NovelToon NovelToon
A Love That Grows

A Love That Grows

Status: tamat
Genre:Obsesi / CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Tamat
Popularitas:11.8k
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Yura, 23 tahun, adalah seorang wanita cerdas, cantik, dan tulus. Setelah kehilangan ayahnya yang selalu menjadi inspirasinya, Yura memutuskan untuk mewujudkan mimpi lama mereka membuka toko kue Prancis yang pernah ayahnya impikan.
Namun, langkahnya tak semulus yang ia kira. Di dunia bisnis, ia bertemu Arkan, CEO tajir, dingin, dan terlalu posesif. Pria yang selama ini menutup hati dari semua wanita tiba-tiba tertarik pada Yura bukan karena bisnis, tapi karena ketulusan dan keberanian yang jarang ia temui.
Pertemuan pertama mereka di restoran biasa berubah menjadi serangkaian kejadian tak terduga: mulai dari pertolongan Yura pada orang tua dan ibu hamil, hingga pertemuan bisnis yang membuat batas profesional mereka teruji.
Bisnis, mimpi, dan rasa kehilangan bercampur menjadi satu, ketika Yura harus memilih antara menjaga mimpinya, menghadapi masa lalunya, dan… menghadapi seorang pria yang mulai terlalu ingin memilikinya.
Apakah Yura akan menyerah pada bisnis dan mimpi ayahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 Panggilan Yang memaksa.

Arkan berdiri di depan meja kerjanya, menatap sebuah ponsel yang tergeletak di sana.

Layar retak di sudutnya.

Masih ada noda air mata yang sudah mengering.

Ponsel itu terjatuh semalam saat Yura mendengar kabar yang mengubah hidupnya.

Arkan mengingat jelas ekspresinya. Tatapan kosong itu. Tangis yang tidak bersuara.

Ia tidak mengambil ponsel itu dengan niat jahat. Ia hanya… memungutnya.

Dan sejak itu, benda kecil itu terasa berat di tangannya.

“Bagas,” panggil Arkan tanpa menoleh.

Asistennya masuk dengan langkah cepat.

“Iya, Pak.”

Arkan mendorong ponsel itu ke tepi meja.

“Antarkan ini ke rumahnya.”

Bagas terdiam sesaat. “Sekarang, Pak?”

“Iya,” jawab Arkan singkat.

“Jangan bilang dari aku. Bilang saja… tertinggal.”

Bagas mengangguk. “Baik.”

Namun sebelum Bagas berbalik pergi, Arkan menambahkan dengan suara rendah “Pastikan dia menerimanya langsung.”

Sore itu, hujan turun tipis.

Yura duduk di ruang tamu rumahnya, memeluk lutut. Rumah itu terlalu sunyi sekarang. Tidak ada suara batuk ayahnya. Tidak ada panggilan pelan dari balik pintu kamar.

Hanya diam.

Bel rumah berbunyi.

Yura tersentak kecil.

Ia berdiri pelan, seolah tubuhnya belum sepenuhnya kembali ke dunia.

Saat pintu dibuka, seorang pria berdiri di depan rapi, sopan, wajahnya asing tapi… entah kenapa terasa tidak nyaman.

“Selamat sore,” ucapnya. “Apakah ini rumah Nona Yura?”

Yura mengangguk pelan. “Iya.”

Pria itu mengulurkan sebuah ponsel.

“Ini milik Nona. Tertinggal.”

Yura menatap benda itu.

Dadanya langsung sesak.

Tangannya gemetar saat mengambilnya.

“Di mana… kamu menemukannya?”

Pria itu menunduk sopan.

“Di restoran. Kemarin malam.”

Yura terdiam. Restoran. Malam itu. Arkan.

“Siapa yang menyuruhmu?” tanyanya pelan, hampir berbisik.

Pria itu ragu sepersekian detik terlalu singkat untuk disadari orang biasa.

“Tuan yang menemukannya,” jawabnya akhirnya. “Beliau hanya ingin memastikan ponsel ini kembali.”

