Lima tahun pernikahan adalah pembuktian cinta bagi Haniyah Zahira dan Haris Abidzar. Tanpa tangis buah hati, mereka tetap bahagia dalam ketaatan. Namun, bagi sang ibu mertua, rahim Haniyah yang sunyi adalah sebuah kegagalan.
"Relakan Haris menikah lagi, atau biarkan dia menjadi anak durhaka karena menolak keinginan ibunya."
Ancaman itu menjadi duri yang Haniyah telan sendirian. Demi bakti sang suami pada ibunya, Haniyah mengambil keputusan nekat: Ia meminta Haris mencari wanita lain. Saat penolakan keras Haris tak kunjung luntur, Haniyah memilih cara paling menyakitkan. Ia pergi, meninggalkan surat cerai di atas bantal, dan menghilang ke pelosok desa yang jauh dari jangkauan.
Di tengah kesunyian desa dan hati yang hancur, sebuah keajaiban muncul. Di saat ia sudah melepaskan statusnya sebagai istri, Allah menitipkan detak jantung di rahimnya. Haniyah hamil. Di saat ia tak lagi memiliki sandaran, dan di saat Haris mungkin sudah menjadi milik orang lain.
Haruskah Haniyah kembali...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BELAJAR MELEMBUTKAN HATI.
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden ruang rawat, menerangi sosok Nabila yang masih terlelap dalam posisi yang jauh dari kata nyaman. Ia tertidur di kursi kayu dengan kepala bersandar di tepi tempat tidur Bima. Tangan kanannya masih menggenggam erat telapak tangan suaminya, seolah takut jika ia melepaskannya, pria itu akan menghilang lagi. Kebaya putih yang dipakainya kemarin tampak sedikit kusut, namun tak mengurangi aura keanggunan yang jarang ia tunjukkan.
Bima perlahan membuka matanya. Rasa pening masih berdenyut di pelipisnya, namun pemandangan di sampingnya membuat rasa sakit itu seakan memudar. Ia menatap Nabila dengan tatapan penuh haru. Dengan gerakan sangat pelan agar tidak mengejutkan istrinya, Bima menarik tangannya lalu beralih mengusap puncak kepala Nabila dengan lembut.
Sentuhan itu ternyata cukup untuk membuat sang Polwan tersentak bangun. Nabila langsung tegak dengan mata membelalak panik.
"Mas Bima? Ada yang sakit? Bagian mana yang nyeri? Tunggu di sini, aku panggilkan dokter sekarang!" seru Nabila beruntun tanpa memberi kesempatan Bima untuk bicara.
Bima segera menahan pergelangan tangan Nabila. "Nabila, tenanglah. Aku baik-baik saja. Jangan panik begitu."
"Tidak bisa! Kamu pingsan lama sekali kemarin. Wajahmu juga masih pucat," sahut Nabila keras kepala. Ia tetap berlari keluar ruangan dan kembali beberapa menit kemudian bersama dokter jaga.
Setelah pemeriksaan singkat, dokter tersenyum menenangkan. "Kondisi fisiknya sudah jauh lebih stabil. Demamnya sudah turun. Sekarang tinggal masa pemulihan dan pastikan asupan nutrisinya terjaga. Bapak Bima boleh pulang besok jika tidak ada keluhan lagi."
Nabila menghela napas lega yang sangat panjang hingga bahunya merosot. "Terima kasih, Dokter. Syukurlah."
Setelah dokter keluar, Bima menatap Nabila dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Nabila, kenapa kamu belum ganti pakaian? Ini sudah pagi."
Nabila melirik kebayanya sendiri dengan wajah canggung. "Aku... aku tidak sempat berpikir untuk ganti baju. Aku hanya ingin memastikan kamu bangun."
Bima tersenyum lemah namun tulus. "Kamu cantik sekali memakai baju ini. Meskipun aku tahu kamu pasti merasa risih karena tidak bisa bergerak bebas seperti saat memakai celana kargo atau seragam."
Wajah Nabila memerah seketika. Pujian Bima selalu berhasil meruntuhkan pertahanannya yang biasanya kokoh sekeras baja. "Sudahlah, jangan mulai merayu. Aku memang merasa seperti dibungkus kain ketat!"
Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Haris masuk bersama Haniyah, Rosita, dan Ratih. Mereka membawa beberapa rantang makanan serta tas berisi pakaian ganti untuk Nabila. Rosita langsung menghampiri menantunya dengan wajah penuh syukur, sementara Haris meletakkan tas pakaian di atas sofa.
"Cepat ganti pakaianmu, Nabila. Bau rumah sakit sudah menempel di kebayamu. Lagipula, Ratih bilang dia sudah tidak tahan melihat riasan wajahmu yang sudah luntur itu," goda Haris.
Nabila mendengus kesal namun segera menyambar tas pakaiannya. Ia masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri dengan kilat. Baginya, menghapus riasan tebal yang dipakaikan Ratih kemarin terasa seperti menghapus beban berat dari wajahnya. Beberapa menit kemudian, ia keluar dengan setelan kaos longgar dan celana panjang favoritnya. Wajahnya polos tanpa makeup, namun justru terlihat jauh lebih segar dan bercahaya.
