Geun hanya ingin cepat kaya dan hidup nyaman.
Tapi setiap kebohongan kecil dan pertarungan nekat demi uang justru melahirkan legenda baru.
Saat dunia bela diri mulai menyebutnya monster dan iblis, Geun sendiri hanya sibuk mencari kerja dengan bayaran tinggi.
Geun yang awalnya hanyalah pemuda gelandangan yang ingin hidup bebas dan nyaman, namun tanpa sadar meninggalkan jejak yang mengubah dunia bela diri selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Drunk Cats, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab #32: Kota Nanjing
Satu minggu kemudian.
Nanjing. Permata daerah selatan. Kota yang tidak pernah tidur.
Jika Kota Jeokha adalah pos perbatasan yang keras dan Wudang adalah tempat suci yang sunyi, maka Nanjing adalah kuali raksasa yang mendidih oleh hawa nafsu dan uang.
Jalanan utamanya selebar sepuluh kereta kuda, dilapisi batu yang dipoles mengkilap. Gedung-gedung bertingkat tiga atau empat berjejer rapi, dihiasi lampion merah dan emas yang menyala siang-malam. Bau dupa mahal bercampur dengan bau bedak wanita dan arak menyengat di setiap sudut.
Sebuah kereta kuda mewah yang sekarang rodanya agak miring karena menahan beban peti perak, berhenti di gerbang kota.
Geun turun dari kereta. Dia meregangkan badannya, tulang-tulangnya berbunyi keras seperti suara dahan yang patah.
Dia melihat sekeliling dengan pupil mata merahnya yang kini sedikit tertutup poni.
Pemandangan pertama yang dia lihat adalah sebuah kontras yang menampar wajah.
Di selokan kiri jalan, ada mayat seorang pengemis tua yang kurus kering, dikerubungi lalat. Tidak ada satupun orang yang peduli. Orang-orang melangkahinya seolah dia cuma gundukan sampah.
Di jalan utama, sebuah kereta kencana berlapis emas lewat, dikawal sepuluh pengawal berbaju besi. Pejabat di dalamnya melempar kulit buah ke jalan, yang langsung diperebutkan oleh anak-anak jalanan yang kelaparan.
Geun menatap pengemis mati itu.
Dulu, dia mungkin akan merasa sedih. Dia mungkin akan melihat dirinya sendiri di sana.
Tapi sekarang?
Geun meludah ke tanah.
"Menyedihkan," batin Geun. "Dunia ini nggak butuh air mata. Dunia ini butuh uang. Kalau kau nggak punya uang, kau cuma pupuk buat tanah. Aku benar, kan? Bapak Pemancing benar. Uang adalah dewa yang paling nyata."
Dia tidak merasa kasihan. Dia justru merasa tervalidasi. Pilihan hidupnya untuk menjadi kikir, licik, dan serakah adalah satu-satunya jalan yang secara kebetulan membawanya untuk tidak berakhir di selokan itu.
"Hoi, Kusir!" teriak Geun kasar. "Bawa peti-peti ini ke Red Flower Pavilion. Kalau ada satu keping perak yang jatuh, aku patahin lehermu!"
Red Flower Pavilion.
Rumah bordil nomor satu di Nanjing. Tempat di mana satu malam bisa menghabiskan biaya hidup setahun rakyat jelata. Tempat yang selalu menjadi mimpi bagi setiap gelandangan.
Geun masuk dengan cara yang paling tidak elegan dalam sejarah tempat itu.
Dia menendang pintu ganda yang terukir indah itu hingga terbuka lebar.
"PELAYAAAN! TAMU AGUNG DATANG!"
Madam paviliun, seorang wanita paruh baya yang masih cantik dengan kipas bulu merak, awalnya hendak mengusir "orang gila" ini. Tapi begitu dia melihat peti kayu yang digotong masuk oleh kuli sewaan dan dibuka isinya...
Kilauan perak murni hampir membuat Madam itu buta.
"Aigo! Tuan Muda yang tampan!" Sikapnya berubah 180 derajat dalam sedetik. "Selamat datang di Paviliun kami! Apa yang Anda butuhkan? Gadis? Arak? Musik?Budak?"
"Aku mau sewa kamar," kata Geun sambil mengorek kuping.
"Tentu, kami punya Kamar Melati yang—"
"Satu lantai," potong Geun.
"Hah?"
"Satu lantai paling atas. Kosongkan semua orang di sana. Aku nggak suka tetangga berisik."
Seluruh lobi hening. Para pendekar kecil, saudagar, dan penyair yang sedang minum di sana menoleh.
Sewa satu lantai di Red Flower Pavilion harganya 1.000 tael per malam.
"Dan bawakan aku Arak Nada Cahaya," tambah Geun.
"Oh, selera Tuan Muda sangat tinggi! Itu arak terbaik kami, 120 tael per botol!"
Geun mengangguk. "Bawakan sepuluh botol. Tanganku lengket abis makan mangga di jalan. Mau cuci tangan."
Hening lagi.
Arak kelas atas dengan total harga 1.200 tael... cuma buat cuci tangan?
"Dan daging!" Mata merah Geun tiba-tiba menyala liar. "Babi guling, bebek panggang, sapi lada hitam, ayam rebus, kambing guling... pokoknya semua yang punya kaki empat kecuali meja, bawa ke atas! SEKARANG! AKU LAPAR!"
Teriakan "Lapar" itu mengandung sedikit getaran Qi Alam yang kasar dan kacau, yang sekarang menjadi energi internal di dalam tubuh Geun.
Kaca jendela di lobi bergetar. Lilin-lilin padam sebentar.
