Sejak kuliah, Kanaya sudah mengagumi seorang Narendra Atmaja, namun ia sadar akan statusnya dan mencoba membuang jauh-jauh perasaannya. Hingga suatu hari sahabatnya mendaftarkan Kanaya ke sebuah aplikasi kencan dan ia harus bertemu dengan pria yang menjadi teman kencannya, akhirnya Kanaya menemui pria tersebut dan betapa terkejutnya ia ketika mengetahui jika pria yang menjadi teman kencannya adalah pria yang ia kagumi sejak kuliah.
Bagaimana kelanjutannya? Apa yang akan terjadi pada Kanaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Pertama
Dua hari kemudian, Narendra keluar dari mobil dengan jas Dokter putih yang disampirkan di bahunya dan menutupi kemeja navy yang disetrika sempurna. Langkah kakinya yang tegas bergema di lantai marmer rumah sakit. Wajahnya datar, tanpa senyum, namun pancaran otoritasnya membuat siapa pun yang berpapasan dengannya refleks menunduk hormat.
"Selamat pagi, Dokter Narendra. Selamat datang di rumah sakit," sapa kepala perawat dengan nada sedikit gemetar.
Narendra hanya memberikan anggukan singkat tanpa menghentikan langkahnya, "Jadwal visite pagi ini dan laporan inventaris alat bedah saraf bawa ke ruangan saya dalam lima menit," pinta Narendra.
Beberapa perawat yang ada disana pun gemetardan dalam sekejap, desas-desus tentang betapa dingin dan cueknya Narendra yang selama ini hanya menjadi buah bibir dari Ibu Kota terbukti benar dan saat ini di ruang perawat, bisik-bisik mulai pecah.
"Gila, ganteng banget! Tapi tatapannya itu loh, kayak mau membedah orang hidup-hidup," bisik salah satu perawat muda dengan pipi merona.
"Percuma ganteng kalau cueknya minta ampun, tadi Dokter Siska dari bagian anak menyapa saja cuma dibalas anggukan tipis, benar-benar sulit ditembus," sahut lainnya.
Sesampainya di ruangannya, Narendra langsung memeriksa beberapa departemen yang menurutnya perlu diperbaiki dan tak lama pintu ruangannya terbuka.
"Bagaimana?" tanya seorang pria.
"Seperti yang sebelumnya Narendra bilang, Om. Narendra akan membenahi yang perku dibenahi, karena Narendra masih baru, Narendra tetap butuh Om Rafa untuk mengawasinya," ucap Narendra.
"Tentu saja, Om ini kan sebagai wakil direktur senior harus mengawasimu," ucap Om Rafa yang merupakan Om dari Narendra dan dia juga yang membantu Papa Ardi untuk mengelola rumah sakit ini.
Setelah kepergian Om Rafa, Narendra tidak langsung duduk di kursi kebesarannya. Narendra menaruh jas putihnya di sandaran kursi lalu menggulung lengan kemeja hingga sebatas siku. Narendra ingin melihat realita di lapangan, bukan sekadar angka-angka di atas kertas laporan inventaris.
Narendra melangkah keluar ruangan dan tujuannya bukan kantin, melainkan melakukan audit visual secara menyeluruh. Narendra berjalan mulai dari lantai paling atas hingga ke unit gawat darurat dan setiap langkahnya menarik perhatian, namun sorot mata Narendra yang tajam seolah memasang pagar pembatas agar tidak ada yang berani mendekat untuk sekadar berbasa-basi.
Beberapa saat kemudian, Narendra menghentikan langkahnya tepat beberapa meter dari kerumunan kecil di lorong Unit Gawat Darurat, ia menyilangkan tangan di dada dan memperhatikan bagaimana perawat pria itu membentak seorang ibu paruh baya yang tampak panik dan kebingungan.
"Ibu harus paham prosedurnya! Kalau belum ada berkas administrasi lengkap, kami tidak bisa memprioritaskan pasien!" bentak perawat itu dengan nada sombong, tanpa memedulikan pasien di kursi roda yang tampak sesak napas.
"Tapi anak saya sesak, Bu... Tolong, administrasinya menyusul, suami saya sedang jalan ke sini," rintih ibu itu sambil terisak.
Narendra melangkah maju, suara langkah sepatunya yang mantap terdengar jelas di lantai yang sunyi. "Ada masalah apa di sini?" tanya Narendra datar.
Perawat tersebut menoleh dengan wajah kesal ketika melihat Narendra, apalagi Narendra hanya mengenakan kemeja tanpa jas Dokternya, karena memang jasnya ia tinggal di ruangan dan perawat tersebut pun menganggap Narendra hanyalah pengunjung biasa atau Dokter residen baru yang tidak perlu disegani.
