Bagian I: Era Sang Ratu dan Awal Dinasti Kisah bermula dari Queen Elara, seorang wanita tangguh yang membangun fondasi kekuasaan Alexandra Group. Ia menikah dengan Adrian Alistair, pria dingin dan strategis. Dari persatuan ini, lahir dua pasang anak yang menjadi pilar keluarga: si kembar Natalie dan Nathan. Natalie tumbuh sebagai gadis yang tampak lugu namun memiliki sifat "bar-bar" yang terpendam, sementara Nathan menjadi eksekutor tangguh penjaga kehormatan keluarga.
Bagian II: Penyamaran Sang Pangeran Italia Masa muda Natalie Alistair diwarnai oleh kehadiran seorang pengawal misterius bernama Julian, yang sebenarnya adalah Giuliano de Medici, pewaris takhta mafia dan perbankan Italia yang sedang menyamar. Di tengah ancaman rival seperti Jonah dan Justin Moretti, cinta mereka tumbuh dalam gairah yang terjaga.
Bagian III: Dua Pewaris dan Rahasia Kelam Natalie dan Giuliano dikaruniai dua anak: Leonardo dan Alessandra. Leonardo tumbuh menjadi putra mahkota yang sempurna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Pelarian
Pelarian Alessandra diusia 23 tahun bukan sebuah kecelakaan, melainkan sebuah simfoni yang telah ia susun rapi selama bertahun-tahun. Dengan kecerdasan di atas rata-rata dan kemampuan manipulasi psikologis yang mengerikan, ia berhasil meretas sistem keamanan Kastil Medici, memalsukan protokol kematiannya sendiri, dan menghilang ke dalam kegelapan Eropa sebelum muncul kembali di jantung kota Jakarta.
Dunia mengenal Jakarta sebagai kota yang sibuk, namun bagi Alessandra, Jakarta adalah taman bermain penuh "sampah" yang siap ia bedah.
Malam itu, alarm di sayap rahasia Kastil Medici tidak berbunyi. Alessandra keluar dari "penjara emasnya" dengan gaun hitam sederhana, membawa satu koper kecil berisi paspor palsu dan perangkat peretasan tingkat tinggi. Ia meninggalkan sebuah boneka porselen di atas ranjangnya yang telah dilumuri cat merah, menyerupai tubuh manusia.
Ketika Leonardo menyadari adiknya hilang, Alessandra sudah berada di ketinggian 30.000 kaki menuju Jakarta. Ia mendarat di Bandara Soekarno-Hatta dengan nama samaran "Sandra". Tidak ada yang mengenalinya. Di mata orang awam, ia hanyalah gadis blasteran Italia-Indonesia yang sangat cantik, pendiam, dan memiliki aura misterius yang memikat.
Jakarta sedang diguyur hujan deras saat Sandra berdiri di depan sebuah galeri seni tua di kawasan Menteng. Ia menatap sebuah lukisan abstrak dengan tatapan kosong, hingga seorang pria berdiri di sampingnya.
"Lukisan itu melambangkan kekacauan yang teratur, bukan?" tanya pria itu.
Sandra menoleh perlahan. Pria itu bernama Arkan, seorang detektif muda yang baru saja mengundurkan diri dari kepolisian karena muak dengan korupsi di sistemnya. Arkan memiliki mata yang tajam, namun ia tidak bisa melihat kegelapan yang bersembunyi di balik mata indah Sandra.
"Kekacauan tidak pernah teratur," jawab Sandra dengan nada datar namun merdu. "Kekacauan adalah saat kau membiarkan darah mengalir tanpa tahu kapan harus berhenti."
Arkan mengerutkan kening, merasa jawaban gadis ini sangat tidak biasa. Namun, ada daya tarik magnetis yang membuatnya tidak bisa pergi. "Aku Arkan. Kau tampak tersesat di kota ini."
Sandra tersenyum tipis—senyuman yang jika dilihat oleh Giuliano atau Natalie akan membuat mereka gemetar ketakutan. "Aku tidak tersesat, Arkan. Aku baru saja menemukan jalanku."
Arkan, yang merasa iba dan tertarik pada Sandra, mulai sering menemuinya. Sandra menyewa sebuah apartemen mewah di dekat pusat bisnis Alexandra Group, menggunakan dana gelap yang ia curi dari rekening musuh-musuh Medici di Swiss.
Bagi Arkan, Sandra adalah gadis rapuh yang suka membaca buku-buku anatomi dan filsafat gelap. Ia sering mengajak Sandra makan malam di pinggiran jalan, mencoba memperkenalkannya pada sisi manusiawi Jakarta. Namun, Arkan tidak tahu bahwa setiap kali ia berpaling, Sandra sedang mengamati urat nadi di leher Arkan, menghitung berapa detik yang dibutuhkan pria itu untuk mati jika ia menusuknya dengan garpu perak di tangannya.
"Kau sangat baik, Arkan," ucap Sandra suatu malam saat mereka duduk di atap apartemennya. "Terlalu baik untuk dunia yang sebentar lagi akan berdarah."
"Apa maksudmu?" tanya Arkan sambil tertawa kecil.
Sandra mengelus pipi Arkan dengan jarinya yang dingin. "Kau tahu, aku pernah memiliki seekor burung kenari. Aku sangat menyukainya, jadi aku membukanya agar dia bisa bersamaku selamanya di dalam kotak kaca. Kadang, aku ingin melakukan hal yang sama pada orang-orang yang kusukai."
Arkan hanya menganggap itu sebagai metafora puitis dari seorang gadis yang kesepian. Ia belum tahu bahwa ia sedang berkencan dengan seorang predator puncak.
