Gia mengira hidupnya sudah berakhir saat karier cemerlangnya di Jakarta hancur dalam semalam akibat fitnah dari mantan tunangannya, Niko. Pulang ke kampung halaman untuk menjaga kedai kopi tua milik ayahnya adalah pilihan terakhir untuk menyembuhkan luka.
Namun, kedai itu ternyata sarang para pengutang! Yang paling parah adalah Rian, tukang bangunan serabutan yang wajahnya selalu belepotan debu semen, tapi punya rasa percaya diri setinggi langit. Rian tidak punya uang untuk bayar kopi, tapi dia punya sejuta cara untuk membuat hari-hari Gia yang suram jadi penuh warna—sekaligus penuh amarah.
Saat Gia mulai merasa nyaman dengan kesederhanaan desa dan aroma kopi yang jujur, masa lalu yang pahit kembali datang. Niko muncul dengan kemewahannya, mencoba menyeret Gia kembali ke dunia yang dulu membuangnya.
Di antara aroma espresso yang pahit dan senyum jail pria tukang utang, ke mana hati Gia akan berlabuh? Apakah kebahagiaan itu ada pada kesuksesan yang megah, atau justru nyangkut di dalam d
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Badai di Balik Layar Ponsel
Pagi itu, udara desa yang biasanya segar dengan aroma tanah basah dan pucuk teh, mendadak terasa menyesakkan bagi Gia. Ia terbangun dengan perasaan tidak enak yang menggelayut di dadanya. Namun, tanggung jawab sebagai pemilik kedai memaksanya untuk tetap bangkit, menyeduh kopi, dan menyiapkan meja-meja kayu sebelum pelanggan pertama datang.
Baru saja Gia membuka pintu depan, ia melihat ayahnya, Pak jaya, sedang berdiri di depan pagar dengan wajah yang sangat pucat. Tangan tuanya gemetar saat memegang sebuah ponsel—ponsel jadul yang jarang sekali ia gunakan kecuali untuk menelepon rekan sesama pensiunan.
"Bapak? Ada apa? Bapak sakit?" tanya Gia cemas, ia segera menghampiri ayahnya.
Pak Jaya tidak menjawab. Ia hanya menyodorkan layar ponsel itu ke depan wajah Gia. Di sana, di sebuah grup WhatsApp komunitas warga desa, beredar sebuah foto yang diambil dari sudut gelap. Foto itu memperlihatkan Gia dan Rian yang sedang berpelukan di dalam kedai kopi saat hujan lebat semalam.
Narasinya sangat kejam: "Ternyata anak Pak Jaya yang baru pulang dari kota itu bawa budaya bebas ke desa kita. Pantas saja kedai kopinya ramai, ternyata ada layanan 'plus-plus' di balik pintu tertutup. Kasihan ayahnya, sudah tua malah menanggung malu."
Gia merasa jantungnya seolah berhenti berdetak. Darahnya mendesir panas. "Pak... ini nggak seperti yang mereka tulis. Ini fitnah!"
"Gia," suara Pak Jaya terdengar sangat serak dan penuh kekecewaan. "Bapak tahu kamu sudah dewasa, tapi kita tinggal di desa. Kamu tahu sendiri betapa tajamnya lidah tetangga. Siapa pria ini? Rian si kuli bangunan itu, kan? Kenapa kalian sampai seperti ini di dalam kedai?"
"Rian cuma membantuku, Pak! Semalam ada orang jahat yang menerorku, dan dia ada di sana untuk melindungiku. Dia sedang sedih, dan aku... aku cuma ingin menguatkannya," Gia mencoba menjelaskan dengan air mata yang mulai mengenang.
Namun, sebelum penjelasan Gia selesai, sebuah mobil sedan hitam—yang kini sangat Gia benci—berhenti tepat di depan pagar. Niko turun dengan senyum kemenangan yang tersungging di bibirnya. Kali ini ia tidak datang sendiri, ia membawa seorang pria paruh baya berseragam rapi yang tampak seperti pengacara.
"Selamat pagi, Pak Jaya. Saya turut prihatin dengan berita yang beredar pagi ini," ujar Niko dengan nada suara yang dibuat-buat empati. "Sebagai mantan tunangan Gia, saya merasa bertanggung jawab. Inilah alasan saya ingin membawa Gia kembali ke Jakarta. Di sini, dia hanya bergaul dengan orang-orang kelas bawah yang merusak reputasinya."
Pak Jaya menatap Niko, lalu beralih ke Gia. "Niko bilang, pria di foto itu adalah seorang buronan yang melarikan diri dari Jakarta karena kasus penipuan. Apa itu benar, Gia?"
Gia menoleh tajam ke arah Niko. "Kamu benar-benar pengecut, Niko! Kamu yang menyebarkan foto ini, kan? Kamu yang membayar orang untuk menguntit kami!"
Niko tertawa pelan, melangkah mendekat ke arah Gia. "Aku hanya mengungkap kebenaran, sayang. Desa ini terlalu suci untuk orang-orang seperti kalian. Pak Jaya, jika Bapak ingin nama baik keluarga Bapak pulih, sebaiknya Bapak izinkan saya membawa Gia pergi. Saya akan menutup mulut warga dengan bantuan hukum dan... sedikit 'donasi' untuk desa ini."
Di saat suasana sedang memanas, suara sandal jepit yang familiar terdengar. Rian muncul dari balik tikungan jalan. Namun hari ini, ia tidak memakai kaus oblong pudar. Ia memakai kemeja flanel yang rapi, meski tetap terlihat sederhana. Matanya yang biasanya jenaka kini tampak sangat tajam dan dingin.