Madam itu yang berdiri dekat dengan Geun, merasakan bulu kuduknya berdiri. Pemuda ini... auranya seperti binatang buas yang menyamar jadi manusia. Madam merasakan jiwa nya seolah ditarik masuk ke dalam pupil mata Geun yang tampak siap melahap apa saja.
"B-baik, Tuan Muda! Segera!"
Geun naik ke tangga dengan langkah lebar, meninggalkan para tamu yang berbisik-bisik kaget, iri, dan jijik.
"Siapa dia? Norak sekali."
"Orang Kaya Baru dari mana itu?"
"Mungkin anak haram pejabat korup."
Orang-orang yang bukan praktisi bela diri, tentu saja tidak menyadari energi mengerikan yang dipancarkan oleh Geun. Disisi lain, semua praktisi bela diri yang ada di tempat ini memikirkan satu hal yang sama namun tidak berani mereka ungkapkan.
"Bocah itu sangat kuat."
......................
Sementara itu, di seberang jalan, di bawah bayangan gang kecil.
Seorang pengemis buta sedang duduk bersila, memegang mangkuk sumbing. Dia tampak seperti pengemis biasa. Tapi telinganya bergerak-gerak seperti radar.
Dia adalah mata-mata Sekte Pengemis, jaringan informasi terbesar di Jianghu.
Hidungnya kembang-kempis.
"Bau obat Wudang..." batinnya. "Samar, tapi ada. Dicampur dengan bau... besi? Dan bau amis darah kering?"
Telinganya menangkap suara langkah kaki Geun yang berat.
"Langkahnya berat, seperti membawa beban ratusan kati, tapi lantai kayunya tidak jebol. Kontrol otot tingkat tinggi. Dan suara denting perak itu... jumlahnya masif."
Pengemis buta itu mengambil sebuah batu kerikil dan menggoreskan kode rahasia di dinding gang.
[Laporan: Target Potensial di Red Flower Pavilion.]
[Ciri: Kaya, Arogan, Kuat. Diduga 'The Emaciated Demon' dari rumor Henan.]
[Tingkat Ancaman: Belum dipastikan.]
Di sisi lain, di sebuah kedai minum murah di pojok jalan.
Tiga pria kekar dengan tato naga air di lengan sedang mengawasi Paviliun.
Mereka adalah anggota Black Water Gang, penguasa dunia bawah lokal Nanjing.
"Kau lihat itu?" bisik salah satu preman. "Domba gemuk."
"Dia sendirian. Tidak ada pengawal. Cuma bawa uang."
"Kusirnya bilang petinya berat banget. Isinya perak murni."
"Hehe... Nanjing itu keras, Nak. Uang sebanyak itu kalau nggak dijaga pedang, cuma bakal jadi sumbangan buat kita."
"Bos bilang, kita awasi aja dulu. Siapa tahu dia punya dukungan kuat, kan?."
......................
Di Kantor Pemerintahan Nanjing.
Magistrate Yun Dae-rim, seorang pejabat gemuk dengan kumis tipis yang licik, sedang duduk gelisah di ruang kerjanya.
Dia adalah keturunan
Di meja, tergeletak sebuah surat yang baru saja diantar oleh burung merpati pos. Surat itu tidak memiliki cap pengirim, tapi Yun Dae-rim tahu persis siapa pengirimnya dari simbol bangau perak kecil di sudut kertas.
Sisa Jaringan Silvercrane.
Yun Dae-rim membaca surat itu dengan tangan gemetar.
"Buku Hitam Ledger telah dicuri. Tanpa buku itu, transaksi kita terekspos. Jika buku itu jatuh ke tangan Inspektur Kekaisaran atau Faksi-faksi Murim Orthodox, kepalamu dan kepala kami akan dipenggal."
Yun Dae-rim meneguk araknya dengan panik. Namanya ada di halaman pertama buku itu! Dia menerima 1.000 tael emas per bulan untuk memuluskan penyelundupan mayat Silvercrane.
Dia melanjutkan membaca.
"Pencurinya bergerak ke selatan. Laporan intelijen terakhir melihatnya meninggalkan Wudang menuju Nanjing. Ciri-ciri target: Kaya mendadak. Aksen bicara kasar/jalanan. Usia sekitar 16-17 tahun. Rambut hitam panjang sepinggang, tidak diikat. Badan kurus tapi berotot kering. Ciri paling utama, pupil matanya berwarna Merah Darah."
"Merah darah... Apa dia punya kondisi tubuh khusus seperti 9 Yang Body? Sepertinya bukan..." gumam Yun Dae-rim.
Tiba-tiba, pintu ruangannya diketuk. Kepala Pengamanan Nanjing masuk.
"Lapor, Tuan Magistrate. Ada keributan kecil di Red Flower Pavilion."
"Aku sedang sibuk! Urus saja orang mabuk itu!"
"Bukan keributan biasa, Tuan. Ada seorang pemuda asing yang menyewa satu lantai. Dia sangat boros. Tapi yang aneh... pelayan bordil bilang matanya menakutkan. Pupil matanya merah menyala."
PRANG!
Gelas arak di tangan Yun Dae-rim jatuh pecah.
"Apa kau bilang?" Yun Dae-rim berdiri, wajahnya pucat sekaligus ganas. "Mata merah? Dia ada di sini? Di kotaku?"
"B-benar, Tuan."
Yun Dae-rim menutup wajahnya dengan tangannya. Ketakutannya berubah menjadi peluang. Jika dia bisa menangkap bocah ini dan mengamankan buku itu, dia tidak hanya selamat, tapi dia bisa memeras balik sisa-sisa Silvercrane.
"Panggil The Silent Viper. Malam ini, kita akan berburu tikus."