Greta Hildegard adalah bayangan yang memudar di sudut kelas. Gadis pendiam dengan nama puitis yang menjadi sasaran empuk perundungan tanpa ampun. Baginya, SMA bukan masa muda yang indah, melainkan medan tempur di mana ia selalu kalah. Luka-luka itu tidak pernah sembuh, mereka hanya bersembunyi di balik waktu.
namun mereka tidak siap dengan apa yang sebenarnya terjadi oleh Greta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon spill.gils, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyusup
Langit Vancouver perlahan berubah menjadi kanvas berwarna ungu pekat yang berpadu dengan guratan jingga di cakrawala. Lampu-lampu jalan mulai berkedip menyala satu per satu, memberikan cahaya temaram di sepanjang trotoar saat motor Luca akhirnya berhenti tepat di depan apartemen kecil Greta.
Greta turun dari boncengan dengan senyum yang masih tersisa di wajahnya. Di tangan kanannya, ia menggenggam sebuah es krim—janji dari Luca setelah sesi lari yang melelahkan di Stanley Park tadi.
"Greta, aku pulang dulu ya.. Jangan lupa istirahat," ucap Luca dari balik helmnya, berusaha terdengar keren meski staminanya sudah terkuras habis.
Greta melambaikan tangannya dengan semangat, memerhatikan lampu belakang motor Luca yang perlahan menjauh dan menghilang di belokan jalan.
Hingga esok hari pun tiba di Jarvis High School.
Pagi itu, suasana sekolah masih sangat sepi. Clara datang jauh lebih pagi dari biasanya dikarenakan guru tidak masuk sekolah, sehingga sebagai serketaris yang bertanggung jawab, ia harus mengambil tumpukan materi di ruang guru untuk dicatat di papan tulis nanti.
"Aduh, berat sekali..." keluh Clara sambil mencoba menyeimbangkan tumpukan buku di pelukannya.
"Clara, biar aku bantu ya..!" ucap Greta yang tiba-tiba muncul dan masuk ke dalam ruang guru yang masih sunyi.
Clara, yang wajahnya terlihat sangat lesu karena kurang tidur dan harus bekerja ekstra pagi-pagi, hanya bisa mengangguk pelan. "Ah, Greta... syukurlah kamu datang. Bantu aku bawa yang ini ya."
Setibanya di lorong yang masih remang, tiba-tiba sosok tinggi Leon Weiss muncul dan menghadang langkah mereka. Greta dan Clara sontak berhenti, wajah mereka penuh kebingungan. Tanpa mengucapkan satu kata pun, Leon langsung meraih tumpukan buku berat dari pelukan Greta, lalu melakukan hal yang sama pada Clara.
Dengan wajah datar dan dingin seperti biasanya, Leon berbalik dan berjalan menaiki tangga menuju kelas sendirian, meninggalkan mereka berdua yang berdiri mematung dengan tangan kosong.
"Eh? Leon?!" seru Clara tertahan, matanya berkedip tidak percaya.
Mereka berdua pun segera berlarian kecil menyusul di belakang, menjaga jarak sambil memperhatikan punggung Leon yang bergerak menjauh dengan langkah tegap. Clara menyenggol lengan Greta dengan sikunya, matanya masih terpaku pada sosok Leon di depan.
"Greta... aku lihat-lihat, Leon cakep juga ya kalau lagi sok cool begitu?" bisik Clara dengan nada menggoda.
Greta langsung melirik tajam ke arah Clara, senyum jahil mulai terbit di bibirnya. "Ciee... Clara! Jadi sekarang seleramu tipe-tipe pangeran es seperti Leon, ya?"
"Apa sih! Bukan begitu, maksudku dia terlihat... gagah saja bawa buku sebanyak itu sendirian!" bantah Clara dengan wajah yang mulai memerah.
"Ciee... Clara naksir Leon! Cieee!" goda Greta sambil mencolek pinggang Clara.
"Greta, berhenti! Hahaha!" Clara tertawa geli sambil mencoba membalas mencubit pinggang Greta. Lorong Jarvis High School yang sunyi itu tiba-tiba pecah oleh suara tawa dan teriakan geli mereka yang saling kejar-kejaran kecil di belakang Leon.
