"Mulutmu harimaumu"
Demikian lah peribahasa sederhana yang seringkali kita dengar. Dijadikan pengingat agar kita berhati-hati dalam bertutur kata.
Sayangnya itu tak berlaku untuk seseorang di luar sana. Dengan ringan lisannya berucap tanpa peduli imbas negatif yang ditimbulkan.
Malam-malam yang tenang dalam sekejap berubah jadi menegangkan.
Hadirnya sosok tak kasat mata yang selalu mengawasi, tak hanya membawa rasa sakit tapi juga ketakutan.
Lalu siapa yang bisa bertahan sampai akhir, 'dia' atau mereka ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummiqu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Pocong Ginah ?
Rupanya bukan hanya Laras yang mendengar suara sang ibu, beberapa wanita yang selesai membantu di rumah mereka pun mendengar suara Ginah.
Saat itu pukul sembilan malam. Setelah acara pengajian selesai, para wanita yang membantu Laras pun pamit. Yudha dan Sartika mewakili keluarga mengucapkan terimakasih dengan memberi sejumlah uang.
"Tolong diterima, ini bukan upah tapi ungkapan terima kasih kami atas bantuan Ibu-ibu semua," kata Yudha sambil membagikan amplop berisi uang.
"Ga perlu begini Yud. Saling bantu sesama tetangga itu kan biasa," kata Lia teman dekat Ginah.
"Saya tau. Saya seneng udah dibantu dan berharap Ibu-ibu ga bosen bantu kami lagi di pengajian berikutnya," sahut Yudha sambil tersenyum.
"Kalo ga ada ibu-ibu belum tentu kami bisa ngurus semuanya sendiri. Jadi biar sama-sama enak diterima aja ya," kata Sartika kemudian.
Mendengar ucapan Sartika, Lia dan rekan-rekannya pun mengangguk. Setelah berjabat tangan, mereka keluar dari rumah Sastro dengan membawa kantong plastik besar berisi makanan dan amplop berisi uang.
Saat para wanita itu melewati pintu gerbang rumah Sastro, mereka dikejutkan dengan suara seorang wanita yang menyapa. Wanita itu berdiri tepat di pinggir jalan tepat di depan lahan kosong. Suasana sekitar yang remang-remang dan jauh dari cahaya lampu membuat wanita itu sulit dikenali.
"Udah selesai ya acara pengajiannya?" tanya wanita itu.
Lia dan rekan-rekannya refleks menoleh kearah wanita yang berdiri di depan lahan kosong yang ada di samping rumah Sastro. Suasana sekitar yang remang-remang dan jauh dari cahaya lampu membuat wanita itu sulit dikenali.
Karena mengira itu adalah salah satu tetangga mereka, Ruwina pun merespon pertanyaan wanita tersebut.
"Iya, pengajiannya baru aja selesai. Emang kamu ga ikut ngaji tadi?" tanya Ruwina.
"Saya ga bisa masuk, makanya saya ga ikut pengajian tadi," sahut wanita itu dengan suara yang terdengar sedih.
"Sayang banget ya. Padahal kalo kamu ikutan ngaji, kamu bisa dapat banyak seperti yang kami bawa sekarang," kata Lia sambil memamerkan kantong plastik besar di tangannya.
"Keliatannya kamu seneng banget bisa bawa sesuatu dari rumah itu. Oh, saya tau. Itu pasti karena rumah itu menyajikan makanan enak yang jarang kamu temui," kata wanita itu dengan nada mengejek.
Ucapan wanita itu membuat Lia tersinggung. Dengan kesal Lia menghentikan langkahnya lalu bergegas menghampiri wanita itu dan bersiap melabraknya. Ruwina berusaha mencegah tapi Lia yang terlanjur emosi tampak tak peduli.
