Lima tahun lalu, Zora hanyalah mahasiswi biasa di mata Dimas. Kini, ia adalah obsesi yang tak bisa ia lepaskan.
Dimas adalah dosen Ekonomi yang kaku dan dingin. Baginya, segala sesuatu harus terukur secara matematis. Namun, rumusnya berantakan saat sang ibu memboyong Zora,mantan mahasiswi yang kini sukses menjadi juragan kain untuk tinggal di rumah mereka setelah sebuah kecelakaan hebat.
Niat awal Dimas hanya ingin membalas budi karena Zora telah mempertaruhkan nyawa demi ibunya. Namun, melihat kedewasaan dan ketangguhan Zora setiap hari mulai merusak kontrol diri Dimas. Ia tidak lagi melihat Zora sebagai mahasiswi yang duduk di bangku kelasnya, melainkan seorang wanita yang ingin ia miliki seutuhnya.
Zora mengira Dimas masih dosen yang sama dingin dan formal. Ia tidak tahu, di balik sikap tenang itu, Dimas sedang merencanakan cara agar Zora tidak pernah keluar dari rumahnya.
"Kau satu-satunya yang tak bisa kulogikakan,Zora!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18.Ujian di hari pertama
Zora menutup laptopnya perlahan. Ia tidak membiarkan getaran di tangannya terlihat oleh mata rakus Mira. Dengan gerakan tenang, ia merapikan lembaran foto tersebut dan memasukkannya kembali ke dalam amplop cokelat.
"Sudah selesai?" tanya Zora datar. Ia mendongak, menatap Mira dengan sorot mata yang sulit dibaca.
Senyum kemenangan Mira sedikit memudar, digantikan rasa heran. "Kau... kau tidak ingin menangis? Atau setidaknya berkemas? Dimas itu dosen terpandang, Zora. Dia tidak mungkin serius dengan wanita sepertimu. Foto itu bukti kalau kau hanya... selingan sementara baginya."
Zora berdiri perlahan. Meskipun tubuhnya masih terasa lemas dan nyeri di bagian bawah akibat malam pertamanya, ia memaksakan diri tegak. Ia berjalan mendekati Mira, memangkas jarak hingga wanita itu sedikit mundur.
"Mira," panggil Zora pelan, namun nadanya mengintimidasi. "Teknologi editing zaman sekarang sangat canggih. Dan kau pikir, aku akan percaya pada potongan kertas ini hanya karena kau yang membawanya?"
"Kau menuduhku memalsukannya?!" Mira melotot. "Itu asli! Aku punya saksinya! Sadarlah, kau itu bukan siapa-siapa bagi Dimas. Kau hanya wanita yang kebetulan 'menempel' padanya belakangan ini. Pergilah sebelum kau makin dipermalukan."
Zora tersenyum miring,sebuah senyuman tipis yang terasa meremehkan.
"Kau begitu bersemangat mengurusi hidup orang lain, ya? Padahal, aku bahkan tidak perlu menjelaskan apa pun padamu," ucap Zora tenang. "Mau aku wanita yang 'dekat' dengan Dimas, atau siapa pun aku di rumah ini... itu bukan urusanmu. Hak apa yang kau punya untuk mengatur siapa yang boleh berada di sini?"
"Aku sepupunya! Aku keluarganya!" seru Mira mulai kehilangan kendali.
"Keluarga?" Zora mengangguk-angguk kecil, langkahnya makin mendekat hingga Mira terdesak ke arah pintu. "Kalau begitu, sebagai 'keluarga', seharusnya kau bicara pada Dimas, bukan datang padaku seperti penagih utang. Kau terlihat... menyedihkan, Mira. Datang ke sini hanya untuk memamerkan koleksi foto porno yang kau dapat dari entah mana."
"Kau...!"
"Keluar," potong Zora cepat, suaranya rendah namun penuh penekanan. Ia membuka pintu depan lebar-lebar. "Pintu ini terbuka untukmu keluar. Sekarang."
"Kau berani mengusirku? Di rumah Tanteku sendiri?!"
"Selama Bu Lastri tidak ada di sini, aku yang memegang kendali rumah ini. Keluar, Mira. Sebelum aku kehilangan kesabaranku dan melaporkanmu atas tindakan tidak menyenangkan," Zora menatap tajam ke dalam mata Mira. "Dan satu lagi... terima kasih fotonya. Ini akan menjadi bahan diskusi yang menarik antara aku dan Dimas nanti malam."
Mira menggeram, wajahnya memerah padam karena harga dirinya diinjak-balik. Ia menyambar tasnya dan melangkah keluar dengan hentakan kaki kasar. "Kau akan menyesal, Zora! Dimas akan membuangmu seperti sampah setelah ini!"
Brak!
Zora menutup pintu dengan tegas. Begitu kunci berputar, ia langsung bersandar pada pintu kayu itu. Napasnya yang tadi tertata kini mulai memburu. Keberanian yang ia tunjukkan hanyalah sebuah tameng.
Ia merosot ke lantai, memeluk lututnya sendiri. Pandangannya jatuh pada amplop di genggamannya. Di dalamnya ada foto suaminya—pria yang tadi pagi mengecup punggung tangannya dengan penuh khidmat,sedang bersama wanita lain.
"Aku tidak akan goyah hanya karena mulut wanita itu," bisik Zora pada dirinya sendiri. Tangannya mengepal kuat. "Tapi kalau ini benar...Pak Dimas, kau akan tahu apa artinya membangunkan singa yang sedang tidur."
Zora tidak menangis tersedu-sedu. Ia menghapus air matanya sebelum sempat jatuh membasahi pipi. Ia bangkit, menyimpan amplop itu di laci terdalam, lalu kembali ke mejanya. Ia akan menunggu. Ia akan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa sampai Dimas pulang, dan di sanalah ia akan menuntut kebenaran.
*
Malam telah melarut. Suara mesin mobil Dimas yang memasuki halaman terdengar jelas di telinga Zora. Zora yang sejak tadi duduk di ruang tengah tanpa menyalakan lampu utama,hanya ditemani cahaya temaram lampu sudut,menarik napas panjang. Ia merapikan piyamanya, memastikan wajahnya tidak menunjukkan jejak badai yang ia lalui siang tadi.
Pintu terbuka. Dimas masuk dengan wajah lelah, namun matanya seketika berbinar saat melihat sosok istrinya sudah menunggu.
"Belum tidur, Sayang?" tanya Dimas lembut. Ia mendekat, hendak mendaratkan kecupan di kening Zora.
Zora sedikit memiringkan kepala, membuat kecupan Dimas hanya mendarat di udara. Gerakan kecil itu membuat Dimas terpaku. Senyumnya perlahan memudar.
"Ada apa? Kamu sakit? Atau... masih terasa perih?" Dimas bertanya dengan nada cemas yang sangat tulus, tangannya terulur hendak menyentuh pipi Zora.
"Pak...."
gagal maning 🤣🤣
sabar pak dosen
mampir lh k hotel klw g Tahn 🤭