Leonardo de Medici-Alistair sedang berada di kantor pusat Alexandra Group di Jakarta, memimpin rapat darurat tentang hilangnya adiknya di Italia. Wajahnya tampak frustrasi dan lelah. Tiba-tiba, lampu di ruang rapat padam.
Layar proyektor besar di depan kelas menyala, menampilkan rekaman langsung dari kamera tersembunyi di dalam kantor Leonardo sendiri. Di kursi kebesaran Leonardo, duduk seorang gadis dengan kaki menyilang, memegang sebuah pisau kertas perak.
"Halo, Kakak sayang," suara Sandra menggema di ruangan yang sunyi itu. "Jakarta jauh lebih hangat dari pada bawah tanah kastil. Kenapa kau tidak memberitahuku?"
Leonardo berdiri, jantungnya hampir copot. "Sandra... hentikan ini sekarang juga! Di mana kau?"
"Aku di mana-mana, Leo. Aku bisa melihatmu, tapi kau tidak bisa melihatku. Oh, dan sampaikan salam pada Kakek Adrian. Aku baru saja 'bermain' sedikit dengan sistem keamanan banknya. Mungkin besok pagi dia akan kehilangan beberapa miliar, tapi tenang saja... itu hanya pemanasan."
Rekaman terputus. Leonardo segera berlari menuju ruangannya, namun yang ia temukan hanyalah sebuah mawar hitam di atas mejanya dengan kartu ucapan: "Permainan dimulai."
Dendam Sandra mulai memakan korban. Beberapa petinggi perusahaan yang pernah menentang Adrian Alistair mulai ditemukan tewas dengan cara yang sangat rapi namun mengerikan—tidak ada jejak kekerasan, hanya kegagalan organ yang dipicu oleh racun langka yang hanya diketahui oleh keluarga Medici.
Arkan, dengan insting detektifnya, mulai mencurigai ada pola di balik kematian-kematian ini. Ia mulai menyelidiki dan tanpa sadar, jejak itu membawanya kembali ke apartemen Sandra.
Suatu malam, Arkan masuk ke apartemen Sandra saat gadis itu sedang tidak ada. Ia menemukan sebuah ruangan tersembunyi di balik lemari buku. Di dalamnya, dinding dipenuhi dengan foto-foto keluarga Alistair-Medici, termasuk foto Leonardo yang dicoret-coret dengan tinta merah.
Di tengah ruangan, ada sebuah meja bedah dengan peralatan yang sangat steril. Arkan membeku. Ia melihat foto dirinya sendiri di sana, dengan catatan kecil di bawahnya: "Spesimen nomor 1 - Terlalu baik untuk hidup."
"Kau seharusnya tidak masuk ke sini, Arkan," suara Sandra terdengar dari balik pintu.
Arkan berbalik, menodongkan senjatanya dengan tangan gemetar. "Siapa kau sebenarnya, Sandra? Apa hubunganmu dengan keluarga Alistair?"
Sandra melangkah maju tanpa rasa takut, membiarkan ujung pistol Arkan menyentuh keningnya. Mata cokelat keemasannya kini berkilat dengan kegilaan yang murni. "Aku adalah rahasia yang mereka kubur, Arkan. Aku adalah Alessandra de Medici-Alistair. Dan kau... kau adalah satu-satunya manusia yang membuatku ragu apakah aku harus membedahmu sekarang atau menjadikanku peliharaan selamanya."
Leonardo dan tim keamanannya berhasil melacak lokasi Sandra tepat saat Arkan hampir kehilangan nyawanya. Pintu apartemen didobrak. Leonardo masuk dan melihat adiknya sedang memegang pisau di leher Arkan, sementara Arkan tampak shock dan tidak berdaya.
"Sandra, lepaskan dia!" teriak Leonardo. "Dia tidak tahu apa-apa!"
"Dia tahu terlalu banyak sekarang, Leo!" Alessandra tertawa histeris. "Dunia luar sangat menyenangkan! Orang-orang begitu mudah percaya pada wajah cantik. Kau ingin aku kembali ke penjara bawah tanah itu? Tidak akan pernah!"
Natalie dan Giuliano, yang baru saja tiba di Jakarta dengan pesawat pribadi, muncul di ambang pintu. Natalie menangis melihat putrinya. "Alessandra... maafkan Ibu. Tolong, lepaskan pria itu."
Alessandra menatap ibunya, lalu menatap Arkan. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ada sesuatu yang bergejolak di dadanya—sesuatu yang ia benci karena itu membuatnya merasa lemah. Ia mendorong Arkan menjauh dan melompat dari balkon apartemen lantai 20.
Leonardo berteriak dan berlari ke balkon, namun di bawah sana tidak ada tubuh yang jatuh. Alessandra telah menyiapkan tali bungee dan sebuah motor sport yang sudah menunggu di gang sempit.
Alessandra menghilang kembali ke dalam hiruk pikuk Jakarta. Arkan selamat, namun jiwanya hancur. Ia kini tahu bahwa gadis yang ia cintai adalah seorang psikopat paling berbahaya di dunia.
Keluarga Alistair-Medici kini hidup dalam ketakutan. Mereka tahu bahwa Alessandra masih ada di luar sana, bergerak dalam bayang-bayang, mengawasi setiap langkah mereka. Jakarta kini bukan lagi milik Adrian atau Leonardo sepenuhnya. Di sudut-sudut gelap kota ini, sang Dewi Kematian sedang membangun kerajaannya sendiri, menunggu waktu yang tepat untuk menghancurkan takhta yang telah membuangnya.
Dan Arkan? Ia memutuskan untuk terus mencari Sandra, bukan untuk menangkapnya, tapi karena ia menyadari satu hal yang lebih mengerikan, ia juga telah terinfeksi oleh kegilaan Alessandra, dan ia tidak bisa hidup tanpa bayangan gadis itu.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy reading😍