NovelToon NovelToon
Ling Feng : Menyulam Tanya Dalam Bahasa Sunyi Dunia.

Ling Feng : Menyulam Tanya Dalam Bahasa Sunyi Dunia.

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Epik Petualangan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: MagnumKapalApi

Karya Orisinal.

Genre: Fantasi Timur, Kultivasi, Xianxia.
Sub-Genre: Filosofi, Romance, Adventure, Action.

Desa kecil yang dipenuhi buai kenangan, Jinglan namanya. Di sebalik kabus fajar di ladang, hiduplah Aku—Ling Feng—berdiri ragu, mencoba merabit kata Pak Tua Chen, menyulamnya dengan tanya yang berbalut sunyi. Dalam pengembaraan, Aku menenun apa yang kubawa.

“Untuk Apa Kehidupan Dijalani?”

Jawab mungkin tak pernah kudapatkan. Namun, akankah Jawab sudi menyapaku kelak dan menanti?

Kupastikan langkahku setia pada arah, walau kelak degup jiwa tak lagi tegak menopang raga, kan kusulam tanya dalam bahasa sunyi dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 7 : Sebelum Bahasa.

Kabut pagi menggantung rendah di atas Persimpangan Kelindang, menutup tanah seperti kain kafan yang belum sempat diangkat. Kakiku menyeret tubuh ini menjauh dari arena pertempuran, setiap langkah terasa terlalu berat untuk dipaksakan.

Napas masuk dengan kasar, seperti udara yang dipenuhi serpihan kaca. Dada kiriku berdenyut setiap kali paru-paru mengembang, tulang rusuk yang retak mengingatkan pada injakan Xue Gou yang belum benar-benar pergi. Luka di lengan dan paha bergetar sendiri, nyerinya datang dan pergi seperti detak asing yang tak mau seirama dengan jantung.

Di sisiku, serigala itu berjalan tertatih. Aku memanggilnya Abu, karena bulu kelabu kusamnya mengingatkanku pada sisa pembakaran yang tersisa setelah api padam. Kaki depan kanannya terangkat setengah, tak pernah benar-benar menyentuh tanah.

Napasnya berat dan terputus-putus. Ujung hidungnya bergerak cepat, menangkap bau-bau yang tak bisa kutangkap. Mata kuningnya terus bergerak, menyapu kabut, semak, dan bayangan, seperti prajurit yang belum percaya bahwa pedang telah disarungkan.

Aku tidak tahu sejak kapan pemahaman itu muncul. Tidak ada isyarat, tidak ada suara. Namun dari caranya menatap, dadaku terasa sesak oleh kesadaran yang tidak berasal dari kata-kata.

“Kita butuh tempat untuk sembunyi,” bisikku. Suaraku nyaris tenggelam oleh napas sendiri.

Abu berhenti. Hidungnya terangkat, mengendus angin pagi yang lembap. Sesaat kemudian ia memutar tubuh, mengarah ke timur laut, menjauh dari aliran sungai, menuju kaki bukit yang tertutup hutan bambu. Ia melangkah perlahan, lalu menoleh sebentar, memastikan aku mengikutinya.

Hutan itu tidak menyambut. Batangnya jarang, tanahnya keras dan kering. Tak ada kicau burung, tak ada serangga yang berani bersuara. Sunyinya terasa ganjil, seperti tempat yang pernah dijaga lalu ditinggalkan. Namun bayangan bambu cukup rapat untuk menelan siluet kami.

Sekitar satu jam kemudian, kami menemukan celah di balik tanaman merambat. Sebuah gua kecil, mulutnya sempit, cukup rendah untuk memaksa tubuh merunduk. Udara di dalamnya lembap dan berbau tanah basah, dingin tapi tidak berubah. Stabil. Aman untuk sementara.

Aku duduk, lalu merobek kain bajuku. Air di botol kulit tinggal sedikit, cukup untuk membasahi kain dan membersihkan darah yang mengering. Tanganku gemetar, entah karena dingin atau karena kelelahan yang mulai menyusup.

“Grrrr.”

Suara rendah itu keluar saat kain menyentuh lukaku. Rahangku mengeras, bibirku tergigit sampai terasa asin. Namun pandanganku terus kembali ke kaki Abu. Bengkaknya jelas. Bulu di sekitarnya menggumpal oleh cairan kuning kental yang merembes pelan.

“Tenang,” bisikku saat tubuhnya menegang. Tanganku berhenti sejenak sebelum menyentuhnya lagi. “Aku coba bantu.”

Ia tidak mundur. Otot-ototnya tegang, siap menerkam bila perlu, tapi matanya bertahan di wajahku. Di antara kami ada jarak tipis, diisi oleh keheningan yang tidak meminta dan tidak menolak. Nafas kami saling bertabrakan di udara dingin gua. Sesuatu lewat di sana, cepat dan sunyi, seperti kesepakatan yang tak pernah diucapkan.

Aku memejamkan mata. Ingatanku kembali pada saat jaring energi Xue Gou terputus. Dantian-ku kini terasa hampa, seperti sumur yang baru dikuras. Namun di dasarnya masih ada sisa lembap, tetesan kecil energi bumi yang belum sepenuhnya hilang.

Telapak tanganku kutempelkan ke luka Abu.

Awalnya tidak ada apa-apa. Lalu muncul rasa hangat, kecil dan samar, bukan aliran deras, melainkan titik-titik lembut seperti embun yang berkumpul di daun. Kehangatan itu merayap naik dari dalam tubuhku, menyusuri lengan, lalu berpindah ke tubuh Abu.

Tubuhnya bergetar. Cakarnya mencengkeram tanah gua, tapi ia tetap di tempat. Kelopak matanya turun perlahan. Napas yang tadi tersengal mulai memanjang, jedanya semakin teratur.

Di bawah telapak tanganku, tubuh serigala itu tIdak serta-merta tenang. Napasnya memanjang dengan ragu, seperti orang yang belum yakin boleh hidup sedikit lebih lama. Getaran masih tinggal di dagingnya, tipis namun nyata. Dari balik bulu kelabu, sesuatu yang hangat sempat jatuh ke batu, lalu tak lagi meninggalkan bekas. Udara gua menelan baunya, atau mungkin waktu yang melakukannya, aku tak tahu.

Kepalaku ringan, seolah ada ruang yang ditinggalkan terbuka. Dengung memenuhi telinga, datang dan pergi seperti ombak yang lupa pantai. Tanganku terlepas tanpa perintah, dan tubuhku menyandar pada dinding batu yang dinginnya jujur.

Ketika pandanganku kembali menyatu, serigala itu telah berdiri.

Ia tidak melompat. Tidak pula roboh. Kakinya masih enggan menerima berat tubuh sepenuhnya, langkahnya condong, seperti keputusan yang belum rampung. Namun ia bertahan. Mata kuning itu menemuiku sesaat, bukan terima kasih, bukan pula peringatan, lalu berpaling, seolah apa pun yang barusan terjadi cukup disimpan di antara napas dan denyut, tak perlu diberi nama.

Aku menarik napas pendek.

“Tidak cukup,” gumamku. Lidahku terasa kering. “Aku butuh lebih banyak waktu.”

Di luar, kabut belum beranjak. Ia menggantung rendah, sabar, Seperti dunia yang menunggu siapa di antara kami yang lebih dulu kehabisan alasan untuk berdiri.

1
anggita
like👍, bunga🌹
Life is Just an Illusion
semangat kak jadilah dewa fantim /Curse//Curse/
Gudang Garam Filter: dewa fantim mah Ucok kak /Curse//Curse/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!