Yura menggenggam ponselnya erat-erat.

Tidak ada kata maaf.

Tidak ada pesan.

Tidak ada permintaan bertemu.

Hanya… dikembalikan.

“Terima kasih,” ucap Yura lirih.

Pria itu mengangguk.

Setelah itu, pria itu pergi.

Pintu tertutup kembali. Dan Yura berdiri lama di sana, menatap ponsel di tangannya.

Arkan duduk di ruang kantornya.

Lampu ruangan redup, hanya cahaya layar laptop yang menyorot wajahnya.

Ia baru saja menerima laporan dari asistennya.

Nama Yura muncul di layar, dengan keterangan kondisi keluarganya. Ayahnya meninggal.

Arkan menatap layar itu lama. Tidak sedih. Tidak bahagia. Hanya… tenang. Ia tidak bisa mengekspresikan apa yang ia rasakan.

Rasanya aneh. Sebuah ketertarikan baru, yang muncul bersamaan dengan rasa ingin mengontrol, mulai berdesir di dalam dirinya.

Ia menatap ponselnya.

Yura.

Dengan satu gerakan cepat, ia memanggil namanya.

“Hubungi dia. Sekarang,” ucapnya dingin pada asistennya.

Tidak ada ruang tawar. Tidak ada kata tolong.

Beberapa detik kemudian, ponsel Arkan berdering terhubung ke Yura.

Di seberang sana, suara Yura terdengar serak, pelan, dan penuh kehampaan.

Yura: “Halo… Pak Arkan?”

Arkan: Suaranya rendah, tetap dingin, tapi penuh intensitas.

“Datang. Sekarang. Aku ingin bertemu denganmu.”

Yura terdiam. Jantungnya berdetak cepat. Tangannya menggenggam ponsel.

Yura: “Aku… aku tidak bisa malam ini, Pak. Aku”

Arkan: Memotong dengan tenang tapi tegas.

“Tidak ada alasan. Pergi. Sekarang. Jangan membuatku menunggu.”

Senyum tipis, nyaris tidak terlihat, terbentuk di wajah Arkan. Bukan senyum hangat. Bukan senyum ramah. Itu senyum seorang pria yang… menandai sesuatu sebagai miliknya.

Yura terdiam, terperangah.

Malam itu, satu hal jelas: bukan lagi kontrak, bukan lagi urusan bisnis semata ini menjadi urusan yang mengikat Yura ke dunia Arkan.

Dan Arkan? ia tidak akan membiarkan siapa pun atau apa pun menghalangi perhatiannya..

Arkan sudah berada di restoran sejak pukul 19.00.

Meja di tengah ruangan yang sepi itu hanya diisi satu lampu gantung yang hangat tapi temaram. Kursi-kursi lain kosong.

Ia duduk di kursi yang sama sejak awal, tangan terkepal di atas meja, tatapan lurus ke pintu masuk.

Jam berjalan.

19.30.

20.00.

20.30.

Tidak ada Yura.

Arkan menekan jemarinya ke meja, napasnya pelan tapi teratur. Biasanya ia tidak suka menunggu. Biasanya ia bisa menahan diri.

Tapi malam ini berbeda. Setiap detik terasa seperti duri yang menusuk kesabarannya.

Setiap langkah kaki yang terdengar di lantai restoran seakan bukan milik Yura.

Ia menegakkan punggungnya, menyalakan kembali ponsel. Layar kosong tidak ada pesan, tidak ada panggilan.

Dia menolak.

Dia benar-benar menolak datang.

Arkan menelan napas. Tatapannya tetap dingin, tetapi sedikit ketegangan muncul di sudut matanya. Ia memanggil asistennya.

“Cari tahu apa yang terjadi dengan Yura. Sekarang. Dan laporkan padaku.”

Suara asistennya terdengar gugup di speaker.

“Baik, Pak. Saya akan segera....”

Arkan menutup telepon dengan satu gerakan cepat. Ia kembali menatap pintu masuk.

Hampa. Sunyi. Kosong.

