*Update tiap hari*
Dia pikir adiknya sudah mati 7 tahun lalu. Dia salah.
Zane Elian Kareem kehilangan segalanya dalam satu malam: Rumah, Orang tua, dan Serra, adiknya.
Namun, sebuah benda di toko berdebu mengubah takdirnya. Serra masih hidup.
Kini, Zane bukan lagi bocah lemah. Dia adalah seorang Tarker—pemeta wilayah liar yang berani menembus zona maut demi uang. Persetan dengan intrik politik kerajaan atau diskriminasi ras. Masa bodoh dengan Hewan Buas Kelas E yang mengintai di hutan.
Zane akan membakar siapapun yang menghalangi pencarian "jalan pulangnya" menuju Serra. Bahkan jika harus melawan satu republik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Murdoc H Guydons, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Epilog
Jalan setapak yang menjauh dari Paleside terasa sunyi.
Di belakang kami, suara denting palu dan suara kesibukan para warga perlahan memudar, digantikan oleh desau angin yang meniup debu tanah kering.
Setelah berjalan cukup jauh, kami berdua berhenti dan menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya.
Dari kejauhan, Paleside tampak seperti sebuah luka di lanskap hijau. Di gerbangnya yang hancur, kami masih bisa melihat pohon Palliton yang berkeliling, siluet-siluet kecil—Percy dan beberapa kadetnya—masih berdiri di sana, mengantar kepergian kami.
Fiora melambaikan tangannya. Sebuah lambaian perpisahan.
Lalu kami berbalik, memunggungi desa itu, dan melangkah maju.
Keheningan di antara kami terasa berat, dipenuhi oleh hal-hal yang tak terucapkan. Fiora orang pertama yang memecahnya.
"Jadi," ia memulai, sebuah upaya mencari interaksi normal "kapan biasanya seorang Tarker berhenti untuk istirahat?"
Aku meliriknya. Sebagian dari diriku ingin menjawab dengan praktis. Tapi sebagian lain, bagian yang sudah terlalu lama tidak berbicara dengan siapa pun kecuali diri sendiri, menjawab dengan kejujuran yang kering.
"Tarker solo punya tiga waktu istirahat," kataku datar. "Saat pingsan karena kelelahan, saat tersesat, atau saat dipaksa berhenti untuk menulis laporan. Sisanya adalah berjalan."
Fiora terdiam sejenak, mencerna kata-kataku, lalu sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya.
"Oh," katanya dengan nada sedikit menggoda, "berarti nanti siang saat tengah hari, ya. Kau pasti pingsan karena lapar"
Aku berhenti melangkah, melongo menatapnya sesaat. Aku tidak menyangka ia akan membalas dengan candaan.
Sebuah tawa kecil, yang sudah lama tidak kudengar dari diriku sendiri, akhirnya lolos.
"Kau luar biasa," kataku sambil menggelengkan kepala. Fiora ikut tertawa kecil, suara tawanya yang lembut terasa seperti setetes air di tanah yang gersang.
Kami tiba di sebuah persimpangan. Jalan bercabang dua: satu ke arah selatan, kembali menuju Wayford, dan satu lagi ke arah barat, menembus perbukitan menuju Cragspire.
Namun, saat kami akan mengambil jalur ke barat, kami mendengar suara.
Awalnya pelan, seperti guntur di kejauhan, lalu semakin jelas: derap langkah serempak yang berat.
Sesaat kemudian, mereka muncul dari balik kelokan.
Barisan prajurit Aegis Legion. Mesin perang yang bergerak.
Di depan mereka, di atas seekor Kuda Perang yang gagah, duduk seorang komandan. Wajahnya yang keras dan tanpa emosi terlihat jelas di bawah helmnya. Ia mengenakan zirah baja berwarna abu-abu arang yang menutupi dada dan bahunya. Lengannya yang berotot masih tampak di balik seragamnya.
Saat mereka mendekat, aku merasakan tekanan berat di udara, Daya yang terkonsentrasi dan dingin yang memancar darinya.
Aku tidak tahu namanya, tapi aku mengenali tanda pangkat yang terukir di pelat bahunya. Legionis. Pangkat komandan lapangan tertinggi di Aegis Legion.
Saat ia melewati kami, mata dinginnya bertemu dengan mataku.
Pandangannya tajam, kemudian turun dan berhenti sejenak pada lencana 'Sang Bilah' yang tersemat di dadaku.
Untuk sepersekian detik, aku merasakan Daya-nya yang sejak tadi terasa menekan dan dingin, bergejolak—sebuah lonjakan energi singkat tak terkendali, seperti riak di permukaan danau yang tenang. Tatapannya semakin tajam, sebuah kilatan penghinaan tak terucap.
Lalu matanya beralih pada Fiora, dan berhenti lagi pada lencana bilah di pakaiannya.
Wajahnya tetap sedingin batu. Namun keheningannya terasa lebih mengintimidasi daripada sebuah teriakan hewan buas. Dengan sebuah dengusan menghina yang nyaris tak terdengar, ia membuang muka dan terus memacu kudanya menuju Paleside.
Seluruh legion itu mengikutinya, melewati kami seperti sungai baja, tanpa satu pun prajurit yang menoleh.
Setelah derap langkah terakhir menghilang, tekanan di udara pun lenyap.
"Siapa... itu?" tanya Fiora, suaranya sedikit bergetar.
"Seorang Legionis," jawabku pelan. "Komandan tertinggi Aegis Legion di lapangan.”
Aku melirik ke arah debu yang ditinggalkan pasukan itu.
"Sepertinya dia tidak suka melihat sipil memakai lencana militer."
Fiora tersadar. Ia buru-buru menutupi lencananya dengan telapak tangan.
"Kalau begitu kenapa kita masih memakainya?" bisiknya cemas. "Lebih baik kita simpan saja, daripada mencari masalah dengan prajurit militer."
Aku menunduk menatap bilah perak di dadaku.
"Hei, Percy memberikan ini padaku dengan resmi," jawabku sambil menyunggingkan senyum miring. "Peduli apa aku dengan pandangan orang lain."
Fiora menatapku heran, lalu geleng-geleng kepala sambil terkekeh pelan.
"Haha... Kau aneh, Zane. Tak kusangka kau menyukai hal seperti penghargaan."
Aku menepuk lencana itu pelan, merasakan dingin logamnya.
"Sesekali tak ada salahnya kan, kalau aku merasa senang karena diapresiasi?"
Fiora tersenyum geli.
"Jadi," katanya lagi, seolah ingin mengonfirmasi. "kita ke barat?"
Aku menatap lurus ke jalan setapak yang menuju ke barat.
"Ya," kataku, nadaku kini lebih dari sekadar mantap.
"Kita ke Cragspire."
Pas kita lari, dia datang
Mau betumbuk kah mereka?😭