Terobsesi Kamu Season 2
Demi bakti pada orang tua, Vira merelakan waktunya Jakarta-Bandung merawat sang ayah.
Namun, tanpa disadari, jarak yang ia tempuh justru menciptakan celah lebar di rumah tangganya sendiri. Ia perlahan kehilangan pijakan sebagai pendamping suami dan sosok ibu sambung bagi putri mereka.
Celah itu tak dibiarkan kosong. Hadirnya seorang tutor muda—Cintya yang begitu akrab dengan sang putri membawa badai hasutan yang mengguncang pondasi pernikahannya.
Ketika pengkhianatan mulai membayangi dan kenyamanan rumahnya mulai direbut, Vira tidak membiarkan kebahagiaannya dirampas begitu saja oleh mereka yang berniat menghancurkan.
"Kau terobsesi ingin memiliki suamiku?" Vira menatap tajam wanita muda yang menjadi tutor putrinya.
"Aku akan merebutnya dan menggantikan posisimu secepatnya, Vira," balas Cintya dengan seringai dingin.
Akankah Vira dan William mampu bertahan dalam menjalani pernikahan yang mulai terkoyak karena orang ketiga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Drezzlle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kegilaan Sang Tutor
Mobil BMW merah milik William meluncur mulus memasuki pelataran rumah mewah di Jakarta Utara. Vira, yang duduk di sampingnya, langsung memicingkan mata saat melihat sebuah SUV yang sangat ia kenali terparkir di sana.
"Wanita itu masih ada di dalam?" tanya Vira dengan nada suara yang rendah namun sarat akan kemarahan.
William mengangguk pelan, ia mengusap bahu istrinya mencoba memberikan ketenangan. "Aku sudah meminta David untuk mengurusnya. Kau tunggu saja sebentar, semuanya akan beres."
"Apa hubungannya dengan David? Apa yang bisa dilakukannya?" Vira tidak butuh orang asing lainnya dalam mengurus masalah keluarga. Ia menggulung lengan blouse-nya hingga ke siku dengan gerakan mantap, lalu keluar dari mobil dan melangkah lebar memasuki rumah.
William menghela napas panjang. Ia memilih tetap berada di luar, bersandar pada kap mobilnya sembari menyalakan sebatang rokok. Ia percaya sepenuhnya pada Vira. Baginya, jika Vira sudah terbiasa memaki dirinya, maka menghadapi wanita seperti Cyntia seharusnya hanya masalah kecil bagi istrinya itu.
Di dalam rumah, suasana hangat yang semula tercipta seketika pecah saat Vira melangkah masuk. Inneke dan Cyntia tengah duduk santai di sofa, menonton film sembari menikmati aneka kukis, seolah-olah mereka adalah pemilik rumah yang sebenarnya.
"Ma, aku pulang," ucap Vira dingin, berdiri tepat di samping ibu mertuanya.
Inneke dan Cyntia menoleh bersamaan. Inneke segera meletakkan toples kukisnya dengan kasar. "Dari tadi Mama telepon kenapa tidak diangkat? Kau sengaja mengabaikan Mama?" cecar Inneke tanpa basa-basi.
"Ma-ma!" Anggi, putri bungsu mereka, berlari kecil dengan suara gemasnya menyambut kepulangan sang ibu.
Vira segera berlutut, memeluk erat putri kecilnya itu dan menghujani wajah Anggi dengan ciuman sayang. "Sayang, kamu merindukan Mama? Sudah mandi, hm?"
"Kau ini, kalau menginap ke rumah orang tua itu cukup sehari saja. Kau tahu sendiri ada Anggi dan Chika yang harus kau urus," maki Inneke tanpa menoleh, matanya kembali tertuju pada layar televisi.
Vira mendengkus. Ia berdiri sembari masih menggendong Anggi. "Sus! Kemas semua barang milik Anggi sekarang juga. Malam ini kita pindah ke apartemen sementara!" titah Vira tegas pada pengasuh yang berdiri tak jauh dari sana.
Inneke dan Cyntia terlonjak kaget. Mereka kembali menoleh dengan mata membelalak.
"Apa maksudnya ini?!" teriak Inneke sembari bangkit berdiri.
Vira mengabaikan mertuanya. Ia menaiki tangga dengan langkah pasti sambil memanggil putri sulungnya dengan suara yang menggelegar ke seisi rumah. "Chika! Chika!"
Inneke dan Cyntia segera membuntuti Vira ke lantai atas. Inneke menarik lengan menantunya tepat saat mereka tiba di puncak tangga. "Apa maksudmu, Vira? Kau mau membawa cucu-cucuku ke mana?"
Vira menatap tajam mata mertuanya. "Aku tidak bisa lagi hidup bersama Mama jika suasananya seperti ini," jujurnya dengan nada dingin yang menusuk.
"CHIKAAA!" Vira berteriak lagi, hingga pintu kamar Chika terbuka dan gadis itu muncul dengan wajah bingung melihat ibu sambungnya.
"Maksudmu apa sih, Vira? Kenapa kau bicara tidak sopan begitu pada Tante Inneke?" timpal Cyntia, mencoba mengambil hati Inneke dengan bersikap seolah pembela.
"Diam kau! Semua kekacauan ini bermula darimu!" bentak Vira, telunjuknya menuding tepat ke arah wajah Cyntia. "Kau yang meracuni pikiran putriku!"