Rian berjalan melewati Niko seolah pria kaya itu hanyalah tiang listrik yang menghalangi jalan. Ia berdiri tepat di depan Pak Jaya dan membungkuk hormat.
"Pak Jaya, saya minta maaf jika kehadiran saya menyebabkan kegaduhan ini," suara Rian terdengar sangat tenang dan berwibawa. "Tapi apa yang tertulis di grup itu adalah kebohongan besar. Saya tidak pernah menyentuh putri Bapak dengan niat buruk. Semalam, saya hanya sedang berbagi beban sebagai sesama orang yang sedang berjuang."
Niko menyela dengan tawa menghina. "Berbagi beban? Atau berbagi rencana untuk menipu Pak Jaya? Dengar, Rian atau siapapun namamu, aku tahu siapa kamu sebenarnya. Kamu adalah arsitek gagal yang menghilang karena kasus korupsi, kan? Berapa banyak uang rakyat yang kamu makan sebelum kamu sembunyi di ketiak wanita ini?"
Rian perlahan membalikkan tubuhnya menghadap Niko. Keheningan mendadak menyelimuti tempat itu. Rian melangkah maju, masuk ke dalam ruang pribadi Niko hingga pria berjas itu terpaksa mundur satu langkah.
"Niko Mahendra," Rian menyebutkan nama lengkap Niko dengan pengucapan yang sangat sempurna. "Kamu bicara soal korupsi? Bagaimana kalau kita bicara soal proyek reklamasi tahun lalu yang melibatkan perusahaan ayahmu? Aku punya semua datanya di sini," Rian menepuk saku kemejanya. "Kamu pikir aku menghilang karena takut? Tidak. Aku menghilang karena aku sedang menunggu waktu yang tepat untuk menghancurkan orang-orang seperti kamu dari akarnya."
Wajah Niko mendadak pucat. "Kamu... kamu jangan menggertak! Kamu tidak punya bukti apa-apa!"
"Coba saja," tantang Rian dengan senyum miring yang kali ini terasa sangat mengintimidasi. "Dan soal foto itu... aku punya rekaman CCTV dari kedai kopi yang memperlihatkan orang suruhanmu sedang mengintip dari balik pohon. Di desa ini, orang mungkin belum paham hukum digital, tapi mereka sangat benci pada pengkhianat dan penguntit."
Gia menatap Rian dengan kagum. Ia tidak tahu kalau Rian sudah memasang kamera tersembunyi di kedainya. Kapan pria itu melakukannya?
Rian kemudian beralih ke arah kerumunan warga yang mulai berkumpul di kejauhan untuk menonton drama tersebut. Ia berteriak dengan suara lantang, "Bapak-bapak, Ibu-ibu! Neng Gia adalah orang baik. Dia pulang ke sini bukan untuk merusak desa, tapi untuk menghidupkan kembali kedai kopi ayahnya agar anak-anak muda di sini punya tempat berkarya! Jangan biarkan orang kota yang datang dengan mobil mewah ini memecah belah kita hanya karena dia sakit hati diputuskan cintanya!"
Warga mulai berbisik-bisik. Sentimen terhadap "orang luar yang sok mengatur" mulai bangkit. Pak Jaya, yang tadinya ragu, kini melihat sorot mata Rian yang jujur. Ia menghela napas panjang, lalu menepuk bahu Gia.
"Masuk ke dalam, Gia. Siapkan kopi untuk tamu-tamu kita. Dan kamu, Niko... sebaiknya kamu pergi sebelum kesabaran saya habis. Saya mungkin sudah tua, tapi saya masih punya cukup tenaga untuk mengusir tamu yang tidak tahu sopan santun dari tanah saya sendiri," tegas Pak Jaya.
Niko menggeram. Ia menatap Rian dan Gia dengan penuh kebencian. "Ini belum berakhir. Kalian berdua akan membusuk di desa ini!" Niko masuk ke mobilnya dan melesat pergi, meninggalkan kepulan debu yang menutupi pandangan.
Setelah suasana tenang, Rian mendekati Gia yang masih gemetar. "Maaf ya, Neng. Martabak semalam ternyata bawa sial."
Gia tertawa kecil di tengah tangisnya. "Kamu... kamu benar-benar punya rekaman CCTV?"
Rian menggaruk kepalanya yang tidak gatal, wajahnya kembali ke mode "tukang utang" yang jail. "Hehe... sebenarnya nggak punya sih, Neng. Saya cuma gertak doang. Tapi saya tahu persis di mana posisi orang itu semalam. Saya cuma butuh dia ketakutan dan pergi."
Gia melotot. "Jadi kamu bohong?!"
"Namanya juga strategi, Neng Bos. Lagian, soal data perusahaan bapaknya... itu beneran kok. Saya masih pegang kartu as-nya," Rian mengedipkan sebelah matanya. "Sudah ah, jangan nangis terus. Kopinya mana? Saya butuh kafein buat ngadepin kenyataan kalau utang saya makin numpuk gara-gara bikin drama pagi-pagi."
Gia menggelengkan kepala, namun dalam hati ia merasa sangat lega. Ia menyadari bahwa di balik kesederhanaan Rian, ada kecerdasan dan perlindungan yang tidak akan pernah ia dapatkan dari siapapun di masa lalunya.
Gia masuk ke dalam kedai, mulai menyalakan mesin espresso. Namun, di dalam kepalanya, ia mulai menyadari satu hal: Perang dengan Niko belum berakhir, dan rahasia Rian yang baru saja terucap tentang "menghancurkan dari akar" menandakan bahwa pria ini punya misi yang jauh lebih besar dari sekadar bersembunyi.