NovelToon NovelToon
Mengejar Mauren

Mengejar Mauren

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Gangster / Teen School/College / Persahabatan / Romansa / Kegiatan Olahraga Serba Bisa
Popularitas:810
Nilai: 5
Nama Author: jeffc

Novel ini berkisah tentang kehidupan SMA yang sarat dengan cinta- cintaan, persahabatan, persaingan antar geng di sekolah, dll. dengan latar belakang olah raga bela diri seperti karate, tinju, kick boxing, muathai dsb

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeffc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Too Good to be True

Malamnya Mauren tidak bisa tidur di kamarnya karena teringat akan kejadian dramatis yang terjadi padanya hari ini. Walaupun lampu kamarnya sudah dimatikan, tetap dia tidak bisa tidur. Setiap kali dia memejamkan matanya, adegan demi adegan drama penculikan dan kepahlawanan Axel terulang di benaknya. Mata Mauren masih terbelalak, seolah menolak untuk dipejamkan.

Dua anak buah Mat Kojak bisa dilumpuhkan di luar tanpa terdengar terjadinya perkelahian. Lalu adegan baku pukul antara Axel dan Mat Kojak yang tanpa darah. Lalu helm yang seolah-olah sudah disiapkan. Lalu terbayang wajah Axel serta pelukannya.

Dalam keadaan panik, saat itu pelukan Axel terasa hangat dan aman. Tapi entahlah, dia merasa ada sesuatu yang janggal dengan semua itu.

Pada saat kejadian, saat dia panik, semuanya berjalan normal, tapi kini, setelah semuanya berlalu, dia merasakan berbagai kejanggalan. Sebagai seorang praktisi bela diri karate, ia bisa menganalisis gerakan.

Ia lalu mengingat saat preman pertama bisa menahan pukulannya dan kemudian meringkusnya, itu masih masuk akal. Preman dengan modal badan besar dan kekar seperti dia sangat mungkin belajar bela diri.

Namun saat Axel berkelahi melawan Mat Kojak, Mauren yakin itu sudah diskenariokan. Too good to be true alias terlalu bagus untuk nyata.

Dalam kamarnya yang gelap dia coba mengingat-ingat tiap gerakan dan menganalisisnya.

Pukulan Mat Kojak tampak keras, namun lambat. Sepertinya terlalu terbuka tanpa pertahanan. Bahkan bagi orang yang tidak menguasai seni bela diri pun sepertinya mustahil. Mat Kojak lalu seolah-olah memberi ruang buat Axel untuk balas memukulnya.

Lalu ketika mereka memakai kayu dan kayu itu beradu, terlihat seperti Luke Skywalker bertempur melawan Darth Vader dengan menggunakan lightsaber. Gerakan itu terlalu indah dan terlalu teratur, seperti sudah dikoreografikan.

Tapi Mauren coba membuang pikiran itu.

“Itu tidak mungkin,” kata Mauren dalam hatinya. “Aku tidak boleh berprasangka buruk terhadap orang yang telah menolongku.”

Axel yang telah datang dan menyelamatkannya dan berjibaku menyelamatkannya, masak aku harus menduga yang tidak-tidak terhadapnya? Dia melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Axel harus menerima pukulan Mat Kojak di perut.

Tapi logikanya sebagai seorang karateka menolak semua itu. Bagaimana mungkin semua pukulan Mat Kojak tidak ada satu pun yang mengenai titik vital Axel?

Lalu ia coba mengingat-ingat lagi saat dia terikat di lantai. Saat itu pandangannya terbatas. Namun ada sesuatu yang mengusik pikirannya, yaitu John dan Jamet, anak buah Mat Kojak.

Mauren segera menarik napas panjang. Dia lihat jam di HP sudah menunjukkan pukul 2.36. Matanya tetap tidak mau terpejam.

“Ayo Mauren, kamu seorang karateka,” kata pikiran dalam hati Mauren. “Jangan mau dikecoh oleh mereka.”

