Nayla Safira Hanin adalah siswi jenius yang lebih suka tidur di atap sekolah daripada di kelas. Namun di balik hijabnya, ia adalah petarung jalanan tak terkalahkan yang sanggup melumpuhkan lawan dalam hitungan detik. Kebebasannya terenggut saat dosa masa lalu sang ayah terungkap: setahun lalu, ayahnya tak sengaja menabrak istri seorang konglomerat hingga tewas.
Keluarga Hasyim datang bukan untuk meminta ganti rugi uang, melainkan "hutang nyawa". Nayla dipaksa menikah dengan Adnan Hasyim, pria dingin yang membenci keluarga Nayla sedalam cintanya pada mendiang istrinya. Adnan hanya butuh pengasuh untuk putrinya, Adiva, yang berhenti bicara sejak kecelakaan tragis itu.
Kini, Nayla terjebak sebagai istri dari pria yang menganggapnya beban sekaligus musuh. Adnan tak menyadari bahwa istri "kecil" yang tengil ini adalah satu-satunya pelindung yang akan mempertaruhkan nyawa saat musuh bisnis mulai mengincar keluarganya. Mampukah kepalan tangan Nayla meruntuhkan tembok kebencian Adnan,?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NAYLA JATUH KEJURANG.
Kedinginan yang mencekam menyentak kesadaran Nayla. Rasa perih luar biasa menjalar dari lengannya yang baru saja dijahit, kini robek kembali akibat hantaman dahan pohon. Tubuhnya tergantung lemah, tersangkut pada akar pohon tua yang menjorok keluar dari tebing jurang. Di bawahnya, kabut tebal menyembunyikan dasar jurang yang entah sedalam apa.
Nayla terengah, darah segar mulai merembes membasahi jaketnya. "Sial... Kalau tahu bakal begini, tadi pagi gue minta sate padang porsi kuli dulu sama Pak Es," rintihnya sambil mencoba mengeratkan pegangan pada akar yang mulai terasa rapuh.
Di atas sana, Farah menjerit histeris. "NAYLAAA! TOLOOONG! NAYLA JATUUUH!"
Sementara itu, helikopter hitam dengan logo Hasyim Group membelah langit Puncak hanya tiga puluh menit setelah Adnan menerima telepon darurat dari Dion. Adnan duduk di dekat pintu helikopter yang terbuka, wajahnya pucat pasi, namun matanya memancarkan kemarahan yang bisa membakar hutan di bawahnya.
"Dion! Berapa lama lagi?!" teriak Adnan di tengah bisingnya baling-baling.
"Lima menit, Pak! Tim SAR darat sudah di lokasi, tapi medan sangat terjal!" jawab Dion melalui intercom.
Adnan mencengkeram sabuk pengamannya. "Saya tidak peduli! Kalau Nayla tidak ditemukan dalam satu jam, saya sendiri yang akan turun ke jurang itu!"
Di pinggir tebing, suasana sangat kacau. Teman-teman sekelas Nayla menangis ketakutan. Di tengah kerumunan itu, Rendi berdiri dengan wajah yang tidak biasa. Ia tidak tampak sedih, melainkan gelisah. Ia terus melirik ke arah semak-semak, tempat sebuah sarung tangan hitam terselip di balik saku celananya.
"Ren, lo lihat Nayla jatuh tadi kan? Kok lo diem aja?!" teriak Farah sambil terisak.
"Gue... gue nggak lihat, Far. Tadi gue lagi ambil air," jawab Rendi gagap.
Tiba-tiba, suara deru helikopter mendekat. Angin kencang dari baling-baling menerjang lapangan puncak bukit. Helikopter itu mendarat darurat di area datar yang sempit. Adnan melompat keluar bahkan sebelum baling-baling berhenti berputar.
Adnan berlari menuju pinggir jurang, namun langkahnya terhenti saat matanya menangkap sosok Rendi yang tampak ingin menyelinap pergi. Insting Adnan sebagai pengusaha yang sering menghadapi pengkhianat langsung bekerja.
"Berhenti di sana, anak muda!" bentak Adnan.
Rendi menoleh, wajahnya pucat melihat tatapan mata Adnan yang seperti predator. "S-saya mau cari bantuan, Om."
Adnan mendekat, ia menarik kerah baju Rendi hingga pemuda itu berjinjit. "Ponsel Nayla ada di pinggir jurang, dan kamu adalah orang terakhir yang berdiri di dekatnya. Ceritakan yang sejujurnya, atau saya pastikan kamu membusuk di sel paling gelap sebelum lulus sekolah!"
"Saya nggak tahu apa-apa! Lepasin!" Rendi meronta, namun Adnan tidak melepaskannya.
Dion menghampiri Adnan sambil menunjukkan sebuah tablet. "Pak, saya baru saja melacak sinyal terakhir dari ponsel yang ditemukan. Ada pesan masuk ke nomor Rendi dari nomor yang sama yang meneror Anda. Isinya: 'Tugas selesai, bonus dikirim'."
Adnan mengepalkan tangannya, ia menghantamkan Rendi ke batang pohon pinus terdekat. "Prasetyo membayar anak ingusan seperti kamu untuk membunuh istriku?! Di mana dia?!"
"Dia... dia tersangkut di bawah pohon tua!" teriak Rendi akhirnya menjawab karena ketakutan. "Saya terpaksa, Om! Pak Prasetyo mengancam akan memenjarakan ayah saya kalau saya nggak nurut!"
