Di Benua Timur, di mana pegunungan menusuk awan dan kabut spiritual menyelimuti hutan purba, nyawa manusia biasa seringkali tidak lebih berharga daripada rumput di tepi jalan.
Desa Sungai Jernih adalah tempat yang damai, tersembunyi di lembah kecil di kaki Pegunungan Kabut Hijau. Penduduknya hidup sederhana bertani, berburu, dan menyembah "Para Abadi" yang terkadang terlihat terbang melintasi langit dengan pedang cahaya. Bagi mereka, para kultivator itu adalah dewa pelindung.
Namun bagi Li Wei, hari ini, dewa-dewa itu membawa neraka.
Li Wei, pemuda berusia lima belas tahun dengan tubuh kurus namun sorot mata tajam, sedang menuruni bukit dengan keranjang anyaman di punggungnya. Ia baru saja selesai mencari tanaman obat liar. Ibunya sakit batuk sejak musim dingin lalu, dan tabib desa berkata akar Ginseng Roh tingkat rendah mungkin bisa membantu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31: Rimba Tulang
Sepuluh hari telah berlalu sejak runtuhnya Lembah Abu.
Di luar wilayah Sekte Langit Biru, membentang Hutan Kabut Hantu sebuah wilayah liar seluas ribuan li yang memisahkan wilayah sekte dengan dunia fana.
Hutan ini gelap, lembab, dan berbau busuk. Pohon-pohon raksasa dengan akar gantung menjulur seperti jerat menutupi langit, membuat siang hari terasa seperti senja abadi.
Di sela-sela akar raksasa, sebuah rombongan kecil bergerak dalam diam.
Mereka tidak lagi terlihat seperti murid sekte yang anggun. Jubah biru mereka telah dilumuri lumpur untuk penyamaran. Wajah mereka kotor, mata mereka cekung karena kurang tidur.
Li Wei memimpin di depan. Ia menggunakan Tongkat Penembus Langit nya untuk memabat tanaman rambat berduri yang menghalangi jalan.
"Hati-hati," bisik Li Wei, mengangkat tangan. "Jangan injak lumut ungu itu. Itu Lumut Penghisap Sumsum. Sekali injak, kakimu akan kering dalam sepuluh napas."
Para pengungsi di belakangnya melangkah dengan sangat hati-hati, mengikuti jejak kaki Li Wei persis.
Di tengah barisan, Tie Shan berjalan terengah-engah. Beban Meriam Auman Naga di punggungnya, ditambah perbekalan besi, membuatnya seperti memikul gunung.
"Saudara Li," bisik Tie Shan serak. "Kapan kita sampai ke kota? Persediaan air bersih tinggal setengah kantong. Murid-murid yang terluka mulai demam."
Li Wei berhenti sejenak, mengamati lumut di pohon untuk menentukan arah mata angin.
"Menurut peta yang kuingat dari perpustakaan, kita harusnya sudah dekat dengan Kota Batu Hitam," jawab Li Wei pelan. "Kota itu adalah zona netral. Tempat berkumpulnya pedagang dan kultivator liar. Di sana kita bisa menjual barang jarahan dan membeli obat."
"Zona netral?" Xiao Lan, yang sedang memapah seorang junior, bertanya cemas. "Apakah aman?"
Li Wei menatapnya datar. "Tidak ada tempat aman di dunia ini, Xiao Lan. Tapi setidaknya di sana ada aturan yang bisa dibeli dengan uang."
Tiba-tiba, Giok Dao Abadi di dada Li Wei berdenyut dingin.
Li Wei tidak menoleh. Ia tetap berjalan dengan ritme yang sama, tapi otot-ototnya menegang.
"Terus jalan," bisik Li Wei sangat pelan, hanya bisa didengar Tie Shan dan Xiao Lan. "Jangan bereaksi. Kita sedang dikepung."
Tie Shan mengangguk samar, tangannya perlahan turun mendekati gagang palu di pinggangnya.
Saat mereka melewati sebuah celah di antara dua batu besar...
Srekk!
Sebuah jaring raksasa yang terbuat dari Benang Sutra Laba-laba Baja jatuh dari atas pepohonan, mengincar rombongan tengah (tempat para tabib dan yang terluka).
"Sergap!" teriak seseorang dari atas pohon.
Namun, sebelum jaring itu menyentuh Xiao Lan...
BLAR!
Li Wei sudah bergerak. Ia melompat vertikal, tongkat besinya berputar seperti baling-baling.
Tongkat 800 jin itu menghantam jaring baja.
Besi bertemu benang baja. Biasanya benang yang menang. Tapi kekuatan hantaman Li Wei begitu besar hingga paku-paku penahan jaring di pohon tercabut paksa. Jaring itu terlempar ke samping.
"Tie Shan! Kiri!" teriak Li Wei saat mendarat.
Tie Shan berputar, mengayunkan palunya ke arah semak-semak di kiri.
BUKK!
Seorang pria kurus yang baru saja hendak melompat keluar dengan belati beracun terpental kembali masuk ke semak dengan dada remuk.
"Sialan! Domba gemuk ini punya taring!" teriak suara kasar.
Lima orang pria melompat turun dari pepohonan, mengepung rombongan Li Wei.
Penampilan mereka liar. Rambut gimbal, baju zirah yang terbuat dari potongan kulit binatang dan tulang, serta senjata yang tidak seragam. Aura mereka berkisar antara Qi Condensation Lapis 4 hingga Lapis 6.
Mereka adalah Kultivator Liar (Rogue Cultivators)—atau lebih tepatnya, Bandit Hutan. Hyena yang memangsa pelarian dari perang sekte.
