Bijaklah dalam memilih bacaan.
Cerita ini hanya fiksi belaka!
-------------------------
Megan Ford, seorang agen elit CIA, mengira ia memiliki kendali penuh saat menodongkan pistol ke pelipis Bradley Brown, bos mafia berdarah dingin yang licin.
Namun, dalam hitungan detik, keadaan berbalik. Bradley,seorang manipulatif yang cerdas menaklukkan Megan dalam sebuah One Night Stand yang bukan didasari gairah, melainkan dominasi dan penghancuran harga diri.
Malam itu berakhir dengan kehancuran total bagi harga diri Megan.
Bradley memiliki bukti video yang bisa mengakhiri karier Megan di Langley kapan saja. Terjebak dalam pemerasan, Megan dipaksa hidup dalam "sangkar emas" Bradley.
Mampukah Megan dengan jiwa intelnya melarikan diri dari tahanan Bradley Brown?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririnamaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 25
Setelah membaca pesan dari Jasper di tablet Peter, Bradley bangkit. Matanya berkilat penuh rencana jahat.
"Kau tahu apa yang harus kau lakukan, Pet. Lakukan yang seharusnya. Buat singa tua itu ketakutan di dalam kandangnya sendiri," perintah Bradley dingin.
"Baik, Tuan," jawab Peter tanpa ragu.
Bradley melangkah meninggalkan Peter yang masih sibuk dengan tabletnya. Ia berjalan menuju taman belakang rumah yang asri namun menyimpan aura kesepian. Bradley duduk di sebuah bangku kayu tua, pandangannya kosong menatap guguran daun maple yang merah kecokelatan.
Ia meraih sehelai daun, dan seketika ingatannya terlempar ke masa lima belas tahun silam. Ia ingat suara ayahnya, yang menghubunginya malam-malam dengan nada penuh semangat.
Ayahnya mengabarkan bahwa Bradley harus segera pulang karena esok adalah hari Inaugurasi hari pelantikannya sebagai Direktur baru. Tentu saja Bradley merasa begitu bangga; ayahnya akan menjadi seorang pemimpin.
Ada senyum samar yang terbit di bibirnya, namun seketika semua buyar, saat Paman Sam memanggilnya dengan nada cemas.
"Tuan Brown... maaf mengganggu," paman Sam tampak gelisah. "Bisa tolong bantu saya membujuk Nona Megan untuk makan? Dia mengunci pintu kamarnya dari dalam dan tidak menjawab panggilan saya. Saya takut kondisinya menurun."
Bradley menghela napas panjang, mencoba meredam denyut nyeri di kepalanya akibat kenangan tadi. “Baiklah paman.”
Bradley melangkah menaiki tangga begitu ia sampai, benar saja, pintu kamar itu terkunci rapat dari dalam. Paman Sam datang dengan wajah gelisah, menyerahkan kunci cadangan setelah mendapat kode singkat dari Bradley.
Begitu pintu terbuka, Bradley mendapati Megan yang sedang meringkuk di tepi ranjang.
"Kau pikir dengan mengurung diri seperti ini, kau bisa lepas dariku? Kau pikir aku tidak punya seribu cara untuk menemukanmu, Meg?" suara Bradley pelan, namun setiap katanya menusuk.
Megan tersentak, matanya menatap Bradley dengan amarah yang berkilat. "Kau pasti mengancam Paman Sam untuk meminta kunci cadangan itu. Kenapa hidupmu selalu saja membahayakan orang-orang di sekitarmu, Brown?"
"Mengancam Paman Sam?" Bradley menyeringai tipis. "Aku tidak perlu mengancam siapa pun di sini. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Jangan pernah berpikir kau bisa menyakiti bayiku dengan menyiksa dirimu sendiri. Sekarang makan, atau kupaksa."