Tiba-tiba, langkah kaki di depan mereka berhenti. Leon berbalik dengan gerakan perlahan dan menoleh ke belakang, menatap mereka dengan tatapan tajam di balik kacamatanya.
Seketika, tawa Greta dan Clara terhenti. Mereka berdua langsung salting (salah tingkah); Greta mendadak sibuk merapikan seragamnya yang tidak berantakan, sementara Clara berpura-pura sangat tertarik melihat tekstur dinding sekolah. Suasana menjadi sangat hening dan canggung.
Setelah menatap mereka selama beberapa detik tanpa ekspresi, Leon kembali berbalik dan melanjutkan perjalanannya menuju kelas dengan muka datar, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
"Aduh, memalukan sekali..." bisik Clara sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan setelah Leon menjauh.
Setibanya di depan pintu kelas, tepat saat Leon hendak melangkah masuk, sebuah bayangan hitam melesat keluar dengan kecepatan tinggi.
Brakk! Benturan keras tak terhindarkan. Tubuh Leon terpelanting ke belakang, membuat tumpukan buku yang ia bawa berhamburan di lantai seperti kartu yang jatuh. Kacamata Leon terlepas, berdenting saat menghantam lantai ubin koridor. Sosok misterius itu juga ikut terjatuh, namun dengan gerakan yang sangat tangkas, ia langsung bangkit berdiri dan berniat melarikan diri lagi.
Namun, Leon tidak membiarkannya begitu saja. Dalam posisi masih terduduk di lantai, Leon melakukan gerakan epic, Ia meluncurkan tangannya secepat kilat dan menggenggam erat pergelangan kaki pria itu.
"Mau lari ke mana?!" desis Leon tajam.
Pria itu tersentak. Karena kakinya terkunci, ia kehilangan keseimbangan sejenak. Tanpa ragu, pria itu memutar tubuhnya dan melayangkan tendangan brutal menggunakan kaki satunya tepat ke arah kepala Leon.
Dugh!
Kepala Leon terbentur dinding koridor dengan suara yang mengerikan. Genggamannya terlepas. Greta dan Clara hanya bisa mematung di tempat, napas mereka tertahan melihat kekerasan yang terjadi begitu cepat di depan mata mereka.
Pria itu—yang mengenakan hoodie hitam pekat dengan tudung yang ditarik rendah serta masker hitam yang menutupi seluruh wajahnya—tidak membuang waktu. Ia langsung kembali melesat berlari menjauhi kelas, menyusuri lorong Jarvis High School yang masih sepi.
Leon yang sempat terpuruk sambil memegangi kepalanya, menggelengkan kepala dengan cepat untuk mengusir rasa pening. Meski tanpa kacamata dan ada noda kemerahan di pelipisnya, ia langsung berdiri dengan tatapan mata yang dingin dan penuh amarah. Tanpa memedulikan buku-buku yang berantakan atau rasa sakitnya, Leon langsung memacu kakinya mengejar sosok ber-hoodie hitam itu.
"Clara! Panggil guru!" teriak Greta yang akhirnya tersadar dari keterpakuannya, sementara ia sendiri bimbang apakah harus mengejar Leon atau tidak.
Greta memacu langkahnya sekuat tenaga, menuruni anak tangga dengan jantung yang berdegup kencang. Namun, setibanya di lantai bawah, ia kehilangan jejak. Lorong-lorong Jarvis High School mulai diisi oleh beberapa siswa yang asyik mengobrol di sudut-sudut kelas, seolah tidak terjadi drama hidup dan mati beberapa detik yang lalu. Sosok misterius dan Leon telah lenyap di antara tikungan bangunan.
Sementara itu, di area belakang sekolah yang terisolasi, pengejaran mencapai titik puncaknya. Sosok ber-hoodie itu terengah, matanya liar mencari celah saat menyadari ia telah menemui jalan buntu berupa dinding beton tinggi yang membatasi area sekolah dengan pemukiman warga.
Ia menoleh ke belakang. Leon, meski tanpa kacamata dan pelipis yang mulai membiru, berlari ke arahnya dengan kecepatan yang mengerikan.