John dan Jamet keluar satu per satu. Namun mereka bisa dilumpuhkan dengan mudah tanpa benturan keras, tanpa teriakan, tanpa ada suara gedebuk.

“Bukankah salah seorang dari mereka jago karate?” Kembali pikiran Mauren berkeliaran. “Kenapa begitu mudah ditundukkan oleh Axel yang skill bela dirinya tidak seberapa itu? Seandainya itu terjadi, pasti kemampuan bela diri Axel sudah di atas Sensei Nakamura.”

Mauren coba menenangkan mata dan mencoba melakukan mokuso atau meditasi dalam karate yang diajarkan oleh mamanya untuk mengosongkan semua pikiran di dalam kepalanya. Namun gagal. Logikanya sebagai seorang karateka penyandang sabuk hitam itu terlalu kuat.

Dalam turnamen karate saja dia selalu sulit mengendalikan emosi dan nervous, bagaimana mungkin Axel bisa begitu tenang dan malah mengejek Mat Kojak?

“Hentikan segala pikiran burukmu, Mauren,” katanya dalam hati. “Tidak, semua keanehan itu terlalu jelas, Mauren!”

“Tapi kau berutang budi terhadap Axel yang sudah menolongmu!” Perang batin di dalam pikiran Mauren terus berkecamuk.

Kembali soal helm memenuhi kepalanya. “Dua helm? Kebetulan atau sudah disiapkan?”

Lalu dalam kegelapan kamar yang hanya diterangi oleh sebuah lampu tidur itu dia menatap piala-piala karatenya yang terpajang berjejer. Lalu dia teringat ucapan pelatihnya yang dulu saat masih di kota Manado, “Dalam pertarungan, tidak ada yang betul-betul karena kebetulan belaka. Semua adalah perhitungan.”

Lalu Mauren meneguk segelas air putih yang selalu disiapkannya menjelang tidur di meja belajarnya di kamar.

Bisa jadi semua pikiran yang berkecamuk di kepalanya ini karena trauma terhadap penculikan ini.

Kemudian Mauren menarik selimutnya sampai ke dagu. Jam sudah menunjukkan pukul 3.00.

Siangnya, Mauren mencoba bersikap normal di sekolah, namun pikirannya tetap melayang sampai sore hari saat dia menemani papanya yang ingin menyaksikan latihan tinju Rommy.

Di grup WhatsApp sekolah teman-teman Axel anggota geng The Executioners memberitakan drama penculikan Axel dan memuji kepahlawanan Axel dalam membebaskan Mauren.

“Ah biasa saja, jangan dibesar-besarkan,” komentar Axel dalam grup WhatsApp itu.

Eka ikut menambahkan. “Bagaimana tidak dibesar-besarkan? Axel sedang terpuruk, tiba-tiba menjadi sorotan semua orang?”

“Ka, setiap orang bisa berubah,” jawab Axel dalam grup WhatsApp itu. “Seorang Axel tidak boleh berubah kah?”

Rommy yang mengikuti percakapan itu, lalu ikut bertanya-tanya dalam hati, “Sehebat itukah sekarang Axel?”

Tak terasa hari sudah sore, dan Rommy harus latihan di Sasana Bulungan. Hatinya sangat gembira karena hari ini Coach Barda sudah memperbolehkannya sparing untuk pertama kalinya dengan dia.

“Lakukan pemanasan dulu, lalu lakukan shadow boxing 3 ronde. Terus pukul samsak 1 ronde saja, agar tidak capek,” instruksi Coach Barda. “Setelah itu sparing 3 ronde dengan saya.”

“Baik, Coach,” jawab Rommy lalu melakukan pemanasan berupa senam. Mauren sudah tidak ikut latihan tinju, karena harus fokus di karate, tapi dia berjanji bersama papanya akan menyaksikan Rommy latihan sparing melawan Coach Barda.

“Pukul tidak usah keras-keras,” instruksi Coach Barda. “Yang penting melatih kecepatan, footwork, dan teknik memukul dan menghindar. Memukul keras itu gampang, latihan memukul samsak itu untuk melatih kekuatan pukulan.”

