NovelToon NovelToon
My Lovely Uncle

My Lovely Uncle

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Zaara 26

Deskripsi

Bagi Keylara Putri—atau Lara—hidup seharusnya sederhana. Lulus SMA, dan kuliah di Jakarta . Namun semua berubah saat orang tuanya memutuskan pindah ke luar negeri demi ekspansi bisnis besar. Lara keras kepala menolak ikut. Pilihannya hanya satu: tinggal bersama Arka Pratama—pamannya yang dingin, tegas, dan terakhir ia temui saat masih SD. Pertemuan kembali itu membuat Lara dan Arka terlibat sebuah konflik yang melibatkan perasaan satu sama lain,apa yang akan terjadi jika mereka harus tinggal diatap yang sama???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gelisah

Arka kembali ke ruang rapat dengan langkah yang lebih berat dibanding saat ia keluar tadi.

Wajahnya tetap tenang, datar, profesional—tidak ada yang aneh bagi mata orang lain. Namun siapa pun yang mengenalnya cukup lama akan tahu, ada sesuatu yang sedang ia tahan. Bukan lelah. Bukan bosan. Melainkan emosi yang dipaksa tetap berada di tempatnya.

Ia duduk kembali di kursinya, melirik layar presentasi yang masih menyala, angka-angka dan grafik seolah berlomba meminta perhatiannya. Arka mengangguk sesekali, menyela dengan komentar seperlunya, menjawab pertanyaan dengan lugas. Semua berjalan seperti seharusnya.

Kecuali pikirannya.

Ponsel di saku jasnya terasa jauh lebih berat dari biasanya.

Tiga puluh panggilan tak terjawab.

Satu pesan yang tak kunjung dibalas.

Lara, kamu di mana?

Arka menarik napas dalam-dalam. Ia tidak menyukai perasaan ini—perasaan tidak tahu, tidak bisa menjangkau, tidak punya kendali. Ia lebih membenci kenyataan bahwa kegelisahan ini muncul bukan karena tanggung jawab semata, melainkan sesuatu yang jauh lebih personal.

“Tenang,” gumamnya pelan, nyaris tak bersuara.

“Dia bukan lagi anak kecil.”

Namun bayangan Lara tertawa bersama pemuda itu kembali menyelinap tanpa permisi. Cara mereka berdiri terlalu dekat. Cara Lara terlihat nyaman.

Arka mengepalkan tangannya di bawah meja.

Rapat akhirnya ditutup, tetapi ketegangan di dada Arka tidak ikut mereda.

Di tempat lain, sore mulai merambat perlahan menuju malam.

Lara dan Axel akhirnya keluar dari salah satu toko mainan, masing-masing membawa kantong belanja. Axel tampak puas, sementara Lara memeluk boneka capybara besar yang hampir menutupi setengah tubuhnya.

“Ini gede banget,” keluh Lara sambil tertawa. “Ponakanmu nggak ketakutan, kan?”

“Harusnya nggak,” jawab Axel santai. “Kalau takut, ya aku yang dimarahin.”

Mereka berjalan menuju area parkiran terbuka di sisi luar gedung mall—bukan basement kali ini. Angin sore menyapa wajah mereka dengan lembut. Setelah berkeliling hampir seluruh gedung mall dari ujung ke ujung, kaki Lara mulai terasa pegal.

“Duduk sebentar yuk,” ajak Lara.

Axel mengangguk. Mereka duduk di bangku taman kecil di tepi area parkir, di bawah pepohonan yang mulai meranggas. Lara menyandarkan punggungnya, meletakkan boneka capybara di pangkuannya seperti anak kecil yang kelelahan.

“Hari ini capek tapi seru,” katanya polos.

Axel tersenyum. “Kamu emang gampang bahagia, ya.”

Lara mendengus. “Kenapa, iri?”

Sedetik kemudian, seolah baru teringat sesuatu, Lara merogoh tasnya.

“Eh… HP.”

Begitu layar ponselnya menyala, senyum Lara langsung memudar.

Matanya membelalak.

Puluhan notifikasi memenuhi layar.

Panggilan tak terjawab. Pesan masuk.

Nama yang sama berulang-ulang. Paman Arka.

Jantung Lara berdegup keras. Tenggorokannya mendadak kering.

“Tiga puluh…?” gumamnya tak percaya

Notif itu sudah ada sejak dua jam yang lalu.

Lara membeku. Perasaan bersalah datang menubruk tanpa ampun. Tangannya gemetar saat ia menekan nama Arka, berniat menelepon balik secepat mungkin.

Namun sebelum panggilan itu tersambung—

Layar ponselnya mendadak gelap.

“Mati…?” Lara menekan tombol power berkali-kali. Tidak ada respons. Baterainya habis.

“Ya ampun…” Lara menutup wajahnya dengan satu tangan. “Kenapa harus sekarang, sih?!”

Axel menoleh, langsung menangkap perubahan ekspresi Lara. “Kenapa?”

Lara menurunkan tangannya, wajahnya tampak panik. “HP-ku mati. Dari tadi ada banyak panggilan masuk dari pamanku.”

Axel terdiam sesaat. Ada sesuatu di sorot matanya—bukan cemburu, bukan curiga—lebih seperti sadar bahwa ia sedang berdiri di wilayah yang sensitif.

“Kamu mau langsung pulang?” tanyanya hati-hati.

Lara mengangguk cepat. “Iya. Kayaknya…”

Axel berdiri lebih dulu, melirik jam di pergelangan tangannya. Senja sudah berganti dengan langit yang mulai menggelap.

“Kita pulang, yuk,” ucapnya akhirnya.

Lara mengangguk, tapi begitu ia berdiri dan memeluk kembali boneka capybara besar di tangannya, Axel baru menyadari satu hal penting.

Boneka itu… kebesaran.

Axel menghela napas pelan, menatap boneka itu sebentar, lalu menatap Lara yang terlihat sama sekali tidak merasa bersalah.

(Kenapa tadi nggak kepikiran, sih…) batinnya.

(Tapi ya… ini kan Lara yang milih.)

“Gimana ini?” Axel mengangkat bahu. “Kalau langsung aku antar kamu pulang, aku kayaknya nggak bisa bawa motor dengan aman.”

Lara ikut memperhatikan boneka itu, lalu terkekeh kecil. “Iya juga.”

Mereka terdiam sejenak, lalu hampir bersamaan Lara berkata, “Ke rumah kamu dulu aja.”

Axel menoleh. “Hah?”

“Kita taruh bonekanya di rumah kamu dulu,” lanjut Lara santai, seolah itu keputusan paling logis di dunia. “Abis itu baru kamu antar aku pulang.”

Axel mempertimbangkannya sebentar, lalu mengangguk. “Oke. Itu… masuk akal.”

Tanpa banyak kata lagi, mereka melangkah menuju motor Axel.

1
Sia Zara
Thank you🙏
Retno ataramel
vote berhasil mendarat untuk kakak author
anggita
lewat ng👍like aja. iklan☝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!