"Jangan ikut campur, Mas. Ini urusan internal rumah sakit, silakan lanjut jalan saja, jangan bikin macet lorong," usir perawat itu dengan angkuh.
Narendra tidak bergeming, ia melirik name tag di dada perawat tersebut. "Suster Indah, apakah di kurikulum keperawatan anda diajarkan bahwa administrasi lebih berharga daripada nyawa pasien yang sedang distress pernapasan?" tanya Narendra dengan nada tidak bersahabat.
Perawat bernama Indah itu tertawa sinis pada Narendra, "Eh, berani-beraninya anda menguliahi saya? Anda siapa? Dokter baru? Atau keluarga pasien yang sok tahu? Di sini saya yang bertugas, jadi ikuti aturan saya!" bentak Suster Indah.
Para perawat lain yang memperhatikan dari kejauhan mulai menahan napas, mereka yang tadi melihat Narendra di lobi tahu persis siapa pria di depan Suster Indah ini, namun Suster Indah yang sedang emosi terlalu buta untuk menyadarinya.
Narendra mengeluarkan ponselnya, menekan satu tombol panggilan cepat sambil tetap menatap mata Suster Indah dengan tatapan sedingin es.
Dokter Rafa, ke UGD sekarang dan bawa surat peringatan terakhir dan formulir mutasi.
Suster Indah mulai merasa tidak enak, bahkan wajahnya kini mulai sedikit memucat melihat ketenangan pria di depannya.
"Maksud anda apa? Jangan macam-macam ya...," ucapan Suster Indah harus terhenti karena Narendra yang bersuara.
"Masalahnya bukan saya, masalahnya adalah anda baru saja membentak orang yang membayar gaji anda. Saya Narendra Atmaja, Direktur Utama rumah sakit ini dan untuk pasien ini...," Narendra beralih ke ibu yang ketakutan itu lalu dengan sigap memeriksa denyut nadi dan pola napas pasien di kursi roda.
"Segera bawa ke ruang tindakan! Beri oksigen 4 liter per menit dan panggil dokter jaga UGD sekarang! Jika terjadi sesuatu pada pasien ini karena keterlambatan anda, saya pastikan izin praktik anda dicabut hari ini juga!" perintah Narendra dengan suara yang menggelegar hingga membuat Satria mematung lemas hingga hampir jatuh.
Om Rafa tiba di lokasi beberapa saat kemudian bersama keamanan dan suasana UGD mendadak sangat tegang, Narendra tidak peduli pada permintaan maaf Suster Indah yang kini sudah bersimpuh padanya.
"Ada apa, Dok?" tanya Om Rafa.
Narendra menunjuk ke arah Suster Indah dengan dagunya, tatapannya masih setajam silet. "Selesaikan administrasinya, Dok. Bukan administrasi pasien, tapi administrasi pemecatan Suster ini, saya tidak butuh tenaga medis yang kehilangan empati hanya karena selembar kertas prosedur," ucap Narendra dingin.
Om Rafa menghela napas pendek, ia sudah menduga ketegasan keponakannya ini akan memakan korban di hari pertama. "Baik, akan segera diproses, silahkan Suster Indah mengikuti saya," ucap Om Rafa.
Suster Indah hanya bisa menangis sesenggukan saat mengikuti Om Rafa, sementara perawat lain yang menyaksikan kejadian itu benar-benar merasa bulu kuduk mereka berdiri. Mereka baru saja menyaksikan secara langsung bahwa desas-desus tentang bagaimana kejam dan tidak tersentuhnya putra tunggal keluarga Atmaja yang ternyata bukanlah isapan jempol belaka.
Setelah kepergian Suster Indah, suasana di lorong UGD mendadak sangat hening seolah-olah oksigen di ruangan itu baru saja tersedot habis. Narendra berbalik dan menatap satu per satu tenaga medis yang masih terpaku di posisi mereka.
Narendra melangkah mendekat ke arah meja perawat dan tangannya bertumpu di atas meja dengan posisi tubuh yang mengintimidasi.
"Dengarkan saya baik-baik! Rumah sakit ini dibangun untuk menyembuhkan, bukan untuk menambah beban mental pasien atau keluarganya. Saya tidak peduli seberapa lelah kalian atau seberapa rumit prosedurnya, jika ada masalah teknis, jelaskan baik-baik. Gunakan mulut kalian untuk mengedukasi, bukan untuk menggonggong! Sekali lagi saya mendengar ada staf yang bersuara kasar atau merendahkan pasien, kalian tidak perlu menunggu surat peringatan. Kalian bisa langsung menyusul rekan kalian tadi untuk mengemasi barang-barang, mengerti!" peringat Narendra.
"Mengerti, Dokter," jawab mereka.
"Kembali bekerja," ucap Narendra.
.
.
.
Bersambung.....