya dirinya menarik tangan dokter Nathan.
"Pulang??? Kerumah ku???"
"Dokter kan jemput saya di tempat kerjaku. Antarkan saya kembali ya??" Nathan tersenyum melihat tingkah Sophia Abigail.