Cyntia membeku, wajahnya memucat, ia segera berlindung di balik punggung Inneke.
"Cucuku tidak ada yang boleh keluar dari rumah ini! Kau mengerti, Vira?!" gertak Inneke sembari menarik lengan Chika ke sisinya.
Vira tidak gentar sedikit pun. Ia menatap Inneke. "Jika Mama tidak ingin Chika dan Anggi aku bawa pergi malam ini juga, maka Mama harus mengusir wanita ini dari sini sekarang juga! Pilihannya hanya dua, Ma. Wanita ini pergi, atau kami semua yang angkat kaki!"
"Kamu tidak berhak memerintah Mama, Vira! William tidak akan pernah setuju!" bentak Inneke, suaranya melengking tinggi mencoba meneguhkan otoritasnya sebagai ibu.
Vira tidak lantas takut. Ia justru menyeringai dingin, sebuah ekspresi yang jarang ia tunjukkan namun mampu membuat bulu kuduk siapa pun meremang. "Mama bisa tanyakan sendiri pada dia. Apakah William akan memilih ibunya, atau aku dan anak-anaknya? William ada di luar sekarang, Ma. Temui dia!"
Inneke meremas kedua tangannya kuat-kuat. Wajahnya menegang. Tanpa kata lagi, ia berbalik dan menuruni tangga dengan terburu-buru untuk menemui putranya.
Melihat Inneke pergi, Cyntia hendak mengekor, mencoba mencari perlindungan pada satu-satunya sekutu yang ia miliki. Namun, Vira jauh lebih cepat.
Srett!
Vira merenggut rambut Cyntia dari belakang dengan kekuatan penuh. Tubuh Cyntia tersentak hebat dan terhuyung ke belakang. Dengan gerakan sigap, Vira menurunkan Anggi dari gendongannya.
"Chika, bawa adikmu ke dalam kamar sekarang. Mama mau mengurus tutor tidak waras ini!" titahnya tanpa mengalihkan pandangan dari Cyntia.
Chika, yang melihat kobaran api di mata ibu sambungnya, segera menggendong Anggi dan masuk ke kamar, mengunci pintu rapat-rapat.
Cyntia meringis kesakitan, tangannya berusaha menggapai tangan Vira yang masih mencengkeram erat rambutnya. "Sialan kau, Vira!" teriak Cyntia.
Akhirnya, topeng wanita elegan dan santun itu pecah berkeping-keping. Bahasa kasarnya keluar begitu saja, mengungkap jati diri yang selama ini tertutup rapi di balik senyum palsu.
"Kau itu tak pantas memakai nama Cyntia! Ganti saja namamu jadi Sinting! Itu jauh lebih cocok untuk orang gila sepertimu yang masih terobsesi pada suami orang!" desis Vira tepat di telinga Cyntia. Ia semakin erat merenggut rambut itu hingga Cyntia mendongak paksa dengan air mata tertahan karena perih.
"William itu milikku! Kau yang merebutnya dariku!" jerit Cyntia putus asa.
Vira berdecak kesal, seolah mendengar lelucon paling hambar di dunia. "Milikmu? Dalam mimpimu yang paling buruk sekalipun, dia bukan milikmu."
Dengan satu sentakan kasar, Vira melepaskan genggamannya. Tubuh Cyntia terhuyung dan tersungkur di lantai, napasnya memburu dengan rambut yang kini acak-acakan.
"Bangun," perintah Vira dingin. "Keluar dari rumah ini sebelum aku melakukan hal yang lebih buruk dari sekadar menjambak rambutmu."
"Aku tidak akan kalah, VIRA!" teriak Cyntia dengan suara serak, matanya berkilat penuh kebencian yang mendalam. Logikanya sudah hilang, digantikan oleh obsesi gila yang membakar jiwanya.
Vira tidak sudi meladeni wanita itu lebih lama lagi. Baginya, keselamatan mental anak-anaknya jauh lebih penting. Ia membalikkan badan, mengetuk pintu kamar Chika untuk memastikan kedua putrinya baik-baik saja.
Namun, Cyntia yang sudah kehilangan akal sehat tidak membiarkan itu terjadi. Ia menerjang maju, menarik lengan Vira dengan paksa hingga tubuh Vira berputar.
Plakk!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Vira. Vira terkesiap, menyentuh pipinya yang terasa panas dan berdenyut. Amarahnya memuncak, ia mengangkat tangannya hendak membalas tamparan itu dengan kekuatan yang sama.
Akan tetapi, kegilaan memberikan Cyntia kekuatan yang tak terduga. Dengan gerakan cepat, ia menangkis tangan Vira, mencengkeram bahunya, dan memutar tubuh Vira ke arah tangga yang curam.
"Pergilah ke neraka!" jerit Cyntia seraya mendorong tubuh Vira sekuat tenaga.
Vira tidak sempat berpegangan. Tubuhnya kehilangan keseimbangan dan terdorong.
BUGH!
Tubuh Vira menghantam anak tangga satu per satu, berguling dengan keras hingga akhirnya tergeletak tak bergerak di lantai dasar, tepat di bawah kaki tangga.
Chika yang baru saja membuka pintu tersentak dengan wajah pucat pasi. "MAMA!" teriaknya histeris.
Bersambung...
🤣🤣semuanya aja lah
mulai bsk dicatat tiap bln-nya will spy bs jaga, sblm 'dapat' minta jatah dl🤭