Di jagat hiburan, nama Leonard Abelano bukan sekadar aktor, dia adalah jaminan rating. Setiap drama yang dibintanginya pasti menyentuh angka dua digit. Leo, begitu publik memanggilnya, punya segalanya: struktur wajah yang dipahat sempurna, status pewaris takhta bisnis Abelano Group, dan sebuah reputasi yang membuatnya dijuluki "Duta Kokop Nasional."
Bagi penonton, cara Leo mencium lawan mainnya adalah seni. Namun bagi Claire Odette Aimo, itu adalah ancaman kesehatan masyarakat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Silent Treatment
Claire bukan tipe wanita yang akan meringkuk ketakutan hanya karena gertakan seorang Leonard Abelano. Darah keluarga Aimo yang mengalir di tubuhnya adalah darah petarung. Jika Leo pikir dia bisa mendominasi Claire dengan cara masuk ke ruang pribadinya dan memberikan ancaman puitis, maka Leo salah besar.
Claire merapikan jubah mandi sutranya dengan tenang, dan menatap pintu yang baru saja tertutup dengan senyum miring. "Kamu ingin main-main, Leo? Ayo kita mainkan sampai kamu sujud di kakiku," gumamnya.
Keesokan harinya di lokasi syuting yang bertempat di sebuah mansion mewah di pinggiran London, Claire muncul dengan aura yang benar-benar berbeda. Dia tidak lagi menunjukkan kekesalan. Dia tampil sangat tenang, sangat profesional, dan yang paling membuat Leo gila, Claire memperlakukannya seperti orang asing.
Saat jeda syuting, Claire tidak lagi menanggapi tatapan provokatif Leo. Ketika Leo sengaja duduk di dekatnya, Claire justru berdiri dan asyik mengobrol dengan aktor pendukung lainnya, tertawa lepas seolah Leo tidak ada di sana.
Leo, yang sudah terbakar obsesi, mulai merasa gelisah. Dia terus memperhatikan Claire dari kejauhan, tapi Claire bahkan tidak meliriknya sekali pun.
Puncaknya adalah saat adegan makan malam mewah. Sesuai naskah, Claire harus bersikap acuh tak acuh pada karakter Leo. Namun, Claire menambahkan improvisasi yang mematikan.
Di sela-sela adegan, Claire sengaja membisikkan sesuatu kepada aktor lawan main lainnya (seorang aktor Inggris tampan yang berperan sebagai tunangan Claire di drama itu). Claire tertawa kecil sambil menyentuh lengan aktor itu dengan lembut.
Leo yang melihat itu dari seberang meja mengepalkan tangannya hingga buku-bukunya memutih. Gelas anggur di tangannya hampir retak.
"Cut! Bagus sekali, Claire!" puji Sutradara Han.
Saat Claire berjalan menuju ruang rias, sebuah tangan kekar menariknya masuk ke dalam sebuah ruangan kosong yang gelap gudang properti.
"Apa yang kamu lakukan, Claire?" suara Leo terdengar parau, penuh amarah yang tertahan. Dia mengunci pintu dan menekan Claire ke dinding kayu. "Kenapa kamu tertawa dengan pria itu? Dan kenapa kamu mengabaikanku seharian ini?"
Claire tidak panik.
Dia justru menatap Leo dengan pandangan meremehkan, lalu jemarinya yang lentik menyentuh rahang tegas Leo perlahan.
"Oh, jadi si Duta Kokop ini merasa cemburu?" bisik Claire dengan suara yang sangat manis namun berbisa.
"Kenapa? Kamu bilang aku skenariomu, kan? Tapi sayangnya, Leo... di dunia nyata, aku adalah sutradaranya. Kamu hanya aktor yang aku sewa untuk menghiburku."
Claire mencondongkan wajahnya, bibirnya hampir menyentuh bibir Leo, membuat napas Leo tercekat.
Namun, tepat sebelum bibir mereka bersentuhan, Claire menjauhkan wajahnya dan membisikkan sesuatu di telinga Leo.
"Jangan pernah merasa berkuasa atas aku. Di New York atau di London, aku tetap ratunya. Kamu ingin aku memperhatikanmu lagi? Berlututlah. Tunjukkan padaku kalau kamu bisa lebih dari sekadar alat penyedot yang haus perhatian."
Claire mendorong dada Leo dengan santai, membuka kunci pintu, dan keluar tanpa menoleh lagi. Dia meninggalkan Leo yang berdiri di kegelapan dengan napas menderu, frustrasi, dan semakin tenggelam dalam obsesi yang Claire ciptakan sendiri.
Sutradara Han memutuskan untuk mengambil adegan konfrontasi terakhir di bawah jembatan Tower Bridge saat badai London mulai turun.
