"tolong....."
"tolong kami..."
"lepaskan rantai inii..."
"toloongg!!!!"
Nadira Slavina, merupakan seorang gadis kota yang baru pindah ke kampung halaman sang nenek dengan ditemani sahabatnya Elsa. ia menempati rumah tua yang sudah turun temurun sejak nenek buyutnya dulu.
Nadira sendiri memiliki keistimewaan dapat melihat makhluk tak kasat mata yang ada di sekitarnya. dan bisakah mereka memecahkan misteri yang ada di rumah itu atau malah semakin terjebak dalam labirin misteri?
yuk, kepoin karya pertamaku dan bantu support ya teman-teman!✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vhinaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 11. kemarahan terpendam
flashback part 2
keesokan paginya, juragan Sapto tampak menyiapkan keperluan untuk perjalanannya ke gunung Kawi. Ia meminta Saruji suaminya mbok Minah untuk menemaninya.
awalnya, Saruji sempat menolak namun, juragan Sapto memberinya uang yang banyak untuk tutup mulut. dan mengancam Saruji jika tidak mengikutinya maka ia akan membuat hidup laki-laki itu susah.
Mau tak mau Saruji menyanggupi karena ia juga orang yang kurang mampu, hingga mendapat sogokan besar, ia mau menuruti kemauan juragan Sapto.
"mas mau kemana pagi-pagi ini?" tanya isterinya Saryati
"kamu jaga rumah ya sama Minah, mas mau ke kota sama Saruji" juragan Sapto tidak memberi tahu yang sebenernya kepada sang isteri karena ia belum tau pasti tentang makhluk yang ada di mimpinya
"ohh bukannya minggu kemarin udah kekota? Kok sekarang mau kesana lagi? biasanya juga sebulan sekali mas" tanya Saryati lembut
Juragan Sapto sering ke kota karena memiliki kost-kostan sepuluh pintu yang semuanya terisi. hingga itu bisa ia jadikan alasan untuk pergi ke gunung Kawi tanpa sepengetahuan sang isteri
"kemarin ada sedikit masalah, jadi mas masih mau memantau keadaan" ucap juragan Sapto meyakinkan
"baiklah, hati-hati ya mas" Saryati mencium tangan suaminya
Juragan Sapto menatap wajah sang isteri, ia sangat beruntung memiliki isteri yang patuh dan juga lembut. pernikahan mereka sudah berjalan selama dua puluh tahun dan dikaruniai seorang putra yang sekarang sedang kuliah dikota.
.
juragan Sapto dan Saruji telah sampai di kaki gunung Kawi. Juragan Sapto agak ragu karena ia hanya mengikuti mimpinya saja. Tapi ambisinya untuk menjadi orang terhormat dan kaya raya yang kekal membuatnya tak lagi takut dengan Allah.
"juragan, apa juragan yakin? Maksud saya itu hanya mimpi dan bagaimana jika itu hanya bunga tidur saja?" tanya Saruji yang takut jika tuannya benar-benar melenceng dari jalan lurus dan memilih jalan sesat
"kamu hanya perlu menemaniku Saruji! Apapun yang kamu lihat, cukup telan sendiri dan jangan sampai orang lain tahu termasuk anak isterimu!" ucap juragan Sapto dengan tegas dan tatapan tajam
"maafkan saya juragan" Saruji menunduk
mereka melanjutkan perjalanan hingga sampailah mereka dipuncak gunung Kawi. mereka sampai pukul enam petang, sebentar lagi pikir juragan.
"awas saja jika mimpi itu hanya bohongan aku susah payah pergi kesini dan membohongi Saryati" gumam Juragan Sapto
Saruji yang berada didekatnya hanya bisa diam. Ia sebenarnya sangat takut karena suasana disini benar-benar menakutkan. apalagi sekarang adalah waktu Maghrib
Saruji menegakkan tenda untuk tidur mereka berdua, dan mereka hanya membawa makanan nasi bungkus yang Sapto beli tadi siang.
Saat mereka baru selesai menyantap makan malam. Tiba-tiba angin bertiup kencang dan petir menyambar namun langit terlihat cerah hanya ada kabut tipis yang menyelimuti tempat itu.
Saruji melihat sekelebat bayangan besar yang berpindah-pindah dari satu tempat ketempat lain.
"juragan lihat itu, ada bayangan hitam" ucap saruji pelan
"hah? kamu benar! itu dia! Dia memang ada Saruji!" juragan Sapto terlihat sangat bahagia karena ternyata sosok yang ada didalam mimpinya memang benar-benar ada dan sebentar lagi keinginannya akan segera tercapai.
"hamba datang! Hamba datang tuanku!" teriak juragan Sapto dengan membungkukkan badannya ke arah bayangan itu
"hamba datang tuan! Hamba datang untuk tuanku!" seru juragan Sapto
Saruji hanya bisa mengintip dari balik pohon besar. Ia sangat tidak menyangka akan melihat sosok iblis yang sangat mengerikan
Sosok berbadan besar. wajahnya mengerikan dan memiliki tanduk seperti kerbau. dibelakang tubuhnya terdapat api yang menyala panas.
grrrhhh
"apa yang kamu inginkan saptooo?!!" suara sang iblis bergemuruh hingga siapa pun yang mendengar pasti akan merinding ketakutan
"hamba mendapat mimpi jika tuanku bisa mengabulkan semua keinginan hamba dan membuat kejayaan hamba kekal tuanku" ucap juragan Sapto hingga membuat iblis itu terbahak bahak
Hahahaha
"ya! aku akan mengabulkan keinginan mu asal aku juga mendapat suatu tebusan yang berharga!" ucap iblis itu
"dengan apa hamba harus menebusnya tuan?" tanya juragan Sapto
"Darah gadis yang masih suci!" juragan Sapto dan Saruji terkejut mendengar permintaan iblis itu
Bagaimana? bukankah itu sama saja menumbalkan orang yang tidak bersalah?
