NovelToon NovelToon
Sekretaris Pengganti Sang CEO Dingin

Sekretaris Pengganti Sang CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Langit

"Aku tahu kamu bukan dia. Dan sekarang, bayar harga penyamaranmu dengan menjadi istriku."
Demi nyawa ibunya, Alana nekat menyamar menjadi kakaknya untuk bekerja pada Arkananta, CEO kejam yang dijuluki "Monster Es". Namun, Arkan justru menjebaknya dalam pernikahan kontrak untuk menghadapi ular-ular di keluarganya.
Dari puncak kemewahan hingga titik terendah saat Arkan dikhianati dan terusir dari hartanya, Alana tetap bertahan. Bersama, mereka membangun kembali kekaisaran dari nol untuk membalas dendam pada setiap pengkhianat.
Saat rahasia identitas terbongkar dan dunia membuang mereka, mampukah cinta sang sekretaris pengganti menjadi kekuatan terakhir sang CEO?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gema dari Masa Silam

Langit di atas mansion Arkananta masih menyisakan sisa-sisa hujan semalam, abu-abu dan berat, seakan mencerminkan beban yang menghimpit pundak Alana. Instruksi Elena yang asli terus bergaung di kepalanya seperti lonceng kematian: Carilah kotak musik itu. Alana tahu bahwa setiap detik yang ia habiskan di bawah atap ini, ia semakin dekat dengan jurang kehancuran. Bianca Adiwangsa bukan sekadar tamu; dia adalah badai yang siap menyapu bersih identitas palsu Alana.

Pagi itu, Arkan sudah berangkat ke kantor lebih awal bersama Bianca untuk meninjau draf merger tahap kedua. Kesempatan ini tidak akan datang dua kali. Dengan dalih ingin mengunjungi ibunya yang sedang dalam perawatan intensif, Alana berhasil meyakinkan supir pribadi mansion untuk mengantarnya. Namun, di tengah jalan, ia meminta diturunkan di sebuah persimpangan pasar tradisional dengan alasan ingin membeli buah-buahan segar yang tidak ada di supermarket mewah.

Begitu mobil hitam itu menjauh, Alana segera memesan taksi daring menuju pinggiran kota, ke sebuah rumah kecil yang sudah lama ditinggalkan—rumah tempat ia dan Elena tumbuh besar sebelum kehidupan mereka bercabang menjadi dua garis nasib yang berbeda.

Rumah itu tampak merana. Cat putihnya sudah mengelupas, ditumbuhi lumut dan tanaman merambat yang liar. Alana menarik napas panjang, menghirup aroma tanah basah dan kayu lapuk. Dengan kunci cadangan yang masih ia simpan di dalam kalung tersembunyi, ia membuka pintu depan. Suara derit engsel pintu yang berkarat terdengar menyayat hati di tengah kesunyian lingkungan tersebut.

Ia melangkah masuk ke dalam kamar lama mereka. Debu menari-nari di bawah sinar matahari yang menembus jendela kusam. Alana segera menuju sudut ruangan, tepat di bawah lemari tua yang sudah miring. Ia berlutut, mengabaikan debu yang mengotori lutut gaun mahalnya. Jarinya meraba-raba sela-sela lantai kayu hingga ia menemukan satu papan yang sedikit longgar.

Dengan tenaga yang tersisa, ia mencongkel papan itu. Di sana, di dalam lubang gelap yang lembap, terletak sebuah kotak kayu kecil dengan ukiran bunga edelweiss yang sudah memudar. Kotak musik itu.

Saat tangannya menyentuh permukaan kayu yang dingin, Alana merasakan getaran aneh. Ia membukanya perlahan. Alunan musik klasik "Swan Lake" yang berdenting sumbang mulai memenuhi ruangan kosong itu. Namun, bukan musiknya yang membuat jantung Alana berhenti berdetak, melainkan selembar foto lama dan sebuah surat kecil yang terselip di balik mekanisme pemutar musik.

Foto itu memperlihatkan Arkan muda, mungkin sepuluh tahun yang lalu, sedang berdiri di depan sebuah universitas di luar negeri. Namun, dia tidak sendirian. Di sampingnya, berdiri Elena yang asli dan... seorang pria lain yang wajahnya sangat mirip dengan Arkan, namun dengan sorot mata yang lebih lembut. Di balik foto itu tertulis: "Rahasia kita di Danau Jenewa, 2016."

Alana membaca surat kecil itu dengan tangan gemetar.

"Arkan, kau pikir kau bisa menghapus jejak saudaramu hanya dengan uang? Jika Kakek tahu apa yang sebenarnya terjadi malam itu, bukan hanya kau yang hancur, tapi seluruh kerajaan Arkananta. Simpan kotak ini, Elena. Ini adalah asuransi nyawamu."

Alana menutup mulutnya dengan tangan. Ia menyadari bahwa rahasia yang ia pegang bukan hanya tentang identitas kembar mereka, tapi tentang noda hitam dalam sejarah Arkan yang selama ini ia puja sebagai penyelamatnya. Arkan bukan sekadar pria dingin yang haus kekuasaan; dia adalah pria yang menyimpan mayat di dalam lemarinya—secara kiasan, atau mungkin nyata.

