Dalam dunia bisnis yang kejam, Alara Davina—seorang desainer berbakat—terjebak dalam pernikahan kontrak dengan Nathan Erlangga, CEO dingin yang menyimpan luka masa lalu. Yang Alara tidak tahu, wanita yang selama ini ia anggap sahabat—Kiara Anjani—adalah cinta pertama Nathan yang kembali untuk merebut segalanya.
Ketika pengkhianatan datang dari orang terdekat, air mata menjadi teman, dan hati yang rapuh harus memilih. Bertahan dalam cinta yang menyakitkan, atau pergi dengan luka yang tak pernah sembuh.
*Cinta sejati bukan tentang siapa yang datang pertama, tapi siapa yang bertahan hingga akhir.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Naura yang Jatuh Sakit
Tiga hari setelah pesta amal itu, tubuh Naura menyerah.
Mungkin karena terlalu banyak nangis, terlalu banyak ga tidur, terlalu banyak mikirin Nathan sama Mahira sampe lupa makan, atau mungkin emang badannya udah ga kuat nahan semua beban mental yang dia tanggung sendirian.
Pagi itu Naura bangun dengan kepala yang rasanya mau pecah, badan panas dingin, tenggorokan kering banget sampe susah nelan ludah.
Dia coba bangun tapi kakinya lemes, langsung jatuh ke lantai.
"Aduh." Naura meringis kesakitan, dia merangkak ke ranjang lagi dengan sisa tenaga yang ada.
Jam menunjukkan pukul tujuh pagi, Nathan pasti udah berangkat dari jam enam kayak biasa, ga mungkin dia tau Naura sakit.
Naura coba raih hape di meja samping tempat tidur tapi tangannya gemetar parah sampe hapenya jatuh ke lantai.
Suara hape jatuh cukup keras tapi ga ada yang denger karena kamar Naura jauh dari kamar pembantu di lantai bawah. Naura berbaring lagi sambil nutup mata, badannya makin panas, kepalanya makin pusing, penglihatan mulai kabur.
"Ibu." dia berbisik pelan. "Naura sakit Bu... Naura pengen dipeluk ibu."
Air matanya keluar meski matanya tertutup.
***
Jam sembilan pagi, Bi Ijah naik ke lantai dua buat ngasih tau Naura sarapan udah siap kayak biasa.
Dia ketuk pintu kamar Naura. "Nyonya? Sarapan sudah siap Nyonya."
Ga ada jawaban.
Bi Ijah ketuk lagi lebih keras "Nyonya Naura?"
Tetep ga ada jawaban.
Bi Ijah mulai khawatir, dia coba buka pintunya, untung ga dikunci dari dalam.
Begitu masuk, Bi Ijah langsung kaget liat Naura tergeletak di ranjang dengan wajah pucat, bibir kering pecah pecah, keringat membasahi dahi.
"NYONYA!" Bi Ijah langsung lari ke ranjang, ngepegang dahi Naura. "Ya ampun panasnya! Nyonya demam tinggi!"
Naura buka mata sedikit, pandangannya ga fokus. "Bi-Bi Ijah."
"Iya Nyonya, saya disini, Nyonya sakit, tunggu sebentar saya panggilkan dokter."
Bi Ijah langsung keluar sambil teriak teriak manggil pembantu yang lain, dia ambil hape dan nelpon Nathan.
Nada sambung pertama, kedua, ketiga, ga diangkat. Bi Ijah nelpon lagi, masih ga diangkat.
Nelpon ketiga kalinya baru diangkat, tapi yang kedengeran bukan suara Nathan.
"Hallo?" suara wanita, suara yang Bi Ijah kenal.
Mahira.
"Ehm.. ini Bi Ijah dari rumah, bisa bicara dengan Tuan Nathan? ini urgent."
"Oh Bi Ijah, Nathan lagi meeting penting nih, ga bisa diganggu, ada apa ya?" Suara Mahira kedengeran santai, kayak ga peduli.
"Nyonya Naura sakit Nona, demamnya tinggi banget, saya harus lapor ke Tuan Nathan."
"Ohh cuma demam? ya udah panggil dokter aja Bi, Nathan lagi sibuk banget ga bisa pulang, nanti kalo udah selesai saya sampein deh."
Cuma demam katanya.
Kayak demam tinggi sampe pingsan itu hal sepele.
"Tapi Nona..."
"Udah ya Bi, kami lagi sibuk," dan telepon ditutup sepihak.
Bi Ijah menatap hapenya ga percaya, tangannya gemetar antara marah dan sedih. Dia langsung nelpon Layvin, asisten Nathan yang dia tau nomor nya dari buku kontak rumah.
"Hallo Pak Layvin? Ini Bi Ijah dari mansion Erlangga, Nyonya Naura sakit parah, demam tinggi sampe pingsan, Tuan Nathan ga bisa dihubungi, bisa tolong Pak?"
