Arthur tumbuh di bawah perlindungan seorang pelayan tua yang setia, tanpa pernah benar-benar memahami ayahnya dan apa yang telah ia tinggalkan. Ketika waktu mulai merenggut kekuatan pelindung lamanya, Arthur dipaksa menghadapi dunia yang selama ini dijauhkan darinya dunia yang dibangun di atas hutang lama, keputusan sunyi, dan enam nama yang tidak pernah disebutkan secara utuh.
Sedikit demi sedikit, Arthur menemukan bahwa kebaikan ayahnya di masa lalu telah membentuk takdir banyak orang, namun juga meninggalkan retakan yang kini mengincar dirinya.
Di antara latihan, pengkhianatan yang tidak terucap, dan sosok-sosok yang mengawasi dari kejauhan, Arthur harus memilih:
meneruskan warisan yang tidak lengkap atau menyerah bahkan sebelum ia sempat memutuskan...
baca novelnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DavidTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11 - Upaya Penyelamatan
Pesan Dari Hutan Nostradus
Pengetahuan yang Tidak Pernah Diberikan Tanpa Sebuah Harga
Wanita tua itu tidak segera menjawab kesediaan Arthur. Ia justru berjalan perlahan ke arah sebuah pohon tua yang akarnya menyembul seperti tulang belulang. Dari balik rongga akar itu, ia mengeluarkan gulungan kertas tipis berwarna kecokelatan, ujung-ujungnya sudah rapuh dimakan waktu.
Ia menyerahkannya pada Arthur dengan dua jari seolah kertas itu bisa melukai jika dipegang sembarangan.
“Jangan dibaca di bawah cahaya terang, Arthur” katanya.
“Dan jangan dihafalkan tanpa memahami artinya secara keseluruhan.”
Arthur membuka gulungan itu perlahan.
Di dalamnya terdapat matra aneh, bukan bahasa kekaisaran, bukan pula tulisan sihir yang ia kenal. Huruf-hurufnya melengkung, terputus, seakan ditulis oleh tangan yang gemetar namun tahu persis apa yang ia lakukan.
Di bawah matra itu, tertera daftar bahan:
Akar Nerthra yang tumbuh di tanah basah terletak di atas gunung Forge
Serbuk tulang Serigala Merah berumur lebih dari dua puluh tahun
Getah pohon Vaelthorn
Darah segar…
(baris terakhir terhenti, lalu dilanjutkan)
dari seseorang
Arthur merasakan dadanya mengeras.
“Apakah ini benar-benar… obat?” tanyanya.
Wanita tua itu tersenyum samar.
“Ini penawar,” katanya.
“Bukan untuk racun biasa. Untuk racun yang ditanam agar tidak pernah sembuh sepenuhnya.”
Wanita tua itu kemudian duduk kembali di atas batu, tongkatnya menancap ke tanah.
“Kau akan kembali ke Florence setelah ini,” ucapnya tanpa bertanya.
“Dan kau pasti akan bertemu si muda Marquis Florence dan tolong beritahukan kepadanya...”
Arthur mengangguk.
“Aku akan menyampaikan peringatanmu.”
Wanita itu menghela napas panjang.
“Katakan padanya, jika” lanjutnya pelan,
“enam orang itu bukan satu kesatuan dan itu bisa kamu manfaatkan.”
Arthur mengangkat kepala.
“Mereka saling mencurigai?”
“Mereka saling menunggu satu sama lain,” jawabnya.
“Menunggu siapa yang lebih dulu jatuh.”
Elrian menajamkan pandangan.
“Dan dua keluarga besar lainnya?”
Wanita tua itu tersenyum pahit.
“Dua dari tiga,” katanya.
“Yang membantu menjatuhkan Moren dengan gabungan seribu lima ratus knight.”
Arthur terdiam.
“Mereka bukan sekutu Vastorci,” lanjutnya.
“Mereka musuh yang berbagi waktu.”
Toxen mengepalkan tangan.
“Hmm mereka seperti pemangsa.”
Wanita tua itu mengangguk.
“Pemangsa yang memakan keluarga yang lebih lemah, atau dimanfaatkan hingga habis” katanya.
“Dan mereka selalu berpura-pura saling membenci.”
Arthur menelan ludah.
Wanita tua itu menatapnya lama.
“Keluarga mereka juga saling bersaing di belakang layar, dan” katanya akhirnya.
“Jika kau menyebut nama terlalu cepat, mereka akan tahu kau sudah melihat ke dalam.”
Arthur mengangguk, menerima jawaban itu meski berat.
Wanita tua itu berdiri.
“Dan juga sampaikan pada Marquis Florence,” katanya,
“bahwa kursi kosong lebih berbahaya daripada pedang terhunus.”
Arthur menyimpan gulungan itu di balik mantelnya.
“Ah iya dan ada lagi, satu hal lagi yang penting bagi mu” lanjut wanita tua itu,
“jika Morvist kembali…”
Arthur menahan napas.
“Jangan percaya pada apa yang ia katakan tanpa melihat apa yang ia sembunyikan.”
Sunyi menyelimuti hutan.
Ketika Arthur menoleh kembali,
wanita tua itu sudah tidak ada.
Hanya jejak tongkat di tanah basah
dan bau ramuan pahit di udara.
Saat mereka meninggalkan Nostradus, Seren berbisik,
“Apakah kau percaya padanya?”
