NovelToon NovelToon
2 Hari 1 Malam

2 Hari 1 Malam

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / TKP / Kriminal
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: M. A. K

Serangkaian pembunuhan berantai dengan pola nyaris sempurna mengguncang kota. Tidak ada motif jelas, tidak ada jejak berarti—hanya detail yang tersusun terlalu rapi untuk disebut kebetulan.

Karina, penyelidik muda dengan insting tajam, ditugaskan memimpin kasus tersebut. Ketika seorang tersangka berhasil ditangkap dan situasi kembali tenang, semua orang percaya permainan telah berakhir.

Kecuali Karina.

Ada celah kecil dalam pola yang mengganggunya. Sebuah kemungkinan bahwa kebenaran belum sepenuhnya terungkap. Semakin ia menyelidiki, semakin ia menyadari bahwa kasus ini bukan hanya tentang menemukan pelaku—melainkan tentang siapa yang sebenarnya mengendalikan permainan.

Dan dalam permainan yang dibangun dengan presisi seperti ini, kemenangan mungkin hanyalah awal dari sesuatu yang lebih besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. A. K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29 - Pola yang Bergeser

Telepon itu datang pukul 03.47 pagi.

Karina terbangun sebelum dering kedua selesai. Ia tidak pernah benar-benar tidur nyenyak sejak kasus ini memasuki fase “permainan”. Tubuhnya belajar waspada bahkan sebelum pikirannya sepenuhnya sadar.

“Bu… ada penemuan jasad.” Suara di ujung sana terdengar terkendali, tapi terlalu cepat untuk dianggap tenang. “Lokasinya berbeda dari tiga sebelumnya.”

Karina sudah duduk di tepi ranjang. “Polanya?”

“Belum bisa dipastikan. Tapi ada kemiripan.”

Kemiripan.

Itu cukup untuk membuat udara di kamarnya terasa lebih tipis.

Lokasi berada di kawasan industri lama, sekitar dua belas kilometer dari titik terakhir. Jarak yang cukup untuk mematahkan asumsi pola geografis, tapi tidak cukup jauh untuk menghapus kemungkinan kesinambungan.

Lampu kendaraan polisi memantul pada aspal retak yang masih lembap oleh embun dini hari. Garis polisi membentang seperti batas tipis antara keteraturan dan sesuatu yang lebih liar.

Tubuh korban terbaring dalam posisi yang terlalu rapi. Tidak ada perlawanan besar. Tidak ada tanda kepanikan yang meledak. Justru ketenangan itulah yang membuatnya terasa salah.

Karina berdiri beberapa langkah dari jasad, membiarkan forensik bekerja. Ia tidak terburu-buru mendekat. Ia ingin melihat keseluruhan komposisi terlebih dahulu.

Seperti membaca sebuah lukisan.

“Simbol ditemukan di lantai, Bu,” kata salah satu petugas.

Karina bergerak mendekat.

Goresan tipis di beton. Hampir terhapus air. Bentuknya menyerupai tiga simbol sebelumnya—lengkungan dan garis diagonal—namun ada perbedaan kecil pada sudut akhir.

Tidak identik.

Tidak sepenuhnya berbeda.

Cukup untuk menimbulkan keraguan.

“Bisa jadi peniru,” ujar forensik.

Karina tidak langsung menjawab. Ia jongkok, memperhatikan kedalaman goresan. Pada satu sisi, tekanan terlihat lebih kuat, seolah tangan yang menggambar menekan lebih keras di akhir gerakan.

Peniru biasanya terlalu sempurna. Terlalu ingin cocok.

Yang ini terasa… disengaja berbeda.

Ia berdiri kembali. “Jangan simpulkan dulu. Kumpulkan semua data.”

Namun pikirannya sudah bergerak lebih cepat dari instruksinya.

Jika ini pelaku yang sama, maka Arga tidak mungkin melakukannya.

Dan jika Arga tidak mungkin melakukannya—

Berarti struktur yang ia bangun selama berminggu-minggu berdiri di atas asumsi yang rapuh.

...----------------...

Pukul sembilan pagi, berita sudah menyebar.

Headline pertama muncul sebelum konferensi pers sempat dipersiapkan.

“Pembunuhan Keempat: Apakah Polisi Salah Tangkap?”

Ruang kerja Karina terasa lebih padat dari biasanya. Bukan karena orang bertambah, tapi karena jarak di antara mereka menyempit oleh ketegangan.

Salah satu anggota tim membuka suara, hati-hati. “Bu… waktunya tidak mungkin kalau Arga pelakunya. Ia dalam tahanan.”

Karina berdiri di depan papan kasus. Foto Arga masih di tengah, dikelilingi benang merah yang menghubungkan bukti-bukti sebelumnya.

Ia tidak langsung menjawab.

“Apa yang benar-benar berbeda?” tanyanya akhirnya.

“Lokasi lebih jauh. Waktu kejadian lebih cepat dari pola sebelumnya. Dan simbolnya… tidak identik.”

Lebih cepat.

Itu yang mengganggunya.

Jika pelaku yang sama, berarti ia mempercepat ritme. Jika bukan, berarti ada pihak lain yang sengaja memanfaatkan momentum.

Keduanya sama-sama berbahaya.

...----------------...

Menjelang siang, atasan memanggil rapat darurat.

Ruangan konferensi terasa terlalu terang. Cahaya lampu membuat wajah-wajah tampak lebih tegang.

“Kita butuh jawaban cepat,” kata atasannya tanpa basa-basi. “Media sudah mempertanyakan penahanan Arga.”