Tanpa pilihan lain, sosok itu melakukan aksi parkour yang memukau. Ia melompat ke arah bak sampah besar, menjadikannya pijakan untuk melakukan wall run singkat, lalu jemarinya mencengkeram erat pinggiran atap pembatas sekolah. Dengan satu tarikan otot lengan yang kuat, ia melentingkan tubuhnya ke atas atap.
Leon tak membiarkan jarak itu melebar. Tanpa keraguan sedikit pun, ia mengikuti gerakan yang sama—melompat, menumpu, dan menarik dirinya ke atas atap dengan kelincahan yang mengejutkan untuk ukuran siswa teladan.
Mereka mendarat di area parkir belakang sekolah yang sepi. Sosok misterius itu semakin terdesak. Dalam kepanikannya, ia meraih sebuah pot bunga tanah liat yang ada di pinggir taman pembatas dan melemparkannya sekuat tenaga ke arah wajah Leon.
Prangg!
Pot itu hancur berkeping-keping saat menghantam dinding tepat di samping telinga Leon. Dengan refleksnya, Leon berhasil menghindar hanya sepersekian detik sebelum pot itu menghantam kepalanya.
Leon berdiri tegak, napasnya menderu. "Siapa yang mengirimmu?!" bentak Leon dengan suara rendah yang mengintimidasi.
Sosok misterius itu tetap membisu, namun situasi berubah drastis ketika suara raungan mesin motor memecah ketegangan. Luca tiba di area parkir belakang dengan motornya, matanya membelalak melihat pemandangan kacau di depannya: pecahan pot yang berserakan, Leon yang tampak terluka, dan seorang pria ber-hoodie hitam yang mencurigakan.
"Luca... Tangkap dia...!" teriak Leon dengan sisa napasnya, menunjuk ke arah pria bermasker itu.
Pria itu menoleh kilat ke arah Luca yang masih terlihat bingung di atas motornya. Menyadari dirinya kini terkepung oleh dua orang, sosok itu mengambil langkah seribu. Ia berlari kencang dan melompat dengan lincah ke arah dinding pembatas sekolah yang tinggi, mencoba menghilang ke area pemukiman di baliknya.
"Sial!" umpat Luca. Tanpa memedulikan motornya yang dibiarkan begitu saja dengan mesin yang mungkin masih panas, ia melompat turun dan memacu kakinya. Dengan sekali lompatan kuat, Luca menaiki pagar beton itu dengan ketangkasan luar biasa.
Leon, meski kepalanya masih terasa berdenyut akibat benturan tadi, tidak mau ketinggalan.
Kini, aksi kejar-kejaran berpindah ke gang-gang sempit di luar Jarvis High School. Greta, yang baru saja sampai di area parkir dengan napas terengah, hanya bisa melihat motor Luca yang tergeletak dan kedua temannya yang sudah menghilang di balik tembok.
Pengejaran itu berlangsung sengit, melewati gang-gang sempit dan melompati pagar tanaman warga hingga mereka tiba di sebuah titik buta di tengah taman yang sangat rindang. Pohon-pohon besar dengan tajuk lebat menutupi cahaya matahari pagi, menciptakan suasana remang dan mencekam.
Sosok ber-hoodie itu tiba-tiba berhenti di tengah area terbuka yang dikelilingi semak belukar. Ia tidak lagi berlari.
Luca dan Leon ikut berhenti beberapa meter di belakangnya, napas mereka menderu hebat. Luca mengepalkan tinjunya, sementara Leon menyeka darah di pelipisnya dengan tatapan tajam yang tak lepas dari punggung pria itu.
"Siapa kau?! Apa maumu dari sekolah kami?!" bentak Leon dengan suara rendah yang menggema di kesunyian taman.
Pria itu perlahan berbalik ke arah mereka. Namun, ia tidak terlihat takut. Seulas seringai tipis mungkin tersembunyi di balik maskernya saat ia memberikan isyarat kecil dengan tangannya.
Sret... Sret...
Dari balik bayang-bayang pepohonan yang rimbun, muncul empat orang lainnya dengan pakaian yang identik—hoodie hitam dan masker. Mereka melangkah keluar secara serentak, mengepung Luca dan Leon dari segala penjuru.
