NovelToon NovelToon
Guru ABK Dikejar 2 Duda

Guru ABK Dikejar 2 Duda

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Ibu Pengganti / Duda
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Inna Kurnia

Karena terus diteror ibunya supaya tidak lama-lama menganggur, Aditi nekad terima tawaran tetangganya, Baskara, untuk jadi guru ABK. Padahal ilmunya, NOL besar.
Baskara adalah cinta monyet Aditi, seorang duda beranak satu bernama Malini. Dari awal, naksir tipis-tipis sama Aditi, tapi jadi baper berat setelah Malini nempel seperti perangko pada Aditi. Pokoknya Aditi harus jadi ibu sambung Malini, pikir Baskara.
Murid pertama dan satu-satunya Aditi bernama Kavi. Penyandang autis yang cuma responsif pada Aditi. Membuat ayahnya, Sagara, bucin berat. Bagi Sagara, Aditi adalah kunci harapan untuk hidup Kavi dan dirinya.
Jadilah Baskara dan Sagara bersaing untuk mendapatkan perhatian dan cinta Aditi.
Masalahnya, Baskara dan Sagara bersahabat.
Apakah Aditi berhasil menjadi guru ABK?
Bagaimana nasib persahabatan Baskara dan Sagara?
Siapa yang Aditi pilih, sang duda cerai, Baskara atau sang duda mati, Sagara?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inna Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Demi Kavi

Sagara terduduk di satu ruangan di rumahnya. Satu ruangan yang berwarna lembut, warna pastel, ungu muda. Nuansa berbeda yang berbeda dari rumahnya secara keseluruhan.

Sagara memeluk baju berwarna ungu. Ia lingkarkan lengan kekarnya hingga baju itu kusut. Harum parfum lembut menguar dari pakaian itu.

"Vita, akan aku usahain Kavi sembuh. Kamu jangan khawatir."

*

*

"Saya ikut nggak Tuan, ke terapi Den Kavi?" tanya Tinah, pengasuh Kavi sedari lahir.

"Nggak usah Bu. Kavi sekarang udah nggak gampang rewel lagi. Doain lancar ya terapi hari ini." Sagara meneguk kopi hitam.

"Iya, Tuan. Selalu, selalu saya doain."

Sagara melihat keadaan Kavi melalui kaca spion. Aman. Seperti yang seharusnya.

Sagara mengeratkan cengkeramannya pada lingkar kemudi. Ia teringat kata-kata Baskara kemarin sore. Sahabatnya yang sok tahu, sok paling memahami isi hatinya.

Baskara tak akan pernah mengerti apa yang dirasakan Sagara. Perpisahan yang dialami Baskara adalah sebuah hal terencana. Didasari oleh kesalahan Almira, bukan Baskara.

Berbeda dengan Sagara. Perpisahan yang harus ia hadapi adalah perpisahan tragis yang tak ia inginkan. Terjadi karena kesalahannya.

Anak yang dimiliki Baskara adalah anak normal. Tak ada kekhawatiran bagi Baskara. Anaknya bisa tertawa, bisa mengobrol, bisa tersenyum lebar, bisa memegang buah, bisa menekan jepitan. Bisa melakukan semua hal sesuai perkembangan usia.

Sedangkan Sagara, semua hal yang ia sebutkan di atas perlu ia khawatirkan. Perjuangan Sagara bagi anaknya tidak bisa disamakan dengan perjuangan Baskara.

Ketika perjuangan yang melelahkan itu menemukan oase, Baskara malah mengancam agar tak mempermainkan oase itu. Siapa yang mau mempermainkan?

Tidak ada permainan jika menyangkut Kavi. Sagara hanya menjaga oasenya, Aditi, dari orang-orang macam Baskara.

Orang yang bisa membuat fokus Aditi berubah atau bertambah. Fokus Aditi hanya boleh untuk Kavi, dan tentu saja dirinya. Demi kesembuhan Kavi.

*

*

"Ha-lo… Ka-vi… a-pa… ka-bar… sa-yang?" Aditi menyapa Kavi dengan ritme ajaibnya. Ia meremas halus lengan Kavi.

Kavi menatap lama pada Aditi. Ia kembali menekan hidung Aditi. Aditi meringis, Sagara tergelak.

"Papanya Kavi nggak disapa nih?" Sagara menaik-turunkan alisnya.

Pengen sih somse, tapi takut kebiasaan ah, huhuhu...

"Bapak seger buger gitu, bisa ngetawain orang lagi, pasti sehat." Sagara kembali tertawa mendengar ucapan Aditi. Wajah datar yang ditunjukkan sang terapis malah terlihat lucu di matanya.

Aditi menggamit lengan Kavi dan membimbingnya menuju sofa. Ia peluk erat Kavi. Kavi bersandar manja. Sagara tersenyum, bahagia.

"Geser Diti." Sagara memposisikan diri di sofa di ruangan Baskara. Sofa kuning moster yang kini kerap ia duduki.

