Dalam dunia bisnis kelas atas, pernikahan bukan tentang cinta, melainkan tentang penaklukan. Maximilian Alfarezel adalah pria yang terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan melalui tekanan dan kalkulasi dingin. Namun, Vivien bukan sekadar pion yang mudah digerakkan. Di balik pembawaannya yang tenang dan aristokratis, Vivien menyimpan api dendam atas kematian misterius ayahnya yang ia yakini melibatkan keluarga Maximilian.
Tinggal dalam satu atap sebagai dua musuh, mereka terjebak dalam permainan psikologis yang berbahaya. Maximilian berusaha mematahkan harga diri Vivien dengan dominasi dan obsesi yang menyesakkan, sementara Vivien menggunakan kecerdasan mentalnya untuk memancing sisi kemanusiaan Maximilian yang paling rapuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DEBU JAKARTA DAN RAHASIA BRANKAS TUA
Suara mesin jet pribadi Alfarezel Group menderu rendah, menciptakan vibrasi konstan yang merambat melalui lantai kabin yang dilapisi karpet wol tebal. Di luar jendela oval kecil itu, awan putih bergulung-gulung seperti kapas yang terbakar oleh cahaya matahari pagi, namun bagi Vivien Aksara, pemandangan itu terasa seperti tabir yang menyembunyikan jurang maut. Di depannya, Maximilian duduk dengan gaya tenang yang selalu membuatnya tampak seperti penguasa semesta. Pria itu tidak membaca laporan, tidak menyentuh tabletnya; ia hanya menatap Vivien dengan mata yang seolah-olah mampu membedah setiap lapisan kebohongan di dalam kepalanya.
Setelah perjalanan berjam-jam dari Melbourne, mereka akhirnya memasuki ruang udara Indonesia. Jakarta, kota yang pernah menjadi rumah bagi Vivien, kini tampak seperti medan perang dari ketinggian sepuluh ribu kaki. Hutan beton yang diselimuti polusi kelabu itu seolah sedang menunggu kepulangannya untuk memberikan satu lagi luka yang tak akan pernah sembuh.
"Kau terlihat pucat, Vivien," suara Maximilian memecah keheningan kabin. Suaranya rendah, nyaris tenggelam oleh deru mesin, namun tetap memiliki ketajaman yang cukup untuk membuat Vivien tersentak. "Apakah kau takut menghadapi kenyataan bahwa rumah yang kau rindukan sebenarnya hanyalah sarang pengkhianat?"
Vivien menarik napas panjang, mencoba mengisi paru-parunya yang terasa menyempit. "Aku tidak takut pada kenyataan, Max. Aku hanya takut pada caramu mendistorsi kenyataan itu. Kau pikir dengan menunjukkan satu rekaman usang, kau bisa menghapus dua puluh tahun kenanganku tentang Ayah?"
Maximilian menyeringai—sebuah ekspresi yang lebih menyerupai tantangan daripada senyuman. "Dua puluh tahun adalah waktu yang cukup lama untuk membangun sebuah topeng yang sempurna, Sayangku. Ayahmu adalah aktor yang lebih hebat dari siapa pun di panggung teater. Dan kau... kau adalah penonton setianya yang paling tertipu."
Pesawat mulai melakukan manuver turun. Vivien merasakan tekanan di telinganya, sebuah sensasi fisik yang sejalan dengan tekanan batin yang ia rasakan. Begitu roda pesawat menyentuh landasan pacu Bandara Halim Perdanakusuma yang eksklusif, Vivien menyadari bahwa pelariannya telah berakhir. Ia tidak lagi di Melbourne yang dingin dan berjarak; ia berada di tanah di mana darah keluarganya dan keluarga Maximilian pertama kali bercampur dalam ambisi yang busuk.
Begitu pintu pesawat terbuka, udara panas dan lembap Jakarta menyergap mereka. Bau khas kota ini—campuran antara debu jalanan, asap kendaraan, dan sisa hujan semalam—masuk ke dalam indera penciuman Vivien, membangkitkan memori masa kecil yang kini terasa pahit. Di bawah tangga pesawat, barisan mobil SUV hitam antipeluru sudah menunggu. Gideon berdiri di sana, mengenakan setelan jas hitam dengan kacamata gelap, wajahnya sekaku patung marmer.
"Semua sudah siap, Tuan," lapor Gideon singkat saat Maximilian dan Vivien menuruni tangga. "Kediaman Aksara sudah dikosongkan sesuai instruksi. Tim keamanan kita sudah mengamankan setiap sudut. Tidak ada yang bisa masuk atau keluar tanpa seizin Anda."
