Terlahir kembali sebagai Riser Phenex—bangsawan iblis paling dibenci dengan reputasi sampah—bukanlah pilihan yang buruk bagi seorang pemuda dari dunia modern. Dengan sistem "Yui" yang bermulut tajam namun setia, serta kekuatan terlarang dari masa lalu yang terkubur (Meliodas), Riser memutuskan untuk berhenti mengejar wanita yang tidak menginginkannya. Di hari Rating Game yang seharusnya menjadi kehancurannya, dia justru membakar naskah takdir. Dia membatalkan pertunangan, melepaskan gelar "pecundang", dan mulai membangun "keluarga" sejatinya sendiri. Dari pedang Saeko Busujima hingga kesetiaan Yasaka, Riser tidak hanya ingin bertahan hidup; dia ingin mendominasi dunia supranatural dengan gaya yang elegan, sarkastik, dan tak terbantahkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Strategi Phenex
Ruang kerja Riser di kastel Phenex malam itu diterangi oleh perapian yang menyala tenang, memantulkan bayangan panjang di atas peta taktis Kota Kuoh yang terbentang luas di atas meja jati. Aroma kayu manis dan kertas tua memenuhi ruangan, menciptakan suasana serius yang kental. Setelah kembali dari "kencan" taktis di pusat kota, Riser tidak langsung beristirahat. Dia tahu bahwa informasi yang didapat dari Malaikat Jatuh tadi adalah kunci untuk mengguncang stabilitas faksi-faksi di Kuoh.
Di hadapannya, empat pilar kekuatannya telah berkumpul. Esdeath berdiri dengan tangan bersilang, matanya berkilat setiap kali melihat tanda lokasi gereja tua. Yubelluna berdiri di sampingnya, memegang laporan intelijen terbaru. Saeko tetap tenang dalam bayang-bayang sudut ruangan, sementara Ayaka, yang kini sudah berganti pakaian menjadi busana pertempuran ringannya, berdiri dengan sikap sempurna di sisi kanan meja.
"Gereja tua di pinggiran kota hanyalah ujung dari gunung es," buka Riser, suaranya berat dan penuh otoritas. "Kokabiel tidak hanya bermain-main dengan fragmentasi pedang suci. Dia ingin memicu perang besar dengan memancing kemarahan faksi Iblis dan Malaikat secara bersamaan."
Riser menunjuk ke sebuah titik koordinat di pinggiran hutan Kuoh.
"Freed Sellzen, pendeta gila yang memegang Excalibur Rapidly, berada di sana. Dia memiliki beberapa pengikut Malaikat Jatuh kelas menengah sebagai pelindung. Jika kita menyerbu secara sembarangan, mereka akan segera menggunakan sihir transportasi untuk melarikan diri ke markas utama Kokabiel."
[ Analisis Strategis: Pengepungan Sempurna. ]
* Objektif: Mengamankan Excalibur Fragmen dan mengeliminasi Freed Sellzen.
* Kendala: Interferensi dari Faksi Gremory jika operasi terlalu gaduh.
* Saran: Pembagian tim berdasarkan spesialisasi energi.
"Yubelluna, Esdeath," Riser menatap kedua wanita itu. "Kalian adalah tim penghancur dan pengalih perhatian. Aku ingin kalian mendekati gereja dari sisi depan secara terang-terangan. Esdeath, kau boleh menggunakan esmu untuk membekukan seluruh area pelarian di luar gedung. Yubelluna, pasang penghalang sihir agar tidak ada sinyal darurat yang keluar dari gereja tersebut."
Esdeath menyeringai lebar, sebuah ekspresi yang menunjukkan betapa dia sangat merindukan pembantaian. "Membekukan mereka sebelum mereka bisa berkedip? Serahkan padaku, Tuanku."
"Dan untuk tim senyap," Riser beralih ke Saeko dan Ayaka. "Kalian berdua akan masuk melalui jalur bawah tanah yang terdeteksi oleh sistem. Saeko, kau adalah ujung tombak untuk menghadapi Freed secara langsung. Kecepatan pedangmu adalah satu-satunya yang bisa menandingi kelincahan Excalibur Rapidly miliknya."
Saeko mengangguk, jarinya sedikit menggeser tsuba katananya hingga terdengar dentingan logam yang tajam. "Sesuai perintah, Tuanku."