Bima yang melihatnya tidak bisa menyembunyikan rasa sukanya. Baginya, Nabila yang asli adalah Nabila yang sederhana namun memiliki keberanian yang luar biasa.
"Nah, sekarang waktunya makan," ujar Rosita sambil membuka rantang berisi bubur ayam hangat. Ia menyodorkan mangkuk itu kepada Nabila. "Ayo, suapi suamimu. Ibu sengaja membiarkan ini untukmu agar kamu belajar bagaimana merawat suami dengan benar."
Nabila menerima mangkuk itu dengan tangan sedikit gemetar. Ia menyendok bubur yang masih mengepul dan langsung mengarahkannya ke mulut Bima.
"Aduh! Panas, Nabila!" seru Bima sambil menjauhkan kepalanya sedikit.
"Nabila! Ditiup dulu buburnya, jangan asal sorong saja!" tegur Rosita gemas melihat tingkah kasar putrinya.
Haris ikut menimpali sambil menahan tawa. "Belajarlah sedikit lembut, Dek. Masak sama suami sendiri kasar sekali seperti sedang menginterogasi maling jemuran."
Nabila tampak kikuk. "Maaf, Mas Bima. Aku lupa kalau ini masih panas. Aku tidak terbiasa melakukan hal selambat ini."
Bima segera memegang tangan Nabila yang memegang sendok. "Tidak apa-apa, Bu. Saya mengerti. Nabila memang lebih terbiasa bergerak cepat di lapangan. Saya tidak keberatan sedikit kepanasan."
"Kenapa sikap kalian ini terbalik ya?" Rosita menggeleng-gelengkan kepala. "Seharusnya Nabila yang lembut dan Bima yang tegas. Tapi ini malah Bima yang sabarnya seluas samudra menghadapi sifat preman puteriku ini."
Ratih tertawa renyah sambil mengupas buah jeruk. "Sabar, Tante. Lambat laun Nabila pasti akan berubah. Apalagi kalau nanti dia sudah menjadi seorang ibu. Secara naluriah, kelembutan itu akan muncul sendiri saat dia menggendong anaknya nanti."
Seketika suasana menjadi sedikit hening. Nabila menghentikan suapannya dan menatap Ratih dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada gurat keraguan yang melintas di matanya saat mendengar kata menjadi ibu.
Ratih yang menyadari tatapan itu langsung bertanya, "Kenapa? Kamu juga ingin melanggar kodratmu sebagai wanita? Kamu ditakdirkan untuk meneruskan keturunan Bima, Nabila."
Nabila tampak ingin membalas, namun Bima lebih dulu menggenggam tangan istrinya di bawah selimut, mencoba menenangkan sebelum emosi Nabila meledak.
"Kami tidak ingin buru-buru punya anak dulu, Kak Ratih. Saat ini tugas kami di kepolisian sedang sangat padat. Kondisi wilayah perbatasan juga masih rawan setelah penangkapan Darwis," ujar Bima dengan suara tenang namun tegas.
"Jangan jadikan tugas sebagai alasan, Bima," potong Rosita dengan nada serius. "Ibu tahu tugas polisi itu tidak akan pernah ada habisnya. Kalau menunggu tugas selesai, kapan kalian punya keturunan? Apa mau menunggu sampai tua?"
Nabila mulai merasa sesak. "Mama, kami kan baru saja menikah kemarin sore!"
"Ingat, semakin tua wanita melahirkan, semakin besar risikonya," lanjut Rosita tanpa menghiraukan protes anaknya. "Apa kalian takut tidak ada yang menjaga anak kalian saat bertugas? Jangan khawatir, selama Mama masih kuat, Mama yang akan mengasuh mereka di rumah besar."
Nabila meletakkan mangkuk buburnya dengan suara denting yang cukup keras di atas meja. "Mama, Bima juga masih dalam masa berkabung. Kenapa Mama malah sibuk memikirkan cucu baru sekarang sih?"
Rosita langsung tersentak. Ia menatap Bima dan menyadari bahwa pria itu memang baru saja kehilangan ibunya. Rasa bersalah muncul di wajah Rosita. "Aduh, maafkan Ibu, Bima. Ibu tidak bermaksud menyinggung perasaanmu. Ibu hanya terlalu bersemangat."
Bima tersenyum tipis, mencoba mencairkan ketegangan. "Tidak apa-apa, Bu. Saya mengerti keinginan Ibu. Tapi biarkan kami menata hati dan rumah tangga kami dulu. Semuanya akan indah pada waktunya."
Haris segera mengalihkan pembicaraan agar suasana tidak semakin canggung. Namun. "Sudah-Sudah Mah, benar yang dikatakan Bima. Biarkan mereka menikmati masa berdua mereka dulu. Soal anak, biarkan mereka yang menentukan kapannya mereka menginginkannya. Jadi Mama cukup menunggu dengan sabar, seperti aku dan Hani. Kan pada akhirnya kami sebentar lagi akan menjadi orang tua juga." katanya sambil mengusap perut Haniyah yang sudah tampak membuncit.
Rosita pun menghela nafas panjang, ia berusaha untuk tidak egois lagi. Karena itu akan membuat anak-anaknya terluka.