Maximilian mengangguk kecil. Ia menggandeng tangan Vivien, sebuah gerakan yang terlihat protektif bagi mata luar, namun Vivien merasakannya sebagai borgol yang tak kasat mata. Mereka masuk ke dalam mobil, dan iring-iringan itu segera membelah kemacetan Jakarta menuju kawasan Menteng, tempat di mana mansion keluarga Aksara berdiri dengan angkuh.
Di dalam mobil, Vivien menatap jalanan Jakarta yang ia kenal baik. Melewati Bundaran HI, gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi seolah-olah sedang menghakiminya. Ia teringat masa-masa ia sering keluar rumah dengan supir pribadinya, berbelanja di butik-butik mewah, atau sekadar minum kopi bersama teman-teman sosialitanya. Semua itu terasa seperti kehidupan orang lain sekarang. Kehidupan yang telah mati.
"Apa yang akan kau lakukan jika brankas itu tidak berisi apa yang kau cari?" tanya Vivien pelan, matanya tetap menatap keluar jendela.
"Itu tidak mungkin," jawab Maximilian tanpa ragu. "Ayahmu adalah pria yang sangat teliti. Dia tidak akan memusnahkan dokumen sepenting itu karena dia tahu, suatu saat nanti, dokumen itu bisa menjadi alat tawar-menawar terakhirnya jika posisinya terdesak. Dia hanya menyembunyikannya di tempat yang paling dekat dengannya, tempat yang dia pikir paling aman karena hanya darahnya yang bisa membukanya."
Mobil mereka akhirnya berbelok memasuki gerbang besi besar yang dihiasi ukiran huruf 'A' yang rumit. Mansion keluarga Aksara tampak sunyi. Taman yang biasanya rapi kini mulai ditumbuhi rumput liar di beberapa sudut, memberikan kesan bangunan yang sedang berduka. Saat Vivien turun dari mobil, ia merasakan gelombang emosi yang menghantam dadanya. Ini adalah rumah di mana ia tumbuh besar. Ini adalah tempat di mana ia percaya bahwa dunia ini adil.
Maximilian menuntunnya masuk. Ruang tamu yang luas itu ditutupi kain-kain putih pada furniturnya, memberikan kesan seperti barisan hantu di tengah ruangan yang remang. Suara langkah kaki mereka di atas lantai parket jati yang mahal terdengar seperti dentuman jantung yang gelisah.
"Naiklah ke ruang kerja ayahmu," perintah Maximilian.
Vivien menaiki tangga kayu yang melingkar, setiap anak tangganya seolah membisikkan rahasia lama. Mereka sampai di depan sebuah pintu kayu ek yang tebal. Ruang kerja ayahnya. Maximilian membuka pintu itu, dan bau cerutu tua serta wangi buku-buku lama segera menyapa mereka. Ruangan ini masih sama seperti saat ayah Vivien terakhir kali menggunakannya, sebelum ia dilarikan ke rumah sakit.
Maximilian berjalan menuju sebuah lukisan cat minyak besar yang menggambarkan pemandangan pegunungan di Jawa Barat. Ia menggeser bingkai berat itu ke samping, memperlihatkan sebuah panel baja modern yang tertanam di dinding. Sebuah brankas biometrik dengan sistem keamanan paling mutakhir.
"Ini dia," bisik Maximilian, matanya berkilat karena gairah kemenangan yang tertahan. "Tempat di mana ayahmu menyimpan semua kebohongannya."
Vivien melangkah maju. Tangannya gemetar. Ia menatap pemindai retina dan bantalan sensor sidik jari di depannya. Di dalam sana, mungkin terdapat kebenaran yang akan menghancurkan citra ayahnya selamanya, atau mungkin sesuatu yang lebih buruk lagi.
"Lakukan, Vivien. Buka pintunya," suara Maximilian terdengar seperti bisikan iblis di telinganya.
Vivien menempelkan ibu jarinya pada sensor. Cahaya merah memindai sidik jarinya. Kemudian, ia mendekatkan matanya ke lensa sensor retina. Terdengar bunyi klik elektronik yang halus, diikuti oleh desisan udara yang keluar dari segel brankas. Pintu baja yang berat itu perlahan-lahan terbuka, mengungkap rak-rak kecil di dalamnya.
Maximilian tidak sabar. Ia langsung merogoh ke dalam dan menarik sebuah amplop kulit berwarna cokelat tua yang sudah berdebu. Ia membukanya dengan tangan yang sedikit tidak stabil. Di dalamnya terdapat sebuah dokumen bertanda tangan asli Alaric Alfarezel dan Aksara, lengkap dengan segel notaris internasional yang sah.