Tidak ada satu pun suara Yura yang terdengar. Tidak ada langkah kakinya. Tidak ada tatapan matanya yang selalu membuat Arkan penasaran.

Dan di dalam hati Arkan, sebuah dorongan muncul lebih kuat dari sebelumnya.

Dia pikir bisa mengabaikanku? gumamnya. Dia pikir aku bisa menunggu tanpa melakukan apa pun?

Di luar sana, malam terus berjalan.

Lampu jalan memantul di kaca restoran, menambah kesan sepi yang menusuk.

Arkan tetap duduk.

Menunggu.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa kehilangan kendali bukan atas bisnis, bukan atas proyek, tapi atas Yura.

Arkan sudah tidak sabar lagi.

Ia menatap layar ponsel, menekan nomor atasan Yura.

“Kontrak itu dibatalkan,” ucapnya dingin. “Penghubung saya menolak datang. Tanpa dia, proyek ini tidak ada artinya.”

Di seberang, suara atasan Yura terdengar kaget dan gugup.

“T-tapi Pak… kontrak”

“Tidak ada tapi,” potong Arkan. Nada suaranya rendah, tajam, tak tersentuh emosi. “Segera sampaikan keputusan ini ke semua pihak. Proyek selesai.”

Arkan menutup telepon. Tatapannya tetap dingin, namun di dalam, dorongan posesifnya makin membara.

Di sisi lain, Yura tiba di rumahnya. Ia memutuskan untuk pergi melihat makan ayahnya tadi pagi.

Langkahnya lambat. Tubuhnya masih terasa lelah dan hampa setelah malam penuh tangisan di rumah sakit. Ia menutup pintu belakang, meletakkan tas, lalu berjalan ke kamar ayahnya.

Di sana, ia menatap semua peninggalan ayahnya: foto-foto tua, piala kecil, apron yang masih tergantung di gantungan, dan buku resep kue Prancis yang selalu ayahnya banggakan.

Ia membuka buku itu perlahan, membalik halaman demi halaman.

Terselip di antara lembar resep ada sebuah surat sertifikat.

Bukan rumah mereka.

Bukan kamar yang biasa ia tinggali.

Sertifikat itu milik sebuah rumah di alamat lain.

Ia menatap foto-foto yang ada bersama sertifikat itu interiornya seperti toko kue. Meja-meja kayu, etalase kaca, dapur yang terlihat profesional.

Di pojok foto, ada tulisan tangan ayahnya:

"Untuk Yura, mimpi kita. Suatu hari, kau akan membuka toko ini dan dunia akan mencicipi cinta yang kita buat di setiap kue."

Yura menahan napas. Mata berkaca-kaca.

Mimpinya… mimpi yang selalu ia simpan sejak kecil, hampir menjadi kenyataan.

Tanpa ragu, ia menatap alamat yang tertera.

Rasanya seperti panggilan.

Seperti ayahnya sendiri sedang menunjuk jalan.

Malam itu, dengan hati yang campur aduk antara kehilangan dan harapan, Yura mengambil kunci mobilnya, dan berangkat ke lokasi toko itu.

Di dalam hatinya, satu hal jelas:

Ayah sudah pergi… tapi mimpi kami belum berakhir. Dan malam itu, Yura memulai langkah pertamanya menuju dunia baru dunia yang ayahnya selalu impikan untuknya.

Yura berdiri di depan toko itu.

Lampu di etalase menyala lembut, memantul di kaca. Aroma manis yang samar-samar menusuk hidungnya meski pintu masih tertutup.

Ia menatap papan nama yang tergantung di atas pintu:

“La Vie Sucrée” Namanya… sempurna.

Seolah ayahnya sedang tersenyum di sisinya.

Air mata Yura jatuh begitu saja. Ia menunduk, menutupi wajah dengan kedua tangan.

Hatinya penuh haru, rindu, dan kelegaan sekaligus.

Ini… ini adalah impian kami, bisiknya lirih.

Dengan tangan gemetar, ia membuka pintu kaca.