Pemimpin mereka, seorang pria bermata satu dengan golok gergaji besar di bahunya (Lapis 6 Puncak), meludah ke tanah.
"Hei, lihat ini," cibir Si Mata Satu. "Murid-murid Sekte Langit Biru yang tersesat. Pakaian kalian bau lumpur, tapi aku mencium bau harta karun dan..." matanya menatap Xiao Lan dan para murid wanita dengan tatapan menjijikkan. "...dan daging segar."
"Serahkan semua kantung penyimpanan dan wanitanya," kata Si Mata Satu, mengarahkan goloknya pada Li Wei. "Dan mungkin aku akan membiarkan lelakinya pergi dengan satu tangan buntung."
Para pengungsi gemetar ketakutan. Mental mereka yang baru pulih kembali terguncang.
Li Wei berdiri tegak, menancapkan tongkatnya ke tanah. Ia menatap bandit itu bukan dengan takut, tapi dengan tatapan seseorang yang melihat kotoran di sepatu.
"Kultivator Liar," kata Li Wei tenang. "Kalian hidup dari merampok yang lemah. Tapi apakah kalian pernah belajar cara menilai mangsa?"
"Apa maksudmu, Bocah?" bentak bandit lain.
"Kalian melihat jubah kami yang robek dan mengira kami lemah," Li Wei melangkah maju satu langkah. "Padahal, alasan jubah kami robek adalah karena kami baru saja selamat dari perang yang akan membuat kalian kencing di celana."
Si Mata Satu tertawa terbahak-bahak. "Mulut besar! Bunuh dia dulu!"
Dua bandit di kanan dan kiri Li Wei menerjang.
Li Wei tidak mencabut tongkatnya. Ia hanya menendang pangkal tongkat itu dengan kakinya.
WUSH!
Tongkat itu terungkit, berputar horizontal setinggi leher.
KRAK! KRAK!
Dua bandit itu tidak sempat berteriak. Leher mereka patah seketika dihantam besi 800 jin. Tubuh mereka terlempar menabrak pohon.
Mata Satu berhenti tertawa. Matanya melebar. "Bocah... kau..."
"Tie Shan, lindungi belakang," perintah Li Wei datar.
Li Wei menghilang dari pandangan. Langkah Api Hantu.
Ia muncul tepat di depan Si Mata Satu.
"Kau menginginkan harta?"
Li Wei meninju perut Si Mata Satu. Bukan dengan Qi, tapi dengan tinju tulang emasnya.
Ugh!
Si Mata Satu muntah darah. Ia merasa perutnya ditabrak banteng. Ia mencoba mengayunkan goloknya, tapi Li Wei menangkap bilah golok itu dengan tangan kosong.
TANG!
Tangan Li Wei mencengkeram besi tajam itu. Kulit perunggunya tidak terluka.
"Bagaimana mungkin..." desis bandit itu ngeri.
"Di dunia luar, yang kuat memakan yang lemah," bisik Li Wei di telinga bandit itu. "Terima kasih telah mengingatkanku pada hukum itu."
KREK.
Li Wei mematahkan golok itu dengan tangan kosong, lalu menusukkan patahan golok itu ke tenggorokan Si Mata Satu.
Pemimpin bandit itu jatuh, mati dengan mata melotot.
Dua bandit tersisa yang melihat pemimpin mereka (Lapis 6 Puncak) dibunuh dalam dua gerakan, langsung kehilangan nyali. Mereka berbalik hendak lari.
"Jangan biarkan lolos," kata Li Wei. "Mereka akan membawa teman."
Tie Shan melempar palunya. Satu bandit jatuh dengan punggung patah. Xiao Lan melepaskan dua anak panah beracun. Bandit terakhir jatuh dengan mulut berbusa.
Pertarungan selesai dalam waktu kurang dari satu menit.
Li Wei berjongkok di samping mayat Si Mata Satu, mulai menggeledah tubuhnya dengan terampil. Ia mengambil kantung penyimpanan, uang, dan peta kasar yang ada di saku baju.
"Jangan bengong," kata Li Wei pada para pengungsi yang masih terpaku. "Ambil senjata mereka. Ambil jubah kulit mereka. Jubah sekte kita terlalu mencolok. Kita harus menyamar sebagai kelompok bayaran."
Para murid itu menelan ludah, lalu dengan ragu mulai menuruti perintah Li Wei. Mereka mulai terbiasa dengan kekerasan ini.
Tie Shan menghampiri Li Wei, menyeret palunya kembali. "Kau semakin ganas, Saudara Li."
Li Wei membuka peta rampasan itu.
"Hutan ini tidak memaafkan keraguan, Saudara Tie," jawab Li Wei.
Ia menunjuk sebuah titik di peta.
"Kita sudah dekat. Lima puluh li ke arah timur. Kota Batu Hitam."
Li Wei berdiri, menatap cakrawala di mana hutan mulai menipis.
"Di sana, kita akan menjual semua barang sampah ini, membeli identitas baru, dan memulai hidup sebagai Kultivator Liar."
"Ingat," Li Wei menatap semua orang. "Mulai sekarang, lupakan nama 'Langit Biru'. Jika ada yang bertanya, kita adalah Kelompok Bayaran Besi Hitam."
Rombongan itu bergerak lagi, kali ini dengan langkah lebih cepat dan tatapan lebih waspada. Mereka telah lulus ujian pertama di dunia liar: membunuh atau dibunuh.
Dan di kejauhan, siluet tembok hitam raksasa mulai terlihat menembus kabut, menjanjikan perlindungan sekaligus bahaya jenis baru.