Di dunia bawah yang kelam, nama Reggiano Herbert adalah eksekutor paling mematikan yang dikenal karena ketenangannya. Seorang pria yang akan memperbaiki kerah bajunya dan tidak mungkin menutup mata sebentar sebelum mengakhiri nyawa targetnya.
Baginya, hidup hanyalah rangkaian tugas yang dingin, hingga ia menemukan "Flower's Patiserie".
Toko itu sangat berwarna-warni di tengah kota yang keras, tempat di mana aroma Strawberry Tart yang manis berpadu dengan keharuman mawar segar. Sang pemilik, Seraphine Florence, adalah wanita dengan senyum sehangat musim semi yang tidak mengetahui bahwa pelanggan setianya yang selalu berpakaian rapi dan bertutur kata manis itu baru saja mencuci noda darah dari jas abu-abunya sebelum mampir.
Tetapi, apakah itu benar-benar sebuah toko biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PROLOG
Malam di sisi timur kota selalu terasa lebih panjang bagi orang-orang seperti Reggiano Herbert. Cahaya lampu jalan yang remang-remang memantul di atas genangan air hujan, menciptakan bayangan panjang yang tampak berdansa di dinding-dinding bata yang kusam.
Di sebuah lorong buntu yang tersembunyi dari hiruk pikuk klakson mobil, suasana terasa begitu sunyi... jenis kesunyian yang mencekam, di mana detak jam tangan pun terdengar seperti dentum palu.
Reggiano berdiri tegak, sama sekali tidak terganggu oleh rintik hujan yang mulai membasahi jas abu-abu mahalnya. Ia mengeluarkan sapu tangan sutra dari saku dadanya, lalu dengan gerakan yang sangat tenang, ia menyeka setetes noda merah yang memercik ke bingkai kacamata peraknya.
Di hadapannya, seorang pria bersimpuh dengan napas tersengal. Pria itu adalah seorang pengkhianat organisasi, seseorang yang telah mencuri informasi berharga. Namun, bagi Reggiano, pria di depannya hanyalah sebuah "serangga" yang harus dibasmi sebelum toko favoritnya tutup.
"Mohon tenanglah, Tuan Miller," ucap Reggiano. Suaranya rendah, bariton, dan luar biasa mendominasi. Tidak ada nada ejekan atau amarah di sana.
"Jika anda terus meronta, proses ini hanya akan menjadi lebih berantakan. Saya yakin anda tidak ingin mengakhiri malam ini dengan cara yang tidak terhormat."
Pria bernama Miller itu mendongak, matanya dipenuhi ketakutan. "Kau... mereka menyebutmu monster, Eksekutor. Bagaimana kau bisa bicara sesantai itu setelah apa yang kau lakukan?"
Reggiano tersenyum tipis, sebuah lengkungan bibir yang terlihat tulus namun tidak mencapai matanya yang dingin. "Saya menjalankan tugas, ini adalah hal terakhir yang bisa saya berikan kepada anda sebagai pelanggan yang tidak hormat. Bukankah dunia ini sudah cukup kasar? Setidaknya, biarkan akhir anda terasa sedikit lebih... terhormat."
Dengan gerakan yang hampir tidak terlihat oleh mata telanjang, Reggiano menarik pelatuk senjata peredamnya. Satu dentuman pelan yang hampir tenggelam oleh suara guntur di kejauhan.
Miller ambruk tanpa sempat mengeluarkan suara lagi.
Reggiano menghela napas panjang. Ia memeriksa jam tangannya. Pukul 16.40.
"Ah, aku harus bergegas," gumamnya pada diri sendiri.
Ia merapikan kerah jasnya, memastikan tidak ada debu atau noda yang tertinggal. Ia melepaskan sarung tangan hitamnya, melipatnya dengan rapi, dan membuangnya ke dalam tempat sampah terdekat yang tertutup.
Dalam sekejap, aura "Eksekutor Tanpa Belas Kasih" itu menguap, berganti dengan sosok pria kantoran yang tampak sukses dan ramah.
Bau amis darah yang sempat samar-samar tercium di lorong itu kini ia tutupi dengan semprotan parfum citrus woody yang mewah. Ia berjalan keluar dari lorong, melangkah menuju kawasan yang lebih terang, di mana deretan toko-toko cantik berdiri dengan etalase kaca yang berkilauan.
Sepuluh menit kemudian, lonceng di atas pintu sebuah toko berdenting kecil, mengeluarkan suara ting yang merdu.
