NovelToon NovelToon
Kecelakaan Itu Bukan Kebetulan

Kecelakaan Itu Bukan Kebetulan

Status: sedang berlangsung
Genre:TKP / Horror Thriller-Horror / Action / Misteri / Detektif
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rin Arunika

Setelah Addam mendapat pesan aneh dari sahabat Astrid–adik tirinya, Addam memutuskan untuk mencari tahu kejadian sebenarnya yang dialami oleh adiknya itu.

Untungnya Addam tidak sendirian. Dalam upayanya menjalankan rencananya, Addam ditemani dan diberi bantuan oleh Naya, sahabat Astrid yang mengabarinya pesan aneh itu. Bukan hanya mereka berdua, seorang teman Addam yang bernama Mahesa juga ikut membantu mereka mencari Astrid.

Langkah demi langkah sulit harus ditempuh oleh Addam, Naya, dan Mahesa hingga mereka menemukan kebenaran yang tak pernah mereka duga.
Akankah mereka semua pada akhirnya bisa menemukan Astrid setelah banyak jalan dan rintangan yang dilalui?

Apa yang sebenarnya terjadi pada Astrid?
Bagaimana mereka menjalani kembali hari-hari mereka setelah kejadian besar itu terungkap?

🍀🍀🍀

Cerita ini fiksi. Jika terdapat kemiripan nama, lokasi, ataupun peristiwa dalam cerita, mohon dimaafkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rin Arunika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31. Tautan Yang Hilang

Tok! Tok! Tok!

Mahesa berdiri di depan pintu coklat yang baru saja diketuknya.

Tok! Tok!

“Masuk!” kata orang di dalam sana.

Pria yang berada di dalam ruangan itu adalah Panji. Ketika Mahesa memasuki ruangan itu, Panji terlihat sedang terus berdiri menatap ke arah luar jendela.

“Ada apa, Sa?” tanya Panji dengan tatapan mata yang sendu.

“Pak Panji, mohon maaf sebelumnya...”

Saat itu Panji memang tak mengatakan apapun tetapi sorot matanya tampak berubah. Tatapannya kali ini seperti sedang mencari tahu kalimat apa yang sedang Mahesa coba katakan.

“Sebenarnya, sekarang ini saya sedang membantu teman saya mencari adiknya yang menghilang. Dan penyelidikan yang sempat kami lakukanlah yang menuntun saya pada kasus ini...” ungkap Mahesa sambil terus tertunduk.

Mahesa seperti tak sanggup menatap wajah Panji ketika ia akhirnya mengungkapkan kebenaran itu.

“Kamu tidak perlu minta maaf, Mahesa. Sejak awal saya memang sudah tahu hal itu...” nada bicara Panji terdengar tenang.

“M-maksud Bapak?” kali ini Mahesa yang tampak kebingungan sebab apa yang dikatakan Panji barusan benar-benar tak pernah ia duga.

“Ya, begitulah... Ketika kamu mengajukan permohonan mutasi, saya tidak langsung begitu saja memberikan surat itu pada Pak Kepala. Tapi setelah melihat rekam jejak kamu, saya berani untuk mendesak Pak Kepala menyetujui permohonan mutasi itu,” ungkap Panji sambil berjalan mendekati kursinya.

Saat itu Mahesa tak bisa berkata apa-apa lagi. Isi kepalanya seperti sistem komputer yang terlalu banyak menerima perintah sehingga bingung harus memproses yang mana dulu.

“Jadi, apa yang bikin kamu akhirnya mengaku, Mahesa?” tanya Panji lagi.

Mahesa menelan salivanya. “Karena kalung itu, Pak.”

“Kalung?” Panji menautkan alisnya.

“Kalung misterius yang ditemukan di setiap TKP.”

“Ada apa? Kenapa sama kalung itu?” Panji melangkah mendekati Mahesa.

Binar matanya seperti mengatakan bahwa hati Panji begitu antusias dengan apa yang akan Mahesa katakan.