"APA?!" suara Layvin langsung panik. "Saya kesana sekarang, tunggu ya Bi!"
Telepon ditutup, Bi Ijah balik ke kamar Naura yang sekarang udah dikelilingin sama pembantu yang lain, semua pada khawatir.
Naura sekarang udah ga sadar, napasnya cepet dan ga teratur, tubuhnya kejang kejang kecil karena demam yang terlalu tinggi.
"Siapkan selimut sama air dingin! Kita harus turunin demamnya dulu sebelum Pak Layvin datang bawa dokter!" Bi Ijah mengomando dengan panik.
Lima belas menit kemudian Layvin dateng dengan dokter pribadi keluarga Erlangga, mereka langsung naik ke kamar Naura.
Dokter langsung periksa, ngukur suhu badan. "Empat puluh derajat, ini bahaya, harus segera ke rumah sakit."
"Rumah sakit?" Bi Ijah makin panik.
"Iya, dia butuh infus dan obat penurun panas lewat intravena, kalo cuma minum obat ga cukup cepet" dokter ngeluarin stetoskop. "Pak Layvin tolong bantuin saya angkat Nyonya ke mobil."
Layvin ga pikir panjang, dia langsung angkat Naura bridal style, tubuh Naura yang kurus dan ringanberat banget di tangan Layvin, dia ngerasa kayak angkat anak kecil.
Naura sedikit sadar, matanya buka sebentar. "Nathan."
"Saya Layvin Nyonya, bukan Tuan Nathan, saya bawa Nyonya ke rumah sakit ya."
"Nathan dimana, Nathan," Naura berbisik lemah sebelum matanya tertutup lagi.
Layvin ngegigit bibir bawahnya kuat kuat nahan emosi, dia bawa Naura ke mobilnya, dokter ikut di belakang.
Perjalanan ke rumah sakit cuma lima belas menit tapi buat Layvin terasa kayak berjam jam, dia terus ngeliatin Naura yang tergeletak di kursi belakang dengan napas tersengal sengal.
"Bertahanlah Nyonya, " Layvin berbisik "Kumohon bertahanlah."
***
Di rumah sakit Naura langsung dibawa ke UGD, dipasangin infus, dikasih obat obatan, diperiksa dari ujung kaki sampe ujung kepala.
Dokter bilang Naura kena demam tinggi karena kelelahan ekstrim dan stress berat, tubuhnya drop total karena kurang nutrisi dan kurang istirahat.
"Pasien ini udah berapa lama ga makan dengan benar?" Dokter nanya ke Layvin.
"Saya kurang tau Dok, saya bukan keluarga dekat, cuma temen."
"Hmm, well dari hasil cek darah, pasien ini kekurangan gizi parah, hemoglobinnya rendah banget, ini bukan sakit mendadak, ini akumulasi dari berhari-hari bahkan berminggu minggu nggak jaga kesehatan." Dokter menjelaskan sambil ngeliat hasil lab.
Layvin diem, tangannya mengepal.
Berarti selama ini Naura menderita sendirian, ga makan dengan baik, ga tidur dengan cukup, semua karena stress mikirin Nathan.
Dan Nathan? Nathan lagi asik sama Mahira.
"Pasien harus dirawat minimal tiga hari buat observasi, kami khawatir ada komplikasi lain," Tambah dokter.
"Baik Dok, apapun yang terbaik buat kesembuhan dia."
Dua jam kemudian Naura dipindah ke ruang rawat inap kelas VIP yang Layvin booking, ruangan tenang dengan tempat tidur yang nyaman dan jendela besar yang menghadap taman.
Naura masih belum sadar, masih tertidur dengan infus di tangan kanan dan monitor jantung yang bunyi teratur. Layvin duduk di kursi samping tempat tidur, ngeliatin wajah Naura yang pucat.
Cantik.
Meski pucat dan sakit, Naura tetep cantik.
Kenapa Nathan ga bisa liat ini? kenapa Nathan ga bisa hargai wanita yang ada di depan matanya? Layvin mengusap wajahnya kasar, capek campur marah campur sedih jadi satu.
Jam enam sore Naura mulai sadar pelan pelan, matanya berkedip beberapa kali sebelum terbuka penuh. Pandangannya kabur di awal, perlahan fokus ke langit langit ruangan yang putih bersih.
"Dimana, dimana aku?" suaranya serak banget.
"Nyonya di rumah sakit." suara Layvin dari samping bikin Naura nengok kesitu.
Layvin duduk disitu dengan wajah lelah, mata merah, kemeja kerjanya kusut, rambut berantakan kayak abis digaruk garuk berkali kali.
"Layvin," Naura mencoba duduk tapi badannya lemes.
"Jangan gerak dulu Nyonya, Nyonya masih lemah." Layvin bantuin Naura duduk pelan pelan dengan bantal di belakang punggung.