Bradley mengambil nampan perak dari tangan Paman Sam, lalu memberi isyarat agar penjaga itu keluar. Begitu penutup nampan dibuka, aroma masakan dengan bumbu rempah yang hangat menguar, mengisi kamar yang terasa dingin itu.
"Coba sedikit saja," perintah Bradley.
Namun, Megan bergeming. Ia tetap membisu, tangannya justru semakin erat mendekap bingkai foto keluarga yang tampak begitu bahagia.
Melihat pemandangan itu, darah Bradley mendidih. Rasa cemburu meledak tak terkendali. Ia menyambar bingkai itu dari tangan Megan dan membantingnya ke sudut ruangan.
BRAAAKKK!
Kaca bingkai itu hancur berantakan, "Berhenti berharap pada pria khayalanmu, Meg! Dia tidak ada! Bahkan Miller yang berstatus tunanganmu saja tak akan mampu menolongmu, apalagi pria yang hanya menjadi ilusi di kepalamu ini!" bentak Bradley.
"Kau...!" Megan menunjuk wajah Bradley dengan jari yang bergetar. "Beraninya kau menghancurkan sesuatu yang bukan milikmu?!"
"Bahkan jika aku mau, aku bisa menjadikan seluruh rumah ini milikku dalam sekejap! Sekarang berhenti berhalusinasi. Makan, atau kau ingin ayahmu yang baru tiba di markasnya itu kelimpungan karena skandalnya dengan daun muda mencuat ke media?"
Tepat saat suasana mencapai titik didih, ponsel di saku Bradley bergetar. Nama Jasper muncul di layar. Bradley menarik napas panjang, mencoba menstabilkan emosinya yang hampir pecah. Ia meletakkan nampan itu kembali di depan Megan.
"Aku akan keluar. Makanlah, Meg," ucapnya, mendadak suaranya berubah lembut. Ia mengusap rambut Megan dengan gerakan protektif yang membingungkan, lalu melangkah keluar tanpa menoleh lagi, ia kembali ke depan menemui Peter.
Bradley menatap layar beberapa detik.
Jarinya bergetar sedikit saat jempolnya menekan SEND. Tidak ada ekspresi di wajahnya. Hanya kekosongan yang dalam.
Peter menatap bosnya. “Tuan… apakah Anda yakin ingin membawa masa lalu ke permukaan?”
****
Langley — 09.00 AM
Atmosfer di markas besar CIA mendadak memanas. Suara langkah sepatu bot yang terburu-buru menggema di koridor. Sang Direktur, Arthur Ford, melangkah lebar menuju ruang komando utama dengan Alice yang setia mengekor di belakangnya. Wajahnya yang gelap, memancarkan aura otoritas yang mematikan.
"Semua tim, kumpul sekarang!" perintah Arthur dingin, memicu emergency briefing yang tak tak ada di jadwal sama sekali.
Beberapa agen senior dan tim taktis yang kemarin malam melakukan penggerebekan di Tysons Corner berdiri tegak dengan wajah pucat.
"Apa Brown masih ada di Virginia?" tanya Arthur, suaranya menggelegar.
"Maaf, Sir. Kami kehilangan jejak. Setelah insiden kemarin malam, subjek tidak lagi berada di hotel. Tidak ada petunjuk fisik, bahkan seluruh rekaman CCTV di area tersebut telah dihapus tanpa sisa," lapor salah satu agen lapangan.
Arthur menghantam meja jati di depannya hingga suara dentumannya menggema ke seluruh ruangan. "Aku ingin kalian temukan dia! Sekarang! Aku ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri seberapa identik istrinya dengan putriku!"
"Maaf, Sir. Apa kita tidak sebaiknya menghubungi markas MI6 untuk meminta konfirmasi ulang dari Sean Miller mengenai status terakhir Agen Ford?" tanya seorang agen analitik.