Sementara itu, di kantor pusat Arkananta Group, suasana di ruang rapat eksekutif tidak kalah mencekam. Bianca duduk di seberang Arkan, menatap pria itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Di atas meja, tumpukan dokumen merger tampak seperti benteng yang memisahkan mereka.

"Kau tampak tidak fokus hari ini, Arkan," ucap Bianca sambil menutup map laporannya. "Apakah istrimu yang 'baru' itu menyita terlalu banyak pikiranmu? Atau kau takut aku akan menemukan sesuatu yang kau sembunyikan di balik gaun mahalnya?"

Arkan menatap Bianca dengan tatapan yang bisa membekukan api. "Fokuslah pada angka-angkanya, Bianca. Urusan pribadiku bukan bagian dari kontrak ini."

Bianca tertawa, tawa yang tajam dan menusuk. "Kau tahu, Arkan... aku menemukan sesuatu yang menarik saat aku memeriksa arsip lama Adiwangsa Group. Ada aliran dana yang sangat besar keluar dari rekening pribadimu sepuluh tahun lalu ke sebuah klinik rehabilitasi tertutup di pegunungan Alpen. Untuk siapa dana itu, Arkan? Untuk Elena? Atau untuk seseorang yang kita semua anggap sudah 'mati'?"

Rahang Arkan mengeras. Tangannya yang berada di bawah meja mengepal hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri. "Jangan melampaui batas, Bianca. Jika kau ingin merger ini berlanjut, berhentilah menggali kuburan yang sudah ditutup."

"Kuburan tidak akan benar-benar tertutup selama mayatnya masih bernapas," bisik Bianca penuh kemenangan. Ia bangkit, merapikan setelan kerjanya, dan berjalan menuju pintu. "Sampai jumpa di rapat pleno besok. Oh, dan sampaikan salamku pada Elena. Katakan padanya, aku sangat merindukan musik 'Swan Lake'."

Begitu Bianca keluar, Arkan segera menghubungi Baskara. "Cari Alana sekarang. Pastikan dia tidak pergi ke tempat-tempat yang tidak seharusnya."

Alana kembali ke mansion tepat sebelum matahari terbenam. Ia menyembunyikan kotak musik itu di dalam tas belanjaannya, terkubur di bawah tumpukan buah-buahan. Ia merasa seolah-olah seluruh penjaga di rumah itu bisa mendengar detak jantungnya yang liar.

Namun, saat ia melangkah masuk ke ruang tengah, ia menemukan Arkan sudah berdiri di sana, menunggunya dalam kegelapan yang hanya diterangi oleh lampu dinding yang redup.

"Dari mana kau?" suara Arkan terdengar datar, namun penuh intimidasi.

"Aku... aku hanya dari rumah sakit, menjenguk Ibu," jawab Alana, berusaha keras agar suaranya tidak bergetar.

Arkan melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Alana bisa merasakan aura kemarahan yang terpancar dari tubuh pria itu. Arkan meraih tas belanjaan Alana, membongkarnya dengan kasar hingga buah-buahan itu berjatuhan ke lantai marmer. Dan di sana, di dasar tas, kotak musik kayu itu tergeletak dengan angkuh.

Wajah Arkan berubah pucat, lalu menjadi sangat gelap. Ia menyambar kotak musik itu dan menatap Alana dengan kemarahan yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.

"Siapa yang memberitahumu tentang tempat ini?" desis Arkan. "Apakah Elena? Apakah dia yang menyuruhmu mencari kehancuranku sendiri?"

"Aku hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, Tuan!" seru Alana, air mata mulai mengalir di pipinya. "Kenapa semua orang di rumah ini penuh dengan kebohongan? Kenapa Anda menyelamatkanku jika Anda sendiri menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan kita semua?"

Arkan mencengkeram bahu Alana, mendorongnya perlahan hingga punggung gadis itu menabrak pilar penyangga ruangan. "Kau tidak tahu apa-apa, Alana! Kau hanyalah bayangan yang seharusnya diam. Rahasia di dalam kotak ini adalah alasan mengapa aku masih hidup, dan mengapa kau masih bisa berdiri di sini mengenakan berlian."

"Lalu siapa pria di foto itu, Arkan? Siapa saudaramu yang kau sembunyikan?" tantang Alana.

Hening seketika. Arkan melepaskan cengkeramannya, tampak seolah-olah ia baru saja dipukul oleh kenyataan yang sangat pahit. Sebelum ia bisa menjawab, terdengar suara tawa melengking dari arah koridor belakang menuju paviliun.

Itu adalah Elena. Dia berdiri di sana, memperhatikan mereka dengan senyum kemenangan yang gila. "Akhirnya... kotak pandora itu terbuka. Selamat datang di neraka yang sebenarnya, Alana."

1
Sweet Girl
Nikmati aja dulu kemewahan yang diberikan Arkan, toh kamu sendiri belum punya pacarkan...
Sweet Girl
Nah... ini gak enaknya...
Sweet Girl
Kok seperti nya Arkan sudah mengenal Alana ya Tor...
Sweet Girl
Dirantai kamu Alana...
Sweet Girl
Apa kau terpesona pada pandangan pertama dengan Sekretaris kecil pengganti, Tuan CEO...???
Sweet Girl
Bwahahaha bener tau dia.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!