NovelToon NovelToon
Ijazah Di Tangan , Nasib Di Tangan Tuhan

Ijazah Di Tangan , Nasib Di Tangan Tuhan

Status: tamat
Genre:Fantasi / Tamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: saytama

Bagas adalah remaja yang baru saja meletakkan toganya. Ia membawa beban berat di pundak: impian untuk mengangkat derajat orang tuanya yang hidup pas-pasan. Namun, dunia kerja tidak semanis janji-janji di brosur sekolah. Bagas harus berhadapan dengan HRD yang minta pengalaman kerja "minimal 5 tahun" untuk posisi pemula, hingga kenyataan pahit bahwa "surat sakti" dari orang dalam lebih kuat dari nilai raport-nya.

Perjalanannya adalah roller coaster emosi. Dari tempat kerja pertama yang toxic abis hingga gajinya habis cuma buat bayar parkir dan makan siang, sampai pekerjaan dengan lingkungan malaikat tapi gaji "sedekah". Puncaknya, ia harus bertahan di bawah tekanan bos yang emosinya lebih labil daripada harga cabai di pasar. Ini adalah cerita tentang jatuh, bangun, lari, dan akhirnya menang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GAJI BERLIAN, BOSNYA TITISAN NAGA

Diterima di PT. Global Manufaktur Utama adalah sebuah keajaiban bagi Bagas. Bayangkan saja, gajinya dua kali lipat dari yayasan Pak Danu, belum lagi ada tunjangan makan, uang transportasi, dan asuransi kesehatan yang kelasnya bukan kaleng-kaleng. Bagas merasa doanya dan doa Ibunya akhirnya menembus langit ketujuh.

Hari pertama bekerja, Bagas sudah dibekali seragam rapi, tanda pengenal magnetik yang keren, dan meja kerja di gedung ber-AC yang dinginnya sampai ke sumsum tulang. Teman-temannya di sini juga baik dan profesional. Tidak ada yang caper atau saling sikut seperti di ruko Pak Mulyono. Pokoknya, dari segi finansial dan rekan kerja, ini adalah jackpot.

Namun, ada satu variabel yang Bagas lewatkan saat tanda tangan kontrak: Pak Baron, sang Kepala Divisi Operasional.

Baru saja Bagas duduk manis merapikan pulpen di mejanya, sebuah suara menggelegar menghantam ruangan sepi itu. BRAKK! Sebuah tumpukan dokumen tebal dilemparkan ke meja sebelah Bagas.

"SAYA SUDAH BILANG BERKALI-KALI! ANALISA INI SAMPAH! KERJA PAKAI OTAK, JANGAN PAKAI LUTUT!"

Bagas tersentak sampai kursinya bergeser. Ia melihat seorang pria bertubuh tegap dengan wajah merah padam sedang menunjuk-nunjuk senior di sebelah Bagas. Itulah Pak Baron. Sosok yang di kantor itu dijuluki "Naga Sudirman". Suaranya tidak pernah berada di nada rendah; pilihannya cuma dua: teriak atau sangat teriak.

"Kamu karyawan baru?" Pak Baron tiba-tiba menoleh ke arah Bagas. Matanya tajam seperti elang yang sedang lapar.

"I...iya, Pak. Nama saya Bagas," jawab Bagas, mencoba memasang wajah sopan meskipun nyalinya sudah menciut seukuran butiran debu.

"Bagus. Ingat satu hal, Bagas. Di divisi saya, tidak ada ruang untuk kesalahan. Satu angka salah di laporanmu, saya pastikan namamu hilang dari daftar gaji bulan depan. Paham?!"

"Paham, Pak!" jawab Bagas spontan, persis seperti prajurit yang sedang dibentak komandan.

Bulan-bulan pertama berjalan dengan ketegangan yang konstan. Bagas belajar bahwa Pak Baron adalah tipe bos yang "suka marah nggak jelas". Beliau bisa marah karena laporan telat satu menit, marah karena warna grafik di presentasi kurang cerah, bahkan pernah marah hanya karena ada lalat yang hinggap di meja kerjanya saat dia sedang bicara.

Namun, gaji yang masuk ke rekening Bagas setiap tanggal 25 adalah penawar luka yang sangat ampuh. Saat Bagas membawa Ibu dan Bapak makan di restoran mewah untuk pertama kalinya, melihat mereka memesan menu tanpa melihat harga di sebelah kanan, rasa sakit hati Bagas karena dibentak Pak Baron seolah menguap.

"Gas, kamu di kantor nggak apa-apa, kan? Kok Ibu lihat badan kamu agak kurus, tapi dompet kamu yang gemuk?" tanya Bapak sambil mengunyah steak yang dagingnya sangat lembut.

Bagas tertawa lebar. "Biasa Pak, tekanan kerja. Tapi tenang aja, bos Bagas itu orangnya... ekspresif. Dia kalau bicara emang harus pakai urat biar suaranya kedengaran."