“Pak Panji ingat Pak Sugeng Subagyo, mantan wali kota?” Mahesa menatap kedua netra Panji tanpa ragu.

“Pak Sugeng…” Panji menggali kembali ingatannya tentang sosok pemilik nama itu. “Apa hubungannya sama kalung itu? Duduk di sini, ceritakan semuanya.”

Saat itu, Mahesa melangkah menuju kursi di depan meja Panji.

“Begini, Pak… Beberapa tahun lalu, anak pertama Pak Sugeng meninggal dunia karena menjadi korban sebuah kecelakaan. Bapak masih ingat kan betapa ramainya berita yang menayangkan kejadian nahas itu?”

Panji mengangguk. “Benar… Waktu itu media terus memberitakan hal menyedihkan itu. Saya ingat bagaimana istri Pak Sugeng mengamuk di depan RSCM karena nyawa putrinya tak tertolong…”

“Sejujurnya, saat itu putri Pak Sugeng yang bernama Sofia tengah berpacaran dengan teman saya. Mereka berdua bahkan membuat kalung pasangan,” Mahesa sengaja menggantung kalimatnya.

“Kalung pasangan?” kedua mata Panji melebar. “Jangan bilang kalung itu…”

“Tepat sekali. Kalung itu adalah kalung yang membuat saya meyakini ada tautan yang hilang diantara semua kasus yang kita selidiki, Pak…”

“Tapi bukannya Pak Sugeng dikabarkan menderita demensia? Selain itu, istri dan anak keduanya juga sudah meninggal karena musibah kebakaran di salah satu vila mereka… Jadi siapa orang yang menjadikan kalung itu sebagai umpan? Kebetulan saja atau memang dia tahu kisah tragis dibalik kalung itu?”

Raut wajah Mahesa berubah lesu, punggungnya ia sandarkan pada kursi.

“Lalu, apa hubungannya kalung itu dengan adik teman kamu yang menghilang?” tanya Panji lagi.

Sebelum Mahesa menjawab pertanyaan Panji, pria dengan kemeja yang digulung sesikut itu terlihat merogoh ponselnya. “Ini, Pak”

Mahesa menyodorkan ponselnya pada Panji. Pada layarnya terlihat potret Astrid yang terikat di dalam mobil.

“Itu adik teman saya. Bisa Bapak lihat, dia juga pakai kalung yang sama dengan kalung yang ditemukan di TKP. Selain itu, saya juga baru menyadari satu hal besar. Interior mobil yang ditemukan di sekitar TKP pertama terlihat mirip dengan yang di foto ini…”

Panji tak bisa berhenti merasa terkejut. Ia benar-benar tak menduga ada akan fakta besar yang didengarnya langsung.

“Kenapa temen kamu gak bikin laporan resmi, Sa? Kalau dia bikin laporan resmi, mungkin bisa kita bantu carikan dengan cara yang legal…”

“Sudah. Teman saya sudah pernah melapor, Pak. Tapi katanya laporan itu ditutup karena pihak kita dihubungi seorang pria yang mengaku sebagai keluarganya…”

“Ya Tuhan…” Panji memijat keningnya. Isi kepalanya mendadak sangat ramai. “Kamu, balik ke ruangan kamu. Tunggu saya di sana.”

Seperti memahami bagaimana rumitnya perasaan Panji saat itu, Mahesa terlihat langsung menuruti perintah yang diterimanya tanpa banyak bertanya.

#

Malam itu, Addam dan Naya akhirnya bisa merasa sedikit lega setelah keduanya memastikan keraguan yang terus tumbuh dalam hati mereka.

Dalam perjalanan mereka malam itu, Addam terlihat telah tertidur pulas. Berbeda dengan Naya yang duduk di sebelahnya, gadis itu tampak baru saja membuka kedua matanya. Jelas sekali ia gagal untuk mencoba tertidur seperti Addam.

Saat itu, Naya iseng mengecek ponselnya dan membuka sosial media. Namun, keisengannya itu justru memberikan kejutan yang menggetarkan hatinya.

