NovelToon NovelToon
The Librarian'S Midnight Guest

The Librarian'S Midnight Guest

Status: sedang berlangsung
Genre:Vampir / Fantasi Wanita / Harem
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: treezz

Di balik rak-rak kayu ek yang menjulang tinggi, Genevieve Isolde Clara adalah cahaya yang tak pernah padam. Sebagai pustakawan, ia dikenal karena senyumnya yang merekah bagi siapa saja dan keramahannya yang membuat siapa pun merasa diterima. Namun, keceriaan itu hanyalah tirai tipis yang menutupi luka batin yang sangat dalam. Genevieve adalah ahli dalam berpura-pura—ia membalut rasa sakitnya dengan tawa, memastikan dunia melihatnya sebagai gadis yang paling bahagia, meski hatinya perlahan hancur dalam kesunyian.
Kehidupan Genevieve yang penuh kepura-puraan terusik ketika Valerius Theodore Lucien muncul. Valerius adalah seorang pria dengan aura bangsawan kuno, pucat, dan memiliki tatapan yang seolah bisa menembus waktu—ia adalah seorang vampir yang telah hidup berabad-abad. Sejak pertama kali melihat Genevieve, Valerius merasakan sesuatu yang janggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Detak di Tengah Keheningan

Di tengah riuhnya Balai Kota yang kini berpesta pora memuja Eleanor, area di sekitar Genevieve dan Valerius seolah menjadi sebuah zona hampa udara. Suara tawa, denting gelas, dan musik orkestra yang tadinya memekakkan telinga mendadak terdengar jauh, seperti suara dari balik dinding tebal.

Valerius tidak sedikit pun melirik ke arah Eleanor yang sedang menjadi pusat perhatian. Baginya, cahaya yang dipamerkan putri ketua kota itu hanyalah gangguan yang dangkal. Sebaliknya, fokusnya sepenuhnya tertuju pada gadis di dekapannya.

Genevieve merasakan napasnya tertahan saat tangan Valerius yang dingin melingkar di pinggangnya.

Pria itu tidak mengeratkan pelukannya dengan kasar, namun tekanan jemarinya yang mantap seolah sedang menandai wilayah kekuasaannya. Sentuhan itu terasa begitu posesif sekaligus melindungi, membuat Genevieve merasa terperangkap namun anehnya... aman.

Deg. Deg. Deg.

Jantung Genevieve berpacu liar. Ia takut Valerius bisa merasakan denyut nadi yang berdenyut kencang di balik kulit lehernya yang tipis. Setiap kali dada mereka bersentuhan karena gerakan napas, ia merasa seolah-olah aliran listrik statis menyengat seluruh sarafnya.

"Kenapa jantungmu berisik sekali, Puan kecil?" bisik Valerius rendah, bibirnya hampir menyentuh daun telinga Genevieve. "Apa kau takut aku akan membawamu pergi dari pesta yang membosankan ini?"

Genevieve menengadah sedikit, menatap mata merah di balik topeng gelap Valerius. "Semua orang... semua orang menatap Eleanor. Kenapa kau malah di sini?" suaranya sedikit bergetar, mencoba mencari sisa kewarasan di tengah sensasi yang membingungkan ini.

Valerius hanya memberikan senyum tipis yang misterius.

Ia tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan mulai membimbing Genevieve dalam gerakan dansa yang lambat dan ritmis. Mereka bergerak menjauh dari sorot lampu utama, menuju bayang-bayang di tepi balkon di mana hanya ada cahaya rembulan yang mengintip dari jendela tinggi.

Di sana, di antara hiruk-pikuk manusia yang mengejar kilauan palsu, hanya ada mereka berdua—sang pemangsa yang setia dan mangsa yang mulai kehilangan arah.

Lantai dansa yang tadinya terasa luas kini seolah menyempit, hanya menyisakan ruang bagi mereka berdua. Genevieve merasa tubuhnya bergerak di luar kendali logikanya; kakinya mengikuti setiap langkah Valerius dengan presisi yang sempurna, seolah mereka adalah dua bagian dari satu jiwa yang telah lama terpisah.

Ada tarikan magnetis yang begitu kuat—semacam gravitasi gelap yang menarik Genevieve untuk terus mendekat pada sumber dingin yang menenangkan itu.

Tangan Valerius yang melingkar di pinggangnya kini terasa lebih dari sekadar sentuhan; itu adalah jangkar yang menahannya agar tidak hanyut dalam keramaian yang memusingkan.