"Ayaka," Riser menatap sang putri dari Inazuma. "Tugasmu adalah mendukung Saeko. Gunakan Kamisato Art milikmu untuk membatasi ruang gerak Freed. Jangan biarkan dia menciptakan jarak. Begitu dia terdesak, gunakan esmu untuk mengunci pergerakannya sepenuhnya."
Ayaka membungkuk dalam, matanya menunjukkan tekad yang baru. "Saya akan memastikan tidak ada satu pun bunga es yang meleset dari target, Tuan Riser."
[ Sinkronisasi Jiwa: 82%. ]
[ Status Tim: Siap Tempur. ]
[ Catatan Yui: Distribusi kekuatan ini sangat efisien. Esdeath dan Yubelluna akan menjadi 'berisik' untuk menarik perhatian, sementara duo pengguna katana akan memberikan serangan mematikan dari dalam. Kamu sendiri, Pemalas, apa yang akan kamu lakukan? ]
Riser tersenyum tipis mendengar pertanyaan Yui dalam benaknya. Dia berjalan menuju jendela, menatap bulan yang mulai tertutup awan hitam.
"Aku? Aku akan menjadi jaring terakhir," gumam Riser. "Jika faksi Gremory atau para pengusir setan dari Vatikan mencoba mencampuri urusanku, aku sendiri yang akan menghadapi mereka. Malam ini, Excalibur itu akan menjadi milik Phenex, bukan milik gereja, dan bukan milik Lucifer."
Suasana ruangan itu menjadi semakin dingin saat Riser melepaskan sedikit aura Phoenix miliknya. Tekanan energinya membuat api di perapian mendadak berubah menjadi biru gelap selama beberapa detik.
"Persiapkan senjata kalian. Kita berangkat saat bulan mencapai puncaknya," perintah Riser. "Operasi ini harus bersih. Aku ingin Freed Sellzen berlutut di depanku sebelum matahari terbit."
Satu per satu, para srikandi itu membungkuk dan meninggalkan ruangan, meninggalkan Riser sendirian dalam keheningan yang mencekam. Dia tahu, langkah malam ini akan mengubah jalannya sejarah di Kota Kuoh. Dengan sistem yang terus memberikan data real-time, Riser merasa seolah-olah dia sedang menggerakkan bidak catur di atas papan yang sudah dia kuasai sepenuhnya.
Lantai batu di lorong bawah tanah gereja tua itu terasa lembap dan dingin. Suara tetesan air yang jatuh dari langit-langit bergema pelan, menciptakan irama yang mencekam di tengah kesunyian yang mencekik. Saeko Busujima bergerak tanpa suara, tubuhnya rendah dan hampir menyatu dengan bayang-bayang dinding. Di belakangnya, Ayaka melangkah dengan keanggunan seorang penari, setiap injakan kakinya di atas genangan air tidak menimbulkan riak sedikit pun berkat manipulasi energi es yang halus.
"Kita sudah berada tepat di bawah altar utama," bisik Saeko, berhenti di depan sebuah pintu kayu ek tua yang diperkuat dengan jeruji besi.
Ayaka mengangguk pelan. Dia bisa merasakan aura suci yang terdistorsi dan bau busuk dari energi Malaikat Jatuh yang bercampur menjadi satu di balik pintu itu. "Hawa dingin di dalam sana tidak murni. Ada kemarahan yang meluap-luap."
[ Deteksi Target: Dekat. ]
[ Subjek: Freed Sellzen. ]
* Senjata: Excalibur Rapidly.
* Status: Siaga Tinggi.
BUM!
Tiba-tiba, seluruh gedung bergetar hebat. Getaran itu berasal dari permukaan—tanda bahwa Esdeath dan Yubelluna telah memulai serangan pengalihan mereka di gerbang depan. Suara ledakan api dan retakan es raksasa terdengar samar dari atas, memecah kesunyian malam.
"Sekarang," perintah Saeko singkat.
Saeko menghantam pintu kayu itu dengan satu tendangan yang diperkuat energi iblis. BRAK! Pintu hancur berkeping-keping, dan mereka berdua melesat masuk ke dalam aula altar yang luas. Ruangan itu hanya diterangi oleh beberapa lilin yang berkedip, memberikan kesan dramatis pada sosok pria berambut putih yang berdiri di tengah ruangan sambil memegang sebilah pedang pendek yang memancarkan cahaya keemasan yang intens.