Bagas bertahan. Satu tahun berlalu. Ia sudah mulai terbiasa dengan "nyanyian" Pak Baron di pagi hari. Ia jadi tahu trik-trik menghindar: kalau Pak Baron jalannya sudah cepat dan mukanya menekuk, segera pura-pura sibuk di toilet atau pergi ke gudang.

Tabungan Bagas mulai menumpuk. Ia sudah bisa memperbaiki atap rumah yang bocor, membelikan Bapak kacamata baru yang mahal, dan mulai mencicil tabungan untuk "Misi Menara Eiffel".

Namun, memasuki bulan ke-18, ketahanan mental Bagas mencapai titik jenuhnya. Pak Baron semakin menjadi-jadi. Suatu sore, saat Bagas sudah bekerja lembur demi menyelesaikan proyek besar, Pak Baron datang dan menyobek laporan Bagas di depan rekan-rekan lainnya hanya karena Bagas menggunakan font yang menurut Pak Baron "kurang berwibawa".

"KAMU INI LULUSAN SMK TAPI KERJA KAYAK ANAK PAUD! BEGINI SAJA TIDAK BISA?! APA SAYA HARUS SEKOLAHKAN KAMU LAGI?!" teriak Pak Baron, suaranya menggema ke seluruh lantai.

Bagas terdiam. Kali ini, ia tidak menunduk. Ia menatap potongan-potongan kertasnya yang berserakan di lantai. Ia teringat wajah Ibunya. Ibunya membesarkannya dengan penuh kelembutan, tidak pernah sekalipun membentaknya seperti itu. Ayahnya mendidiknya dengan harga diri, bukan untuk menjadi keset bagi orang lain hanya karena uang.

Rekan kerja Bagas, Mas Danang, berbisik padanys setelah Pak Baron pergi, "Sabar Gas, inget cicilan, inget tabungan."

Tapi bagi Bagas, ada sesuatu yang lebih mahal dari cicilan Rasa Hormat.

Esok paginya, Bagas datang dengan wajah paling tenang yang pernah ia miliki selama 1,5 tahun di sana. Ia tidak mengerjakan laporan. Ia menulis sesuatu di secarik kertas putih bersih.

Saat Pak Baron masuk dan mulai berteriak mencari berkas, Bagas berdiri dan berjalan menuju meja sang bos.

"Pak Baron, ini laporan yang Bapak minta," kata Bagas sambil menyerahkan surat pengunduran diri. Pak Baron tertegun. "Apa ini? Kamu mau mengancam saya?!"

"Tidak, Pak. Saya hanya menyadari satu hal. Uang Bapak bisa membeli tenaga saya, waktu saya, bahkan keahlian saya. Tapi uang Bapak tidak cukup kaya untuk membeli harga diri saya. Terima kasih atas gajinya selama ini, tapi saya lebih memilih makan nasi garam dengan hati tenang daripada makan steak sambil nunggu Bapak maki-maki setiap pagi."

Bagas berbalik, mengambil tasnya, dan melakukan hal yang selama ini hanya berani ia bayangkan di mimpi: Kabur dari penjara emas.

Ia keluar dari gedung itu saat matahari masih bersinar cerah. Ia tidak punya pekerjaan pengganti. Ia baru saja melepaskan gaji besarnya. Tapi saat ia menarik napas di luar gedung, rasanya oksigen yang masuk ke paru-parunya jauh lebih manis daripada AC di lantai 10 tadi.

"Ibu, Bapak... maaf ya, tabungan Eiffel-nya mungkin agak melambat dikit," gumam Bagas sambil menyalakan motornya. "Tapi tenang, anakmu sekarang sudah jadi manusia lagi." Bagas pulang ke rumah. Ia disambut oleh Ibu yang sedang menyiram bunga. Bagas menceritakan semuanya. Ia mengira Ibu akan marah atau kecewa karena ia kehilangan pekerjaan mapan.

Namun, Ibu justru tersenyum dan memeluknya. "Ibu nggak butuh anak sukses yang hatinya hancur, Gas. Ibu cuma butuh kamu. Rezeki itu luas, nggak cuma di bawah telunjuk orang galak itu."

Bagas pun kembali ke titik nol. Tapi kali ini, ia adalah Bagas yang lebih berpengalaman, lebih tangguh, dan lebih berani. Dan petualangannya mencari "Pekerjaan Impian" yang sesungguhnya gaji bagus, lingkungan baik, dan bos yang manusiawi baru saja memasuki babak paling seru.

1
Theresia Sri
keren, ceritanya urut, konfliknya bagus, tidak ada kata yang hanya berfungsi untuk menambah kata memenuhi kuota, keren tor, lanjutkan dengan karya-karya baru yang konsisten mengisi jiwa pembacanya dengan hal-hal yang positif
Theresia Sri
cerita yang bagus tor, ditunggu kelanjutannya 😍
Kal Ktria
sabar ya masi dalam proses update masi panjang kok🙏
BoimZ ButoN
dah tamat ni teh 😅
BoimZ ButoN
muantabs semangat thhooor 💪
Sri Jumiati
carí kerja susah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!