menceritakan seorang siswi bernama Aria putri siswi dingin dan Sasha arka siswi berandalan, menceritakan keseharian mereka di sekolah dan teman baru di tahun terakhir sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 32
Pagi itu, udara di lorong sekolah terasa sedikit lembap.
Sasha dan Indah berjalan beriringan menuju gudang belakang sambil memeluk kardus-kardus besar berisi dekorasi festival yang belum terpakai.
Sesampainya di sana, mereka meletakkan kardus itu dengan bunyi *gedebuk* yang cukup keras.
Sasha menyeka keringat di pelipisnya, lalu pandangannya tidak sengaja menangkap kalender meja di sudut gudang yang dilingkari dengan spidol merah.
"Indah," panggil Sasha dengan dahi berkerut, "Apa itu 'Hari Ayah'? Kenapa orang-orang repot sekali melingkarinya?"
Indah menoleh, sedikit terkejut dengan pertanyaan itu. "Kau serius tidak tahu, Sasha? Hari Ayah itu momen di mana kita menunjukkan apresiasi kepada ayah kita. Memberi perhatian lebih, ucapan, atau hadiah sebagai tanda terima kasih atas semua kerja keras mereka selama ini. Dampaknya besar, lho. Hubungan anak dan ayah bisa jadi jauh lebih hangat."
Sasha termenung.
Ia menyandarkan punggungnya pada tumpukan kardus, matanya menatap langit-langit gudang yang berdebu.
Pikirannya melayang pada sosok ayahnya yang selalu terlihat sibuk, tegas, dan jarang bicara.
"Kau... sudah menyiapkan hadiah?" tanya Sasha pelan.
Indah tersenyum tulus. "Sudah. Aku membelikannya sebuah syal rajut untuk musim dingin nanti. Aku ingin dia merasa hangat saat bekerja di luar." Indah kemudian menatap Sasha penuh selidik. "Bagaimana denganmu, Sasha? Apa yang akan kau berikan?"
Sasha mendengus canggung, membuang muka agar kegugupannya tidak terlihat. "Entahlah. Aku bahkan baru tahu hari ini ada hari seperti itu. Memangnya dia butuh hadiah dariku?"
---
Malam harinya, di dalam kamarnya yang luas dan mewah, Sasha duduk di depan laptop. Cahaya layar memantul di wajahnya yang serius. Ia mengetik di kolom pencarian: *"Hadiah terbaik untuk ayah yang punya segalanya."*
Hasilnya bermacam-macam: jam tangan mahal, dasi sutra, hingga perangkat golf. Namun,
mata Sasha tertuju pada satu artikel blog yang berjudul: *"Sesuatu yang Dibuat dengan Tangan Jauh Lebih Berharga Daripada Uang."*
"Membuat kue?" gumam Sasha. "Sepertinya tidak sulit. Aku hanya perlu mencampur tepung dan telur, kan? Kalau menghajar preman saja aku bisa, apalagi cuma membuat roti."
Keesokan harinya, sekolah libur. Sasha baru saja kembali dari supermarket dengan menenteng plastik besar berisi mentega, tepung, cokelat, dan berbagai macam *topping*. Ia langsung menyerbu dapur mansion keluarganya yang megah.
----
Sasha mengenakan celemek dengan wajah penuh tekad.
Ia mulai memecahkan telur, namun bukannya kuning telur yang masuk ke mangkuk, malah serpihan cangkangnya ikut tenggelam di sana. "Sialan! Kenapa telur ini lebih sulit ditangani daripada leher musuh?!" gerutunya.
Adonan pertama dimasukkan ke oven. Beberapa menit kemudian, aroma hangus menyengat hidung.
Ketika dibuka, kue itu terlihat hitam legam seperti arang. "Gosong?! Bagaimana mungkin?!"
Percobaan kedua lebih parah. Sasha sangat percaya diri saat memasukkan serbuk putih ke dalam adonan.