Kavi yang kini berada di samping tangan sofa, membuat Aditi duduk bersebelahan dengan Sagara. Aditi memicingkan mata melihat paha mereka hampir bersentuhan.

Aditi mengambil tasnya yang berada di atas meja. Ia selipkan di antara pahanya dan paha Sagara. Sagara mengerutkan alisnya.

"Padahal enakan tanpa tas lo, Diti," goda Sagara. Aditi mendelik.

"Lantai luas, Pak. Gelar matras gih sana, lebih enak." Sagara terkekeh.

"Tapi kamu ikut ke matras ya. Yang bikin enak kan ada kamunya." Sagara kembali menggoda Aditi yang merengut. Ia ingin melihat gadis itu tersenyum.

"Bapak, lupa nggak solat Subuh ya? Kesurupan lagi tuh." Aditi berkata dengan wajah malas. Sagara terbahak.

Apa sih lo somse? Modus mulu dari kemaren. Bikin bahaya. Jadi deg-degan nih gue.

Aditi memilih mengabaikan Sagara. Ia lebih memilih untuk memeluk Kavi. Sagara menatap dalam pada keduanya.

Baskara masuk ke dalam ruangan kerjanya. Ia terhenyak melihat pemandangan di sofa.

"Hhmm, Diti aku pergi dulu ya sama Dara. Kamu nanti pulang sama aku lagi ya." Baskara meremas bahu Kavi dan tersenyum pada anak sahabatnya itu. Kavi menatap Baskara, sekilas.

"Iya, Mas. Ati-ati ya." Aditi tersenyum. Baskara tersenyum, lebih lebar. Sagara mencebikkan bibir melihatnya.

"Gue jalan Gar," pamit Baskara. Gara membalas hanya dengan menggumam.

"Kamu suka Baskara ya?" tanya Sagara.

"Apa hubungannya pertanyaan Bapak sama terapi Kavi?"

Dekatnya posisi mereka membuat Sagara dapat merasakan hangat tubuh Aditi. Harum vanila juga dapat ia hirup. Ia suka. Manis, seperti Aditi.

"Yaa, pengen tau aja." Sagara mengulurkan tangannya di bagian atas sofa.

"Ih Kavi, bapak kamu kepo." Aditi bicara sambil memutar-mutar badannya saat memeluk erat Kavi.

Sagara tersenyum. Ia ingin Kavi merasakan pelukan semacam itu, lebih sering lagi.

Terapi kedua dimulai. Suci dan Sagara sudah bersiap di ruang observasi. Fokus hari ini adalah pendalaman terapi pertama.

Terapi diawali Kavi distimulus dengan joint attention oleh Aditi. Ia meminta Kavi mengambil bola berwarna, Kavi dapat melakukan dengan benar.

Setelah permainan bola selesai, Aditi memperlihatkan mobil-mobilan kecil berwarna merah pada Kavi. Ia gulirkan rodanya di telapak tangan Kavi.

Mobil-mobilan itu kemudian Aditi masukkan ke dalam wadah beras berwarna.

"Ka-vi... ca-ri... mo-bil... da-lam... wa-dah."

Kavi menatap Aditi lama. Aditi tuntun tangan Kavi masuk ke dalam kotak berisi beras. Wajah sang anak masih sedikit meringis saat butiran beras itu menyelinap di antara sela jari, namun ia tak lagi menarik tangannya menjauh.

Aditi kembali memberikan instruksi mencari miniatur mobil dalam wadah itu. Aditi tuntun tangan Kavi memutar beras. Mencari.

Tangan kecil Kavi mulai meraba, mencari miniatur mobil merah yang sengaja Aditi sembunyikan di dasar wadah. Tangan itu berhasil merasakan roda yang tadi berputar di telapaknya.

Kavi angkat mobil mini itu dan memberikannya pada Aditi. Sang terapis bersorai dan memuji Kavi. Kavi menatap Aditi dan selarik senyuman kembali muncul.

Suci dan Sagara terkesiap. Mereka tersenyum haru melihat kembali ada kemajuan di terapi yang kedua. Sagara bahkan menggigit bagian dalam bibir bawahnya. Menahan pekik bahagia.

Stimulus terakhir, jepitan baju. Aditi membimbing Kavi memasang jepitan di pinggiran ember. Cukup lima jepitan saja. Empat jepitan berhasil terpasang dengan bantuan Aditi.

Jepitan terakhir, Aditi meminta Kavi memasang sendiri. Dengan tangan gemetar Kavi berhasil melakukannya.

Terpasang dengan miring dan hampir copot. Kavi belum bisa menekan sempurna sehingga mulut jepitan tidak maksimal menjepit. Tak mengapa, Kavi tetap dianggap berhasil.

Aditi kembali bersorai dan memuji Kavi. Ia peluk Kavi dan mencium puncak kepala sang anak. Kavi memutar tubuhnya dan membalas memeluk Aditi.

