Hazel Bellvania Cavanaugh adalah definisi kesetiaan yang naif. Ia mencintai James Patrick, seorang atlet sekolah yang karismatik namun manipulatif.
Hubungan mereka aneh—tanpa ciuman, tanpa sentuhan intim, karena James berjanji ingin "menjaga" Hazel hingga pernikahan. Namun, di balik topeng itu, James adalah predator yang memanfaatkan jari-jarinya untuk memuaskan hampir seluruh siswi di SMA mereka.
Kebohongan James terkubur rapat di bawah bayang-bayang geng paling berkuasa di sekolah yang dipimpin oleh Kenneth Karl Graciano. Kenneth yang dingin dan tak tersentuh mengetahui rahasia busuk James, namun ia diam. Bukan karena setia kawan, melainkan karena ia sedang menunggu saat yang tepat untuk meruntuhkan segalanya dan mengambil apa yang menurutnya pantas ia miliki, Hazel Bellvania Cavanaugh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Delapan
Suasana perpustakaan SMA di sudut terjauh itu begitu sunyi, hanya menyisakan aroma buku-buku tua dan debu yang menari di bawah sela-sela cahaya matahari.
Namun, di balik rak buku sejarah yang menjulang tinggi, udara terasa terbakar oleh ketegangan yang pekat.
Kenneth menyudutkan Hazel hingga punggung gadis itu menempel pada rak kayu ek yang keras. Tangan Kenneth yang besar dan kokoh mengunci pergerakan Hazel, sementara wajahnya tenggelam di ceruk leher Hazel yang putih mulus.
"Kau tahu apa yang sedang dilakukan kekasihmu sekarang, Hazel?" bisik Kenneth, suaranya terdengar seperti geraman rendah yang berbahaya.
"Di lapangan sana, James sedang sibuk melatih otot tangannya. Dia begitu bangga dengan kemampuannya, tanpa tahu apa yang sedang kulakukan pada miliknya yang paling berharga."
Bersamaan dengan kata-kata itu, tangan Kenneth menyelinap di balik rok seragam Hazel. Dengan gerakan yang sangat erotis dan penuh penekanan, jari-jarinya mulai bermain di area sensitif Hazel yang sudah basah akibat gairah.
Kenneth menggunakan teknik yang jauh lebih berkelas, seolah setiap sentuhannya adalah perintah yang harus ditaati oleh tubuh Hazel.
Hazel memejamkan mata, kepalanya mendongak ke belakang hingga membentur deretan buku. Napasnya memburu, dan di tengah kabut kenikmatan yang menyergap, ia justru membisikkan sesuatu yang memicu amarah Kenneth.
"Ken..." rintih Hazel, jemarinya meremas kemeja hitam Kenneth. "Ternyata... jari-jarimu jauh lebih panjang dan kuat daripada milik James. Dia selalu membanggakan miliknya, tapi ini... ini berbeda."
Hazel membuka matanya yang sayu, menatap Kenneth dengan tatapan menantang yang nakal. "Apa boleh... sesekali aku mencoba jarinya James? Hanya untuk membandingkan seberapa payah dia jika dibandingkan denganmu?"
Mendengar itu, gerakan tangan Kenneth seketika berhenti. Matanya menggelap, memancarkan aura posesif yang mengerikan. Ia tidak suka dijadikan bahan perbandingan, apalagi dengan pria sampah seperti James.
"Kau ingin mencobanya?" desis Kenneth. "Aku tidak suka berbagi, Hazel. Dan aku benci jika kau menyebut namanya saat kau sedang berada di bawah kuasaku."
Sebagai hukuman, Kenneth menarik kerah seragam Hazel hingga bahunya terekspos. Tanpa peringatan, ia membenamkan wajahnya dan mengisap kulit leher Hazel dengan sangat kuat, menciptakan tanda merah (hickey) yang pekat dan mencolok sebuah tanda kepemilikan yang tidak akan bisa ditutupi hanya dengan bedak tipis.