Saruji berharap juragan Sapto membatalkan niatnya dan segera kembali ke desa untuk melanjutkan hidup yang sudah seperti sekarang saja. tapi perkataan juragan Sapto selanjutnya membuat Saruji lemas .
"hamba akan berikan jika memang tuanku bisa membuat hamba dihormati semua orang dan senantiasa memiliki kejayaan yang abadi" ucap juragan Sapto yang tidak memikirkan konsekuensinya karena berurusan dengan iblis
"juragan! sudah juragan, jangan gadaikan keimanan juragan hanya untuk disegani orang! Bukankah semua warga desa mengormati juragan? Dan juragan adalah orang terkaya di kampung!" ucap saruji agak teriak karena jarak mereka yang sedikit jauh
juragan Sapto sedikit tersentak mendengar perkataan Saruji. dilubuk hatinya ia membenarkan ucapan Saruji. Memang semua warga menghormatinya dan dialah orang terkaya di kampung itu.
tapi, iblis didepannya itu tahu jika juragan Sapto mulai goyah. mengetahui itu, si iblis tak membiarkan mangsanya terlepas
"Dengar Sapto!! kekayaan mu akan segera sirna ketika anak yang kau banggakan melahirkan seorang putra yang akan menghabiskan seluruh hartamu!" ucap iblis itu
"apa?! Maksudnya cucuku sendiri?" tanya juragan Sapto
"ya! Dia akan menghabiskan seluruh hartamu dengan adiknya secara percuma dan sia-sia!"
"jika kamu ingin kekayaan mu kekal! Maka ikuti perintahku dan wujudkan semua keinginan mu" iblis itu tak menyerah ia terus membujuk juragan Sapto agar mau menjadi pengikutnya
"tidak juragan! Itu tidak benar!! Bukankah den Wijaya belum menikah? Iblis ini pasti berdusta!" ucap saruji
Iblis besar itu menggeram marah karena Saruji terus-menerus membujuk juragan Sapto agar berhenti. ia pun memerintahkan anak buahnya untuk menangkap Saruji dan membawanya kehadapannya
"aaaggghh tolong lepaskvyan aku!!! juragan tolong saya!!" teriak Saruji yang diseret tanpa iba oleh anak buah iblis itu
"jika kau ingin anak isterimu aman! Maka diamlah! Jika tidak aku akan meminta anak gadismu untuk ku hisap jiwanya!" ancam iblis itu yang membuat Saruji tertegun
Ia tidak akan membahayakan anak isterinya sendiri. akhirnya Saruji hanya diam dan pasrah melihat juragannya menyetujui perintah iblis. Saruji menyayangkan tindakan juragan Sapto namun ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Hari demi hari, bulan berganti dan sekarang sudah lima tahun juragan Sapto menjadi kepala desa di kampung Mereka.
Semua warga sangat menghormati juragan Sapto. apapun yang dilakukan juragan Sapto akan tampak sempurna Dimata para warga. hingga hilangnya gadis-gadis perawan dimalam bulan purnama pun cepat di atasi oleh juragan Sapto tanpa ada protes para warga.
Hingga bulan purnama yang kembali datang kali ini, juragan sapto kebingungan hendak menculik siapa. karena jika ia mencari mangsa maka akan mencari gadis kampung lain. Ini di kampung lain orang-orang mulai curiga karena penculikan selalu tepat pada bulan purnama.
Juragan Sapto tak ingin kecurigaan itu jatuh padanya. Hingga ia teringat dengan seorang gadis yang bekerja dirumahnya Tuti, anak Saruji dan Minah yang menginjak usia delapan belas tahun.
pada saat semua orang terlelap, juragan Sapto diam-diam keluar dari kamarnya dan berjalan mendekati kamar Tuti. Tuti dan mbok Minah serta Saruji memang tinggal dirumahnya karena bekerja disana.
Jurgan Sapto membekap Tuti dengan sapu tangan yang sudah di olesi obat bius. Ia segera membawa Tuti ke kamar pojok lantai dua dimana ia melakukan ritual. Tidak ada yang tahu kamar itu untuk apa karena juragan Sapto melarang semua orang memasuki kamar itu.
Juragan Sapto meletakkan Tuti di atas dipan yang sudah ditaburi bunga, ia menyalakan dupa dan kemenyan dengan membaca mantra.
Muncullah asap yang hitam pekat dan membentuk sesosok iblis mengerikan. Air liurnya menetes menatap mangsanya. Iblis itu menghampiri Tuti dan lidahnya langsung menancap di ubun-ubun tuti.
gadis tak berdosa itu terbangun dengan rasa sakit luar biasa dan terbebalak melihat makhluk mengerikan diatasnya
Aaaggghhhh
Sakiitttt
toloongg sakiittttt
juragan sapto tersenyum penuh kemenangan melihatnya karena setelah ini, kekayaan dan kejayaannya akan meningkat.
Tanpa ia sadari jika ada seseorang yang berlinangan air mata menyaksikan semua itu. matanya memerah memendam kemarahan. ia bertekad balas dendam kepada juragan Sapto karna sudah melakukan hal keji itu.
"aku akan menghancurkanmu Sapto! Akan ku habisi seluruh keturunanmu!"