Arthur menatap lurus ke depan.
“Aku percaya pada satu hal yang ada saat ini,” katanya pelan.
“Musuh ayahku tidak pernah benar-benar pergi.”
Dan di kejauhan,
di antara akar-akar hutan yang bergerak perlahan,
Nostradus menutup rahasianya
untuk waktu sementara.
Kembali ke kota Florence
Kota yang Terlihat Sama, Namun Tidak Lagi Netral
Kabut pagi masih menggantung ketika Arthur dan rombongannya meninggalkan batas Hutan Nostradus. Pepohonan perlahan menipis, tanah berubah dari lembap menjadi berbatu, dan jalur dagang mulai terlihat kembali tanda bahwa peradaban sudah dekat.
Namun Arthur tahu,
ia membawa hutan itu bersamanya.
Toxen berjalan di sisi kanan Arthur, langkahnya lebih cepat dari biasanya.
“Kita diawasi sejak melewati perbatasan hutan Nostradus, tuan muda” katanya pelan tanpa menoleh.
Seren mengangguk.
“Dua jejak. Tidak berusaha bersembunyi.”
Arthur tidak menghentikan langkah.
“Biarkan mereka melihat kita kembali, kita tidak peduli dengan mereka” katanya.
“Yang penting mereka tidak tahu apa yang kita bawa.”
Tangannya menyentuh mantel tempat gulungan matra itu tersembunyi.
Gerbang Wilayah Florence
Gerbang Florence berdiri megah, namun penjagaannya kini dua kali lipat dibanding saat Arthur pergi. Panji-panji keluarga Florence berkibar lesu, seakan angin pun ragu menyentuhnya.
Seorang Kapten penjaga mendekat.
“Penerus Marquis Fireloren?” tanyanya ragu, lalu membetulkan diri,
“Tuan Arthur Fireloren.”
Arthur menatapnya singkat.
“Kami datang membawa pesan dan ingin menemui Marquis Florence.”
Wajah Kapten itu berubah serius.
“Kota ini tidak tidur, Tuan.”
Arthur menjawab singkat,
“Aku juga tidak.”
Begitu mereka memasuki kota, kabar segera menyebar.
Lucien Florence masih belum sadar.
Dua puluh satu keluarga menarik sebagian pasukan mereka ke luar kota.
Seren berbisik,
“Mereka mencium pergerakan.”
Arthur mengangguk.
“Dan mulai saling menutup pintu.”
Menghadap Marquis Florence
Arthur tidak menunggu undangan.
Ia meminta audiensi tertutup dengan Marquis Florence dan kali ini, permintaan itu dikabulkan tanpa penundaan atau omon-omon.
Ruang kerja Marquis Florence lebih sederhana dari yang Arthur bayangkan. Rak buku tua, peta wilayah, dan satu lukisan keluarga dengan satu wajah yang disilang garis hitam.
Marquis Florence duduk di balik meja kayu tua. Rambutnya memutih, wajahnya tampak lelah.
“Kau kembali dari Nostradus, Penerus sang Marquis Fireloren” katanya pelan.
Arthur tidak terkejut.
“Dan aku membawa sesuatu hal yang penting, tuan.”
Ia mengeluarkan gulungan kertas itu, namun tidak membukanya.
“Bukan untukku keselamatan ku tetapi,” lanjut Arthur.
“Untuk putramu.”
Marquis Florence menegang.
“Kau pasti tahu apa yang menyerangnya.”
Arthur mengangguk.
“Dan siapa.”
Marquis Florence menutup mata sejenak.
“Katakan kepada ku.”
Pesan Wanita Tua
Arthur menyampaikan semuanya dengan hati-hati.
Tentang enam orang.
Tentang racun yang tidak membunuh.
Tentang dua keluarga besar yang membantu menjatuhkan Fireloren dan kini mengincar Florence jika terlihat lemah.
Ia tidak menyebut nama.
Namun setiap kata terasa cukup.
Marquis Florence menggenggam meja.
“Aku sudah menduganya, para br#ngsek itu” katanya lirih.
“Tapi aku tidak ingin percaya pesan mu.”
Arthur menatapnya lurus.
“Percaya atau tidak, mereka sedang menunggu kesempatan.”
Marquis Florence berdiri.
“Kursi kosong,” gumamnya.
“Lucien adalah umpan.”
Arthur mengangguk.
Keputusan Berat
“Jika aku menggunakan penawar ini,” kata Marquis Florence,
“mereka akan tahu jika ada yang membantu.”
Arthur menjawab tanpa ragu,
“Dan jika tidak, mereka akan datang.”
Hening lama menyelimuti ruangan.
Akhirnya Marquis Florence berkata,
“Kau tidak seperti ayahmu.”
Arthur menegang.
“Ayahmu akan mencoba menyelamatkan semua orang,” lanjut Marquis Florence.
“Kau memilih siapa yang harus hidup.”
Arthur menunduk.
“Aku masih belajar.”
Saat Arthur meninggalkan ruang itu, ia tahu satu hal:
Ia bukan lagi tamu di Florence.
Ia adalah variabel yang tidak diinginkan.
Dan di lorong gelap rumah Marquis Florence, seseorang berdiri lama setelah Arthur pergi menghafal setiap langkahnya.
tentang orang jadi pembunuh gitu aja, kalau penasaran boleh di baca🔥