"Ahahaha! Tamu tak diundang lagi?!" Freed Sellzen berbalik dengan seringai gila yang menghiasi wajahnya. Matanya yang liar menatap Saeko dan Ayaka dengan nafsu membunuh yang tak tertutup-tahu. "Dua wanita cantik pembawa pedang? Oh, Tuhan pasti sangat menyayangiku malam ini! Aku akan membelah kalian menjadi potongan-potongan kecil yang indah!"
Freed menghilang dalam sekejap. Kecepatan Excalibur Rapidly benar-benar di luar nalar manusia biasa.
Ting!
Suara benturan logam yang tajam memecah udara. Saeko berhasil menahan tebasan Freed dengan katananya. Percikan api muncul saat kedua bilah pedang itu beradu. Kekuatan fisik Saeko yang telah ditingkatkan oleh Riser membuatnya mampu menahan dorongan pedang suci tersebut.
"Cepat juga kau, jalang!" Freed tertawa gila, mencoba menekan pedangnya lebih keras.
"Ayaka, sekarang!" seru Saeko.
Ayaka tidak membuang waktu. Dia mengayunkan kipasnya dalam putaran horizontal yang rendah. "Kamisato Art: Hyo-rin!"
Es merambat dari lantai, membentuk duri-duri tajam yang mengincar kaki Freed. Freed terpaksa melompat mundur untuk menghindari pembekuan instan, namun gerakannya sudah diprediksi. Saeko melesat maju, melakukan serangkaian tebasan beruntun yang memaksa Freed tetap dalam posisi bertahan.
"Sialan! Kenapa es ini sangat mengganggu?!" Freed berteriak frustrasi saat dia menyadari bahwa setiap kali dia mencoba menggunakan kecepatannya, udara di sekitarnya mengental menjadi butiran salju yang menghambat gerakannya.
[ Analisis Pertempuran: Efektif. ]
* Saeko: Menjaga jarak kontak (Ujung Tombak).
* Ayaka: Kontrol Area (Pembatas Ruang).
* Status Musuh: Kecepatan menurun 30% akibat suhu ekstrem.
Ayaka muncul di sisi kiri Freed, gerakannya seringan bulu. "Seni klan Kamizato tidak membiarkan mangsanya lari begitu saja."
Ayaka melakukan tebasan miring yang sangat presisi. Freed menangkisnya dengan panik, namun hawa dingin dari pedang Ayaka mulai merayap masuk ke tangannya, membuat jemarinya mulai membiru dan kaku.
"Jangan sombong!" Freed meraung, melepaskan gelombang cahaya suci dari pedangnya untuk mendorong mereka mundur. "Kalian hanya pion Riser Phenex! Kalian tidak tahu apa yang sedang kalian hadapi!"
Saeko berdiri tegak, katananya kini diselimuti aura merah gelap yang tipis—manifestasi dari hasrat bertarungnya yang murni. "Kami tahu persis apa yang kami hadapi. Kami menghadapi seorang pria malang yang terlalu sombong dengan pedang yang bahkan tidak mengakui keberadaannya."
Di kegelapan sudut langit-langit aula, Riser mengamati semuanya dalam bentuk siluet yang hampir tak terlihat. Dia melihat bagaimana koordinasi antara Saeko dan Ayaka semakin sinkron. Saeko memberikan tekanan fisik yang konstan, sementara Ayaka menutup setiap celah pelarian dengan dinding es yang elegan.
Sedikit lagi, dan mentalnya akan hancur sepenuhnya, batin Riser.
[ Sinkronisasi Jiwa: 84%. ]
[ Perintah Sistem: Bersiap untuk intervensi jika Excalibur Rapidly mencapai batas resonansi suci. ]
Freed mulai terlihat terdesak. Napasnya tersengal, dan gerakan kakinya menjadi goyah di atas lantai yang kini sepenuhnya tertutup es tipis yang licin. Dia menatap Saeko dan Ayaka dengan kebencian yang mendalam, menyadari bahwa kedua wanita ini bukan sekadar iblis biasa—mereka adalah instrumen kematian yang diasah dengan sempurna oleh satu tangan: Riser Phenex.