Lucane Kyle Alexander CEO muda yang membangun kerajaan bisnis raksasa dan memiliki pengaruh mengerikan di dunia bawah. Dingin, tak tersentuh, dan membuat banyak orang berlutut hanya dengan satu perintah.
Tidak ada yang berani menentangnya.
Di sisi lain, ada Jema Elodie Moreau mantan pembunuh bayaran elit yang telah meninggalkan dunia senjata.
Cantik, barbar, elegan, dan berbahaya.
Keduanya hidup di dunia berbeda, hingga sebuah rahasia masa lalu menghantam mereka:
kedua orang tua mereka pernah menandatangani perjanjian pernikahan ketika Lucane dan Jema masih kecil. Perjanjian yang tak bisa dibatalkan tanpa menghancurkan reputasi dan nyawa banyak pihak.
Tanpa pilihan lain, mereka terjerat dalam ikatan yang tidak mereka inginkan.
Namun pernikahan itu memaksa mereka menghadapi lebih dari sekadar ego dan luka masa lalu.
Dalam ikatan tanpa cinta ini, hanya ada dua jalan, bersatu melawan dunia... atau saling menghancurkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Handayani Sr., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Pagi itu, Jema bangun seperti biasa dia bersiap ke kantor hari ini untuk mengajukan cuti.
saat jema bersiap siap, di sana dia mendapat pesan dari kite.
(Jema, berhati hati lah. mereka orang orang dari organisasi, akan sangat sulit jika aku terus membersihkan mereka. cari perlindungan atau kau akan kembali kesana)
Setelah membaca itu Jema hanya menarik nafas kesal,
"Setidak nya biarkan pagi ku tenang dulu" kesal nya
"Aku tidak akan kembali lagi, dunia ini cukup membuatku repot" ucap jema lalu berjalan bersiap untuk pergi ke kantor
"Jema, ini jalan yang sudah kau pilih ayo semangat" ucap nya di depan kaca.
Jema pun keluar dari apartemennya dan menuju basman di sana dia menyalakan mobil dan melaju meninggalkan area Apartemen.
* * * *
Pagi itu, setelah sarapan ringan sekadar kopi dan roti panggang Lucane melangkah keluar dari mansion nya dengan ketenangan khas seorang pria yang sudah terbiasa memegang kendali dunia. Liam mengikuti tepat di belakangnya, membawa berkas-berkas dan iPad yang sudah dipenuhi jadwal pagi ini.
Begitu mobil hitam mereka melaju di jalanan, Liam membuka iPad tersebut.
“Tuan, pagi ini ada meeting dengan tiga tuan muda. Agenda utama pembangunan real estate di Miami. Mereka bilang ini proyek besar dan ingin mendengar langsung rencana Anda.”
Lucane hanya mengangguk pelan.
Ia sudah tahu Demien, Ethan, dan Marcus tiga millionaire yang juga sahabat terdekatnya akan sangat tertarik pada proyek ini. Dan ia tahu, seperti biasa, mereka akan datang dengan rasa penasaran sekaligus ekspektasi tinggi.
* * * *
Begitu pintu ruang meeting mewah itu terbuka, ketiga pria tersebut sudah duduk santai, masing-masing dengan gaya khas mereka.
Demien, dengan jas putih bersih dan elegan.
Ethan, senyum tipis dan tenang.
Marcus, yang selalu tampak seperti baru saja memenangkan perang bisnis.
“Lucane. Selalu tepat waktu.” kata Ethan sambil menepuk pundak kursi sebelahnya.
Lucane duduk, lalu menatap Liam.
“Mulai.”
Ruangan meredup, layar besar menyala.
Slide pertama muncul peta Miami dengan highlight emas di beberapa titik strategis.
Suara Lucane terdengar stabil, dalam, penuh kuasa.
“Ini bukan hanya proyek real estate biasa. Ini fondasi kota baru.”
Slide berganti,
Desain futuristik, tata ruang premium, akses transportasi pribadi, dan zona high-security yang menjadi ciri khas gaya Lucane.
“Zona A akan menjadi pusat bisnis internasional.
Zona B, hunian super-eksklusif.
Zona C, hiburan tingkat tinggi yang akan menarik investor dari seluruh dunia.”
Jari Lucane bergerak di atas layar.
Animasi 3D dari keseluruhan kawasan muncul terlalu mulus, terlalu megah, dan terlalu ambisius bagi orang normal… tapi sempurna bagi mereka.
Ruangan hening.
Semua mata tertuju padanya.
Dan ketika simulasi arsitektur diputar bangunan megah berdiri, lampu-lampu kota menyala, jalur mobil otomatis melintas ketiga sahabat itu serempak mencondongkan tubuh.
“Holy shit, Lucane…” Marcus bersuara pertama kali.
Demien tersenyum, tapi matanya jelas kagum.
“Ini gila. Bahkan untuk standar kita.”
Ethan menghela napas, setengah tak percaya.
“Kau benar-benar tidak pernah main-main, ya? Presentasi ini saja sudah bisa menutup lima investor internasional.”
Lucane hanya menutup presentasinya sambil mematikan layar.
“Jika kalian ikut, kita mulai pembangunan dalam dua minggu.”
Tiga pria itu saling memandang kemudian tertawa rendah.
“Sudah jelas kami ikut, bung.” kata Marcus, menepuk meja.
“Ini proyek terbaik dari yang paling baik, Lucane,” tambah Demien.
Ethan menyeringai.
“Aku bahkan tak perlu berpikir ulang. Kau memang selalu satu langkah di atas semua orang.”