Maximilian membaca setiap barisnya dengan teliti. Wajahnya yang semula tegang perlahan-lahan berubah menjadi sebuah ekspresi yang sulit diartikan—antara puas, sedih, dan amarah yang mendalam.
"Ini dia..." Maximilian menunjukkan dokumen itu pada Vivien. "Lihat tanggalnya. Dua hari sebelum ayahku tewas. Dokumen ini menyatakan bahwa seluruh aset Aksara Group dijaminkan kepada Alfarezel Group sebagai bentuk pelunasan hutang budi dan investasi masa depan. Ayahmu tidak hanya membunuhnya, Vivien. Dia mencuri masa depanku."
Namun, saat Maximilian sedang asyik dengan dokumen itu, Vivien melihat sesuatu yang tertinggal di dasar brankas. Sebuah kotak beludru hitam kecil yang tampak sangat usang. Vivien mengambilnya dengan jari-jarinya yang gemetar. Ia membukanya.
Di dalamnya bukan perhiasan atau dokumen. Hanya ada selembar foto lama yang sudah menguning di bagian pinggirnya. Foto itu memperlihatkan dua orang pria muda—Aksara dan Alaric—sedang tertawa bersama sambil memegang gelas bir di sebuah balkon yang menghadap pelabuhan. Di belakang foto itu terdapat tulisan tangan yang sangat familiar bagi Vivien.
"Untuk Alaric, saudaraku. Jika waktu memisahkan kita, biarlah anak-anak kita yang menyatukan kembali apa yang kita bangun dengan darah dan air mata. Benang merah ini tidak boleh putus."
Vivien terisak. "Max... lihat ini."
Maximilian mengambil foto itu dari tangan Vivien. Saat ia membaca tulisan di belakangnya, tubuh pria itu menjadi kaku. Kebencian yang selama ini menjadi bahan bakar hidupnya seolah-olah baru saja dihantam oleh kenyataan yang lebih rumit.
"Kenapa dia menulis ini jika dia berniat membunuh ayahmu?" tanya Vivien di sela isak tangisnya. "Kenapa dia menyebutnya 'saudara'?"
"Karena ayahmu adalah pria yang penuh dengan kontradiksi, Vivien!" bentak Maximilian, namun suaranya terdengar tidak seyakin sebelumnya. Ia meremas foto itu di tangannya. "Sentimen tidak mengubah fakta! Fakta bahwa ayahku mati karena instruksinya!"
Tiba-tiba, suara tembakan terdengar dari lantai bawah, diikuti oleh suara kaca yang pecah dan teriakan para pengawal. Gideon segera muncul di ambang pintu dengan senapan yang sudah terkokang.
"Tuan! Kita diserang! Mereka melompati pagar belakang. Sepertinya pihak yang di gudang Melbourne tadi sudah sampai ke Jakarta lebih cepat dari yang kita duga!"
Maximilian segera menyambar lengan Vivien, menariknya ke lantai agar terhindar dari kemungkinan peluru nyasar yang menembus jendela. "Bawa dokumen itu! Jangan biarkan mereka mengambilnya!"
Vivien mendekap amplop cokelat dan kotak beludru itu erat-erat ke dadanya. Ruang kerja yang tenang itu kini berubah menjadi zona perang. Debu-debu Jakarta yang masuk melalui ventilasi kini bercampur dengan bau mesiu kembali.
"Max, kita terjebak!" teriak Vivien saat melihat melalui celah pintu bahwa lorong sudah dipenuhi asap dari granat asap yang dilemparkan penyerang.
Maximilian menatap Vivien, lalu menatap foto di tangannya yang sudah remuk. Untuk pertama kalinya, Vivien melihat keraguan di mata sang predator.
"Gideon! Ledakkan jalur darurat di balik lemari buku! Kita tidak keluar lewat pintu depan!" perintah Maximilian.
Di tengah guncangan ledakan kecil yang membuka jalur rahasia di dalam rumahnya sendiri, Vivien menyadari bahwa rahasia brankas ayahnya belum sepenuhnya terungkap. Ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar pencurian saham. Ada sebuah konspirasi yang melibatkan ayah mereka berdua melawan pihak ketiga yang kini sedang mencoba membunuh mereka.
Benang merah itu memang berlumuran darah, namun mungkin darah itu bukan berasal dari pengkhianatan di antara kedua ayah mereka, melainkan dari sebuah pengorbanan yang disalahartikan selama sepuluh tahun.