Saat itu Naya melihat berita tentang penemuan jasad seorang pria tunawisma di sekitar waduk air. Entah kenapa, mendengar kalimat ‘kematian di sekitar waduk air’ terasa seperti mengorek luka yang belum sembuh dan menimbulkan ketakutan baru dalam diri Naya. Ia juga tak paham akan hal itu.

Saat itu Naya segera mengunci layar ponselnya dan memejamkan kedua matanya seolah sedang berusaha membersihkan dan mengatur kembali isi kepalanya.

Namun, tak lama setelah Naya memejamkan kedua matanya, kali ini giliran Addam yang tampak mendapatkan kembali kesadarannya.

Saat itu Addam terbangun dari tidurnya karena ia menyadari getaran pada ponselnya.

Dengan pandangan yang masih buram dan belum fokus, Addam perlahan melihat tulisan ‘Nomor Dirahasiakan’ alih-alih nama kontak penelpon.

Addam mengucek kedua matanya sebelum menjawab panggilan itu.

Sebuah nomor baru yang tidak ada dalam daftar kontaknya.

“Hallo?” tanyanya dengan suara parau.

“Kak…” suara yang muncul dari sambungan telpon itu sangat lirih dan terdengar sangat lemah. “Tolong aku…”

Sambungan telpon itu lalu terputus sebelum Addam sempat menjawab.

Addam yang saat itu belum sepenuhnya sadar pun langsung terperanjat setelah mendengar satu kata singkat dari suara yang sangat dikenalinya itu. “ASTRID?!”

Addam tidak berlebihan. Siapa saja yang ada diposisinya pasti akan bersikap demikian. Hanya saja, saat itu kebanyakan orang di dalam bus sedang tertidur lelap. Beberapa dari mereka ada yang terkejut karena reaksi Addam.

“Mas?! Ck!” protes seorang penumpang.

“Eng… Maaf, maaf…” Addam kembali duduk di kursinya.

Saat itu, degup jantung Addam benar-benar tidak karuan. Sebisa mungkin ia harus memendam perasaan tidak nyaman yang timbul akibat panggilan misterius itu. Terlebih lagi saat itu ia dan Naya masih dalam perjalanan yang panjang menuju pulang.

Karena itu, Addam harus bersikap sewajar yang ia bisa.

Sama seperti Addam yang langsung diserang rasa cemas, Naya juga tampak terus menatap Addam penuh arti. Raut wajahnya memancarkan kegelisahan yang mendadak memenuhi dadanya.

“Kak?! Astrid kenapa? Ada apa sama Astrid?” tanya Naya dengan suara pelan namun terdengar tegas.

Addam sempat terlihat kikuk sebelum akhirnya ia menjawab ucapan Naya. “Mmm... Nanti aku ceritain, Nay. Sekarang kamu mending istirahat aja. Perjalanan kita masih lama...”

“Oh. Oke kak...”

Tapi bukannya merasa tenang, dada Naya justru terasa sesak, nafasnya tercekat, kedua pelupuk matanya mendadak digenangi air mata yang menerobos keluar.

Saat itu Naya sadar bahwa pasti telah terjadi sesuatu hal buruk yang menyebabkan Addam bersikap seperti itu.

Ia segera mengusap kedua matanya dengan kasar dan tak membiarkan lebih banyak bulir air matanya jatuh. Naya lalu menyandarkan kepalanya dan memejamkan kedua matanya.

Malam itu, perjalanan mereka berdua terasa sangat panjang. Entah kenapa, semesta seperti tak memberi mereka kesempatan untuk bisa merasa tenang. Baru saja mereka merasa sedikit lega, tak lama kemudian muncul hal baru yang mengusik kedamaian relung hati mereka.

1
nurul supiati
berarti memang dia nyamar jadi beberapa orang yakkk hihihi
Flyrxn: ayooo udah mulai ketebak belum.../Proud/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!