Namun, saat ia mencicipi sisa adonan di sendok, wajahnya langsung berubah hijau. "ASIN?! Kenapa rasanya seperti air laut?!" Ia melihat toples di depannya.
Ternyata ia salah mengambil toples; bukannya gula, ia malah memasukkan garam dapur dalam jumlah besar.
Melihat kekacauan itu, para pelayan dan koki di rumahnya mendekat dengan wajah cemas. "Nona Muda, biarkan kami membantu. Dapur ini sudah hampir seperti medan perang," ujar kepala pelayan dengan sopan.
Sasha meledak. Ia mengambil spatula dan melemparkannya ke arah pintu. "JANGAN GANGGU AKU! KELUAR! SIAPA PUN YANG MASUK KE DAPUR INI AKAN KUTENDANG KELUAR DARI RUMAH INI!" teriaknya sambil melempar beberapa serbet dan sendok plastik. Para pelayan lari tunggang-langgang ketakutan.
---
Menjelang sore, dapur itu sudah tidak berbentuk lagi.
Tepung berceceran di lantai seolah-olah baru saja terjadi badai salju. Cokelat cair menempel di dinding, dan tumpukan loyang kotor memenuhi wastafel.
Namun, di tengah kekacauan itu, berdiri sebuah kue cokelat yang terlihat... lumayan.
Sasha mengembuskan napas lega. Ia menghias kue itu dengan sisa tenaga yang ada.
Ia meletakkannya di atas meja ruang tamu yang elegan, lengkap dengan sebuah amplop kecil di sampingnya.
Setelah itu, dengan tubuh penuh tepung dan kelelahan, ia naik ke atas untuk mandi.
Tak lama kemudian, pintu depan terbuka. Ayah Sasha pulang dengan langkah berat, wajahnya terlihat lelah setelah seharian memimpin rapat.
Ia berhenti saat mencium aroma manis di ruang tamu. Matanya tertuju pada sebuah kue dan sepucuk surat.
Ayah Sasha duduk perlahan, membuka amplop itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Di dalamnya tertulis:
> "Untuk Ayah. Aku baru tahu hari ini adalah Hari Ayah dari seorang teman. Maaf kalau aku sering membuat masalah dan tidak pernah bicara manis. Aku tidak tahu cara membeli hadiah yang benar, jadi aku membuatkan ini. Terima kasih sudah menjagaku selama ini, meskipun aku tahu aku sulit diatur. Jangan bekerja terlalu keras. – Sasha."*
Mata sang ayah berkaca-kaca. Ia tidak menyangka putri bungsunya yang pemberontak dan keras kepala bisa menuliskan kata-kata yang begitu tulus. Keharuan memenuhi dadanya.
Sasha, yang baru selesai mandi, berdiri di balik pilar lantai dua.
Ia mengintip ke bawah dan melihat ayahnya memegang surat itu dengan erat.
Sasha tersenyum tipis, sebuah senyuman yang jarang sekali terlihat, lalu ia kembali masuk ke kamarnya dengan perasaan puas.
Di bawah, sang ayah mengambil garpu dengan penuh semangat.
Ia memotong sepotong kecil kue cokelat itu, membayangkan rasa manis yang akan menyentuh lidahnya.
*NYAM.*
Detik berikutnya, wajah sang ayah membeku. Matanya melotot, jakunnya naik turun berusaha menelan.
Kue itu memang terlihat indah di luar, tapi ternyata di dalamnya masih ada bagian yang salah tertukar garam.
Rasanya sangat, sangat asin, seolah-olah ia baru saja memakan satu sendok garam murni yang dicampur cokelat.
Namun, sang ayah tidak memuntahkannya. Ia memaksakan diri untuk menelan sambil meneguk air putih dengan cepat. Ia tersenyum kecil ke arah kue itu.
*"Setidaknya... niatnya manis,"* batinnya sambil mengusap air mata yang entah karena terharu atau karena menahan rasa asin yang luar biasa.
Bersambung...