NovelToon NovelToon
My Kaisar

My Kaisar

Status: tamat
Genre:Romantis / Percintaan Konglomerat / Enemy to Lovers / Tamat
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Bagi Freya Aurelia, mahasiswi seni yang hidupnya penuh warna dan kebebasan, Istana Welas adalah labirin kuno yang membosankan. Namun, sebuah insiden "salah masuk kamar" menyeretnya ke dalam pusaran protokol kerajaan yang kaku.
Di sana ada Kaisar Welas, sang putra mahkota yang perfeksionis, dingin, dan kaku layaknya robot. Dua dunia yang bertolak belakang ini dipaksa bersatu saat titah Buyut menjodohkan mereka demi sebuah stabilitas tradisi.
Satu bulan. Itulah waktu yang mereka miliki untuk membuktikan bahwa perjodohan ini adalah sebuah kesalahan besar. Namun, di antara perang urat syaraf, noda saus sambal di kemeja mewah, dan pelarian ke warung mie ayam, garis-garis benci itu mulai memudar.
Dapatkah Freya mewarnai hidup Kaisar yang hitam-putih? Atau justru Freya yang akan terbelenggu dalam kaku-nya adab istana?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3

Langkah kaki Freya bergema di atas lantai kayu ek yang dipoles hingga mengilap seperti cermin. Di depannya, punggung tegap Kaisar bergerak konstan, seolah pria itu memiliki kompas otomatis di kepalanya. Begitu pintu ganda setinggi empat meter terbuka, Freya sontak menghentikan langkah.

"Duh, Kaisar... Ini perpustakaan atau apa? Luas banget!" Freya mendongak, menatap deretan rak buku yang menjulang hingga menyentuh langit-langit berkubah. Aroma kertas tua, kulit samak, dan lilin lebah menyeruak kuat. "Terus bukunya... kenapa buluk banget? Merusak pemandangan gue tahu nggak! Warnanya cokelat semua, debuan lagi. Estetika lo payah banget sih."

Kaisar berhenti, menoleh dengan dahi berkerut tajam. "Buluk? Ini adalah koleksi manuskrip asli dari abad ke-17, Freya. Beberapa di antaranya ditulis tangan oleh leluhurku. Ini sejarah, bukan pajangan interior."

"Ya sejarah atau bukan, tetep aja bikin ngantuk," Freya mengibaskan tangannya, berjalan mendekati salah satu rak dan menyentuh punggung buku dengan ujung kuku hitamnya yang dicat sembarangan. "Mending gue disuruh ngelukis daripada baca ginian. Nggak penting! Gue bisa gambar wajah kakek lo yang galak itu jadi karikatur dalam sepuluh menit, tapi gue nggak bakal tahan baca aturan makan pakai sendok perak sepuluh halaman."

Kaisar menghela napas panjang, sebuah reaksi yang jarang ia tunjukkan pada siapa pun. "Sayangnya, keluargaku tidak butuh karikatur. Mereka butuh kamu tidak mempermalukan ibumu besok pagi. Dan itu dimulai dengan mengubah penampilanmu."

Kaisar membawa Freya ke sebuah ruangan besar yang disebut Ruang Busana Keputrian. Di sana, tiga pelayan senior dan seorang perancang busana istana sudah menunggu dengan wajah tegang. Di atas manekin, sebuah gaun kebaya modern berwarna champagne dengan bordiran benang emas halus sudah tersampir anggun.

"Gue nggak mau pakai itu!" Freya mundur selangkah, menunjuk gaun itu seolah itu adalah benda beracun. "Itu bukan gue. Gue nggak bisa napas pakai korset-korsetan!"

"Pakai, atau ibumu kehilangan izin usahanya malam ini juga," suara Kaisar mendatar, namun mengandung ancaman yang nyata. Ia berdiri di ambang pintu, melipat tangan di dada, mengawasi setiap gerak-gerik Freya.

"Lo jahat banget sih jadi orang!" Freya mendesis, matanya berkilat marah. "Pangeran diktator!"

"Lakukan," perintah Kaisar pada para pelayan.

Maka dimulailah 'pertempuran' kecil di ruang ganti. Freya memberontak. Suara teriakan protesnya terdengar hingga ke lorong.

"Woi! Pelan-pelan dong! Rambut gue jangan ditarik-tarik!"

"Itu bedak atau semen? Tebal banget!"

"Aduh! Jangan kenceng-kenceng talinya, gue nggak bisa kentut nanti!"

Kaisar yang menunggu di luar hanya bisa memijat pangkal hidungnya. Tak lama kemudian, pintu geser terbuka. Suasana mendadak hening.

Freya melangkah keluar dengan canggung. Sepatu bot kulitnya yang dekil telah diganti dengan heels berwarna senada dengan gaunnya. Celana jeans robek dan kaos band-nya lenyap, digantikan oleh kebaya yang melekat sempurna di tubuhnya yang ramping, menonjolkan lekuk lehernya yang jenjang. Rambutnya yang tadinya berantakan kini disanggul modern dengan menyisakan beberapa helai yang membingkai wajah manisnya.

Kaisar terdiam. Matanya yang biasanya sedingin es, kini tak berkedip menatap gadis di depannya. Freya yang 'bersih' ternyata memiliki kecantikan yang sangat kuat—klasik namun tetap punya aura liar yang tidak bisa disembunyikan oleh kain sutra sekalipun.