"Saya rasa itu ide yang sangat tepat, Sir." Suara berat Jasper memutus perdebatan saat ia melangkah masuk ke ruang rapat. "Agen Miller patut kita curigai. Jika sistem biometrik Dulles mendeteksi kepulangan Megan, sementara Miller bersikeras bahwa ia sedang dalam misi black ops di London, maka ada ketidaksinkronan informasi yang sangat fatal. Seseorang sedang berbohong pada kita, Sir."
Arthur Ford kini tidak hanya memburu hantu bernama Bradley Brown, tapi ia juga mulai meragukan calon menantu kesayangannya sendiri.
"Hubungkan aku dengan MI6," desis Arthur sambil menatap layar monitor besar yang masih menampilkan status 'Unknown' pada lokasi Bradley. "Jika Sean Miller berani mempermainkan, aku sendiri yang akan menghancurkan kariernya.”
Di tengah ruangan rapat yang sunyi mencekam, Arthur Ford berdiri tegak, menanti sambungan internasional ke markas besar MI6 di London. Alice berdiri di sampingnya dengan napas yang tertahan, matanya diam-diam memantau pergerakan para agen yang sedang sibuk melacak jejak digital Bradley Brown.
Tiba-tiba, sebuah getaran singkat dari ponsel pribadi Arthur memecah keheningan. Ponsel itu menyala menampilkan notifikasi pesan dari nomor yang terenkripsi, tanpa identitas.
Arthur mengerutkan kening, ia segera menyambar ponselnya. Satu baris kalimat muncul di sana, cukup singkat untuk dibaca dalam sekali kedip, namun cukup tajam untuk meruntuhkan wibawa sang Direktur.
FROM: UNKNOWN]
"Tak disangka penguasa Virginia bisa dibodohi semudah ini. Megan tidak sedang menjalankan 'Black Ops' di London, Arthur, kau bahkan sedang di permainkan calon menantumu. Kau sibuk mencari kesalahan orang lain, padahal kesalahan itu justru ada di sekitarmu sendiri.”
Arthur Ford menatap layar ponselnya dengan tangan yang bergetar hebat. Wajahnya yang semula merah padam karena amarah, kini berubah pucat pasi. Pesan singkat itu bukan sekadar gertakan; itu adalah serangan jantung digital yang dikirim tepat ke pusat pertahanannya.
Suasana di ruang komando Langley yang tadinya bising oleh suara ketikan komputer, mendadak berubah menjadi sunyi mencekam saat Arthur membanting ponselnya ke atas meja.
"Sir? Ada apa?" tanya Jasper dengan nada datar yang tenang, meski di dalam hatinya ia sedang tersenyum puas melihat bidak catur Bradley bekerja dengan sempurna.
Arthur tidak menjawab. Ia menoleh ke arah Alice, lalu ke arah layar besar yang masih menampilkan laporan misi palsu dari Sean Miller. Benih keraguan yang ditanam Bradley kini telah tumbuh menjadi hutan kecurigaan yang menyesakkan.
"Panggil Sean Miller melalui jalur merah sekarang juga!" desis Arthur, suaranya terdengar seperti raungan singa yang terluka. "Jika dia tidak bisa membuktikan Megan ada di depannya dalam sepuluh menit, aku akan memastikan MI6 menghapus namanya dari sejarah intelijen!"
Sementara itu, di Alexandria, Bradley berdiri di teras rumah sambil menatap langit yang cerah. Ia baru saja mengirimkan "hadiah" yang akan membuat Arthur terjaga sepanjang malam.
"Masa lalu tidak pernah benar-benar mati, Pet," gumam Bradley sambil menatap lantai dua, kamar di mana Megan berada. "Ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk bangun dan menuntut balas."
Di dalam kamar yang dingin, Megan masih menatap pecahan kaca bingkai foto keluarga Sarah. Ia tidak tahu bahwa di saat yang sama, dunia ayahnya sedang runtuh berkeping-keping, persis seperti kaca di bawah kakinya. Perang besar baru saja dimulai, dan kali ini, tidak akan ada tempat untuk bersembunyi.