Di bawah sana, Nayla merasa napasnya semakin berat. Akar pohon yang menopang tubuhnya mulai mengeluarkan suara krak yang mengerikan.
"Aduh, akar sayang... jangan putus dulu ya. Saya belum sempat balikin kunci motor ke Pak Es," gumam Nayla. Ia mencoba menggapai celah tebing untuk berpijak, namun lengannya yang terluka mendadak kaku. "Aakh! Astaghfirullah, sakit banget!"
"NAYLAAA!"
Suara teriakan itu bergema di dinding tebing. Nayla mendongak. Di atas sana, ia melihat sosok pria yang sangat ia kenal sedang bergelantungan pada tali rappelling yang diturunkan dari helikopter.
"Pak Es?! Bapak gila ya?! Naik tali tanpa pengaman yang bener?!" teriak Nayla, suaranya parau.
Adnan meluncur turun dengan kecepatan yang berbahaya. Wajahnya yang biasanya bersih kini penuh debu dan keringat. Begitu ia sampai di posisi yang sejajar dengan Nayla, ia segera mengunci tubuh Nayla dengan pelukannya.
"Jangan banyak bicara, Beo! Pegang leher saya erat-erat!" perintah Adnan. Suaranya bergetar, bukan karena takut ketinggian, tapi karena takut kehilangan gadis di pelukannya.
"Pak... Bapak beneran datang?" bisik Nayla, kepalanya terkulai di bahu Adnan. Dinginnya cuaca dan kehilangan darah membuatnya mulai kehilangan kesadaran.
"Saya tidak akan membiarkanmu mati sebelum kamu mengajari saya teknik 'Pecah Ginjal' itu secara benar," sahut Adnan mencoba bercanda untuk menenangkan Nayla, meski air mata hampir jatuh dari pelupuk matanya saat melihat luka di lengan Nayla yang kembali menganga.
Tali ditarik perlahan oleh tim SAR ke atas. Begitu mereka mendarat di permukaan bukit, Adnan langsung menggendong Nayla menuju helikopter. Ia mengabaikan polisi yang sedang memborgol Rendi di sudut lain.
"Dion! Berangkat sekarang ke RS Pusat! Segera!" teriak Adnan.
Di dalam helikopter, Adnan memangku kepala Nayla. Tim medis darurat langsung memberikan oksigen dan membalut luka lengannya. Nayla sempat membuka matanya sedikit, melihat wajah Adnan yang kacau balau.
"Pak... tadi Bapak... ganteng banget pas turun dari langit," igau Nayla dengan senyum tipis yang dipaksakan.
Adnan mencium kening Nayla yang sedingin es. "Diamlah, Nayla. Simpan tenagamu. Kamu harus sembuh."
"Janji ya... jangan jual motor sport saya..."
"Iya, janji. Bahkan saya belikan pabrik motornya kalau kamu mau. Tapi sekarang, tetaplah bangun, Nayla. Jangan tutup matamu," bisik Adnan, suaranya pecah oleh isak tangis yang ia tahan sejak tadi.
Nayla kembali terlelap, kali ini dengan perasaan aman. Namun, kenyamanan itu tidak bertahan lama. Dion yang duduk di depan tiba-tiba menoleh dengan wajah sangat pucat.
"Pak Adnan... ada masalah."
"Apa lagi?!" bentak Adnan frustrasi.
"Sistem kendali helikopter ini... disabotase. Kita tidak bisa mendarat secara normal, dan bahan bakar kita dikuras lewat sistem jarak jauh," lapor Dion dengan suara gemetar.
Adnan melihat ke luar jendela. Helikopter mereka mulai bergetar hebat di atas hamparan hutan yang luas. Di bawah sana, tidak ada tempat untuk mendarat darurat.
"Prasetyo... dia benar-benar ingin menghabisi kita sekaligus," desis Adnan. Ia memeluk Nayla semakin erat, menatap istrinya yang tak sadarkan diri. "Kalau kita harus jatuh, Nayla... setidaknya kita jatuh bersama."
Tiba-tiba, suara alarm di kokpit berbunyi nyaring. Helikopter itu mulai miring ke kanan dengan sudut yang tajam. Di tengah kegentingan itu, mata Nayla terbuka lebar. Ia nampak tersadar sepenuhnya karena guncangan hebat tersebut.
"Pak! Kenapa ini?! Kok helikopternya main komidi putar?!" teriak Nayla kaget.
"Nayla, dengar saya. Di bawah kursi ada parasut darurat. Pakai sekarang!" perintah Adnan.
"Terus Bapak gimana?!"
"Hanya ada satu parasut yang berfungsi, Nayla! Dion sudah mengeceknya!"
Nayla melihat ke arah Adnan, lalu ke arah parasut itu. Di tengah situasi hidup dan mati, ketengillan Nayla mendadak lenyap. Ia menarik kerah baju Adnan, menatapnya tajam. "Nggak ada drama pengorbanan di kamus saya, Pak Es! Kita naik berdua atau nggak sama sekali!"
"Nayla, jangan bodoh!"
"Saya memang bodoh, tapi saya pinter bela diri! Bapak peluk saya kuat-kuat, kita lompat berdua! Kalau kita mati, setidaknya kita jadi hantu yang paling keren se-Jakarta!"
Tepat saat itu, mesin helikopter mati total. Hening yang mencekam menyelimuti kabin sebelum helikopter itu mulai terjun bebas ke arah lembah yang gelap.
kuueeeereeeeennnnn..........🌹🔥🔥🔥🔥🔥