Lucane hanya mengangguk sedikit.
Respons minimalis, tapi semua orang tahu
Itu tandanya ia puas.
Dan pagi itu, tanpa perlu banyak kata, semuanya sepakat proyek raksasa ini akan mengguncang Miami, dan nama Lucane akan berdiri di atas semuanya.
* * * *
Setelah meeting berakhir dan semua investor pamit, Lucane membawa ketiga tuan muda itu menuju ruangannya—ruangan besar dengan dinding kaca, rak berisi berkas rapi, dan aroma kopi hitam yang masih hangat.
Di sana mereka duduk santai, membahas detail terakhir proyek Miami, menandatangani beberapa dokumen, dan memastikan semuanya berjalan sesuai rencana. Suasana serius namun tenang… sampai Lucane, tanpa ekspresi seperti biasa, membuka suara.
“Besok hari pernikahan ku. Kalau kalian tidak sibuk, datang saja.”
Suara datar.
Kalimat pendek.
Biasa.
Tapi efeknya seperti granat meledak di tengah ruangan.
“APA!!” teriak Ethan paling keras, sampai Marcus tersedak jusnya dan hampir menjatuhkan gelas.
“Kau..kau ini coba bikin aku mati serangan jantung?!” Marcus memukul dadanya sendiri sambil batuk.
Demien yang biasanya paling tenang langsung menatap tajam.
“Kau serius, Luc?”
Lucane hanya mengangkat alis.
“Aku tidak pernah bicara omong kosong, Dem.”
Ketiga sahabatnya saling pandang shock, bingung, tidak percaya.
Ethan mencondongkan tubuh.
“Dengan siapa kau menikah? Siapa gadis tidak beruntung itu?”
Ia tahu betul satu hal Lucane benci drama, benci komitmen, benci keributan… terutama keributan perempuan.
Lucane mendengus.
“Ck. Kau pikir aku apa?”
“Tidak tahu!” Ethan mengangkat tangan. “Karena kau bahkan tidak memberi kami peringatan satu detik pun!”
Marcus ikut menimpali dengan nada kesal namun masih batuk sedikit.
“Tunggu, tunggu. Jadi besok kau menikah, dan baru SEKARANG kau bilang? Gila kau, Lucane.”
Demien mencoba tetap rasional.
“Kalau kau bilang lebih cepat, kami bisa bantu persiapannya. Kau tahu kami selalu siap.”
Lucane bersandar di kursinya, tetap santai dan dingin.
“Ceritanya panjang. Tapi semua sudah beres. Kalian hanya perlu datang… dan lihat sendiri.”
Keheningan sebentar.
Lalu Ethan menyipitkan mata, lalu tersenyum nakal.
“Baik, aku akan datang. Aku ingin lihat perempuan macam apa yang bisa membuat Raja Kulkas ini mencair.”
Lucane memutar bola mata.
“Terserah.”
Marcus dan Demien langsung tertawa pelan, menikmati momen langka melihat Lucane disudutkan oleh urusan cinta atau apapun yang sedang ia sembunyikan.
Dan tentu saja Ketiga tuan muda ini sangat penasaran.
* * * *
Pintu lift terbuka, dan Jema melangkah keluar dengan gaya khasnya. Heels-nya mengetuk lantai koridor kantor seperti ritme peringatan, dan dalam hitungan detik…
Suasana kantor meledak.
“Wah, itu Jema?”
“Dia masuk hari ini? Serius?”
“Kirain dia cuti”
“Dia kelihatan… capek? Atau makin keren?”
Bisik-bisik itu mengikuti langkahnya.
"Hallo semua nya" sapa Jema antusias
Saat ia memasuki ruang divisinya, Eve langsung berdiri dari meja dengan ekspresi kaget campur lega.
“JEMA?? Kau masuk juga hari ini?! Aku kira kau kabur ke negara lain!”
Tidak jauh dari sana, Anne ikut berseru.
“Bahkan bos HRD sampai nanya ke aku apakah kau masih hidup!” goda Anne bercanda
Jema meletakkan tasnya di kursi dengan santai, lalu menatap mereka dengan senyum khas nya,
“Kalian ini… baru juga sehari aku tidak masuk, sudah rindu segininya.” kekehnya sambil menyilangkan tangan.
Eve memutar mata.
“Sehari? Oh Jema apa kau tau betapa sunyi nya kantor ini kalau kau tidak ada!”
Anne mengangguk cepat.
“Benar, bahkan kami seperti bekeja di hutan sangat sepi!”
Jema tertawa riang, sejenak dia melupakan permasalahnya itu.
“Ck!! bilang saja kalian tidak bisa hidup tanpa aku”
Eve dan Anne terdiam… lalu meledak tertawa keras.
“Ya Tuhan, kenapa nona ini sangat percaya diri!”
Jema duduk, menyandarkan tubuhnya dengan elegan dia tau ini tempat paling nyaman bagi nya saat ini. melihat teman teman nya tertawa.
“Sudahlah… aku masuk cuma untuk satu hal. Hari ini aku mau ajukan cuti.”
Eve terperanjat.
Anne menepuk meja, hampir menjatuhkan kopinya.
“APA LAGI?!”
Jema hanya tersenyum santai, pura-pura polos.
“Aku kan karyawan teladan. Perlu istirahat biar tidak stres.”
Dan seisi ruangan langsung ribut lagi antara kaget, pasrah, dan heran kenapa hidup mereka selalu dramatis setiap kali Jema muncul.
* * * *