Namun, di tengah keintiman yang terlarang itu, sepasang mata lain mengawasi dari kejauhan.

Eleanor, sang putri kota yang tadinya dikerumuni oleh pemuja, kini berdiri mematung. Para pria yang mencoba mengajaknya bicara diabaikannya begitu saja. Matanya terpaku pada sosok tinggi misterius yang sedang berdansa dengan gadis bergaun merah marun di sudut bayangan.

Ada sesuatu pada cara pria itu bergerak—keanggunan yang berbahaya, otoritas yang tak terucapkan, dan aura kegelapan yang justru terlihat sangat menawan bagi Eleanor.

Gadis yang terbiasa mendapatkan segalanya itu kini merasakan percikan rasa penasaran yang berubah menjadi kekaguman instan. Ia merasa tertantang. Ia jatuh cinta pada pandangan pertama pada pria yang bahkan tidak sudi melirik ke arahnya.

Valerius menyadari tatapan itu.

Ia bisa mencium aroma kecemburuan dan ambisi yang mulai membusuk dari arah Eleanor, namun ia justru semakin menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Genevieve.

"Kau merasakannya, Puan kecil?" bisik Valerius, suaranya kini lebih tajam.

"Putri yang kau anggap lebih bersinar itu... kini ia menatapku dengan mata penuh rasa lapar. Tapi dia tidak tahu, bahwa aku hanya memiliki selera untuk satu jenis anggur malam ini."

Genevieve melirik sekilas ke arah Eleanor. Seperti ada rasa cemburu yang hinggap di diri nya.

Rasa panas yang menjalar di dada Genevieve kali ini bukan karena demam, melainkan sesuatu yang jauh lebih tajam dan menyesakkan: cemburu.

Ia melihat bagaimana Eleanor, dengan segala kemilau dan kekuasaannya, menatap Valerius seolah pria itu adalah piala yang harus dimenangkan. Genevieve merasa kecil—seorang gadis penjaga perpustakaan yang hanya memiliki buku-buku berdebu, bersanding dengan pria yang menarik perhatian sang putri kota.

Ia merasa tidak pantas, dan pikiran untuk melepaskan diri dari dekapan Valerius mulai muncul di benaknya.

Namun, Valerius adalah makhluk yang mampu mencium perubahan emosi sekecil apa pun. Ia merasakan detak jantung Genevieve yang sedikit berubah ritme dan ketegangan di bahu gadis itu.

Valerius tersenyum sangat tipis—sebuah senyum kemenangan yang langka. Ia merasa puas mengetahui bahwa dirinya telah berhasil menanamkan benih perasaan di hati gadis yang selama ini bersikeras mengusirnya.

Namun, ia sangat berhati-hati. Ia tahu harga diri Genevieve sangat rapuh saat ini. Jika ia menunjukkan kemenangannya terlalu terang-terangan, gadis itu pasti akan melarikan diri karena malu.

Maka, alih-alih mengejek, Valerius justru semakin mempererat lingkaran tangannya di pinggang Genevieve, menariknya hingga tidak ada celah udara di antara mereka.

Ia memutar tubuh Genevieve sedemikian rupa sehingga punggung gadis itu membelakangi Eleanor, seolah-olah ia sedang memagari Genevieve dari pandangan dunia luar.

"Jangan melihat ke sana," bisik Valerius, suaranya kini lebih berat dan dalam, bergetar langsung di dada Genevieve.

"Matamu hanya boleh menatapku, Puan kecil. Biarkan dia menatap sampai matanya buta, dia tidak akan pernah bisa menyentuh apa yang sudah menjadi milikku."

1
May Maya
makasih thor update nya
Afri
sedih sekali kehidupan s vamvier ni d masa lalu
Yusry Ajay
semangat trus kk Thor 🤗
May Maya
lanjut Thor
May Maya
baru kali ini aku baca novel ada kata2 kiasan sekuat batu nisan biasanya kan sekeras n sekuat baja atau beton 🤭
May Maya
kacian velerius 😄
Afri
alur cerita nya bagus. . tidak buru buru .. mengalir dgn perlahan
keren
Afri
aku suka karya mu thor ..
cerita nya manis
May Maya
suka dgn genre ini
May Maya
vieve di dekati vampir tampan tp namanya makhluk gaib pasti takut jg ya vie🤭
May Maya
mulai baca Thor
treezz: semoga suka kakak🤭
total 1 replies
Afri
bagus
Afri
cerita nya bagus thor
fe
mantapp
anggita
👍👆 sip.,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!