Sagara memejamkan mata. Oasenya telah memuaskan dahaganya akan harapan pada Kavi. Oasenya, Aditi, tak akan ia lepaskan.

Sagara membuka pintu penghubung. Ia dan Suci menghampiri Aditi dan Kavi. Kavi belum melepaskan pelukannya.

"Diti, good job." Suci memuji.

Pujian Suci diucapkan dalam wajah datar, tapi Aditi tahu itu tulus. Suci selalu obyektif. Jika benar ia katakan benar. Jika salah ia katakan salah, dengan bumbu emosi.

"Terima kasih, Kak. Berkat bimbingan Kakak juga." Aditi tersenyum manis. Sagara jadi ikut tersenyum melihatnya.

Suci berpamitan karena masih ada yang harus ia kerjakan. Meninggalkan Sagara dan Aditi yang terikat oleh Kavi.

"Diti, terima kasih. Seandainya saya bisa meluk kamu, saya peluk kamu deh."

Hhmm, mulai deh si somse... Sok modus, bikin hati gue repot..

"Alhamdulillah nggak bisa ya Pak," seloroh Aditi. Sagara tersenyum, lagi dan lagi.

Mereka berjalan menuju lift. Kavi masih menempel bak koala pada Aditi. Tak bertemu satu hari membuatnya masih ingin melekat pada terapis eksklusifnya itu.

Sagara membukakan pintu bagi Aditi dan Kavi. Ternyata Kavi telah tertidur dalam perjalanan menuju ruangan Baskara. Wajar, terapi adalah proses yang melelahkan bagi Kavi.

Aditi memposisikan Kavi tertidur menggunakan bantal sofa. Wajah polos nan tampan Kavi tampak begitu tenang.

Aditi duduk di sisa permukaan sofa. Ia mengambil ponselnya. "Pak, saya ngerjain resume dulu ya. Buat besok," izin Aditi.

Sagara menarik bangku di depan meja kerja Baskara ke sebelah sofa. "Iya. Saya temenin kamu kerja. Saya juga mau kerja." Sagara mengeluarkan tabletnya.

Ya Allah, mesti ya, kerjanya mepet gue kayak gini. Anaknya sih pantes, bapaknya nggak cocok ama gaya tengilnya.

Dipepet mulu, hati gue kudu kuat ini, kuat-kuat... Jangan baper, inget kata Ayah, jangan gampang baper sama duda, huhuhu...

Sagara mulai bekerja. Ia melirik Aditi yang tampak serius. Ia pandangi tetangga Baskara itu. Saking seriusnya, Aditi tak menyadari aksi Sagara.

Sagara memindai wajah Aditi. Wajah bulat telur berkulit cerah dengan semburat merah. Ada polesan kosmetik tipis di atasnya. Tidak berlebihan sama sekali.

Alisnya sedang, tidak tebal juga tipis. Matanya bulat dengan bola mata berwarna hitam. Pipi segar agak berisi, pas, menurut Sagara.

Dasar tukang makan bakso. Sagara tersenyum mengingat cara Diti memakan bakso. Selalu lahap.

Hidungnya sedang. Tak terlalu mancung tapi pantas di wajahnya. Bibirnya cenderung tebal berwarna merah muda.

Sagara memandang agak lama di sana, kemudian menipiskan bibirnya sendiri. Raut wajah Aditi ini dominan ceria namun kadang merengut, terutama jika bersamanya.

Tak apa, menurut Sagara. Ia anggap itu tantangan. Spesial diberikan padanya. Lihat saja, nanti akan menjadi tawa malu-malu.

Tiba-tiba Aditi menoleh ke arah Sagara. Menyadari Sagara sedang menatapya intens, Aditi langsung menundukkan wajahnya. Sagara tersenyum geli.

Sepertinya malu-malu mulai muncul. Adrenalin Sagara jadi terpacu. Ingin melihat ekspresi malu-malu selanjutnya.

"Diti, pulangnya sama saya ya hari ini," ujar Sagara.

"Kasian Kavi sih Pak. Ntar cape."

"Iya, nanti saya anter Kavi pulang dulu. Bentar lagi. Biarin dia nyenyak dulu. Terus saya mampir ke kantor sebentar. Sorenya jemput kamu."

"Ih Bapak, repot amat. Nggak usah ah. Ada Mas Bas kok yang bakal anter saya balik."

"No, saya maunya saya yang anter kamu balik. Bukan yang laen. Apalagi Baskara. Mau ya?" Sagara menatap sambil tersenyum.

Si somse mulai deh tukang maksanya. Mana lembut banget sekarang ngomongnya. Ayah, Diti takut baper ini... Nggak kuaaat...

1
Tukang Ngunyah
ceritanya menarik buat betah baca
Inna Kurnia: Terima kasih Kak. Semoga cocok sampai tamat ya 🙏🏻
total 1 replies
falea sezi
nyimak moga bagus ampe ending
Inna Kurnia: terima kasih Kakak Falea. semoga cocok sampe tamat yaa 😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!