Klik! Klik!
Suara tajam besi yang beradu terdengar serempak. Kelima sosok itu kini memegang pisau lipat yang berkilat dingin di bawah sisa-sisa cahaya yang menembus celah daun.
Luca dan Leon langsung berdiri saling memunggungi, menyadari bahwa mereka baru saja masuk ke dalam jebakan yang sudah direncanakan dengan matang. Suasana taman yang tadinya asri kini berubah menjadi arena maut yang sunyi.
"Lima lawan dua dengan senjata?" Luca mendengus, mencoba menutupi kegugupannya dengan tawa sinis sambil memasang posisi kuda-kuda bertarung. "Kalian benar-benar pengecut ya?"
Suasana taman yang tadinya tenang mendadak berubah menjadi mencekam. Lima sosok ber-hoodie hitam itu perlahan memperkecil lingkaran kepungan, pisau-pisau lipat di tangan mereka berkilat mengancam.
Luca dan Leon berdiri saling memunggungi. Di tengah kepungan maut itu, Luca tiba-tiba merogoh tas ranselnya yang sedari tadi ia gendong erat selama pengejaran. Dengan satu gerakan sentakan, ia mengeluarkan sebuah bola basket kulit yang berat.
"Bola basket? Kamu bercanda, Luca?" desis Leon tanpa mengalihkan pandangan dari lawan di depannya.
"Ini bukan cuma bola, Leon". Jawab Luca dengan seringai liar.
Pertarungan pun pecah.
Dua orang penyerang dari sisi kiri menerjang Leon secara bersamaan. Leon, yang meski tanpa kacamata masih memiliki insting tajam, menghindar dengan gerakan gesit. Saat pisau pertama terayun ke arah perutnya, Leon menangkap pergelangan tangan lawan, memutarnya dengan teknik kuncian yang dingin, dan menggunakan tubuh lawan itu sebagai perisai dari tusukan temannya. Brak! Leon melayangkan tendangan lutut keras ke ulu hati lawan, membuatnya tersungkur seketika.
Di sisi lain, tiga orang mengepung Luca. Saat salah satu dari mereka melompat untuk menikam, Luca melakukan crossover cepat dengan bola basket di tangannya—bukan di lantai, melainkan tepat ke arah wajah lawan.
Bukk! Bola itu menghantam hidung si penyerang dengan telak hingga ia terhuyung ke belakang. Tanpa membiarkan bola itu jatuh, Luca menangkapnya kembali dan memanfaatkannya untuk menangkis sabetan pisau dari lawan kedua. Suara gesekan pisau pada kulit bola terdengar nyaring, namun material bola yang tebal berhasil menahan mata pisau.
Namun, penyerang kedua berhasil menyelinap dari samping. Luca mencoba menghindar, tapi ujung pisau yang tajam sempat merobek lengan jaketnya dan menggores kulit bahunya.
"Akh!" Luca meringis saat merasakan perih yang panas, namun ia tidak berhenti. Ia memantulkan bola basketnya ke tanah dengan keras hingga mengenai dagu lawan, lalu menyambungnya dengan tendangan berputar yang telak.
Di sisi lain, Leon bergerak dengan dingin namun efisien. Ia menangkap tangan salah satu penyerang dan membantingnya ke pohon. Namun, saat ia mencoba menghadapi dua orang sekaligus, salah satu pisau menyayat tipis bagian pinggangnya. Darah mulai merembes di kemeja putih seragam Jarvis High School milik Leon.
Leon tidak mengerang. Ia hanya menggeritkan gigi, lalu dengan gerakan cepat ia memiting lengan lawan tersebut hingga pisaunya terjatuh.
"Oper, Leon!" teriak Luca.
Leon melempar bola basket itu tinggi ke udara. Luca melompat, menangkapnya di udara, dan melakukan gerakan seperti slam dunk namun sasarannya adalah kepala si pemimpin. Dugh! Bola itu menghantam puncak kepala lawan dengan keras, membuatnya jatuh terduduk.
oke lanjut thor.. seru ceita nya