Sebelum Lia bisa mewujudkan niatnya, dia dibuat terkejut saat mengetahui orang yang sejak tadi bicara dengannya bukan manusia melainkan pocong. Sosok itu berbalut kain putih kotor dengan ikatan di atas kepala dan ujung kakinya. Kain di bagian kepala nampak terkoyak hingga memperlihatkan wajahnya yang sebagian masih tertutup kapas.
Saking terkejutnya Lia merasa seluruh persendian tubuhnya kaku tak bisa bergerak. Dia hanya bisa berdiri mematung dengan kedua mata membelalak dan mulut terbuka tanpa ada suara yang keluar.
Melihat Lia yang mematung tak bergerak, Ruwina dan rekan-rekannya pun bingung.
"Kamu kenapa Li, kok malah bengong begitu?" tanya Ruwina sambil mendekati Lia.
Dengan tangan gemetar Lia menunjuk kearah sosok yang berdiri di hadapannya itu. Ruwina dan rekan-rekannya sontak menatap kearah yang ditunjuk Lia. Mereka pun terkejut melihat sosok pocong berdiri di sana. Lebih terkejut lagi karena wajah pocong itu mirip dengan almarhumah Ginah.
Tanpa bisa dicegah, Ruwina dan rekan-rekannya itu menjerit histeris lalu lari tunggang langgang meninggalkan Lia begitu saja.
Suara jeritan Ruwina dan rekan-rekannya mengejutkan semua orang. Beberapa orang bergegas keluar rumah untuk melihat apa yang terjadi termasuk Azam dan Yudha.
"Ada apa Bu?!" tanya salah seorang warga.
"A-ada setan. Bu Ginah jadi setan ...!" sahut Ruwina sambil terus berlari.
"Setan, dimana setannya?" tanya warga penasaran.
Ruwina hanya menunjuk ke belakang sebagai jawaban. Warga serentak menoleh dan terkejut melihat Lia berdiri di tengah jalan sambil menatap ke tanah kosong di samping rumah Sastro.
"Itu kan bu Lia. Kok bisa-bisanya dibilang setan," kata salah seorang warga.
"Mungkin karena Bu Lia pake baju putih, makanya Bu Ruwina ngirain dia setan. Apalagi dia berdiri di tengah jalan remang-remang begitu. Saya maklum kenapa Bu Ruwina ngirain Bu Lia setan," sahut warga lainnya.
"Tapi ngapain bu Lia bengong di sana. Itu kan ... " ucapan salah satu warga pun terputus karena di depan sana tubuh Lia tampak merosot jatuh ke tanah.
Warga termasuk Azam dan Yudha segera menghampiri Lia. Melihat wanita itu pingsan, warga berinisiatif menggotong dan mengantarnya ke rumah.
"Jangan-jangan Bu Lia pingsan gara-gara kecapean bantu-bantu di rumah tadi," kata Yudha tak enak hati.
"Ah, ga juga Mas. Setahuku bu Lia dan yang lainnya ga ngerjain apa-apa selain cuma duduk nemenin mbak Laras. Ga bakal capek karena semua suguhan tadi dipesen langsung sama mbak Laras di toko kue dan rumah makan yang ada di gerbang desa sana," sahut Azam.
"Iya juga. Tapi kamu denger ga apa kata Bu Ruwina tadi?" tanya Yudha.
"Ga terlalu jelas. Emangnya Mas Yudha denger apa yang diteriakin Bu Ruwina?" tanya Azam.
"Dia bilang ibuku jadi setan. Apa kamu percaya Zam?" tanya Yudha gusar.
"Ga usah diambil hati Mas, mungkin Bu Lia cuma halu," sahut Azam.
"Menurut kamu begitu?" tanya Yudha.
"Iya. Udah, kita balik aja yuk, ga enak sama tamu kalo kelamaan ditinggalin," kata Azam.
Yudha pun mengangguk lalu mengikuti Azam kembali ke rumah.