"Ah! Ken, sakit..." Hazel merintih, namun tubuhnya justru bergetar hebat karena sensasi panas yang menjalar.
"Biarkan James melihat ini nanti," ujar Kenneth setelah melepaskan hisapannya, menatap hasil karyanya dengan puas.
"Biar dia bertanya-tanya, siapa pria yang sudah menandai gadis suci-nya begitu dalam. Jika kau berani membiarkan jarinya menyentuhmu, aku akan melakukan hal yang jauh lebih menyakitkan dari ini, Hazel."
Hazel terengah-engah, merasakan denyutan di lehernya dan di bawah sana. Ia menyadari bahwa ia baru saja membangunkan sisi gelap Kenneth yang jauh lebih posesif. Namun, alih-alih takut, Hazel justru merasa menang. Drama ini menjadi semakin liar dari yang ia bayangkan.
Sore harinya, di area parkir sekolah yang mulai sepi, Hazel sengaja melepas syal tipis yang menutupi lehernya tepat saat James berjalan menghampirinya.
Cahaya matahari senja yang kemerahan membuat tanda ungu pekat di leher Hazel terlihat sangat jelas, kontras dengan kulit putihnya.
James berhenti melangkah. Matanya membelalak menatap tanda itu. "Hazel? Lehermu... itu apa?" suaranya meninggi, ada nada panik dan cemburu yang beradu di sana.
Hazel tidak tampak takut. Ia justru mendekat, menarik tangan James dan menempelkan jemari panjang pria itu tepat di atas tanda merah buatan Kenneth. Ia menatap mata James dengan tatapan yang sangat polos, namun bibirnya menyunggingkan senyum tipis.
"Ini? Kenapa, James? Apa kamu merasa ini aneh?" tanya Hazel manja. "Bukankah kamu bilang kamu ingin menjagaku? Kemarin ada serangga besar yang menggigitku di perpustakaan. Rasanya sangat panas dan... menghisap."
James mengepalkan tangannya. "Itu bukan bekas gigitan serangga, Hazel! Itu tanda merah! Siapa pria yang berani menyentuhmu?!"
Hazel tertawa kecil, suara tawanya terdengar sangat manis sekaligus meremehkan. "Kenapa kamu marah? Kamu sendiri tidak pernah memberiku tanda seperti ini, kan? Kamu bilang ingin menjagaku sampai menikah. Jadi, kenapa kamu peduli jika ada hal lain yang menandai apa yang tidak berani kamu sentuh?"
Hazel menantang James dengan tatapan tajam. "Atau... apa kamu cukup berani untuk menyentuh leherku sekarang dan menghapus tanda ini dengan milikmu sendiri? Ayo, James. Tunjukkan kalau kamu memang punya hak atas tubuhku."
James membeku. Ia terjebak dalam aturannya sendiri. Jika ia menyentuh Hazel secara kasar sekarang, citra pria suci yang ia bangun selama enam minggu akan hancur. Ia takut jika ia terlalu agresif, Hazel akan ketakutan dan meninggalkannya sebelum ia sempat menikmatinya nanti.
"Aku... aku tidak bisa, Hazel. Kamu tahu janji kita," ucap James dengan suara bergetar, menahan gejolak amarah dan nafsu yang tersumbat.
"Kasihan sekali," bisik Hazel tepat di telinga James, membuat pria itu merinding. "Kamu terlalu sibuk menjaga apa yang sebenarnya sudah mulai dicuri orang lain dari bawah hidungmu."
Tepat saat itu, mobil hitam Kenneth meluncur pelan melewati mereka. Kenneth menurunkan kaca mobilnya sedikit, menatap James dengan seringai dingin yang meremehkan, lalu beralih menatap Hazel dengan pandangan penuh kepemilikan.
James hanya bisa berdiri mematung, dikerumuni oleh kebohongannya sendiri, sementara Hazel berjalan pergi meninggalkannya dengan perasaan menang yang luar biasa.
🌷🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰🥰😍
terimakasih
ceritanya bagus