Seorang pejabat lain menambahkan, “Jika ini pelaku yang sama, kita harus mempertimbangkan pembebasan sementara.”

Kalimat itu menggantung di udara seperti ancaman yang sopan.

Semua mata perlahan beralih ke Karina.

Ia berdiri dengan tenang. Terlalu tenang.

“Kita belum memiliki bukti bahwa ini pelaku yang sama,” katanya stabil. “Simbolnya berbeda. Pola waktunya berubah. Bisa jadi imitasi.”

“Dan kalau bukan?” tanya seseorang.

Suara itu datang dari dalam timnya sendiri.

Bukan menyerang. Tapi tidak lagi sepenuhnya mengikuti.

Untuk pertama kalinya, ia merasakan jarak itu jelas.

“Kita analisis sebelum membuat keputusan emosional,” jawabnya.

Kata emosional meluncur tanpa ia rencanakan.

Beberapa orang saling berpandangan.

Seolah keputusan untuk mempertimbangkan ulang justru dianggap sebagai reaksi, bukan evaluasi.

...----------------...

Sore hari, pesan masuk.

Apakah kamu masih yakin dengan strukturmu?

Karina menatap layar ponsel cukup lama.

Struktur adalah kata yang ia pilih sendiri.

Struktur berarti kendali. Berarti rasionalitas. Berarti ia tidak terseret arus.

Ia membalas perlahan.

Struktur diuji saat tekanan meningkat.

Balasan datang hampir segera.

Dan jika tekanannya sengaja diatur untukmu?

Kalimat itu membuat sesuatu di dalam dirinya bergeser.

Bukan ketakutan.

Lebih seperti kesadaran bahwa mungkin ia bukan hanya pengamat permainan.

Ia bagian dari papan.

...----------------...

Malamnya, setelah sebagian besar tim pulang, Karina kembali ke lokasi kejadian sendirian. Area sudah sepi. Garis polisi masih terpasang, tapi hujan tipis mulai mengaburkan jejak.

Ia berdiri di dekat simbol itu sekali lagi.

Dalam cahaya lampu jalan yang redup, perbedaan kecil pada sudut garis tampak lebih jelas. Tidak salah. Tidak keliru.

Disengaja.

Ia mencoba membayangkan tangan yang menggambarnya.

Apakah tangan itu ingin membebaskan Arga?

Atau ingin memaksanya mempertahankan kesalahan?

Jika ia bersikeras bahwa Arga tetap pelaku, ia terlihat keras kepala.

Jika ia membebaskan terlalu cepat, ia terlihat ceroboh.

Dua pilihan.

Keduanya menggerus kredibilitasnya.

Ponselnya bergetar.

Fase berikutnya selalu tentang pilihan.

Ia tidak membalas.

Untuk pertama kalinya, ia mengakui sesuatu pada dirinya sendiri—

Ia tidak sepenuhnya tahu langkah mana yang benar.

Dan yang lebih mengganggu dari ketidaktahuan itu adalah satu pertanyaan lain yang muncul perlahan:

Apakah korban ini benar-benar tentang pembunuhan—

atau tentang dirinya?

Hujan semakin deras.

Simbol di lantai beton mulai memudar, tapi justru karena memudar itulah ia terasa lebih nyata.

Seolah pesan itu tidak ditujukan pada publik.

Tidak pada tim.

Tidak pada media.

Hanya padanya.

Dan mungkin, sejak awal, memang begitu.

1
Amelia
Bab ini sangat menegangkan 😢
smg karina selamat. ternyata yg jahat org terdekat. Keren thor semangat y
Amelia
😱😱😱😱😱
Amelia
😱😱😱
Amelia
Udah terjawab. Jangan tamat dl dong
Amelia
Dari awal emang udah curiga sama orang ini. Semangat thor
Amelia
Antono😱
Amelia
Semangat ya author 👍
Amelia
Semangat up thor👍
Emily
Alur ceritanya seru. Penulisan juga udah rapi, kata2nya hampir nggak ada yg typo. Semangat ya
Delyana.P
Terjawab sudah. ternyata tebakan ku benar siapa yg jahat thor 😂 Karina ibumu dalam bahaya, buruan selamatkan 🤔
Dinda Wei
Next
Dinda Wei
Aduhh masih juga mikir Agra pelakunya. keburu kamu yang di gorok Antono 😂 aku ngarah ya sipelaku ya Antono 🤔
Dinda Wei
Polisinya persis di Konoha, mudah terkecoh wkwk
Dinda Wei
Kayaknya sengaja bikin agra di tahan trus pelaku bebas ngancem karin. artinya yg di buru pelaku itu ya karin, korban2 itu hanya pengalihan
Amiera Syaqilla
semangat author
Amelia
Agra harus bebas, takut banget Karina di habisin psikopat gila
Dinda Wei: yup 👍
total 1 replies
Amelia
Agra harus di lepas. Bisa jd skenario pelaku buat ngabisin karina. Jd nggak ada yg bantu karin. Waspada lah karinaa
Amelia
Kok aku curiga sama atasan karina ya. Mencurigakan 🤔
Dinda Wei: sepemikiran. Antono mencurigakan
total 1 replies
Amelia
Hati2 Karina, pembunuh sebenarnya masih berkeliaran di luar sana. Kamu pasti masuk targetnya juga
Dinda Wei: iya takut banget, pelakunya nyasar ke kariin😡
total 1 replies
Amelia
Next 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!