\=\=\=\=\=
Keesokan paginya desa itu dibuat heboh dengan cerita Ruwina tentang penampakan pocong Ginah. Apalagi Lia yang sudah pulih pun ikut membenarkan cerita tersebut.
Dalam waktu singkat cerita tentang pocong Ginah yang gentayangan pun menyebar di seantero desa. Selanjutnya bisa ditebak bagaimana reaksi warga. Banyak yang meyakini Ginah meninggal dengan cara tak wajar. Itu sebabnya dia menjadi hantu gentayangan.
Cerita itu juga sampai ke telinga Sartika dan Azam. Anak Parto yang kini bekerja di rumah Sartika lah yang menyampaikan berita tersebut.
Sebelumnya Azam menyampaikan permintaan Parto yang ingin bekerja di rumah mereka. Karena tak mungkin mempekerjakan Parto, akhirnya Sartika memilih anak perempuan Parto untuk bekerja di rumahnya. Amina namanya. Dia gadis yang baik dan terpaksa putus sekolah karena ketiadaan biaya setelah ayahnya bangkrut.
Awalnya Amina ingin bekerja di kota seperti rekannya yang lain tapi ayahnya melarang. Parto khawatir penyakit asma Amina kambuh di perantauan dan bisa membahayakan nyawanya jika tak segera mendapat pertolongan.
Saat Sartika mengatakan niatnya untuk mempekerjakan Amina di rumahnya, dengan cepat Parto dan istrinya mengiyakan.
Selain menjadikan Amina asisten rumah tangga di rumahnya, Sartika juga membiayai sekolahnya. Sartika ingin gadis itu melanjutkan pendidikannya hingga lulus SMA.
Parto dan istrinya tampak terharu mengetahui Sartika membalas budi dengan cara yang sama persis dengan yang mereka lakukan dulu. Bedanya mereka tak membiayai sekolah Azam karena Azam telah mendapat beasiswa dari sekolahnya dulu.
Saat Amina tiba siang itu, dia langsung menyampaikan berita tentang pocong Ginah kepada Sartika.
"Masa sih. Siapa yang bilang?" tanya Sartika.
"Semua orang ngomongin itu Bu. Di pasar, di jalan, bahkan di sekolah juga rame sama cerita ini," sahut Amina sambil membersihkan meja makan.
"Terus orang-orang tau darimana?" tanya Sartika.
"Dari Bu Ruwina sama Bu Lia. Mereka bilang mereka ketemu pocong Bu Ginah pas pulang dari pengajian semalam. Saksinya juga banyak kok Bu. Bahkan saking takutnya Bu Lia sampe pingsan segala," sahut Amina.
"Aneh, kenapa cuma Bu Lia sama Bu Ruwina yang diliatin. Setauku mereka teman akrab almarhumah," kata Sartika.
"Iya, semua orang juga bilang kaya gitu Bu. Mereka bilang Bu Ginah meninggal dengan cara ga wajar makanya gentayangan begitu," sahut Amina.
"Cara ga wajar gimana maksudnya?" tanya Sartika.
"Kalo itu saya ga ngerti Bu," sahut Amina sambil melangkah ke dapur.
Karena khawatir dengan kakak dan keponakannya, Sartika pun segera keluar dari rumah untuk mengunjungi mereka.
Tiba di rumah Sastro, Sartika terkejut melihat Laras yang sedang menangis.
"Untung kamu datang Tik. Tolong temani Laras ya, aku mau ke makam istriku sebentar," pinta Sastro.
Sartika pun mengangguk. Setelah Sastro berlalu, dia segera memeluk Laras sambil berusaha menenangkannya.
\=\=\=\=\=
apa.jangan2 itu jin suruhan narti dan burhan yg bikin laras g dpt jodoh akhirnya jd neror gutu kah 👻👻👻👻
bukanya udah selesai kok masih ge tanyangan ya
blm semlat dpt ampun dah wafat dlu dia aishhh
dag dig dug der ya nano nano rasanya