Hal yang sebaliknya terjadi di Cobra Boxing Gym. Axel tengah melakukan sparing dengan rekannya satu sasana.

“Ayo pukul keras,” teriak Coach Bruno dari pinggir ring. “Axel, bakat kamu besar. 3 bulan lagi kamu terjun di turnamen tinju yunior se-DKI! Sekarang latihan pukul yang keras! Kamu akan jadi raja KO!”

Axel memukul dengan sekuat tenaga dalam latihan sparing itu.

“Ayo pukul lebih keras!” Coach Bruno memberi semangat ketika melihat Axel mulai tampak kelelahan.

Semangat Rommy semakin timbul saat melihat Mauren berjalan bersama papanya ke Sasana Bulungan, pas saat dia memulai latihan sparing.

“Pukul dulu jab untuk mengacaukan fokus lawan, dan kemudian baru maju selangkah atau dua langkah, baru luncurkan pukulan pamungkas hook dan uppercut,” kata papa Mauren memberi tips.

“Ikuti kata papanya Mauren itu, Rom,” kata Coach Barda sambil melakukan jab ringan ke wajah Rommy. “Usahakan jangan hilang fokus karena jab saya ini, Rom.”

“Pa, boleh sparing 1 ronde saja lawan Rommy, Pa?” tanya Mauren dengan senyum manja.

“Tanya ke Coach Barda, boleh nggak,” jawab papanya. “Dia pelatih Rommy, bukan Papa.”

“Boleh. Tapi pemanasan dulu dan cepat siap-siap,” kata Coach Barda sambil terus melakukan latihan sparing dengan Rommy.

“Sparing dengan Mauren?” kata Rommy dalam hati. “Mimpi apa aku semalam?”

Mauren sudah siap dengan gloves, pelindung kepala, dan pelindung dada, dan sudah melakukan pemanasan dan saat ini sudah siap menggantikan Coach Barda sparing dengan Rommy.

“Mauren sudah siap?” kata Coach Barda setelah usai 2 ronde sparing dengan Rommy. “Cepat gantikan saya sparing dengan Rommy setelah istirahat 1 menit. Jangan keras-kerasan pukul ya. Yang penting teknik.”

Lalu Mauren sudah siap di tengah ring dan Coach Barda jadi wasit mereka.

“Box!” Coach Barda memberi aba-aba, lalu Rommy dan Mauren maju ke tengah ring.

Tapi Rommy benar-benar hilang fokus saat berhadapan dengan Mauren. Beda dengan sparing tadi saat melawan Coach Barda, Rommy bisa menunjukkan skill yang apik. Kali ini lawan Mauren, semua skill tinju yang dimilikinya hilang.

Tidak sampai semenit Mauren berhasil memojokkan Rommy dengan pukulan-pukulan pendek. Hook, uppercut.

“Ayo Mauren, bagus!” teriak papa Mauren memuji putrinya.

Tapi… “Stop!” teriak Coach Barda. “Sparing saya hentikan karena Rommy sudah tidak ada perlawanan. Dan pemenangnya Mauren!” Coach Barda kemudian mengangkat badan Mauren tinggi-tinggi, lalu disambut dengan gembira oleh papanya yang segera memeluk putrinya yang perkasa itu.

“Kelihatan kamu grogi waktu lawan Mauren, Rom,” ujar Coach Barda. “Waktu sparing sama saya, kamu bagus sekali. Begitu ganti sparing lawan Mauren, semuanya lenyap!”

Coach Barda, Mauren, dan papanya tertawa melihat Rommy yang terkulai tak berdaya di tali ring.

“Siap ikut turnamen yunior 3 bulan lagi, Rom?” tanya Coach Barda.

1
bartolomeus marsudiharjo
Gue banget
bartolomeus marsudiharjo
Seru banget. Menjanjikan.
jc: terimakasih
total 1 replies
Noname
Karya Ai ?
jc: bukan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!