Naura ngeliat infus di tangannya, monitor jantung, ruangan rumah sakit yang asing. "Aku kenapa?"
"Nyonya demam tinggi sampe pingsan, Bi Ijah yang nemu Nyonya di kamar, untung saya bisa cepet kesana bawa dokter terus langsung bawa Nyonya kesini."
Naura menyerap informasi itu pelan pelan, tangannya naik ke dahi yang masih terasa hangat meski udah ga sepanas tadi pagi.
"Nathan, dimana Nathan?" pertanyaan itu keluar hampir kayak refleks.
Layvin terdiam.
Wajahnya berubah gelap.
Tangannya mengepal di pangkuan.
Dia ga tau harus jawab apa.
Harus bohong bilang Nathan ada urusan penting atau jujur bilang Nathan lebih pilih nemenin Mahira daripada ke rumah sakit jenguk istri yang sakit parah?
"Tuan Nathan sedang..." Layvin berhenti, milih kata kata dengan hati hati. "Ada urusan yang penting."
Naura menatap Layvin lama.
Dia bukan bodoh.
Dia tau Layvin lagi bohong. Dia tau Nathan ga dateng bukan karena ga bisa, tapi karena ga mau.
"Aku mengerti." Naura tersenyum pahit, senyum yang bikin hati Layvin remuk.
Air matanya jatuh pelan tanpa isakan, tanpa suara, cuma ngalir gitu aja di pipi yang pucat.
"Nyonya," Layvin ngerasa tersiksa liat Naura nangis.
"Gak apa-apa Layvin, aku udah biasa kok." Naura ngusap air matanya tapi air mata baru keluar lagi. "Udah biasa ga dipeduliin, udah biasa dianak tirikan, udah biasa."
Suaranya bergetar di akhir.
"Tapi tetep sakit ya," dia nambah sambil nangis. "Meski udah biasa tapi tetep sakit."
Layvin berdiri, ga tahan liat Naura kayak gini, dia pengen peluk Naura, pengen bilang semuanya bakal baik baik aja, tapi dia ga bisa.
Dia bukan siapa siapa.
Cuma asisten Nathan.
Cuma orang luar yang ga punya hak.
"Nyonya harus istirahat, jangan banyak pikiran dulu, fokus sembuh aja." Layvin bilang dengan suara yang berusaha stabil.
Naura ngangguk sambil masih nangis. Layvin duduk lagi, ngambil tisue dari meja dan kasih ke Naura. Mereka diem lama, cuma bunyi monitor jantung yang beep beep teratur.
"Terima kasih Layvin." Naura akhirnya ngomong. "Terima kasih udah bantuin aku, udah nemenin aku."
"Sama-sama Nyonya, ini memang kewajiban saya."
"Bukan kewajiban kamu sebagai asisten Nathan buat jaga aku kan? tapi kamu tetep lakuin." Naura menatap Layvin. "Kenapa?"
Kenapa? Pertanyaan yang Layvin juga ga tau jawaban pastinya. Karena kasihan? karena Naura wanita baik yang ga pantas diperlakuin kejam? atau karena ada perasaan lain yang mulai tumbuh tanpa Layvin sadari?
"Karena Nyonya temen saya," Layvin jawab aman.
"Temen ya." Naura tersenyum tipis "Aku seneng punya temen kayak kamu Layvin, setidaknya ada satu orang yang peduli sama aku di dunia yang kejam ini."
Kata kata Naura bikin dada Layvin sesak.
Cuma satu orang katanya. Betapa kesepiannya Naura sampe dia ngerasa cuma punya satu orang yang peduli?
"Nyonya punya banyak orang yang peduli." Layvin bilang.
"Siapa? Nathan? dia ga peduli Layvin, kamu tau itu, aku juga tau itu," Naura tertawa pahit. "Ibu? ibu lagi sakit, aku yang harus jaga dia bukan sebaliknya, Mahira? dia sahabatku tapi dia lagi ngerebut suamiku."
Naura berhenti, napasnya tersengal karena terlalu banyak ngomong.
"Jadi ya, cuma kamu Layvin, cuma kamu yang bener bener peduli sama aku tanpa pamrih."
Layvin nelen ludah susah, perasaannya campur aduk. Diluar jendela, matahari mulai terbenam, langit berubah jingga kemerahan yang indah.
Tapi didalam ruangan ini, cuma ada kesedihan. Kesedihan seorang wanita yang jatuh cinta pada orang yang salah. Kesedihan seorang wanita yang dikhianati oleh sahabat sendiri. Kesedihan seorang wanita yang harus kuat sendirian.
Dan Layvin cuma bisa duduk disitu, nemenin Naura dalam diam, menggengam tangannya yang dingin dengan lembut. Memberikan kehangatan kecil di tengah dunia yang dingin bagi Naura.