Ini seharusnya menjadi adegan perpisahan yang tragis, namun di tangan Leo dan Claire, ini berubah menjadi medan perang fisik.
"Action!"
Leo menarik tangan Claire dengan kasar, tidak lagi mengikuti koreografi yang lembut. Ia menyudutkan Claire ke pagar besi yang dingin. Tatapan Leo bukan lagi tatapan aktor, melainkan tatapan pria yang sudah benar-benar terobsesi.
Tanpa aba-aba, Leo menerjang. Kali ini, tidak ada kelembutan. Ini adalah ciuman yang brutal dan menuntut. Leo tidak lagi sekadar mengecup, ia mulai memainkan lidahnya dengan ritme yang agresif, mencoba menghancurkan pertahanan Claire.
Ia ingin menunjukkan bahwa gelar "Duta Kokop" itu bukan sekadar bualan media.
Claire terbelalak. Ia bisa merasakan dominasi Leo yang mencoba menelan seluruh keberadaannya.
Namun, Claire tetaplah Claire. Ia tidak akan membiarkan dirinya ditaklukkan begitu saja.
Dengan sisa tenaga dan amarahnya, Claire menutup matanya rapat dan CRACK ia mengatupkan giginya dengan keras pada bibir bawah Leo.
Hening seketika. Bau tembaga dari darah mulai terasa di antara tautan bibir mereka. Claire melepaskan ciuman itu dengan napas tersengal, dagunya sedikit ternoda oleh darah Leo.
Leo mundur satu langkah. Ia menyentuh bibir bawahnya dengan ibu jari, lalu melihat noda merah pekat yang menempel di sana. Bibirnya robek cukup dalam hingga darah segar mengalir ke dagunya.
Bukannya marah atau menghentikan syuting, Leo justru menunduk dan mulai tertawa rendah. Ia mendongak, menatap Claire dengan mata yang berkilat gila, lalu menyeka darah itu dengan lidahnya sendiri. Untuk pertama kalinya dalam sejarah kariernya, ada wanita yang berani membuatnya berdarah.
"Kamu gila, Claire," bisik Leo sambil tersenyum miring, sebuah senyum yang tampak sangat puas meskipun terluka. "Tapi aku menyukainya."
"CUT! CUT! OMYGOD!" teriak Sutradara Han kegirangan. "Ini luar biasa! Jangan hapus darahnya! Ini sejarah!"
Hanya dalam hitungan menit setelah foto stills adegan bibir berdarah itu bocor, internet meledak.
New York, London, dan sampai Indonesia membicarakan hal yang sama.
@DailyGossipNY: "Braking News! Aset berharga keluarga Abelano berdarah di tangan Ratu Aimo! Ini bukan lagi ciuman, ini adalah perebutan tahta!"
@NetizenDunia: "Duta Kokop akhirnya kena batunya! Claire Odette bukan lawan sembarangan. Dia bukan lagi korban, dia adalah Ratu Kokop yang baru!"
Kehebohan ini bahkan memancing komentar dari para aktris papan atas yang dulu pernah menjadi lawan main Leo.
@Aktris_A: "Dulu aku cuma berani diam saat dia beraksi... Claire, kamu mewakili perasaan kami semua! Gila, dia berani menggigit si Abelano sampai berdarah!"
@Aktris_B: "Leo yang biasanya mendominasi, sekarang malah terlihat seperti kucing kecil yang kena cakar. Claire benar-benar naik level dari aktris kaku jadi Top Tier Dominant!"
Di ruang rias, Claire hanya duduk diam menatap bayangannya di cermin. Ia masih bisa merasakan detak jantungnya yang tidak beraturan dan rasa darah Leo di bibirnya. Ia baru saja melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan aktris mana pun di industri ini.
Tiba-tiba, pintu terbuka. Leo masuk tanpa izin, bibirnya masih terluka namun wajahnya tampak begitu bersemangat.
"Gimana rasanya, Ratu Kokop?" tanya Leo sambil bersandar di pintu.
"Ternyata menggigit bibirku jauh lebih menyenangkan daripada mengabaikan ku, kan?"
Claire berdiri, menatap Leo dengan dagu terangkat. "Itu bukan sekadar akting, Leo. Itu peringatan. Kalau kamu coba-coba memakai lidahmu lagi tanpa izin, aku tidak hanya akan membuat bibirmu berdarah, tapi aku akan memastikan kamu tidak bisa bicara selama seminggu."
Leo tertawa, melangkah mendekat dan berbisik di telinga Claire. "Kalau begitu, aku akan terus mencoba sampai kamu kehabisan napas untuk memberikan peringatan lagi."
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰🥰🥰
keren....