"Gimana? Puas lo?" Freya bertanya sinis, meski wajahnya merona merah karena merasa aneh dengan dandanannya sendiri. Ia mencoba berjalan, tapi kakinya goyah karena tidak terbiasa dengan hak tinggi. "Gue berasa kayak manekin hidup. Kaku banget, kayak lo."

Kaisar berdeham, mencoba mengalihkan pandangannya. "Setidaknya kamu tidak terlihat seperti orang yang baru saja keluar dari perkelahian jalanan. Sekarang, duduk. Kita akan belajar cara bicara."

Di sudut lain istana, di sebuah koridor gelap yang menghadap ke taman, Pangeran Kholid sedang bicara dengan Putri Sherena.

"Lihat itu, Sherena," Kholid menunjuk ke arah jendela perpustakaan di mana bayangan Kaisar dan Freya terlihat. "Kaisar sibuk bermain 'pangeran penyelamat' untuk gadis rakyat jelata itu. Apa menurutmu Buyut akan senang melihat penerus takhta menghabiskan waktu dengan mahasiswi rebel?"

Sherena mendengus, memainkan kuku-kukunya yang cantik. "Dia memalukan. Aku tidak sudi punya 'kakak ipar' atau bahkan teman yang bicaranya sekasar itu. Tapi kau tahu Kaisar, dia terlalu kaku dengan prinsip 'tanggung jawab'-nya."

"Tanggung jawab atau ketertarikan?" Kholid menyeringai licik. "Bagaimana kalau kita buat sedikit kejutan di jamuan besok? Kita lihat seberapa jauh gadis itu bisa bertahan sebelum dia meledak dan mempermalukan Kaisar di depan seluruh tamu negara."

Sementara itu, Pangeran Ethan justru menyelinap ke arah perpustakaan. Ia tidak berniat jahat, ia hanya penasaran. Dengan langkah ringan, ia mengintip dari balik pintu yang sedikit terbuka.

Ia melihat Kaisar sedang memegang tangan Freya—bukan secara romantis, melainkan mengoreksi cara Freya memegang gelas teh.

"Bukan begitu, Freya. Jari kelingkingmu jangan diangkat terlalu tinggi, itu berlebihan," tegur Kaisar pelan.

"Elu tuh yang berlebihan! Minum doang ribetnya minta ampun. Di kampus gue, minum ya tinggal teguk, selesai!" Freya menggerutu, tapi ia tetap mengikuti instruksi Kaisar walau dengan wajah ditekuk.

Ethan tertawa kecil tanpa suara. "Wah, Kak Kaisar akhirnya ketemu lawan yang sepadan. Menarik," gumamnya sebelum berlalu.

Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Freya sudah merasa tulang punggungnya mau patah karena dipaksa duduk tegak selama berjam-jam. Kaisar masih berdiri di depannya, tampak segar seolah-olah dia tidak punya rasa lelah.

"Oke, cukup untuk malam ini," kata Kaisar akhirnya.

Freya langsung merosot di kursinya, melepaskan sepatu hak tingginya dengan kasar. "Akhirnya! Makasih ya, Tuan Pangeran yang Terhormat, atas siksanya."

Kaisar menatap sepatu yang tergeletak di lantai itu, lalu menatap Freya. "Besok adalah hari penting bagi ibumu. Jika kau melakukannya dengan benar, Ayah akan memberikan kontrak jangka panjang untuk kateringnya. Kau mau membantunya, kan?"

Freya terdiam. Sifat keras kepalanya melunak sejenak saat memikirkan ibunya yang sudah banting tulang membesarkannya sendirian. "Iya, gue tahu. Gue bakal lakuin. Tapi jangan harap gue bakal jadi cewek anggun selamanya. Setelah acara ini kelar, gue balik jadi Freya yang biasa."

"Aku tahu," sahut Kaisar pelan. "Freya yang biasa... tidak seburuk itu."

Freya mendongak, matanya bertemu dengan mata Kaisar. Untuk sesaat, suasana di perpustakaan 'buluk' itu terasa berbeda. Tidak ada aturan, tidak ada kasta, hanya ada dua orang yang terjebak dalam malam yang sama.

"Lo... baru aja muji gue?" Freya menyeringai, kembali ke sifat aslinya. "Hati-hati, Kaisar. Nanti lo naksir lagi sama cewek rebel kayak gue."

Kaisar kembali memakai topeng dinginnya. "Masuklah ke kamar tamu yang sudah disiapkan. Dan jangan berani-berani kabur lewat jendela."

"Dih, GR banget!" Freya menjulurkan lidahnya lalu berjalan keluar sambil menjinjing sepatunya, meninggalkan Kaisar yang berdiri sendirian di tengah ribuan buku tua, merasakan jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.

1
Nita Aprika Nita
🤣🤣
Nita Aprika Nita
Ya Allah.. karya mu bagus banget kak.. tapi kok sepi yang baca dan like y..
Nadhira Ramadhani: bantu kasih bintang 5 dong kak🤣
total 1 replies
Thata Ayu Lestary
bagusss bgttt karya nya kak , besttttt
Nadhira Ramadhani: baca ceritaku juga yang lain kak 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!