Seketika itu juga, dunia Reggiano berubah.
Aroma besi, mesiu, dan kematian yang baru saja ia hirup digantikan oleh ledakan wangi mentega yang gurih, stroberi segar, dan keharuman bunga-bunga yang sedang mekar sempurna. Nama di papan kayu di atas pintu itu tertulis dengan huruf latin yang cantik: Flower’s Patisserie.
"Selamat sore, Nona Florence," sapa Reggiano. Ia melepaskan topi fedora-nya dan sedikit menundukkan kepala saat melangkah masuk.
Di balik konter kayu berwarna putih krem, seorang wanita menoleh. Seraphine Florence sedang menghias sebuah kue dengan krim putih yang lembut. Rambut cokelatnya yang sedikit berantakan tertutup celemek bermotif bunga. Saat melihat siapa yang datang, wajahnya langsung cerah.
"Ah, Tuan Herbert! Selamat sore," jawab Seraphine dengan senyum yang bisa membuat siapa pun lupa bahwa dunia luar adalah tempat yang kejam.
"Tuan, anda datang tepat waktu seperti biasanya. Saya baru saja mengeluarkan Strawberry Tart terakhir dari oven sepuluh menit yang lalu."
Reggiano berjalan mendekat, langkah sepatunya terdengar mantap namun tidak mengintimidasi. Ia menatap etalase kaca yang penuh dengan dessert cantik.
"Aromanya luar biasa, Nona. Saya rasa adik saya, Elena, akan sangat senang hari ini, dia sempat mengeluh karena nafsu makannya berkurang kemarin."
"Oh, kasihan sekali Elena...." ucap Seraphine dengan nada prihatin yang tulus. Ia mulai membungkus kue itu ke dalam kotak karton merah muda yang cantik.
"Katakan padanya untuk segera sembuh, ya? Saya menambahkan sedikit selai stroberi ekstra di bagian tengahnya agar dia lebih bersemangat."
"Anda sangat baik, Nona Florence. Terima kasih banyak atas perhatian anda," kata Reggiano dengan suara yang sangat lembut.
Sambil menunggu Seraphine menyiapkan mawar putihnya, Reggiano mengamati sekeliling toko. Ada sesuatu yang aneh tentang bunga-bunga di toko ini.
Meski di luar sedang musim hujan yang dingin, bunga mawar di sudut toko Seraphine terlihat begitu hidup, seolah-olah mereka memiliki musim bunga sendiri di dalam pot tersebut. Daun-daunnya hijau pekat, dan kelopaknya tidak menunjukkan tanda-tanda akan layu sedikit pun.
Seraphine kembali dengan sebuket mawar putih yang masih basah oleh embun. "Tuan Herbert, ini mawar untuk anda, Tuan. Mawar yang paling segar yang saya miliki hari ini."
Saat tangan mereka bersentuhan singkat ketika menyerahkan buket itu, Reggiano merasakan sensasi aneh, sebuah gelombang kehangatan yang menjalar dari jemari Seraphine, seolah-olah rasa lelah setelah "pekerjaan kotornya" tadi hilang seketika.
"Apakah ada yang salah, Tuan Herbert?" tanya Seraphine, memperhatikan Reggiano yang sempat terdiam.
Reggiano segera tersenyum dan menggeleng pelan.
"Tidak ada, Nona. Saya hanya berpikir... betapa beruntungnya bunga-bunga dan kue manis ini memiliki pemilik seperti anda. Ini adalah satu-satunya tempat di mana saya merasa benar-benar bisa bernapas lega."
Seraphine tersipu sedikit. "Terimakasih, anda terlalu memuji. Saya hanya menanam apa yang saya cintai disini."
Reggiano membayar dengan jumlah yang lebih dari seharusnya, lalu berpamitan dengan sopan. Saat ia keluar dari toko dan kembali ke trotoar yang dingin, ia mengeratkan pelukannya pada kotak kue dan buket mawar itu.
Bagi dunia, dia adalah malaikat maut. Namun bagi toko ini, dia hanyalah seorang pria yang mencintai adiknya. Dan baginya, Seraphine Florence adalah keajaiban yang tidak boleh ia sentuh dengan tangannya yang berlumuran dosa. Ia tidak tahu, bahwa di dalam toko itu, Seraphine menatap kepergiannya sambil mengusap bunga mawar yang tadi sempat disentuh Reggiano dan ajaibnya bunga itu tiba-tiba mekar dua kali lipat lebih lebar hanya karena sentuhan sang wanita.