Dapur tampak rapi, etalase bersih, meja-meja dan aroma kue… aroma yang selalu mengingatkannya pada ayah, pada semua pelajaran, tawa, dan cinta yang ia terima.

Yura menutup mata, menarik napas dalam.

Ia membiarkan air matanya mengalir, membasahi pipi, sambil membayangkan ayahnya berdiri di sampingnya, tersenyum bangga. Ini bukan hanya sebuah toko. Ini adalah warisan. Ini adalah mimpi yang akhirnya menjadi nyata.

Yura tersenyum untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa… ada harapan. Dan di dalam hatinya, ia berjanji: Aku akan membuat toko ini hidup… untuk ayah, untuk mimpi kita, untukku.

1
Nur Halida
yaaahhh tamat... terimakasih author sudah bikin cerita yg bagus
Nur Halida
puas banget bacanya
Nur Halida
aku juga ikut bahagia😍😍😍
Nur Halida
semoga anaknya cowok...
Nur Halida
s3moga yura dan arkan selalu bahagia
Nur Halida
selamat yura dan arkan...semoga kehamilannya berjalan lancar dan tidak ada lagi ujian2 berat yg akan menimpa kalian berdua..waktunya kalian bahagia😍😍😍
Nur Halida
datang lagi masalah arkan dan yura
Nur Halida
akhirnya... lega rasanya arkan bisa menemukan yura dan mereka bisa bersatu kembali
Nur Halida
eh... eh... eh ... gak nyangka banget daniel ngomong kek gitu .
apa nanti dia bakal ngelepasin yura untuk arkan... semoga saja
Nur Halida
ahhh gak seru lah kalo arkan dan yura pisah
Nur Halida
semoga arkan cepat menemukan yura dan semua rencana daniel akan gagal ... bukankah selama ini arkan tidak pernah kalah dari daniel..
pasti arkan gak bakalan hancur aku yakin itu ..
Nur Halida
yah .... yah... yah. ....baru aja bahagia udah kek gini aja...
kakak authornya tega banget sih sama arkan..
kan kasian arkan nya kalo yura kenapa napa
NR: Wkwk maaf yaa kalau authornya keliatan jahat 😭 tapi gimana dong, kalau hidupnya mulus terus nanti ceritanya jadi nggak seru. Tenang aja, aku nggak beneran jahat kok… cuma lagi ngasih mereka ujian dikit aja biar endingnya nanti lebih berasa 🤭 Jadi sabar yaa, jangan marah sama authornya hehe.
total 1 replies
Nur Halida
aku udah khawatir kalo yura berubah lagi perasaanya pada arkan
syukurlah mereka bisa baikan lagi
semoga tidak ada lagi yg bisa memisahkan mereka
Nur Halida
luar biasa👍👍👍
NR: Makasih banyak yaa buat kalian yang udah mau baca novel aku sampai sini 🤍 Serius deh, tiap kalian baca, komen, atau ikut emosi bareng tokohnya itu bikin aku makin semangat nulis. Semoga ceritanya bisa nemenin kalian, entah lagi santai, gabut, atau butuh pelarian sebentar dari dunia nyata 😄 Jangan pergi dulu yaa, perjalanan mereka masih panjang hehe
total 1 replies
Nur Halida
kamu gak akan menang melawan arkan ..
Nur Halida
baru aja mulai bahagia udah ada ancaman nya..
semoga arkan dan yura bisa saling menjaga
Nur Halida
aku ikut bahagia untuk kalian yura dan arkan .. semoga tetap seperti ini saling jatuh cinta setiap harinya
Nur Halida
kenapa harus jaga jarak?
kenapa gak mau jatuh cinta sama suami sendiri ??
ini bukan cuma arkan yg gila deh yura juga ikutan gila😁
Nur Halida
iya yura ... dan udah selayaknya kamu mencintai arkan .. karena dia tulus mencintai kamau walau dia posesif dan obsesif tapi dia cinta kamu...
Nur Halida
arkan merusaknya karena selama ini yura yg tidak bisa melihat cinta arkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!