Kalau kamu pikir pertemanan itu selalu hangat, penuh tawa, dan saling ngerti, kamu salah. Kadang, yang paling dekat sama kita justru bikin capek. Kadang, kita tersenyum di tengah keramaian tapi tetap merasa sendiri.
Aku—Naya—sering berada di posisi itu. Selalu ada, selalu bergerak, tapi jarang disebut. Aku bantu semua orang, tapi yang diingat cuma orang lain. Aku ketawa supaya terlihat aman, padahal di dalam, capeknya nggak ketulungan.
Novel ini bukan tentang keajaiban atau penyelesaian dramatis. Ini cerita tentang hari-hari yang panjang, keputusan kecil yang bikin greget, dan hubungan yang tetap ada tapi nggak lagi sama. Tentang bagaimana rasanya ikut bergerak di tengah orang-orang yang nggak selalu peduli, dan belajar bertahan sambil menahan rasa bingung dan lelah.
Kalau kamu pernah merasa tersisih meski berada di tengah keramaian, atau tersenyum padahal capek banget, cerita ini mungkin bakal terasa familiar.
Selamat membaca. Jangan kaget kalau....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 Dilema Kecil
Hari itu suasana sekolah agak sepi karena sebagian besar anak-anak sudah pulang setelah tugas diklat selesai. Tapi aku masih di aula, tangan pegal, kepala cenat-cenut. Semua orang sibuk dengan urusannya sendiri, sementara aku harus nyelesain hal-hal yang kelihatan kecil tapi ternyata bikin capek luar biasa.
Rara datang sebentar, bilang mau ikut pacarnya. Aku cuma mengangguk. Tidak ada perasaan iri atau sedih, cuma… bingung.
Aku ngerasa harus ngajak siapa buat nemenin aku ngerjain sisa tugas. Tara lagi sibuk dengan laporan yang harus dikumpulin besok, Faris lagi beresin tenda di lapangan. Aku duduk sebentar di tangga aula, tangan masih pegal. Mata liat sekeliling. Rasanya pengin ngomong sama seseorang, tapi bingung sama siapa. Semua orang sibuk sendiri.
Semua orang seolah nggak peduli apa yang aku kerjain. Rasanya greget campur capek. Kepala cenat-cenut.
Aku tarik napas panjang, mikir keras. Kalau aku nggak ngajak siapa, aku bakal ngerjain sendiri. Dan kalau ngerjain sendiri, rasanya lebih berat daripada yang biasanya. Tapi ngajak orang lain juga nggak gampang.
Mereka semua punya urusan masing-masing, dan aku nggak pengin merepotin.
Aku berdiri, jalan pelan keliling aula, liat alat-alat yang belum beres. Tenda masih setengah dilipat, kotak snack masih ada yang belum ditempatkan. Rasanya pengin banting semua, tapi aku tahan.
Aku cuma ngerasain capek yang bikin greget, kepala cenat-cenut yang nggak hilang, dan perasaan bingung soal siapa yang harus diajak.
Akhirnya aku putusin, aku nggak akan nunggu orang lain. Aku bakal cari teman yang paling memungkinkan buat nemenin aku. Capek boleh, tapi tugas nggak bisa ditunda.
Aku jalan ke depan kelas, mikir, Tara mungkin bisa bantu sebentar. Tapi dia lagi sibuk, aku lihat dari jauh.
Aku duduk lagi di tangga, tarik napas dalam-dalam. Kepala cenat-cenut makin terasa, tangan pegal, kaki capek. Aku sadar, keputusan sekecil ini ternyata bikin capek mental juga.
Rasanya pengin nangis, tapi aku tahan. Aku cuma pengin tugas selesai, nggak peduli harus capek sendirian atau nggak.
Aku muter-muter lagi di aula, mikir siapa yang bisa aku ajak. Tara masih duduk di pojokan, fokus sama laporan. Aku deketin dia pelan. “Eh, Tar,” suaraku agak serak karena capek. “Mau nggak bantu aku bentar?”
Dia nengok, sedikit kaget. Matanya liat aku, liat kepala aku yang agak cenat-cenut, tangan yang masih pegal.
Dia angguk pelan. “Oke, aku bantu.”
Aku lega, tapi tetap ada greget di dada. Rasanya nggak enak ngajak dia di saat dia juga pengin nyelesain laporan. Tapi aku nggak ada pilihan lain. Tugas harus selesai.
Kami jalan keliling aula, mulai rapihin tenda yang masih setengah. Tara bantu angkat kotak-kotak snack. Rasanya lebih ringan karena ada teman. Tapi capek tetap ada. Kepala cenat-cenut masih nyerang dari dalam. Greget juga nggak hilang.
Aku cuma fokus supaya semua beres. Tara ngelihat aku agak capek, “Kamu capek banget ya?”
Aku cuma senyum tipis. “Iya, tapi harus kelar. Nggak bisa ditunda lagi.”
Dia angguk, nggak banyak komentar. Aku tahu dia ngerti, tapi aku nggak pengin nambahin beban dia. Jadi aku diam, fokus ngerjain.
Setelah beberapa saat, tenda akhirnya selesai dilipat. Kotak snack dan minuman ditempatkan di rak. Semua alat-alat udah diatur rapi. Rasanya lega, tapi kepala cenat-cenut tetap ada. Tangan dan kaki masih pegal. Greget juga tetap nempel di dada.
Aku liat Tara, dia senyum tipis. Aku senyum balik, tapi senyum aku nggak hangat. Rasanya kayak, lega karena selesai, tapi tetap capek mental. Semua orang sudah pulang, tapi aku masih ngerasain beban yang nggak hilang.
Kami duduk sebentar, tarik napas bareng. Hanya suara langkah kami yang terdengar, selain dengungan lampu yang mulai redup.
Aku ngerasa campur aduk: lega karena tugas selesai, capek karena harus ngerjain sendirian banyak hal, bingung kenapa semua ini selalu jatuh ke aku, dan greget yang nggak hilang.
Tara pamit pulang lebih dulu. Aku liat dia pergi, rasanya kosong sedikit. Aku berdiri, jalan ke aula, ngecek sekali lagi. Semua beres.
Aku tarik napas panjang. Kepala cenat-cenut, tangan pegal, kaki capek. Rasanya pengin rebahan dan nggak bangun. Tapi aku harus pulang, harus nyiapin diri buat besok.
Malam itu, aku pulang dengan badan capek, kepala cenat-cenut, dan greget yang masih nempel. Aku sadar, meskipun tugas selesai, capek mental dan fisik aku nggak bakal hilang begitu saja. Rasanya kayak, semua orang bisa santai, tapi aku tetap harus jalan sendiri.
Aku sampai rumah, jatuh di kasur. Mata berat. Kepala cenat-cenut. Rasanya pengin nangis, tapi aku tahan. Aku cuma bisa tarik napas panjang, ngerasain semua capek dan greget sendiri. Besok bakal sama lagi. Semua tugas, semua tanggung jawab, semua hal kecil yang bikin capek dan greget itu masih menunggu.
Tapi aku nggak bisa berhenti. Aku tahu aku bakal balik lagi ke sekolah besok. Jalani semua tugas itu lagi, meskipun capek, bingung, dan greget sendiri tetap nempel. Aku tetap di sini, karena nggak ada yang bakal ngerjain selain aku.
hanya anggota biasa..
🙂🙂🙂
semoga authornya sehat selalu dan tetap semangat, ya..
semangat trs utk berkarya, yah..
🤭🤭🤭